
"Sial, mereka benar-benar menekan kita semua!" Fauzi memukul keras tempat duduknya di ruang ganti, dia begitu kesal dengan hasil mereka di babak pertama.
Bisa dibilang, babak pertama mereka semua kacau berantakan. Pengambangan Cananga Youth hanya bisa melakukan 2 tembakan ke arah gawang dan penguasaan bola yang hanya menyentuh angka 35% saja. Bisa dibilang, Buceros lebih mendominasi jalannya pertandingan di babak pertama.
Belum lagi tim Buceros bisa mencuri gol dari mereka di menit akhir babak pertama tadi, semakin membuat mental para pemain Pengambangan Cananga Youth menjadi sedikit terpental jatuh. Ini jelas bukanlah hal yang bagus bagi Coach Satria.
Coach Satria harus memikirkan cara agar mental para anak didiknya tidak langsung turun hanya karena satu gol itu saja. Namun beliau juga tahu seberapa kesalnya mereka dengan situasi yang mereka hadapi kini. Martin saja menjadi sosok yang paling merasa bersalah, terus menutupi wajahnya dengan handuk dan hanya diam tidak mengeluarkan suara apapun itu walaupun kondisi ruang ganti agak ramai dan berisik akan ocehan mereka semua.
Rizaldi baru saja kembali dari kamar mandi, dia melakukan ritual yang tidak bisa ia perlihatkan di hadapan orang banyak. Dia habis meminum minuman Energy Booster yang ia dapatkan dari menyelesaikan misi dari sistem beberapa waktu lalu. Rizaldi juga melihat ada barang apa saja yang mungkin dia bisa gunakan untuk mengembalikan keadaan saat ini.
Melihat ketegangan yang terjadi di kamar ganti, dan melihat Martin yang tertunduk lesu di pinggiran sambil menutupi wajahnya dengan handuk, Rizaldi sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dia tahu harus melakukan apa.
"Apakah itu sikap yang pantas dari seorang kapten tim? Apakah kau mau menundukkan kepalamu seperti itu hingga pertandingan berakhir?" ucap Rizaldi yang baru saja kembali dari kamar mandi dan itu langsung membuat pemain lain menjadi melirik ke arahnya.
Rizaldi tidak peduli dengan semua tatapan yang menuju ke arah dirinya itu, dia malah menganggap semua tatapan itu seperti lampu sorot dan dirinya saat ini berada di atas panggung yang besar dan sedang melakukan orasi revolusioner.
"Pantaskah seorang kapten memperlihatkan sikap lemah seperti itu? Jika kaptennya saja tidak percaya dengan dirinya sendiri dan juga rekan-rekannya sendiri, lalu kami semua harus percaya dengan siapa? Bahkan saat Guan Yu tahu bahwa dirinya sedang dijebak oleh pasukan Wu dan Wei di Kastil Fan, dirinya tidak menunjukkan sikap yang membuat kacau bala tentaranya!" Rizaldi menggebu-gebu, rasanya darahnya mulai mendidih dan mulai naik dengan cepat ke atas kepalanya.
"Guan Yu? Ah dia sudah segila Coach Dodi" Coach Satria tidak percaya Rizaldi memasukkan referensi Tiga Kerajaan pada orasinya tadi.
Martin yang tadi tertunduk lesu dengan handuk yang menutupi wajahnya, kini perlahan-lahan mulai mengangkat kepalanya dan melemparkan handuk yang menutupi wajahnya ke sembarang arah. Dia mulai berdiri dengan gerakan seperti seorang raja terakhir di dalam video game, atau super villain yang ingin menunjukkan level ancamannya kepada para pahlawan yang hendak menghalangi ambisinya.
Martin menghampiri Rizaldi seperti seorang musuh bebuyutan yang menghampiri lawannya, dia menatap lurus ke mata Rizaldi yang berwarna kecoklatan. Tidak ada keraguan di matanya, di mata Rizaldi juga tidak terlihat rasa takut akan semua hal yang dilakukan oleh Martin tadi.
Dery dan yang lainnya sudah bersiap untuk tidak membiarkan hal buruk terjadi, mereka semua bersiap di belakang Rizaldi dan juga dibelakang Martin, kalau sewaktu-waktu mereka berdua melakukan baku hantam.
"Kenapa kau selalu menambahkan referensi aneh di setiap ucapanmu?" Tetapi, terima kasih, karena itu aku jadi ingat tujuan awal ku yang sebenarnya!" ucap Martin masih dengan tatapan tajam, menusuk ke dalam mata Rizaldi.
Rizaldi hanya tersenyum. "Kita akan hancurkan mereka, babak kedua adalah milik kita!" ujarnya, lalu semua pemain langsung ikut bersorak setelah mendengar itu.
"Coach Satria, kita akan lakukan formasi itu di babak kedua nanti, Saya rasa itu akan berjalan dengan bagus!" kata Martin dan semua wajah pemain lain juga menunjukkan keyakinan penuh.
Coach Satria tersenyum seperti seorang psikopat, dia benar-benar tidak habis pikir bisa mencoba strategi yang baru saja dia susun dua hari sebelumnya di laga yang sangat penting seperti ini. "Baiklah kalau itu mau kalian. 4-4-2 pola berlian, jangan sampai kalian lupakan latihan kalian semua di hari itu"
__ADS_1
"Siap Coach!" ucap mereka bersamaan.
Lalu semuanya berkumpul, membentuk lingkaran. Mereka menumpuk semua telapak tangan mereka, lalu dalam hitungan ketiga mereka bersorak bersamaan yang membuat gema di ruangan kamar ganti.
"Cananga Let's Goo!" ucap mereka bersamaan dan mereka lalu kembali ke lapangan dengan penuh semangat.
Mereka kembali kelapangan dengan wajah yang berbeda dari babak pertama tadi, wajah mereka memancarkan aura sang pemenang bagi siapapun yang melihatnya, bisa melihat ada kemenangan di sana.
Para pemain, staf dan pelatih Buceros saja merasa heran dengan ekspresi para pemain Pengambangan Cananga Youth.
"Apa-apaan wajah mereka itu, apakah mereka tidak sadar kalau mereka sudah habis?" ujar Alfian
"Yah kau benar, cukup 1 gol saja kita sudah bisa menang dengan tim lemah seperti mereka ini" Ferdinand ikut menambahkan
Para pemain Buceros menutup mulut mereka, mereka menutupi agar mereka tidak ketahuan tertawa. Namun, pemain Pengambangan Cananga Youth tetap tidak bergeming, mereka terus menjaga ekspresi mereka tetap seperti itu sampai akhirnya peluit ditiup oleh wasit dan babak kedua pun dimulai.
"Ayo teman-teman, kita cetak satu gol lagi ke gawang Dery, agar dia menyesali keputusannya meninggalkan Buceros demi klub rendahan seperti mereka ini" kata Ananda Marska dan mereka lalu memulai strategi mereka.
Namun Pengambangan Cananga Youth juga tidak ingin mau kalah begitu saja, mereka bertahan cukup baik dan setiap set-up yang dibangun oleh Buceros, selalu terhenti di setengah lapangan saja. Begitu pula sebaliknya, tim Pengambangan Cananga Youth juga melakukan hal yang sama dan mengalami hal yang sama.
Maxx bergerak melebar, dia memberikan umpan silang yang begitu terukur dan indah, menuju ke arah Ferdinand yang sudah bersiap menyundul bola dan melakukan duel udara dengan pemain belakang Cananga Youth.
Bukanlah hal yang terlalu sulit bagi Ferdinand untuk memenangkan duel udara itu, dia berhasil mengalahkan bek Pengambangan Cananga Youth dan menyundul bola itu ke gawang yang dijaga oleh Dery.
Dery tidak ingin sekali lagi memungut bola dari gawangnya, Dery langsung melompat ke arah bola diarahkan dan berhasil dengan sempurna menangkap bola sundulan yang lumayan berbahaya itu.
"Dery!" Ferdinand berteriak kesal ke arah Dery karena berhasil menggagalkan usahanya untuk mencetak gol.
Dery tersenyum sinis. "Maaf saja Ferdinand, tetapi mulai sekarang aku tidak mau lagi harus memungut bola karena ulah kalian!" ucapnya lalu dia menendang bola kedepan sana.
Ferdinand tambah kesal karena itu, dia jadi teringat akan masa lalunya saat Dery masih berseragam Buceros. Bisa dibilang, Dery adalah orang yang benar-benar Ferdinand benci.
Dari dulu dia memang sangat membenci Dery, menurutnya Dery adalah orang yang sering meremehkan orang lain yang tidak mempunyai bakat seperti dirinya. Sehingga dia membenci hal itu dan bertekad suatu dia bisa menendang bola dengan sangat kencang ke wajahnya.
__ADS_1
Setelah itu tim Buceros terus menekan Cananga Youth, namun usaha mereka terus saja digagalkan oleh solidnya lini pertahanan Cananga atau penampilan apiknya Dery di bawah mistar gawang.
Ananda Marska dan kawan-kawan benar-benar dibuat pening oleh apa yang dilakukan oleh Martin-cs. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya Pengambangan Cananga Youth sudah merubah formasi mereka menjadi 4-4-2 pola berlian, yang semakin membuat lini tengah mereka kuat sekali.
"Apakah lini tengah mereka sesolid ini? Perasaan ku tidak enak!" ucap Ananda Marska dalam benaknya. Dia melakukan scanning namun sedikit terlalu lama sebelum akhirnya dirinya menyadari ada hal berbeda dari tim lawan.
Pada saat itu, Zaki langsung mengambil bola yang ada di kaki Ananda dan membuatnya terkejut bukan main. Zaki langsung membawa bola, dia melakukan links dengan para pemain sayap di kedua sisi, Axel dan Fauzi. Sebelum akhirnya bola dialirkan ke Rizaldi yang bersiap di luar kotak penalti.
Bola ada di kaki Rizaldi sekarang, jaraknya dengan gawang kini sekitar 17m. Rizaldi sedikit melakukan scanning area, walaupun dirinya sudah dihadang oleh dua pemain bertahan Buceros, namun dia tetap tenang.
Rizaldi melakukan gerakan individu melewati dua pemain itu tadi, dia melakukan scanning area lagi dan melihat Martin yang berada dalam posisi yang bagus. Namun, dirinya juga melihat ada sosok Steven Liando yang sedang mengawal Martin, tetapi Rizaldi tetap percaya pada kemampuan Martin dan lebih memilih memberikan umpan kepada Martin.
"Kenapa dia malah memilih memberikan umpan padaku?" Itulah yang muncul di benak Martin ketika menerima bola dari Rizaldi. Padahal, Rizaldi bisa saja melakukan tembakan ke arah gawang saat dia berhasil melewati dua pemain bertahan Buceros tadi. Namun Rizaldi malah memilih untuk memberikan bolanya kepada Martin yang sedang dikawal dengan ketat oleh Steven Liando.
Martin menatap mata Rizaldi, dia melihat keyakinan penuh dimatanya. "Apakah dia percaya padaku kalau aku bisa mengatasi pemain ini?" tanya Martin lagi pada dirinya sendiri.
Akhirnya Martin memenuhi tugasnya. Dia menerima bola itu dan mulai berhadapan dengan momok yang membuatnya tidak bisa berbuat banyak hingga saat ini, yaitu Steven Liando. Martin maju menerjang tembok yang tidak bisa ia runtuhkan sejak tadi. Steven Liando kembali tersenyum melihat semangat Martin, ia sudah tidak sabar untuk menghancurkan rasa semangat yang menggebu-gebu itu.
Martin melakukan gerakan step-over untuk mengecoh bek berbadan besar itu. Tetapi Steven Liando tidak mudah tertipu, dia melakukan tekel mengincar bola yang ada di kaki Martin. Namun Martin sudah tahu itu, Martin lalu melakukan gerakan flick yang indah sekali dan membuat Liando tertipu.
Martin berhasil melewati Liando dan kini bergerak maju untuk menyelesaikan tugasnya. Tetapi Liando tidak kenal menyerah, dia langsung bangkit dan mengejar sosok Martin. Saat Martin hendak melakukan tembakan, Liando langsung merebahkan dirinya dan melakukan slide tackle. Tetapi lagi-lagi Martin bisa mengetahui hal itu, dan dia pun melakukan turn out untuk menghindari slide tackle Liando.
Dan Martin pun lalu melakukan tembakan menukik alias curve shoot indah yang terbang masuk kedalam gawang Buceros dengan sangat mudah. Kiper Buceros pun tidak bisa berbuat apa-apa, dia terpana dengan putaran bola yang menukik tajam ke dalam gawangnya dan membiarkan bola itu masuk ke dalam gawangnya.
"Gollll!" Martin berteriak keras, dia langsung berlari ke sudut untuk merayakan gol itu.
"Mantap sekali Martin!"
"Gol yang indah!"
Martin terus didatangi pemain Pengambangan Cananga Youth yang lain, namun dia tidak melihat ada sosok Rizaldi yang sudah percaya pada dirinya. Saat dia mencarinya, Rizaldi hanya terlihat tersenyum sambil mengacungkan jempol ke arahnya.
"Baiklah kawan-kawan, ayo kita cetak satu gol lagi dan menangkan pertandingan ini!" kata Martin dengan penuh semangat setelah mencetak gol penyeimbang.
__ADS_1
Kini moral pemain Pengambangan Cananga Youth kembali normal, tidak bahkan lebih bagus dari sebelumnya. Mereka sekarang tambah bersemangat untuk memenangkan pertandingan ini dan mengalahkan Buceros yang sudah terlalu meremehkan kekuatan mereka.
Masih ada sisa waktu untuk membalikkan keadaan, dan mereka akan terus memberikan perlawanan yang berarti pada Buceros dan untuk membuktikan pada mereka semua kalau Pengambangan Cananga Youth bukanlah tim yang bisa mereka remehkan begitu saja.