
Setelah melakukan pemanasan dan tubuh mulai panas dan mulai bersemangat, para pemain Pengambangan Cananga Youth pun memulai latihan mereka hari ini. Tidak ada latihan spesifik untuk mereka hari ini, Coach Satria lebih memilih untuk meningkatkan kebugaran para anak didiknya dengan melakukan beberapa menu latihan untuk itu.
Beberapa orang cuma sebentar berada di lapangan dan beberapa lagi ada yang tinggal di lapangan, ini sesuai perintah Coach Satria yang ingin melakukan sesuatu dengan formasi yang dia gunakan saat melawan Buceros FC beberapa waktu yang lalu.
Coach Satria ingin menggali lebih dalam lagi peran yang dimainkan oleh Rizaldi Fatah pada saat pertandingan kemarin itu, beliau tidak punya gambaran yang jelas untuk itu namun dia mendapatkan petunjuk dari Coach Giovanni untuk menggunakan potensi Rizaldi dengan sangat baik.
Ada beberapa pemain yang tinggal di lapangan, mereka adalah Dery yang menjadi penjaga gawang. Fauzi, Zaki, Axel, Martin, Galih dan Bagas serta Rizaldi yang akan melakukan beberapa demonstrasi skenario skema penyerangan sama seperti saat pertandingan melawan Buceros.
Sudah beberapa kali mereka melakukan skema itu namun Coach Satria tetap belum saja merasa puas, dia merasa Rizaldi masih bisa mengembangkan permainannya namun dirinya juga tidak tahu harus seperti apa mengembangkan permainan dari anak itu. Bukan berarti Rizaldi tidak bagus, dia bahkan sudah lebih bagus dan baik daripada saat pertandingan itu. Insting dalam mencetak gol yang dimilikinya semakin kuat, insting pembunuhnya juga semakin terlihat, Rizaldi bisa menjadi penyerang yang mematikan. Namun itu bukanlah tujuan dari skema ini.
Coach Satria meniup peluitnya. "Istirahat dulu!" ucap beliau, pikirannya masih melayang membayangkan cara bagaimana merevolusi gaya permainan Rizaldi.
Banyak diantara mereka langsung tertunduk kelelahan, bahkan Martin saja langsung terduduk lemas karena mereka memang berlatih dengan sangat intens.
"Kau semakin bagus!" Martin memuji Rizaldi yang akhir-akhir ini semakin bagus.
"Benarkah, aku merasa sama saja seperti yang kemarin" jawab Rizaldi, nafasnya tidak sengal sama sekali, sangat berbeda dari teman-temannya yang lain yang nafas mereka yang susul-menyusul.
Memang benar, Rizaldi sudah sangat berbeda daripada yang sebelumnya. Keputusan Coach Giovanni dahulu. Keputusan Coach Giovanni untuk memainkan Rizaldi di tim-B terlebih dahulu sebelum naik ke tim-A benar-benar tepat. Karena keputusan itu Rizaldi sedikit mulai terbiasa bermain dalam permainan Pengambangan Cananga. Rizaldi yang baru bermain bola itu, sedikit demi sedikit mulai mengerti dasar-dasarnya bukan hanya dibantu oleh sistem yang memang ada pada dirinya.
Setelah dia masuk ke tim-A, potensi Rizaldi mulai benar-benar terlihat dan cukup sebentar saja Rizaldi mulai menjadi pemain penting di tim-A. Dan kini Rizaldi memiliki peran baru di tim, jika sebelumnya dia lebih bermain sebagai gelandang dan juga playmaker, sekarang Rizaldi berperan sebagai Trequarista.
__ADS_1
Pertandingan-pertandingan yang telah dijalani oleh Rizaldi di tim mulai membentuk jati dirinya yang baru, sekarang dia benar-benar mulai terbiasa dengan salah satu permainan bola besar itu. Pertandingan melawan Buceros kemarin menjadi titik balik dirinya, Rizaldi benar-benar sudah menjadi lebih kuat.
Jika Rizaldi tidak menggunakan sistem pun, sekarang dia mulai terbiasa bermain dan mulai lihai, namun Rizaldi juga sangat bersyukur karena mendapatkan sistem itulah hidupnya mulai berubah menjadi lebih baik lagi, bahkan dari yang sebelumnya.
Statusnya pun meningkat sangat pesat, dia sudah melebihi para pemain seusianya, tetapi sekali lagi sepakbola bukalah permainan yang bisa dimainkan oleh satu orang saja. Rizaldi membutuhkan rekan-rekan yang memiliki visi bermain yang sama seperti dirinya, yaitu memenangkan setiap laga yang mereka mainkan dengan sepenuh hati. Tidak ada gunanya Rizaldi memiliki status tinggi dari sistem kalau dia bermain seorang diri. Seorang Lionel Messi pun perlu rekan-rekannya untuk membuat Barcelona memenangkan banyak tropi.
Rizaldi memiliki teman-teman yang sama-sama mengincar kemenangan mutlak. Mereka ingin mempertahankan gelar mereka sebagai juara bertahan, walaupun di awal mereka sedikit keteteran dan hampir saja mengalami mimpi buruk yang kelam. Rizaldi juga memiliki rekan yang tidak mau kalah satu sama lainnya, jika ada yang menonjol maka mereka akan termotivasi agar lebih menonjol lagi dan situasi seperti ini membuat Rizaldi semakin bersemangat untuk bersaing dengan mereka-mereka semua.
Seperti Axel Raihan yang terus bersaing dengan Fauzi untuk sebagai pemain sayap, atau Martin yang sekarang menganggap Rizaldi sebagai saingan yang pantas setelah dengan apa yang dilakukan olehnya.
"Ayo kita mulai beberapa skema lagi" ucap Coach Satria yang mengakhiri istirahat singkat mereka.
Dery yang berjaga dibawah gawang terus menepis tendangan-tendangan yang mengarah kepada dirinya, walaupun juga ada tendangan dari Martin atau Rizaldi yang berhasil masuk ke dalam, namun Dery memang masih dibilang sebagai kiper hebat di liga kali ini. Jika Dery bisa mempertahankan performanya kemungkinan besar dia bisa bersaing untuk mendapatkan sarung tangan emas di liga kali ini.
Coach Satria masih mengamati para pemain yang terus melakukan skema menyerang itu, mereka sudah mulai mengerti harus apa dan bagaimana sehingga skema itu sudah mereka kuasai sedikit demi sedikit. Setelah cukup lama, Coach Satria kembali meniup peluit sekali lagi dan mereka semua langsung menoleh dan berhenti melakukan aktivitas mereka.
"Bagus sekali anak-anak, ku lihat kalian sudah mulai terbiasa dengan skema ini. Semoga ini bisa menjadi senjata baru kita untuk memulai fase gugur nantinya" ucap Coach Satria
Mereka semua hanya mengangguk saja, terlalu lelah untuk menjawab pernyataan beliau. Coach Satria mengambilkan air minum untuk mereka, karena dilihat saja mereka sudah tidak punya sisa tenaga untuk berjalan mengambil air minum.
Namun Rizaldi masih terlihat cukup segar, bahkan nafasnya tidak saling memburu, dia masihlah bugar namun tidak terlihat seperti orang yang bermalas-malasan. Coach Satria sendiri melihat betapa kerasnya dia berlatih tadi, namun beliau juga sedikit terkejut dengan ketahanan yang dimiliki oleh Rizaldi.
__ADS_1
Jadi, pada saat hendak memberikan minuman pada Rizaldi. Coach Satria sedikit bercanda pada Rizaldi. "Kamu tidak usah ya, kamu tidak haus kan Rizaldi" ucap Coach Satria menarik kembali botol minuman tadi, Rizaldi hanya bisa ternganga dan menimbulkan gelak tawa dari teman-temannya.
Coach Satria akhirnya memberikan botol minum pada Rizaldi, yang langsung disambut oleh Rizaldi dan langsung diminum olehnya. Rupanya Rizaldi lebih haus dari yang lainnya, karena dia hanya perlu satu tarikan nafas untuk menghabiskan semua air yang ada di dalam botol.
Coach Satria hanya bisa menggelengkan kepalanya, beliau lalu memberitahukan kepada mereka semua hal yang terlupakan oleh beliau kemarin.
"Hari senin kita akan pergi ke Jakarta"
"Untuk apa Coach?" Rizaldi tentu saja kebingungan karena dia tidak tahu sama sekali, rekan-rekannya yang lain sudah mengetahui hal itu namun mereka sengaja tidak memberitahu Rizaldi.
Coach Satria langsung saja menatap ke arah mereka semua, Martin-cs langsung memalingkan wajah mereka karena tahu Coach Satria marah kepada mereka. "Kenapa kalian tidak memberitahu anak ini" terlihat di wajahnya.
"Ada apa memangnya Coach jadi kita harus pergi ke Jakarta? tanya Rizaldi lagi.
Coach Satria menggelengkan kepalanya lebih dulu karena tidak percaya anak itu masih belum menyadarinya, akhirnya beliau memberitahukannya kepadanya. "Fase gugur kali ini diadakan di sana, kemarin di Bandung dan sekarang kita mengadakannya di Jakarta"
Rizaldi sungguh terkejut dengan berita itu, dia tidak tahu menahu sama sekali soal ini dan dia langsung menatap ke teman-temannya, mereka langsung memalingkan wajahnya termasuk Dery yang ikut memalingkan wajah. Rizaldi lalu duduk termenung, dia bukannya memikirkan soal ke Jakarta, melainkan dia memikirkan soal sekolah yang tidak akan ia hadiri selama lebih dari sepekan.
"Jika kau khawatir soal sekolah mu, nanti ada staf klub yang akan mengurusnya. Tenang saja kami pastikan kau mendapatkan yang terbaik" ujar Coach Satria lagi.
Namun tetap saja Rizaldi masih termenung memikirkan hal itu, dia seperti tidak mau harus libur sekolah apalagi dalam waktu yang lama. Akhirnya dia larut dalam pikirannya, Coach Satria pun juga tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang.
__ADS_1