
Dengan promosinya Rizaldi Fatah ke tim-A tentunya membuat Dery begitu senang dan berbahagia. Akhirnya dia memiliki teman satu perjuangan lagi di tim-A selain Zaki Iskandar dan Axel Raihan.
Rizaldi yang dianggap Dery sebagai teman terdekatnya itu bisa membuat Dery semakin bersemangat untuk menjalani latihan-latihan berat di tim-A. Ya, latihan di tim-A jauh berbeda dari tim-B.
Latihan mereka cukup berat, bahkan bisa dibilang hampir setara dengan menu latihan para pemain senior yang berlaga di Indonesia League atau I-LEAGUE. Dan itu masih belum diketahui oleh Rizaldi secara pasti. Rizaldi seperti Flyod Mayweather yang masih tidak tahu bagaimana cara melakukan kuncian submission.
Kini semua tim-A, entah itu yang bagian tengah roti ataupun pinggirannya berkumpul di lapangan untuk melakukan latihan hari ini sama seperti biasanya. Namun agak sedikit berbeda hari ini, karena ada orang baru yang promosi ke tim-A maka sudah seharusnya orang itu akan maju kedepan dan memperkenalkan dirinya ke depan banyak orang.
Begitulah yang akan dilakukan oleh Rizaldi Fatah. Dia sudah berdiri di depan semua orang, seperti seorang diktator kelas dunia yang bersiap memberikan orasi penuh dengan kentalnya revolusi.
Semua mata itu tertuju kepadanya, membuatnya sedikit gugup namun Rizaldi bisa mengatasinya. Dia menarik nafas beberapa kali untuk menghilangkan rasa gugupnya, dia menyebut teknik ini sebagai teknik 4-7-8.
"Ayo anak baru, waktu dan tempatnya sudah kami persiapkan untukmu" Coach Satria sudah memberikan ultimatum terakhirnya untuk Rizaldi memulai perkenalannya, atau latihan hari ini akan berakhir begitu saja.
Rizaldi mengangguk pelan, dia kembali melakukan teknik 4-7-8 dan akhirnya dia pun mulai santai untuk melakukan perkenalan diri.
"Namaku Rizaldi Fatah dari tim-B, aku kesini siap untuk menjadi yang terbaik di tim ini!"
Dengan Rizaldi berucap seperti itu, semua mata tadi langsung terbelalak terkejut. Mereka tidak menyangka hal itu akan keluar dari mulut Rizaldi. Apalagi untuk Martin.
Martin adalah striker andalan di tim-A, dia seorang Ace dan sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Banyak yang yakin kalau Martin akan promosi ke tim utama dalam waktu dekat, tim-A hanyalah batu loncatan saja bagi dirinya. Namun untuk musim ini Martin mengawalinya dengan sedikit kelabu.
Sebab, dari 16 pertandingan yang sudah mereka jalani, Martin hanya mampu mencetak 5 gol saja. Berbeda dari musim lalu yang membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak di I-Youth, kini rasanya Martin sedang begitu terpuruk.
Penyebabnya adalah perilaku buruknya yang tidak bisa ia kendalikan sama sekali. Semenjak masuk dan bermain untuk Youth-A dan menjadi Ace. Martin benar-benar menjadi sosok yang berbeda. Dia merasa besar kepala karena merasa usahanya lah yang membuat Youth-A berhasil menjadi kampiun di musim kemarin.
__ADS_1
Dia sangat percaya diri dengan kemampuannya, memang tidak ada yang salah dengan kemampuannya. Kemampuannya itu bagai kemampuan seorang ahli yang lahir beberapa tahun sekali, sebut saja Maradona-Messi, atau seperti Muhammad Ali dan Mike Tyson. Namun dengan kesombongannya itu akhirnya dia menciptakan suatu jurang pemisah antara dirinya dan juga pemain yang lain tanpa ia sadari.
'Kurang ajar sekali, orang yang tidak berbakat bisa bicara seenaknya seperti itu' ucap Martin dalam hatinya, jelas sekali dia tidak senang dengan kehadiran sosok Rizaldi di tim-A.
Coach Satria memberikan applaus untuk Rizaldi, namun itu bukanlah applaus untuk menghargai seseorang. Itu adalah applaus untuk meremehkan seseorang, ya Coach Satria memang dikenal suka begitu. Dia tidak akan langsung menganggap seseorang bagus jika dia belum melihat dengan mata kepalanya sendiri apakah sosok itu benar-benar berharga bagi dirinya.
"Baiklah kalian semua segera berkumpul, kita akan melakukan sedikit peregangan otot terlebih dahulu sebelum kita memulai menu latihan kita hari ini!"
"Baik Coach!" ucap mereka semua bersamaan.
Mereka semua lalu melakukan sedikit peregangan. Dimulai dari melakukan lari beberapa putaran. Pada saat itu Dery dan Zaki lebih sering ngobrol dengan Rizaldi lagi, mereka bertanya-tanya tentang perkembangannya selama beberapa bulan ini.
Rizaldi hanya tersenyum saja. "Kalian lihat saja nanti" ujarnya.
Zaki dan Dery sedikit terkekeh mendengarnya. "Hohoho. Jadi tidak sabar melihatnya kan Zaki?"
Mereka bertiga lalu tertawa bersamaan, sebelum Axel Raihan menyalip mereka dan langsung masuk ke dalam obrolan mereka bertiga.
"Seberapa banyak kau berkembang, tetap saja aku yang akan menjadi pemain terbaik di tim ini" Axel tidak mau kalah dengan Rizaldi.
"Ow ow ow sepertinya ada yang tidak mau kalah nich" Dery bertingkah seperti seorang gadis ABG yang sering membuat onar di sekolahnya
"Hei hei hei awas ada yang marah bro" Zaki juga menanggapinya dengan penuh gaya.
Duo itu kembali tertawa sejadi-jadinya, membuat Axel kesal dan harus memberikan mereka berdua pelajaran yang harus diberikan. Axel menghadiahi mereka berdua dengan menjitak kepala mereka berdua hingga mengeluarkan benjolan seperti ikan lohan.
__ADS_1
Rizaldi tidak bisa berkomentar apapun lagi, dia hanya bisa mendoakan kedua temannya itu yang terbaik saja setelah menerima jitakan oleh Axel Raihan. "Makanya jangan usil jadi orang" hanya itu yang bisa Rizaldi ucapkan.
Latihan dilanjutkan, kini ke sisi menu latihan yang utama. Coach Satria ingin melakukan mini game dengan pertandingan 5vs5. Tidak memakai lapangan penuh, hanya setengahnya saja.
Ada gawang kecil yang dijaga oleh masing-masing tim. Tidak ada kiper di permainan kali ini, kiper tidak diperbolehkan untuk menyentuh bola dengan tangannya.
"Latihan ini bertujuan untuk memperkuat pertahanan kita. Kalian tahu sendiri betapa terpuruknya kita musim ini dan aku tidak ingin ada kegagalan lagi. Pertandingan minggu ini harus kita menangkan, tidak peduli betapapun susahnya!" ucap Coach Satria.
Setelah membagi menjadi beberapa kelompok kecil, Coach Satria meniup peluitnya dan memulai latihannya. Untuk yang pertama dapat giliran adalah kelompok Rizaldi yang terdiri dari Dery, Zaki dan Axel serta satu pemain lagi yang berposisi sebagai bek sayap yaitu Amat. Amat adalah salah satu remahan roti di tim ini.
Sedangkan kelompok yang akan mereka hadapi adalah kumpulan pemain yang selalu menjadi santapan utama di tim. Martin, Romeo, Fauzi, Galih dan Bagas.
"Sudah saatnya kita berikan pelajaran pada mereka-mereka itu. Mereka lah alasan mengapa kita menjadi terpuruk" ucap Martin yang diamini oleh keempat temannya yang lain.
Menyadari tatapan dari kelompok Martin, Dery pun menyeletuk. "Sepertinya mereka ada perasaan dendam dengan kita"
Rizaldi, Zaki dan Axel melirik ke arah kelompok Martin setelah Dery berucap seperti itu dan sepertinya memang benar apa yang dikatakan oleh Dery.
"Apa yang sebenarnya terjadi, bukannya kalian rekan satu tim?" Rizaldi yang baru saja bergabung tidak tahu menahu soal persoalan yang terjadi di tim Youth-A.
Axel maju untuk menjelaskan secara singkat pada Rizaldi soal masalah di tim-A. "Kami semua dianggap mereka sebagai remahan roti saja sehingga kami tidak dianggap setara. Karena kami tidak dianggap setara maka kami tidak akan pernah mendapatkan bola pada saat pertandingan"
"Kenapa bisa seperti itu Axel?" Rizaldi sangat terkejut dengan informasi itu, dia tidak menyangka ada hal seperti itu di tim A.
Sekarang Rizaldi baru menyadari setelah melihat atmosfer di tim-A. Sungguh berbeda sekali dari tim-B, perbedaannya seperti matahari dan bulan. Dan karena itu juga Rizaldi jadi tahu harus berbuat apa, dia harus membuktikan dirinya di sini agar menjadi seorang roti yang utuh.
__ADS_1
"Ayo teman-teman kita tunjukkan kepada mereka kehebatan kita!" ucap Rizaldi dengan penuh keyakinan dan semangat yang membara.
Axel, Dery dan Zaki yang mendengar kata-kata penyemangat dari Rizaldi itupun langsung terbakar oleh api semangat membara, walaupun ini hanya sekedar mini game, tetapi mereka bertekad untuk memberikan pelajaran pada para orang-orang yang merasa elit itu.