Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 49: Trequarista


__ADS_3

Di hari Jum'at, sehabis pulang dari sekolah. Rizaldi dan Dery langsung pergi ke tempat latihan seperti biasanya, namun ada yang berbeda di hari ini. Hari ini adalah hari terakhir mereka melakukan latihan, karena di hari Minggu nanti mereka sudah harus berhadapan dengan musuh terakhir mereka yaitu Buceros FC dalam laga terakhir yang bertajuk "Partai Hidup Mati!"


Memang ini adalah jalan terakhir Pengambangan Cananga Youth jika mereka ingin lolos ke fase gugur, hanya ada 32 tim yang akan masuk ke fase gugur dari beberapa grup yang ada di I-Youth. Mereka butuh yang namanya kemenangan, hasil seri harus mereka kesampingkan dulu, apalagi kekalahan.


Yang mereka hadapi juga bukan sembarang tim, Buceros termasuk ke dalam tim yang suka menghancurkan tim yang kuat. Mereka bermain seolah-olah tidak ada niatan, namun sebenarnya mereka semua meremehkan setiap lawannya dan menganggap tidak ada yang sepadan dengan mereka dalam level ini. Jadi sudah jelas, mereka pun menganggap Pengambangan Cananga adalah salah satu kerikil yang mudah mereka singkirkan dari jalan mereka.


Karena itulah, hari ini para pemain Pengambangan Cananga Youth berlatih dengan sungguh-sungguh dan tidak main-main sama sekali. Bahkan untuk kali ini mereka datang lebih awal daripada jadwal masuk mereka dan Coach Satria juga senang dengan sikap anak-anak didiknya itu.


Coach Satria meniup peluitnya dengan penuh semangat, semua pemain pun langsung berkumpul dan membentuk barisan, meninggalkan kegiatan yang mereka lakukan dibelakang sana. "Baiklah anak-anak sudah saatnya memulai latihan kita kali ini. Tetapi sebelumnya kita pemanasan dulu, pemanasan akan dipimpin oleh kapten tim!" ucap Coach Satria.


Tanpa ragu Martin maju kedepan, rambutnya yang sedikit ikal merah terbakar matahari sore, bergerak dengan gemulai ditutup angin layaknya pohon kelapa di pesisir pantai.


"Baik kawan-kawan ayo kita mulai peregangannya. Dimulai dari bahu, hitungan di mulai! 1...2...3" Martin memulai pemanasan otot.


Pemanasan adalah hal yang penting dalam memulai aktivitas apapun, apalagi soal olahraga. Dalam kegiatan olahraga apapun, peregangan otot selalu ditekankan oleh para pelaku olahraga tersebut. Karena mau sehebat apapun pemain itu, jika dia tidak melakukan pemanasan sebelum berlatih ataupun bertanding, besar kemungkinannya dia akan cidera dan lebih parahnya lagi dia bisa mengalami cidera serius yang mengakibatkan masalah pada karirnya.


Ada banyak sekali gangguan pada otot jika tidak melakukan pemanasan, bisa diskolasi, terkilir ataupun otot menjadi tegang. Bahkan untuk pemain sepakbola yang selalu berlari tanpa henti selama 90 menit pertandingan, kaki mereka akan menjadi makanan empuk bagi penyakit yang namanya cidera. Itulah mengapa pemanasan sangatlah penting.


"Sekarang angkat lututnya, hitungan dimulai!" Martin memberikan gerakan baru, dia mengangkat lutut sedada dan ditekan beberapa detik.


Pemain lain mengikuti dibelakang, mereka menghitung hingga hitungan ke delapan sampai dua kali, baru mereka melakukan pemanasan yang lain.

__ADS_1


Kurang dari 10 menit, sesi pemanasan berakhir. Coach Satria menyuruh mereka untuk bertepuk tangan pada diri mereka masing-masing. Itu dilakukan oleh Coach Satria untuk memberikan suntikan semangat pada mereka semua untuk menjalani latihan hari ini.


Sebelum masuk ke menu latihan hari ini, Coach Satria sedikit berbicara soal apa yang akan mereka lakukan hari ini, di sore ini. Beliau menjelaskan terlebih dahulu soal menu latihan hari ini kepada mereka semua.


"Jadi lawan yang kita hadapi kali ini benar-benar meremehkan kita, mereka seperti menganggap kita semua seperti kumpulan bocah amatir yang sering bermain sepakbola di dalam gang-gang sempit, di pinggir jalanan, atau di halaman-halaman pertokoan. Mereka menganggap kita bukan kelas untuk bermain di I-Youth!" Mata Coach Satria melotot sekali, seperti bisa saja lepas dari tempatnya. Dia benar-benar marah dan kesal, sampai-sampai rasa marah dan kesalnya itu tertular pada anak-anak didiknya yang mendengar apa yang diucapkan oleh beliau.


"Jadi kita akan buktikan pada mereka semua, dengan siapa sebenarnya mereka berhadapan. Kita bukan Daud yang ada di kisah Jalut. Kita juga bukan Achilles yang mengalahkan raksasa. Kita adalah pasukan Alexander Agung yang akan membinasakan musuh-musuh yang ada di depan kita!" Orasi Coach Satria semakin memanaskan situasi, namun anak-anak didiknya sangat suka dengan ucapan beliau.


"Ya, kita buktikan pada mereka semua siapa sebenarnya yang paling elit diantara yang elit!" Martin terpengaruh oleh orasi Coach Satria, namun sayangnya tidak ada yang mengerti apa yang diucapkan olehnya. Hanya kelompoknya saja yang mengerti arti dari ucapan Martin.


Coach Satria sedikit mengangguk ke arah Martin. "Terima kasih Martin!" beliau berterima kasih pada Martin, lebih tepatnya mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Martin tadi walaupun tidak jelas arahnya ke mana. "Intinya, di hari Minggu nanti kita akan mengalahkan mereka dan membuat mereka pulang dengan harapan kosong dan tatapan tidak percaya!"


"Ya kita kalahkan mereka!"


"Ya kita hantam mereka semua!" Rizaldi yang biasanya kalem, juga ikut terpengaruh oleh orasi dari Coach Satria sebelumnya.


Semua mata tertuju kepada Rizaldi, mereka semua menatap Rizaldi setelah Rizaldi mengucapkan kalimat yang sedikit provokatif dan panas di telinga bagi mereka. Rizaldi pun jadi malu sendiri, dia langsung menunduk untuk menghindari tatapan pembunuh dari mereka semua.


Tetapi ternyata mereka malah tertawa terbahak-bahak, baru kali ini mereka mendengar suara Rizaldi yang sedikit meninggi dan terkesan begitu garang itu. Level kedekatan Rizaldi dengan semua pemain di ruang ganti sedikit meningkat karena kejadian ini.


Coach Satria juga sedikit tertawa senang melihatnya, lalu beliau melanjutkan penjelasan beliau. "Jadi untuk mewujudkan hal itu, aku sudah menyiapkan beberapa taktik untuk pertandingan hari Minggu nanti. Di dalam taktik ini, kunci dari taktik ini adalah kau Rizaldi!"

__ADS_1


"E-eh saya Coach?" Rizaldi tentu saja terkejut.


"Yap kau! Kau akan ku plot sebagai *Trequarista!"


"Trequarista*!" ucap semua pemain yang terkejut dengan istilah itu.


Istilah itu sudah lama sekali tidak terdengar di telinga pemain-pemain zaman sekarang, makanya para pemain terkejut karena mereka banyak yang tidak mengetahui istilah itu.


Martin yang tahu istilah itu mencoba menjelaskan pada yang lainnya. "Trequarista itu salah satu taktik yang paling populer di era 90an. Bukan taktik, namun lebih sebagai peran salah satu pemain di dalam tim. Orang yang berperan sebagai Trequarista harus memiliki kreativitas yang luas, bisa mencari ruang dan menciptakan ruang, memiliki kemampuan individu yang bagus dan juga lincah. Contoh pemain yang berperan sebagai Trequarista itu seperti Zidane, Del Piero, Totti dan Michel Platini. Pemain ini sering disebut sebagai seorang 'Pemain Klasik Bermotor 10'"


Huruf O besar langsung terbentuk di mulut mereka semua, mereka baru tahu istilah itu. Wajar saja, karena sepakbola modern sudah sedikit melupakan sosok Trequarista yang dianggap sudah terlalu kuno. Skema 4-3-3 yang sering digunakan oleh klub-klub elit Eropa semakin membuat Trequarista terpinggirkan, namun pelatih semacam Pep Guardiola dan Jurgen Klopp sempat membuat Trequarista zaman modern walaupun berbeda jauh sama sekali.


"Apa yang dikatakan oleh Martin tadi. Wajar saja kalian tidak tahu soal Trequarista. Jadi untuk itu aku harap kau Rizaldi, kau sudah siap dan bisa mengemban tugas berat ini" Coach Satria berharap banyak pada Rizaldi.


Rizaldi yang diberikan tugas tersebut sedikit terpikir karenanya, dia merasa belum siap namun dia harus mengambil peluang itu atau tidak sama sekali. Rizaldi tentu adalah orang yang sangat mengerti soal peluang, dia tahu kalau peluang itu tidak datang dua kali.


Saat Rizaldi hendak menjawab pertanyaan dari Coach Satria. Martin langsung mengintervensinya, dia sedikit kebingungan dengan alasan Coach Satria yang malah berharap Rizaldi bisa beradaptasi menjadi Trequarista dalam waktu yang terlalu singkat.


Coach Satria dengan santai menjawab pertanyaan Martin. "Itu karena aku ingin mencoba sesuatu" itu saja jawaban beliau.


Martin keheranan, dia masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Coach Satria, namun sebelum dia bisa lebih jauh menyanggahnya, Coach Satria sudah terlebih dahulu menyuruh mereka untuk bersiap-siap melakukan latihan pendalaman peran hari ini.

__ADS_1


Rizaldi pun menjalani latihan menjadi seorang pemain nomor 10 pada hari ini, tidak akan ada yang tahu apakah Rizaldi bisa mewujudkan harapan Coach Satria atau malah dia gagal memenuhi ekspektasi tinggi Coach Satria dan malah membuat timnya gagal lolos menuju ke fase gugur.


__ADS_2