
Tur ke Spanyol sudah berakhir dua minggu yang lalu, kini Rizaldi Fatah dengan pemain-pemain Pengambangan Cananga FC yang lain mulai kembali berlatih di tempat pusat pelatihan tim Pengembangan Cananga FC lagi seperti biasanya.
Kegiatan mereka berjalan seperti biasanya untuk sekali lagi, pemain-pemain yang mendapatkan jatah liburan lebih pun juga sudah mulai terlihat kembali hadir di The Barracks, nama dari tempat pemusatan latihan tim Pengambangan Cananga FC. Selain itu ada pula nama-nama pemain muda yang baru saja kembali dari seleksi timnas U-17 di Korea Selatan- nama seperti Derry Yanuar, Axel Raihan dan juga Martin Santoso sudah bisa berhadir kembali.
Tentu saja melihat kehadiran mereka bertiga membuat Rizaldi langsung menyapa mereka, sudah lama semenjak putaran final I-Youth mereka terakhir kali bertemu.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Rizaldi.
"Tentu saja kami baik-baik saja, kami bertiga berhasil menaklukkannya!" jawab Derry sambil melakukan salaman khas antara mereka berdua.
Rizaldi ikut senang karena teman-temannya berhasil lolos seleksi timnas U-17 dan kini mereka tinggal bersiap-siap untuk dipanggil membela laskar Garuda Muda nanti. Rizaldi juga sebenarnya ingin seperti mereka bertiga, tetapi dia menyadari kesempatannya masih banyak dan dia berniat untuk membuktikan dirinya di musim ini, dengan begitu dirinya akan mendapatkan pengawasan dari Coach Maeda yang menangani tim garuda muda.
Kegiatan hari ini tidak jauh berbeda dari hari biasanya, mereka hanya melakukan latihan seperti biasanya selama beberapa jam. Lalu dilanjutkan dengan latihan di gym selama kurang lebih 1 jam setengah sebelum akhirnya mereka pun diijinkan untuk pulang.
"Hei Rizal, apa kau punya rencana lain sore ini. Aku bermaksud mengadakan pesta kecil-kecilan" Anan Riswan berniat mengajak Rizaldi untuk melakukan kumpul-kumpul yang sudah dirinya rencanakan setelah kembali dari Spanyol.
Tetapi sayangnya Rizaldi harus menolak ajakan dari Anan Riswan kali ini, sebab dia memiliki agenda miliknya tersendiri kali ini. Jika saja Anan Riswan mengajaknya beberapa hari yang lalu mungkin Rizaldi masih bisa untuk mengatur ulang jadwalnya, tetapi sayangnya Anan Riswan mengajaknya terlalu mendadak.
"Maaf Anan, tetapi aku sudah punya rencana lain hari ini. Andai saja kau bilangnya kemarin aku pasti bisa ikut" ucap Rizaldi.
Derry yang mendengar percakapan itu langsung ikut masuk kedalam obrolan mereka berdua. "Dia benar, Rizaldi hari ini ingin bertemu dengan seseorang yang spesial kan?"
__ADS_1
Rizaldi langsung menatap tajam kearah Derry, seperti tatapan seorang pendekar yang memiliki dendam lama pada musuh bebuyutannya. Derry langsung pura-pura membersihkan lokernya setelah melihat tatapan Rizaldi itu, dia tidak ingin menatap mata itu bagaimana pun caranya.
Anan Riswan mengangguk pelan, dia mulai mengerti mengapa Rizaldi harus melewatkan undangan pesta kecil-kecilan. "Kalau begitu kau juga bisa bawa pacarmu itu kok Rizaldi, sekaligus perkenalkan kepada kami semua soal pacar mu itu" ucap Anan Riswan.
Rizaldi sedikit menghela nafas, lalu dia menggelengkan kepala. "Dia bukan pacarku, kami hanya teman dekat" ucap Rizaldi mencoba menjelaskan hubungannya pada mereka.
Tetapi mereka tidak peduli dengan apa yang coba disampaikan oleh Rizaldi, tetap saja mereka menganggap kalau Rizaldi sudah memiliki tambatan hati dan ingin menghabiskan waktunya bersama dengan pacarnya itu. Akhirnya Rizaldi pun tidak peduli lagi dia mengabaikan semua siulan yang ditujukan kepada dirinya sambil tersenyum-senyum miring tidak jelas, dia menyimpan rasa kesalnya pada Derry yang sudah membuatnya menjadi seperti ini.
Rizaldi terus berjalan ke tempat di mana mereka akan bertemu, ada seseorang yang ingin ditemui oleh Rizaldi kali ini dan sosok itu cukup penting bagi dirinya. Dia memiliki sebuah janji yang telah ia buat dengan sosok itu sehingga mau tidak mau Rizaldi harus menepati janjinya itu.
Kurang lebih 12 menit Rizaldi berjalan dari tempat latihan Pengambangan Cananga FC, Rizaldi sudah sampai di tempat dia akan bertemu dengan sosok perempuan yang ingin ia temui. Rizaldi harus menunggu beberapa menit lagi sebelum akhirnya sebuah mobil sedan panjang berwarna hitam metalik terlihat dan berhenti tepat di dekat Rizaldi duduk menunggu.
"Sudah lama kah Rizal menunggu?" tanya perempuan manis setelah turun dari mobil berwarna hitam metalik itu, sosok itu adalah Salma Finola yang merupakan teman dekatnya.
"Tolong jaga tuan putri sebentar ya nak Rizal, bapak mau bertugas kembali" ujar pak supir lalu menutup kaca mobil dan meninggalkan mereka berdua di sana seperti sepasang merpati.
"Lalu mau pergi ke mana kita?" Salma memutuskan tali ketegangan di antara mereka berdua.
Lalu mereka berdua pun mulai menyusuri daerah perbelanjaan di kota Pengambangan. Rizaldi menceritakan beberapa pengalamannya selama di Spanyol pada Salma saat mereka berjalan-jalan mencari tempat yang pas untuk mereka tuju.
Lima belas menit mereka habiskan berputar-putar di pusat perbelanjaan saja, waktu terasa begitu cepat berlalu bagi mereka berdua. Rizaldi bahkan sudah memenuhi tas belanjaannya dengan beberapa jenis sayuran, daging dan buah-buahan untuk ia bawa pulang nantinya.
__ADS_1
"Apa kamu mau belajar memasak lagi Rizal?" Salma bertanya soal belanjaan dari Rizaldi yang cukup banyak itu.
"Tidak-tidak. Ini hanya stok untuk satu bulan kedepan"
Salma mengangguk pelan, dia mulai memikirkan topik apa yang akan ia bicarakan lagi pada Rizaldi. Karena itu membuat mereka berdua cukup canggung untuk beberapa saat. Tangan mereka juga hampir bersentuhan beberapa kali secara sengaja dan tidak sengaja, ini semakin membuat perasaan tidak nyaman mereka berdua semakin meningkat.
"Rizal" ucap Salma dengan pelan.
"Ada apa?"
"Apa aku boleh meminta satu hal pada mu?" Salma semakin tertunduk dan suaranya semakin pelan yang membuat Rizaldi harus lebih mendekat agar mendengar suara Salma.
Karena apa yang dilakukan oleh Rizaldi, membuat Salma semakin malu dan canggung dan buru-buru mendorong Rizaldi untuk sedikit menjauh. Membuat Rizaldi sedikit kebingungan dengan apa yang terjadi pada sosok perempuan itu.
"Aku boleh minta satu hal padamu?" Salma mengulangi pertanyaannya, lagi kali ini dia mengucapkannya dengan suara yang cukup keras dan menatap tepat mata Rizaldi.
Rizaldi sedikit terkejut dengan itu, tiba-tiba rasa gugup menyerangnya dan Rizaldi mulai sedikit gelisah. Pikirannya mulai kacau, dia mulai membayangkan hal yang tidak-tidak. Rizaldi mencoba membuang semua pemikiran yang muncul pada dirinya, tetapi tetap saja pikiran itu selalu muncul begitu saja.
Salma semakin yakin menatap Rizaldi yang membuat Rizaldi semakin kaku seperti membatu karena menatap matanya medusa.
"Bisakah kamu mengajari ku memasak sesuatu? Hari ini tadi aku berniat membuatkan mu mie goreng yang lezat dan bergizi. Tetapi anehnya mie yang ku buat berubah menjadi warna hitam dan membuat pelayan di rumahku marah" Salma mengucapkan apa yang sudah ia pendam sedari tadi.
__ADS_1
Begitu mendengarnya, Rizaldi langsung kehilangan separuh nyawanya. Dia ingin berharap agar separuh nyawanya yang tersisa biarkan hilang juga karena dia sudah terlanjur sangat percaya diri sehingga saat ini dia merasa hancur lebur.