
Memasuki babak kedua, ada pergantian strategi dan pemain yang dilakukan oleh tim Pengambangan Cananga Youth. Hal ini dilakukan karena strategi mereka tidak berjalan sesuai harapan di babak pertama tadi dan itu cukup membuat Coach Satria sudah habis kesabarannya, karena pertaruhan mereka disini yang cukup besar.
Dan orang yang beruntung, menjalani laga debutnya di hari ini adalah Rizaldi Fatah. Dia mengenakan seragam kebanggaan Pengambangan Cananga yang berwarna merah dengan garis-garis putih. Nomor 22 di punggungnya bersinar keemasan, seperti disinari oleh matahari itu sendiri.
Rizaldi melangkahkan kakinya memasuki lapangan, dia merasakan atmosfir yang cukup berbeda. Di lapangan ini banyak yang menonton dan mendukung Youth-A, berbeda saat dia bermain di tim-B.
Teriakkan para penonton setia bergema di telinga Rizaldi seperti layaknya gemuruh perang, memang tidak seperti di stadion besar namun Rizaldi sudah merasakan getarannya. Rasa dingin mulai menyentuh belakang tubuhnya, membuatnya sedikit menggigil.
"Aku tidak percaya, Coach Satria malah mengganti Fauzi dengan orang baru itu. Apa sebenarnya yang dipikirkan oleh Coach Satria?"
"Entahlah, tapi ku lihat Fauzi bermain buruk hari ini"
"Aku tidak pernah melihat orang itu, apa dia baru masuk atau apa?"
Masih banyak yang meragukan Rizaldi, itu jelas karena mereka belum pernah melihat Rizaldi bermain. Bahkan saat di tim-B pun sedikit yang melihatnya bermain, jadi ini adalah kesempatan emas untuk bersinar atau malah meredup seperti bintang yang hampir mati.
Pertandingan ini memang benar-benar menjadi laga hidup mati untuk Pengambangan Cananga, serta laga yang menentukan nasib Rizaldi kedepannya. Jika dia gagal memenuhi ekspektasi tinggi dari Coach Satria, dia bisa saja akan memiliki karir yang pendek sebagai pemain sepak bola. Yang dipertaruhkan disini terlalu besar.
Rizaldi melihat sekali lagi misi yang diberikan oleh sistem padanya, saat dirinya ditunjuk untuk masuk di babak kedua. Misi yang menurutnya cukup sulit untuk ia selesaikan kali ini, mengingat kondisi tim yang hampir tidak terselamatkan lagi.
[Misi Hari Ini]
[Satukan tim dengan menggunakan skill Captaincy]
__ADS_1
[Memenangkan laga ini]
[Menjadi man of the match di laga kali ini]
[Hadiah: 3 botol minuman Energy Booster, 2 pack kartu sepakbola grade C dan tambahan poin status +3]
[Hukuman: Sistem akan dihapuskan dan ingatan pemilik akan dihapuskan juga, karir sepakbolanya tamat!]
Melihatnya saja sudah membuat Rizaldi getir bukan main, apalagi soal hukuman jika misi ini gagal. Rizaldi bukanlah orang yang suka mempertaruhkan hidupnya seperti ini, namun dia terpaksa untuk mengikutinya atau keinginannya menjadi pesepakbola yang hebat akan pupus di sini.
Rizaldi kebingungan bagaimana caranya agar dia bisa menyatukan semua pemain yang memiliki ego tinggi ini, itu bukanlah hal yang mudah menurutnya. Apalagi dirinya yang tidak terlalu percaya diri jika harus berbicara di depan orang banyak, semakin susahlah misi ini bagi dirinya.
Namun ada satu hal yang tidak Rizaldi sadari, yaitu manfaat dari salah satu skill yang ia miliki yaitu Captaincy. Tidak seperti skill Mata Dewa yang bisa diaktifkan sendiri oleh Rizaldi, skill Captaincy itu lebih seperti skill pasif di dalam sebuah game. Skill itu akan bisa keluar otomatis tanpa perlu Rizaldi aktifkan sebelumnya. Tetapi hal itulah yang tidak dipahami oleh Rizaldi, dia tidak mengerti bagaimana caranya agar skill itu aktif karena dia merasa selama ini dia belum pernah menggunakan skill Captaincy.
Rizaldi seperti menari-nari di atas padang bulan ditemani cahaya dari lentera- lentera yang indah bagai kunang-kunang, permainannya sungguh membuat kacau permainan tim lawan. Hingga akhirnya mereka mendapatkan peluang di menit 49.
Memanfaatkan kalapnya barisan pertahanan tim lawan, Rizaldi melihat sosok Romeo Filza yang berada dalam posisi menguntungkan. Rizaldi pun akhirnya memberikan bola kepada Romeo namun Rizaldi juga memberikan instruksi agar Romeo langsung memberikan umpan terobosan ke sisi kanan pertahanan musuh, di sana sudah ada Axel Raihan yang bersiap berlari dan menyambar umpan terobosan itu.
Tetapi sayangnya, Romeo malah memberikan umpan kepada Martin yang sebenarnya sudah berada dalam posisi offside. Pada akhirnya peluang itu jadi terbuang sia-sia.
"Hei apa kau tidak melihatnya? Jelas sekali Martin itu sudah offside!" Axel kesal sekali dengan keputusan Romeo yang malah memberikan umpan kepada Martin.
Romeo tidak terima keputusannya dikritisi, dia pun melawan balik. "Pemain sampingan seperti dirimu ini jangan mengkritisi permainanku!"
__ADS_1
"Apa kau bilang?" Axel sudah tidak tahan lagi, namun beruntung Rizaldi langsung menghentikan hal yang tidak perlu terjadi.
"Sudah biarkan saja Axel"
"Kau lihat sendiri kan. Padahal skema darimu tadi bagus sekali, tetapi cecunguk ini malah memberikan bola ke orang yang jelas-jelas sudah offside" Setelah ditenangkan sedikit oleh Rizaldi, akhirnya Axel bisa kembali tenang dan permainan kembali bisa dilanjutkan.
Kejadian itu tidak berulang sekali saja, ada beberapa momen yang sama persis terjadi seperti tadi. Kelompok elitnya Martin tidak mau memberikan bola kepada Axel, Zaki ataupun Rizaldi. Seperti ada penghalang yang memisahkan mereka semua, dan itu baru saja disadari oleh Rizaldi.
Rizaldi baru menyadari kalau misi ini lebih sulit yang dia kira. Untuk menyatukan tim yang seperti ini benar-benar memerlukan sosok kapten tim yang bisa menyatukan tim dalam keadaan dan kondisi apapun, dan itu tidak dimiliki oleh Rizaldi awalnya.
Tetapi Rizaldi yang sekarang memiliki hal itu, dia memiliki kemampuan untuk menyatukan semua pemain itu dan dia hanya perlu mencobanya.
Ketika rasa muak-nya sudah diambang batas, akhirnya Rizaldi pun mengeluarkan unek-uneknya dengan suara yang sangat keras dan lantang.
"Kalian semua! Jika kalian benar-benar ingin menang maka bermainlah seperti seorang pemenang. Kalian bermain seperti anak TK yang baru saja menyentuh bola!" ucap Rizaldi dengan penuh penekanan.
Seperti mendengar orasi dari pemimpin partai buruh tani, semua pemain langsung tertuju matanya kepada Rizaldi dan mereka langsung terdiam. Tidak ada yang berani melawan ataupun menyanggah pendapat Rizaldi, mereka semua seakan-akan membeku di sana.
"Aku tidak peduli kalian dari kalangan elit atau dari kalangan kampung! Ketika kita di tim ini maka kita adalah satu kesatuan! Jadi, lupakan perbedaan itu untuk sesaat dan kita harus memberikan pelajaran kepada mereka semua yang telah menertawakan kita sepanjang pertandingan tadi!" Sambil menunjuk ke arah para pemain Fiume Blu Lulut.
Kelompok elit seperti Martin pun tidak bisa berkata-kata lagi, dia sepenuhnya meyakini apa yang dikatakan oleh Rizaldi walaupun dia adalah seorang kapten tim ini. Inilah kemampuan Captaincy, siapapun yang mendengarnya maka dia akan terpengaruh oleh ucapan Rizaldi, seolah-olah dia benar-benar seorang kapten hebat di tengah lapangan.
Setelah berorasi, mereka pun mendapatkan kembali moral dan semangat juangnya. Lalu gempuran habis-habisan terjadi di pertahanan tim tamu. Hingga mereka tidak berdaya melawan gempuran itu dan permainan berakhir dengan skor 8-0! Ini adalah kemenangan terbesar mereka sekaligus untuk memutuskan rantai kekalahan yang menyakitkan ini.
__ADS_1
Dan di pertandingan kali ini, Rizaldi benar-benar berhasil menjadi man of the match. Dengan menorehkan catatan 2 gol dan 4 assist di laga debutnya hari ini.