
Kelompoknya Rizaldi masih saling bertatapan dengan kelompoknya si Martin. Kelompoknya Martin terlihat jelas sangat terganggu dengan tatapan kelompok Rizaldi, mereka menganggap kelompoknya Rizaldi hanyalah orang biasa yang tidak memiliki kemampuan yang hebat untuk bisa bertahan di sini.
Kecuali untuk Dery. Martin mengakui kehebatan Dery sebagai penjaga gawang. Martin menganggap Dery sebagai seorang elit karena berasal dari Buceros dan Dery benar-benar bermain bagus di tim-A dengan mencatatkan 47 kali penyelamatan dan 4 kali cleansheet.
Namun sayang Dery bukanlah orang yang sama yang ada di pikiran Martin. Martin mengira dia bisa merekrut Dery sebagai kawanan para elit seperti dirinya, namun sayangnya Dery dengan secara lantang menolak ajakan itu mentah-mentah. Dery bahkan mencela tindakan kotor Martin itu dan menyebutnya sebagai pecundang sejati. Karena itulah Martin memiliki dendam tersendiri dengan Dery dan malah membuat kekacauan di tim-A saat ini.
"Aku pasti akan menghancurkan idealisme mu itu Dery. Lihat saja nanti!" ucap Martin dengan wajah yang terlihat sekali kalau dia sedang sangat marah.
Coach Satria maju ke tengah, membawa bola yang akan dimainkan oleh kedua kelompok nantinya. Beliau memegang bola di telapak tangannya, dia perlakuan bola itu seperti layaknya mutiara yang berharga. 'Bola adalah teman!' itulah slogan yang selalu ia gunakan.
Peluit nyaring berbunyi, mengejutkan para pemain lain yang sedang asyik melamun. "Ingat! Kedua kiper tidak diperbolehkan menyentuh bola dengan menggunakan tangan, kalian harus bisa menghalau bola dengan kaki atau badan ataupun kepala kalian agar tidak masuk ke dalam gawang kalian. Yang lebih dulu mendapatkan 5 skor maka dialah pemenangnya" Coach Satria kembali menjelaskan peraturan permainan kali ini.
Suasana intens masih berkeliling di sekitaran kelompok Rizaldi dan kelompok Martin. Mereka terus saling menatap satu sama lain seperti hendak saling serang, bahkan mungkin mereka tidak mendengarkan penjelasan Coach Satria tadi.
Coach Satria juga menyadari hal itu. Tanpa basa-basi lagi, beliau melemparkan bola itu keatas sambil berucap. "Let's the game started!"
Bola yang masih berputar di atas udara itu, langsung disambar oleh Martin. Bola dikuasai oleh kelompok Martin. "Ayo kita hancurkan mereka guys!" ujar Martin sambil memainkan bola di bawah kakinya.
Martin memberikan bola kepada Fauzi, dia salah satu pemain depan tim-A dan juga seorang elit. Kemampuannya memang jauh diatas para pemain lain, dia sudah di Pengambangan Cananga semenjak junior dan tentunya itu bukanlah main-main.
Fauzi menggiring bola dengan santai sekali, gerakannya begitu ringan seperti kapas yang terbang melayang-layang. Sedikit menoleh, dia menemukan sosok Galih yang berdiri dengan bebas dan langsung memberikan bola kepadanya.
__ADS_1
Bola berada di kaki Galih yang salah satu pemain elit, tidak lama dia memainkan bola Galih langsung menendang bola kedepan, bola menuju ke arah Martin dan langsung ditendang olehnya. Bola masuk ke gawang dengan mudahnya, Martin merayakan golnya seperti sedang merayakan gol di laga final, terlalu berlebihan.
Dan masih sempat-sempatnya Martin meledek kelompok Rizaldi yang begitu mudahnya mereka lewati begitu saja. Padahal ada satu hal yang kelompok Martin tidak perhatikan, dan mungkin tidak diperhatikan oleh rekan-rekan yang lain dan Coach Satria. Kelompok Rizaldi terlihat sengaja untuk membiarkan kelompok Martin melewati mereka dan mencetak skor ke gawang mereka.
Rizaldi, Axel, Zaki dan Dery memang sengaja berbuat konyol sehingga mereka mudah dilewati oleh kelompoknya Martin, hanya satu orang saja yang terlihat bersungguh-sungguh dan itu malah membuat apa yang dilakukan oleh Rizaldi dan teman-temannya terlihat sangat begitu natural.
"Apakah sudah waktunya kita serius sobat?" tanya Dery dengan wajah santai.
Rizaldi masih terlihat santai, dan sepertinya memang sudah waktunya untuk mereka agar bermain sedikit serius. "Ayo kita lakukan teman-teman" ujarnya.
Satu pemain yang ikut di dalam kelompok Rizaldi sedikit kebingungan dengan apa yang mereka bicarakan, ya tentu saja karena dia tidak dianggap ada oleh yang lainnya.
Bola diawali di kaki Rizaldi. Rizaldi sedikit menggiring bola dan sepertinya dia diremehkan oleh kelompok Martin, melihat dirinya yang diremehkan itu Rizaldi langsung saja menendang bola itu dan dengan cepat bola masuk ke dalam gawang kelompok Martin.
"Keren sekali kamu Rizaldi!" Kelompok Rizaldi merayakan gol tendangan gledek Rizaldi tadi.
Kelompok Martin masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, semua terjadi begitu cepat begitu saja. Mereka masih mencoba memahami, namun tendangan yang seperti kilat itu susah untuk mereka pahami.
"Ayo kita mulai sekali lagi, itu mungkin hanya kebetulan saja" Martin mencoba untuk melupakan kejadian tadi, dia menganggap hal itu hanyalah kebetulan saja.
Permainan kembali berlanjut, Martin mengoper bola ke arah Fauzi namun langsung dipotong oleh Axel Raihan dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Sialan!" Fauzi mengumpat kesal saat Axel memotong bolanya. Namun saat dia mengumpat itu dia sudah membuang waktunya yang berharga, karena saat Fauzi mengumpat Axel sudah berlari cukup jauh meninggalkannya.
Axel cukup menggocek bola beberapa kali melewati Galih dan Bagas, dan dia melesatkan sepakan santai dan membuat bola kembali masuk ke dalam gawang lawan dalam hitungan dibawah satu menit.
Kelompok Martin hanya bisa tercengang dengan apa yang terjadi, mereka semua tidak bisa berpikir jernih sekarang karena sedang kalut setelah 2 gol cepat. Mereka saling menyalahkan satu sama lainnya, Martin pun juga bingung apa yang harus ia lakukan dalam situasi seperti ini.
"Ayo guys bermain lebih baik lagi" Martin mencoba menyemangati teman-temannya, walaupun dia sendiri sedang kalut saat ini.
Permainan kembali dilanjutkan, baru beberapa kali kelompok Martin melakukan permainan umpan. Bola mereka kembali mudah direbut oleh Rizaldi.
Rizaldi menguasai bola, dia sedikit melakukan trik dribbling yang mengelabui Fauzi, dia juga berhasil melakukan nutmeg pada Martin yang semakin membuat Martin marah. Martin melakukan tekel dari belakang untuk melukai Rizaldi, namun sayangnya Rizaldi sudah menyadari hal itu dengan melakukan gerakan memutari tubuh Martin.
Setelah itu Rizaldi mengoper bola ke arah Dery dan Dery melakukan hal serupa. Bola diarahkan ke Axel dengan cepat, lalu ke Zaki dan berakhir dengan satu sontekan dari Rizaldi yang membuat skor menjadi 3-1.
Mereka terus melakukan hal yang sama pada kelompok Martin, kelompok Martin benar-benar dipermalukan oleh mereka semua. Sampai pada akhirnya kelompok Rizaldi lah yang berhasil meraih 5 angka terlebih dahulu dan memenangkan mini game kali ini.
"Konyol sekali!" Martin tidak terima dengan hasil itu, dia menendang keras botol minumnya karena begitu kesalnya. Di pancaran matanya terlihat jelas api kebencian yang menyala-nyala, dia tidak terima dengan apa yang terjadi pada dirinya kali ini.
"Akui sajalah kekalahan mu kali ini Martin. Ini hanya mini game saja, mengapa kau begitu marah"
"Diam kau Dery!" Martin lalu pergi meninggalkan mereka semua, menuju ke ruang ganti lebih cepat.
__ADS_1
Untuk Coach Satria? Dia masih belum bisa puas dengan apa yang ia lihat kali ini. Menurutnya ini hanya sebatas mini game dan itu masih belum bisa menjadikan jaminan kalau Rizaldi bisa bermain bagus di pertandingan yang sesungguhnya.
Namun walau begitu, Coach Satria akan memberikan kesempatan itu datang pada Rizaldi. Di hari Minggu nanti dia akan memainkan Rizaldi, namun dari bangku cadangan terlebih dahulu.