Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 115: Indonesia Memanggil


__ADS_3

Sekitar 2 minggu setelah berakhirnya I-Youth. Ada suatu gerakan besar yang dilakukan oleh Federasi Sepakbola Indonesia atau FSI. Gerakan ini mengejutkan semua pihak, baik itu warga Indonesia sendiri maupun negara-negara yang ada di ASEAN ataupun di Asia.


Gerakan besar itu adalah sebuah berita yang begitu besar, FSI mengangkat pelatih baru. Memang hanyalah sebuah berita yang terlihat biasa, tetapi jika dilihat siapa yang ditunjuk oleh FSI maka terlihatlah kehebohan itu. Orang yang ditunjuk oleh FSI untuk menukangi tim nasional Indonesia adalah pelatih muda yang sudah terkenal akan keberhasilannya membawa Jepang juara Piala Asia dan berhasil membawa timnas Jepang U-17 menjadi runner-up Piala Dunia U-17. Siapa lagi jika bukan Igarashi Maeda.


Pengangkatan Igarashi Maeda sebagai pelatih timnas Indonesia ini membuat rival-rival mereka khawatir jika akan terjadi peningkatan pesat pada timnas Indonesia, dan itulah yang akan mereka antispasi sebisa mereka.


Perkenalan Igarashi Maeda sebagai pelatih baru timnas Indonesia dilaksanakan di kantor pusat FSI. Para wartawan langsung diberikan kesempatan untuk bertanya-tanya soal Igarashi Maeda, dan mereka langsung tidak menahan diri untuk bertanya.


"Sebagai pelatih kepala baru timnas Indonesia, apa agenda yang akan coach lakukan untuk peningkatan kualitas sepakbola di Indonesia?" mereka tanpa ampun langsung ingin menyudutkan Igarashi Maeda.


Begitulah para media, mereka akan melakukan apa saja untuk membuat berita yang laku di pasaran. Berita yang bagus? Bagi mereka tidak ada berita yang bagus jika tidak memunculkan pro dan kontra para pembaca mereka. Para wartawan itu juga sudah tidak terlalu percaya atau mungkin pesimistis dengan masa depan sepakbola di Indonesia.


Sudah banyak pelatih silih berganti membenahi persepakbolaan di negeri ini, namun hasilnya tetap saja kurang memuaskan, tetapi tidak pula berujung kegagalan. Sepakbola Indonesia terus bergerak maju, tetapi jika dikatakan sudah sesukses negara rival seperti Thailand, Vietnam atau bahkan tim negeri Jiran Malaysia, kita sedikit tertinggal.


Igarashi Maeda adalah salah satu nama pelatih asing yang menukangi timnas Indonesia, sehingga para awak media langsung menanyakan pertanyaan seperti itu memang adalah pertanyaan yang sudah standar mereka lakukan.


Tetapi, Igarashi Maeda dengan tenang menanggapi pertanyaan menjebak dari tim media. Maeda menjawab pertanyaan mereka semua. "Tentu saja sebagai seorang pelatih, saya menginginkan yang terbaik untuk timnas Indonesia. Saya dan tim akan saling berkerja sama untuk meningkatkan persepakbolaan di negeri ini dan doakan saya untuk itu"


"Untuk mewujudkan hal itu, apa langkah pertama yang akan pelatih lakukan?" mereka masih saja belum menyerah.

__ADS_1


Tetapi Maeda tetap memperlihatkan wajah dan senyuman kepercayaan dirinya. "Jelas sekali, kami akan mengincar kompetisi yang paling dekat saat ini. Piala AFF U-17"


Suara 'oh' terdengar bergema di dalam ruangan, para awak media langsung menyerang Igarashi Maeda dengan sorotan kilat kamera mereka semua demi menangkap momen ini. Tetapi mereka belum selesai, masih ada perasaan yang menggebu-gebu di dalam diri mereka untuk membuat Igarashi Maeda terlihat lemah dihadapan mereka saat ini.


"Bagaimana cara anda mempersiapkan tim dalam waktu yang singkat ini? Piala AFF U-17 hanya tinggal dua bulan lagi"


Mereka-mereka ini, sungguh menyebalkan" ucap Maeda dalam hati. Lalu seperti tanpa merasa tertekan sama sekali Maeda menjawab pertanyaan dari mereka semua. "Tentu saja saya sudah memikirkan hal itu, saya sudah di Indonesia semenjak beberapa bulan yang lalu. I-Youth benar-benar membuat pekerjaan saya jadi lebih mudah, dengan adanya kompetisi ini saya sudah mengumpulkan nama-nama yang akan saya panggil untuk pemusatan latihan di Korea Selatan"


Semua orang yang berada di dalam ruangan itu sungguh terkejut dengan pernyataan dari Maeda. Maeda bilang bahwa dirinya sudah mendapatkan nama-nama pemain yang akan dirinya panggil untuk pemusatan latihan di Korea Selatan dan itu tidak diharapkan oleh para awak media. Dengan jawaban itu berakhir juga sesi tanya jawab pada malam itu, walaupun para awak media terus meminta satu pertanyaan lagi tetapi tetap saja Igarashi Maeda lebih memilih untuk tidak menjawab pertanyaan dari mereka lagi.


Beberapa hari setelah itu keluarlah nama-nama pemain yang dipanggil oleh Igarashi Maeda untuk pemusatan latihan di Korea Selatan. Dua diantaranya ada pemain dari Pengambangan Cananga Youth, yaitu Derry Yanuar Pinto Rosario dan Martin. Sebenarnya Igarashi Maeda juga sempat memasukkan nama Rizaldi Fatah kedalam list panggilan, tetapi dia baru saja mendapatkan konfirmasi dari pihak tim Pengambangan Cananga Youth bahwa Rizaldi Fatah masih harus berurusan dengan pemulihan cidera yang dirinya alami.


"Sudahlah sobat jangan bersedih seperti itu. Coach Satria Hutama sudah bilang bahwa Coach Igarashi Maeda sempat memasukkan namamu di dalam list-nya. Andai saja kau tidak cidera, pasti kita akan berangkat ke Korea Selatan bersama-sama!" Derry mencoba menghibur Rizaldi yang sedikit kecewa namanya dicoret dari list karena masih cidera.


Dia tau betul sosok Igarashi Maeda, bahkan pada saat Igarashi Maeda masih menjadi pemain pun Rizaldi juga tau akan hal itu. Makanya dia sangat terbawa suasana ketika mendengar Igarashi Maeda yang akan menjadi pelatih kepala timnas Indonesia U-17.


Martin menertawakan kondisi Rizaldi yang tidak berdaya itu. "Itu tandanya aku sudah lebih baik daripada kau!" ujarnya dengan sangat percaya diri.


"Sudahlah Martin, namamu mungkin hanyalah pilihan terakhir dari Coach Igarashi. Ingatlah, selain namamu juga ada nama-nama seperti Yoga Hilmawan dan Wildan Hutami yang bisa mengisi posisimu itu!" ucapan Derry langsung membuat Martin seketika teringat dengan dua sosok itu.

__ADS_1


Rizaldi juga mulai mengingat sosok Yoga Hilmawan. Rizaldi kembali kesal sendiri karena merasa kembali dikalahkan oleh sosok Yoga Hilmawan yang dirinya anggap sebagai seorang rival itu. "Pastikan dirimu selalu menunjukkan performa yang bagus Martin, atau kalau tidak kau malah pulang lebih awal dari pemain lain"


"Kau jangan mengguruiku Rizaldi! Urus saja cidera mu terlebih dahulu sebelum mengkhawatirkan orang lain. Tentu saja aku akan berjuang untuk memastikan posisiku di timnas" balas Martin.


"Ya aku juga akan berjuang untuk posisi kiper utama di timnas" Derry ikut bersemangat.


Melihat kedua temannya itu membuat Rizaldi sedikit tersenyum, walaupun dirinya juga merasa iri diwaktu yang bersamaan. "Aku akan mendoakan kalian berdua dari sini" ucap Rizaldi dengan suara yang sedikit bergetar.


Derry sedikit tersentuh melihat keadaan sosok sahabatnya itu. Jauh di lubuk hatinya dirinya ingin sekali bermain bersama dengan Rizaldi, apalagi dirinya tahu betul kualitas yang ditunjukkan oleh Rizaldi selama pertandingan I-Youth. Rizaldi benar-benar layak mendapatkan sebuah tempat di skuad timnas U-17. Martin pun juga merasa demikian, walaupun dirinya enggan mengakui namun semenjak Rizaldi Fatah masuk ke tim-A Pengambangan Cananga Youth, permainan mereka jauh lebih bagus dan tim begitu solid.


"Kami juga mendoakan agar kau cepat pulih kawan. Jika kau sudah pulih nanti, mungkin kita akan bermain di tim senior" ujar Derry yang mencoba menghibur rekan seperjuangannya itu.


Rizaldi sedikit tertawa menanggapi itu. "Yah kau benar sekali sobat!" lalu mereka berdua melakukan tos dan kemudian Derry dan Martin keluar dari tempat Rizaldi dirawat.


Saat mereka berdua sudah keluar, barulah Rizaldi melepaskan topeng yang ia kenakan semenjak kedua temannya datang. Rizaldi mengumpat beberapa kali, menyesalkan apa yang sudah terjadi pada dirinya.


Dalam keputusasaan itu, Boro keluar untuk menenangkan sang master namun tetap saja Rizaldi tidak mendengarkannya.


"Master tenanglah! Semuanya belum berakhir master. Jika hanya karena cidera ini anda sudah menyerah dengan mimpi anda, bagaimana anda bisa menatap wajah ibu anda yang sudah memberikan segalanya untuk anda?"

__ADS_1


Rizaldi terdiam, hening dalam keadaan suram. Air matanya tiba-tiba mengalir saat mengingat sosok ibunya. Dia sudah berjanji pada sosok perempuan yang sangat ia sayangi itu, saat mengingat janjinya itu akhirnya Rizaldi kembali tenang dan sekali lagi mencari keberadaan cahaya setelah jatuh terlalu dalam ke dalam kegelapan.


Rizaldi bertekad kalau dia harus segera mengatasi cidera yang ia derita ini dan kembali ke performa terbaiknya.


__ADS_2