Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 58: Waktu


__ADS_3

Waktu adalah hal yang paling misterius di dunia ini, mengalahkan lubang cacing atau lubang hitam sekalipun. Tidak ada yang tahu pasti seperti apa waktu itu sebenarnya. Apakah memiliki wujud, atau apakah waktu adalah sebuah benda? Apakah sebenarnya dia tidak terlihat? Tidak terikat? Atau apakah sebenarnya yang namanya waktu adalah hasil dari imajinasi manusia saja soal ketakutan mereka.


Apa sebenarnya waktu itu? Jika bertanya pada seorang ahli mungkin saja kalian bisa mendapati para ahli itu sedang berdebat soal itu. Bahkan mungkin ada yang saling baku hantam karena rasa frustasi mereka setelah lama memikirkan apa sebenarnya waktu itu.


Tanpa sadar, waktu itu merenggut semuanya. Merenggut kebahagiaan di masa kanak-kanak, merenggut waktu berharga dengan orang tersayang dan sampai merenggut nyawa seseorang. Jika waktu itu adalah seorang penjahat film blockbuster, pastilah dia sering mendapatkan piala oscar.


Ganasnya waktu juga dirasakan oleh Rizaldi, dia merasa kalau waktu telah mengkhianati dirinya dengan mempertemukan dirinya kembali dengan sosok yang membuat lubang yang besar di hatinya. Sosok yang sangat menyakiti dirinya dan karena sosok itu hidupnya menjadi sangat suram, bahkan lebih suram di masa SMP dulu.


Sosok yang sangat ingin tidak ia temui, namun waktu dan semesta seolah bercanda pada dirinya sehingga Rizaldi kembali bertemu dengan sosok itu.


Di sore itu, sehabis Rizaldi selesai mencukur rambut di salah satu barbershop, dia bertemu dengan sosok itu. Sosok perempuan yang pernah menyakiti dirinya, sosok yang pernah menancap duri sembilu yang begitu dalam pada dirinya.


"Kamu Rizaldi kan?" sosok itu bertanya, seakan masih terngiang-ngiang di telinga Rizaldi suara dari sosok itu.


Rizaldi terdiam, tubuhnya seakan mematung di sana. Mulutnya bergerak hendak mengucapkan sesuatu, namun tersendat di tengah jalan dan akhirnya membuat dirinya hanya diam saja.


"Hei Rizaldi kok kamu diam aja?" sosok perempuan itu kembali bertanya.

__ADS_1


Rizaldi masih terdiam, jiwanya seakan meninggalkan tubuhnya sesaat. Lalu kesadarannya pun kembali dan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari sosok perempuan itu.


Sosok perempuan itu adalah Gina Sabrina. Teman sekelas Rizaldi semasa SMP dulu, dan dia jugalah yang membodohi Rizaldi agar menjadi pacar palsunya dan membuat Rizaldi menjadi menanggung malu selama 3 tahun masa SMP-nya.


Rizaldi tidak membencinya, dia hanya tidak ingin lagi berurusan dengan sosok perempuan itu. Dia tidak pernah membenci orang, jika ada yang harus dia benci mungkin adalah tukang kayu yang sering menganggu hari minggu santainya dulu dengan suara mesin untuk serut kayu yang masih baru.


"Kamu sekolah di mana sekarang Rizaldi? Aku di SMK Merito Jurusan Administrasi" Gina masih mencoba untuk mengajak Rizaldi untuk mengobrol.


Namun karena masa lalu yang suram masih tidak bisa dilupakan oleh Rizaldi, dia jadi bingung harus bagaimana untuk mengatasi masalah yang ada di depannya kali ini. Akhirnya Rizaldi pun menjawab dengan seperlunya saja. "Aku di SMA 1 Pengambangan, yang dekat-dekat saja hehe" sambil tersenyum canggung.


Lalu Gina berlagak seperti dekat sekali dengan Rizaldi, dia menepuk-nepuk pundak Rizaldi, merangkulnya sambil tertawa lebar. "Pantas saja kucari tidak ada di SMK Merito. Aku kira kamu masuk masuk SMK Merito jua, kan nilai kamu termasuk tinggi" ucap Gina.


Gigi putihnya terlihat saat Gina tertawa, mata indah berwarna hitam itu terlihat mengkilap seperti batu permata. Gina sedikit mengibaskan rambut panjang indahnya, ini ada trik yang biasa digunakan perempuan untuk lebih menunjukkan keindahan dan keimutan diri mereka dan biasanya banyak laki-laki yang langsung tergoda hanya sekali tatap.


Wajahnya memanglah cantik, tidak salah dulu Gina merupakan salah satu kembang sekolah dan katanya sangat sulit untuk mendapatkan hatinya. Namun Rizaldi tahu kebusukan perempuan itu, dia adalah salah satu korban perempuan itu entah dia masih ingat atau tidak dengan dosanya yang pernah dia lakukan itu.


Setelahnya lalu datang beberapa perempuan yang lain, mereka menghampiri Gina, sepertinya mereka adalah teman-teman Gina dari sekolahnya.

__ADS_1


"Gina! Kami cari dari tadi rupanya di sini" ujar perempuan yang memiliki rambut lurus.


"Siapa ini Gina? Temanmu kah?" perempuan yang berambut keriting juga ikut bertanya, namun terlihat sekali ada rasa ketidaksukaan dari lirikan mata dan ekspresi wajahnya.


Rizaldi merasa dan tahu akan hal itu, dia langsung pamit undur diri dari hadapan Gina tanpa menunggu persetujuan darinya sebelumnya. Gina terus memanggil nama Rizaldi namun Rizaldi tidak lagi menengok kebelakang, atau bahkan berdiam sekali lagi agar bisa dikejar oleh dirinya. Rizaldi terus saja berjalan menyusuri jalanan sore yang sudah lumayan ramai akan orang yang baru saja pulang dari kantor sehabis seharian bekerja.


"Kamu ini kenapa sih Gina? Laki-laki cupu kayak gitu gak mungkin kenal kan sama kamu"


"Iya sudahlah, ayo kita pergi ke mall. Nanti promo skincare-nya malah keburu habis"


Kedua perempuan teman sekolah Gina Sabrina tadi menarik-narik lengan Gina agar segera pergi dari sana dan agar mereka tepat waktu untuk mendapatkan harga promo dari barang yang mereka inginkan. Gina masih menatap punggung Rizaldi dari kejauhan, dia sebenarnya ingin mengobrol lebih lama lagi dengan Rizaldi dan membicarakan hal yang terjadi pada mereka berdua. Jika menunggu kesempatan lain, dia mungkin saja akan melewatkan kesempatan itu dan hanya bisa berharap dengan waktu apakah berpihak pada dirinya atau malah mengkhianati dirinya.


Rizaldi sendiri sudah naik ke bis kota, tujuan ke Pengambangan tempat tinggalnya. Mall itu ada di tengah kota, tepatnya di kawasan Kuripan Cempaka Putih. Cukup jauh perjalanannya jika jalan kaki, bisa-bisa dia sampai ke rumah hampir senja atau mungkin habis petang, makanya dia lebih memilih naik bis agar mempersingkat waktunya.


Karena merasa harinya hari ini sedikit kelabu, Rizaldi memasang earphone di telinganya dan mendengarkan lagu. Lagu berjudul Welcome to the Black Parade yang dipopulerkan oleh band emo-punk-rock asal New Jersey yaitu My Chemical Romance langsung terputar di aplikasi pemutar lagu yang ada di smartphonenya.


Ditemani pemandangan sore hari di Kota Banjarmasin dan suasana bis yang sunyi, Rizaldi jatuh kedalam dunianya, dia meresapi seluruh lirik lagu yang dia dengar dan mencoba mencari makna dari setiap bait lirik yang diciptakan oleh Gerard Way sang vokalis band itu. Rizaldi larut dalam khayalannya sampai dia tidak sadar lagu sudah habis dan berpindah ke lagu yang lain.

__ADS_1


Kali ini lagu dengan judul Papercut, lagu yang dipopulerkan oleh band lawas Linkin Park. Saat mendengar lagu ini, Rizaldi menengok ke luar jendela, melihat matahari yang perlahan-lahan mulai tenggelam, seperti sedang mengkhianati dirinya.


"Matahari terbenam. Ku rasa cahayanya juga mengkhianati diriku" ucapnya dengan lirih.


__ADS_2