Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 104: Yang Bertahan


__ADS_3

Haru dan tangis menemani pemain Sugar Crossed FC di dalam ruang ganti, setelah mereka kalah secara dramatis dengan rival sekota mereka. Tentu saja kekalahan ini begitu menyakitkan bagi mereka semua, bukan hanya mereka sempat unggul terlebih dahulu, secara permainan mereka juga lebih unggul dari Pengambangan Cananga Youth. Namun itulah sepakbola, walaupun satu tim berhasil menguasai jalannya pertandingan namun tidak bisa mencetak gol dan malah kebobolan, tetap saja mereka kalah pada akhirnya.


Sepakbola adalah permainan yang bertujuan untuk mencetak gol ke gawang lawan sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan kerja sama tim dan juga taktik yang bagus, tetapi jika mereka bermain bagus namun tidak pula mencetak gol, maka percuma saja.


Para pemain Sugar Crossed FC tahu betapa sakitnya perasaan mereka saat ini, sehingga tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan selain menangis dan merenungi kekalahan mereka saat ini. Bahkan pemain sekelas Tori Marukawa saja bisa kesal karena kekalahan yang mereka alami hari ini.


Pelatih mereka memberikan sedikit kata-kata penyemangat dihadapan mereka yang masih merasakan pedihnya kekalahan.


"Terima kasih atas perjuangan kalian semua di atas lapangan tadi. Kalian benar-benar bermain sangat bagus hari ini, tetapi lawan kita cukup cerdik untuk menghadapi kita dan berhasil mencuri kemenangan dari kita. Aku tahu bagaimana perasaan kalian saat ini, karena aku pun pernah merasakan hal yang serupa dengan kalian. Jadi, janganlah berkecil hati dan jadikan kekalahan ini sebagai bahan bakar kalian untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Kalian semua hebat" ucap pelatih mereka yang diakhiri dengan tepuk tangan, walaupun masih dalam suasana sendu.


Pelatih mereka bertepuk tangan sambil memperhatikan anak-anak didiknya, dan dia menyadari kalau tidak adanya sosok Yoga Hilmawan di sana. "Yoga kemana?" ucap sang pelatih yang membuat para pemain Sugar Crossed yang lain ikut mencari keberadaan Yoga.


Tori Marukawa juga kebingungan, namun dia langsung mencari keberadaan Yoga Hilmawan. Dia mencoba mencari ke kamar mandi dan benar saja dia melihat kamar mandi tengah dipakai oleh seseorang yang ia yakini orang yang sedang berada di dalam kamar mandi itu adalah si Yoga Hilmawan.


Saat Tori Marukawa hendak memanggil nama Yoga, dirinya mendengar sebuah teriakan dari dalam kamar mandi, lengkingan teriakan kekesalan lebih tepatnya.


"Sialannn!" teriakan itu cukup panjang dan seketika setelahnya suara kembali senyap.

__ADS_1


Entah bagaimana caranya Yoga Hilmawan bisa menebak dengan pasti apa yang sedang terjadi pada diri Yoga Hilmawan. Tori Marukawa bisa tahu kalau di dalam sana Yoga Hilmawan sangat kesal dan saking kesalnya dia menangis sejadi-jadinya dan berteriak hingga pita suaranya tercerai-berai satu persatu.


Mendengar teriakkan itu dan bisa bersimpati dengan Yoga Hilmawan, akhirnya Tori Marukawa tersandar di dinding kamar mandi sambi tersedu-sedu menangisi kekalahan mereka hari ini. Dia bertekad untuk berjuang lebih keras lagi jika masih mendapatkan kesempatan dan tidak ingin merasakan hal menyakitkan seperti kali ini.


Sedangkan di kamar ganti yang lain, tepatnya di kamar ganti pemain Pengambangan Cananga Youth. Suasana di sini lebih cerah dan sangat bersahabat. Semua pemain Pengambangan Cananga Youth sedang merayakan kemenangan mereka kali ini, berkat kemenangan hari ini mereka berhak mendapatkan tiket ke babak final menghadapi tim Batavia Fort FC yang sudah menanti mereka di sana.


Mereka bersuka cita atas kemenangan ini, Martin dipuja-puja karena menjadi pahlawan penentu kemenangan mereka dengan eksekusi penalti nan dingin dan mematikan di menit-menit terakhir babak kedua. Axel juga mendapatkan kehormatan, gol indahnya berhasil membuat motivasi mereka kembali bangkit dan membuat mereka merasakan kemenangan sekali lagi ada di tangan mereka.


Namun sayangnya ada pemain yang tidak bisa menghadiri pesta itu, pemain itu sedang berkutat dengan kaki dan dokter spesialis perawatan tulang. Ya saat ini Rizaldi Fatah harus diperiksa oleh tim dokter terapis dan fisioterapi untuk mengecek kakinya yang sempat bermasalah pada saat bermain tadi.


Walaupun Rizaldi merasa senang karena mereka berhasil memenangkan pertandingan pada akhirnya, tetap saja saat ini Rizaldi dibuat kesal sekali dengan apa yang menimpa dirinya ini. Rizaldi takut sekali kalau hal ini bisa menganggu dirinya pada saat pertandingan final nanti, atau kabar buruknya mungkin dia akan ditepikan karena masalah yang ia alami ini.


"ACL nya baik-baik saja, cuma lututnya yang mengalami kerusakan cukup parah. Jika dia terlalu dipaksa, kemungkinan cideranya akan bertambah lebih buruk" kata tim dokter ahli.


Rizaldi merasa sedikit lega sekaligus merasa khawatir dalam satu waktu yang sama, dia merasa lega karena dirinya tidak mengalami cidera serius yang membuatnya harus dioperasi dan harus keluar dari skuad dan tidak bisa bermain di babak final. Namun dia juga khawatir akan kondisinya, jika dirinya mendorong dirinya sendiri lebih keras dari biasanya, bisa-bisa cideranya saat ini akan jauh lebih buruk setelahnya dan tentu saja Rizaldi tidak ingin hal itu terjadi.


"Apakah aku bisa memainkan dia saat final nanti, kepala tim dokter?" Coach Satria menanyakan kondisi Rizaldi.

__ADS_1


Sebelum menjawab pertanyaan dari coach Satria, kepala tim dokter atau tim medis Pengambangan Cananga Youth mengeluarkan ekspresi wajah yang cukup berat, sehingga membuat Coach Satria dan juga Rizaldi menerka-nerka maksud dari tatapan itu.


"Sayangnya kondisinya masih belum fit seratus persen, jadi sebaiknya jangan memainkannya selama 90 menit penuh" kata kepala tim medis.


Terlihat jelas wajah kekecewaan Coach Satria setelah mendengar kabar itu, bahkan Rizaldi saja cukup sulit menerima kenyataan itu. Di pertandingan final nanti dia memang boleh bermain, namun dia tidak bisa bermain penuh selama 90 menit. Itu menyakitkan bagi Rizaldi, dia ingin bermain lepas di final nantinya namun kenyataan berkata lain.


"Aku berharap kita selalu berkomunikasi selama masa pemulihan ini. Selalu jaga kesehatan fisik dan mentalmu ya"


"Terimakasih dokter" kata Rizaldi lalu dia berjalan keluar ruangan.


Di luar ruangan, Rizaldi berjalan dengan wajah tertunduk. Dia masih kesal dengan kenyataan yang diterimanya, kakinya sudah terasa lebih baik namun setiap dia mengangkat kaki rasanya dia seperti sedang mengangkat beban seratus kilogram. Sangat berat dan begitu menyakitkan.


Coach Satria menepuk-nepuk pundak Rizaldi untuk memberikannya sedikit dorongan moral. Rizaldi jadi menangis tersedu-sedu karena hal itu.


"Maafkan saya coach. Maafkan saya. Saya malah jadi beban tim" ucap Rizaldi.


Coach Satria cukup bingung dengan situasi ini, dia lalu hanya menepuk-nepuk pundak Rizaldi dan mencoba menenangkan dirinya. Sejatinya dia juga tidak ingin hal ini terjadi, namun karena sepakbola juga adalah permainan yang melibatkan fisik, para pemain pasti akan saling berbenturan fisik pada saat pertandingan berlangsung.

__ADS_1


Rizaldi jadi sedikit lebih baik, dia menyapu air mata yang sedikit keluar dari matanya sebelum masuk ke ruang ganti dan ikut merayakan kemenangan bersama rekan-rekannya yang lain.


Ternyata kedatangan Rizaldi sudah ditunggu oleh rekan-rekannya yang lain. Mereka sengaja menunggu salah satu pemain hebat yang mereka miliki. Sambil menutupi sakit yang ia derita, Rizaldi ikut merayakan kemenangan mereka hari ini. Walaupun beberapa diantara mereka menyadari ada hal yang tidak beres dari Rizaldi Fatah.


__ADS_2