
Sebelum memulai latihan pada hari ini, semua pemain Pengambangan Cananga Youth berkumpul di ruang ganti sambil melihat smartphone mereka masing-masing. Mereka sedang melihat drawing 32 besar, ini akan menentukan siapa musuh yang akan mereka hadapi di laga 32 besar nanti.
Situasi yang dialami Pengambangan Cananga Youth agak bisa dibilang sedikit rugi, karena mereka yang runner-up grup mereka, mereka bisa saja bertemu pemuncak salah satu grup. Peluang mereka bertemu salah satu dari pemuncak 12 grup yang ada cukup besar.
"Kalau bisa memilih, kau ingin kita bertemu dengan tim apa?" Dery bertanya pada Martin.
Martin masih fokus melihat drawing, Ponaryo Astaman sang pemain legendaris Indonesia masih terlihat sibuk mengacak-acak pot yang berisi nama-nama klub yang siap bertanding di 32 besar nanti. Lalu Martin pun bersuara. "Jika bisa memilih, aku ingin kita bertemu Makassar Pinisi, atau mungkin Sriwijaya United. Mereka tim-tim kuat yang berpotensi menjuarai liga kali ini"
"Bagaimana dengan Malang Azufre? Mereka cukup merepotkan kita musim lalu" Fauzi ikut masuk dalam obrolan.
Martin kembali menjawab pertanyaan Fauzi dengan sangat santai dan analisis yang tajam. "Tidak. Mereka sudah tidak bisa kembali ke performa terbaik mereka seperti musim lalu. Kepergian pemain terbaik mereka ke klub lain membuat tim ini cukup terluka, bisa dilihat dari rekor mereka di grup yang cuma mampu finish di posisi kedua"
Fauzi dan pemain yang lain jadi mengangguk-angguk, seperti paham akan apa yang dikatakan oleh Martin, padahal sebenarnya mereka bahkan tidak mengerti seluruhnya atau mungkin setengahnya, mereka hanya terlihat mengerti saja.
Ponaryo Astaman sudah setengah jalan membacakan nama-nama klub yang akan bertanding, namun masih belum ada nama Pengambangan Cananga Youth yang disebutkan oleh Ponaryo. Sampai pada akhirnya nama Pengambangan Cananga Youth ditarik dari dalam pot undian dan dibacakan oleh Ponaryo Astaman.
"Sabar teman-teman, kita akan tahu sebentar lagi musuh kita" Martin mencoba menenangkan rekan-rekannya yang mulai tidak sabar setelah nama klub dipanggil.
"Jayapura Black Diamond!" suara Ponaryo Astaman bersemangat sekali terdengar dari smartphone mereka semua, dan wajah para pemain Youth Cananga mulai berubah cukup serius.
__ADS_1
"Yang paling buruk dari yang terburuk ya" Martin berkomentar setelah tahu siapa yang akan mereka hadapi.
Semua pemain menunjukkan wajah yang serius, wajah mereka seperti orang yang sedang fokus mengeluarkan sisa dari pencernaan di dalam kamar mandi, biasanya mereka duduk ataupun berjongkok disebuah singgasana yang bernama Toto.
Karena melihat situasi yang cukup serius itu, Rizaldi cukup keheranan. Dia pun bertanya kepada yang lain namun mereka sama sekali tidak menjawab Rizaldi, mereka masih terdiam dalam sepi. Lalu munculah Coach Satria dari ruangan beliau untuk menjawab pertanyaan Rizaldi.
"Jayapura Black Diamond, musuh yang buruk sekali untuk tim kita. Kau pasti bertanya-tanya kan mengapa? Karena merasa adalah tim yang memiliki yang namanya 'kesempurnaan' di tim mereka" ujar Coach Satria
"Kesempurnaan?" Rizaldi masih bingung.
"Ya kesempurnaan! Mereka punya kecepatan, mereka punya ketahanan, mereka punya kemampuan individu, mereka adalah tim yang sangat lengkap. Mereka adalah Brazil-nya Indonesia" jawab Coach Satria lagi.
Jayapura Black Diamond, klub yang ada di Ibukota Provinsi Papua ini memang dikenal sebagai salah satu tim kuat, tim senior mereka bahkan pernah menjuarai liga dan piala shield dan menobatkan diri mereka sebagai tim pertama yang meraih Double Winner saat format liga Indonesia berganti menjadi seperti sekarang.
Mungkin karena faktor alam yang masih sedikit lebih asri daripada kota-kota besar di Indonesia yang lain, membuat mereka lebih terbiasa dengan alam yang membentuk jati diri mereka seperti ini.
Apalagi untuk pemain yang berasal dari daerah Papua sana, mereka diberkahi dengan fisik yang luar biasa kuat dan juga diberkahi skill olah bola yang bagus. Tidak jarang pemain asal Papua sering menari-nari di atas lapangan hijau, mereka menganggap sepakbola sama seperti festival penuh warna dan semangat.
Banyak yang menjuluki para pemain Papua dengan Brazil-nya Indonesia, karena keahlian mereka dalam memainkan si bundar itu.
__ADS_1
Jayapura Black Diamond sendiri adalah salah satu tim terkuat yang ada di Papua. Mereka lolos dari grup mereka dengan catatan nil kekalahan! Mereka berhasil lolos bersama dengan Manokwari Eagle Magnus yang berhasil lolos dengan dramatis.
"Jadi mereka benar-benar hebat ya?" Rizaldi kembali menyeletuk dan ini membuat semua mata tertuju pada dirinya, Rizaldi hanya bisa kebingungan.
"Kamu masih bertanya-tanya mereka hebat? Biar aku kasih tahu ya, mereka memang hebat!" Zaki Iskandar menjelaskan pada Rizaldi mengapa mereka dianggap salah satu tim hebat di Indonesia.
Coach Satria juga langsung memutarkan beberapa pertandingan dan gol-gol dari tim Jayapura Black Diamond, mau itu yang tim senior ataupun tim Youth mereka. Setelahnya, Rizaldi hanya bisa ternganga diam sambil memelototi video yang menunjukkan betapa hebatnya mereka.
"Masih ada pertanyaan Rizaldi?" ujar Coach Satria sambil memegangi vcd yang berisikan rekaman pertandingan yang lainnya.
Rizaldi cepat menggeleng. "Tidak Coach!"
"Bagus lah kalau begitu, jadi kalian sudah tahu kan betapa hebatnya musuh yang akan kita hadapi ini?" semua pemain langsung terdiam dan tertunduk, mereka benar-benar paham kekuatan musuh yang bukan main-main lagi. Jika dibandingkan dengan Buceros yang baru saja mereka lawan, mungkin levelnya sedikit lebih tinggi lagi.
Namun, mereka semua tidak ada yang ketakutan dengan kenyataan dari tim Jayapura Black Diamond. Mereka semua tetap maju tanpa gentar siapapun musuhnya, karena mereka adalah sang juara bertahan dan akan mempertahankan gelar mereka untuk musim ini dan musim-musim yang selanjutnya. Tim kuat adalah obat mereka dan kemenangan adalah ekstasi mereka.
Mereka semua langsung berdiri sudah bersiap untuk memulai latihan hari ini, karena mereka sudah tahu siapa yang akan mereka hadapi nanti kini mereka menjadi jauh lebih bersemangat. Mereka ingin membuktikan pada semua orang bahwa mereka bukanlah tim yang hanya mengandalkan keberuntungan sahaja, akan mereka buktikan kepada semua orang kalau mereka memang bersungguh-sungguh untuk meraih kemenangan demi kemenangan.
Coach Satria Hutama tertawa melihat ekspresi para anak didiknya itu, dia tidak menyangka mereka akan termotivasi sedemikian rupa. Coach Satria berpikir ketika mereka mendapatkan tim kuat di fase 32 besar, mereka mungkin sedikit down dan kurang bersemangat. Namun kenyataannya berbanding terbalik, mereka bahkan terlihat siap menghancurkan siapa saja yang menghalangi langkah mereka untuk meraih kembali tropi yang ditakdirkan untuk mereka.
__ADS_1
"Baiklah anak-anak! Kita pergi ke lapangan dan berlatih seperti biasanya, namun jangan lupakan kesulitannya juga" ucap Coach Satria Hutama
Lalu dijawab dengan suara nyaring oleh mereka semua. "Baik Coach!" mereka pun langsung pergi ke lapangan untuk memulai latihan yang akan mereka jalani hari ini, dengan semangat yang sangat membara yang terlihat dari sudut mata mereka.