Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Episode 24: Bangkit


__ADS_3

Hasil imbang yang kami telan pada saat berhadapan dengan Sugar Crossed FC beberapa hari yang lalu masih bisa kurasakan. Walaupun sudah 4 hari berlalu, namun rasanya aku tetap tidak ingin merasakan hal seperti itu. Rasa begitu menyakitkan sekali, aku merasa bagai tertusuk seribu duri sembilu. Belum lagi masalah yang ku alami setelah hasil imbang itu, aku tidak bisa mengakses sistem yang kumiliki sekarang ini.


Karena gagal dalam menyelesaikan misi, aku pun menerima konsekuensi akan misi yang kuterima. Aku mendapatkan hukuman dari sistem, hukuman berupa yang sudah aku sebutkan tadi yaitu tidak bisa mengakses sistem dalam rentang waktu lima hari, dan ini sudah memasuki hari keempat semenjak aku menerima hukuman itu.


Sebenarnya, aku tidak terlalu berlarut-larut dalam balutan kesedihan karena gagal menang dan mendapatkan hukuman. Hukuman yang kudapatkan ini juga sedikit mengingatkanku sebagai seorang laki-laki biasa pada umumnya, tanpa bisa menggunakan skill aneh seperti [Mata Dewa] yang bisa melihat status milik orang lain, ataupun skill [Captaincy] yang bisa membuatku terlihat seperti seorang kapten di dalam tim. Aku benar-benar seorang manusia biasa, tiada embel-embel mendapatkan sistem dan itu membuatku sedikit bernostalgia. Tetapi, jujur saja. Aku juga sedikit merasakan hal yang aneh ketika aku tidak bisa mengakses sistem itu, sepertinya sistem juga mulai menjadi bagian dari hidupku.


Untuk sedikit melupakan hal tentang sistem, aku berlatih dengan begitu serius pada saat jadwal latihan. Semua orang yang tergabung dalam latihan sangat terkejut melihat semangat juang ku di tempat latihan, apalagi teman-temanku yang juga sudah berjuang sangat keras di pertandingan waktu itu, ikut termotivasi dengan apa yang ku lakukan. Menurut coach Dodi Surian, apa yang kulakukan itu cukup bagus untuk membangun moral tim.


"Ada banyak hal yang bisa kita petik dari suatu kekalahan. Hasil kemarin bisa membuat kita memiliki banyak catatan akan kekuatan tim musuh dan itu sangat berguna untuk mengarungi musim yang akan segera bergulir" itu yang dikatakan oleh Coach Dodi Surian setelah jam latihan telah usai.


"Oh iya satu hal lagi" coach sedikit teringat dengan apa yang ia ingin ucapkan. "Rizaldi Fatah, Axel Raihan, Derry Suriansyah, dan Zaki Iskandar" coach Dodi Surian memanggil nama kami berempat, tepatnya pemain yang baru saja bergabung dalam tim Pengambangan Cananga, entah dari seleksi ataupun rekrutan langsung.


Kami berempat maju kedepan begitu disuruh beliau untuk maju, dengan sedikit tegang aku mulai memikirkan apa yang akan terjadi terhadap kami berempat setelah ini. Memikirkan itu membuatku sedikit merasa gugup.


"Kami, para tim pelatih dan yang lainnya ingin bertemu dengan kalian berempat setelah ini. Aku harap kalian tidak pulang lebih awal dan bisa pergi ke kantor nanti" itu saja yang beliau katakan, sungguh semakin membuatku penasaran dengan apa yang akan terjadi.


Aku hendak bertanya apa alasan tim pelatih memanggil kami berempat pada coach Dodi, namun beliau tidak menjawabnya dan hanya menyuruh kami untuk cepat berkemas dan pergi ke kantor utama yang juga ada di kompleks PPC ini.


Aku menyerah, aku tidak lagi berniat mencari tahu lebih jauh lagi dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh coach Dodi tadi, yaitu untuk cepat berkemas. Kami berempat pun segera pergi ke ruang ganti untuk berkemas.


Di ruang ganti, kami sedikit menerka-nerka, apa yang nantinya akan terjadi pada diri kami saat di dalam ruangan yang dipenuhi oleh para tim staff dan pelatih.


Derry memulainya dengan sedikit rasa percaya diri. "Mungkin kita akan dimasukkan ke dalam squad utama, walaupun kemungkinannya cukup rendah" kata Derry.


Lalu dibalas oleh Zaki. "Ada benarnya juga kau, tapi bisa saja pertandingan kemarin adalah salah satu ujian buat kita berempat dan itu akan mempengaruhi masa depan kita di klub ini" sedikit suram memang namun Zaki ada benarnya juga.


Aku jadi teringat akan kata-kata yang sering diucapkan oleh Coach Giovanni. Beliau selalu bilang kalau semua hal yang terjadi di klub pasti akan dinilai oleh tim pelatih, dan tidak terkecuali pertandingan sparring kemarin itu. Hasil akhir dari pertandingan kemarin membuatku sedikit khawatir, bisa saja kami berempat harus mengucapkan selamat tinggal untuk dunia sepakbola profesional setelah pertandingan semalam yang sedikit mengecewakan bagi kami berempat itu.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu Axel?" aku menanyakan hal yang serupa pada Axel, namun dia tetap diam dan menutup pintu loker dengan cukup keras sebelum dia menjawab pertanyaan dariku.


"Aku tidak peduli!" ujarnya. Lalu dia pergi lebih dulu, meninggalkan kami bertiga yang terheran-heran dengan sikapnya hari ini.


Akhir-akhir ini, suasana hati Axel Raihan seperti sedang dilanda badai yang mengerikan. Semenjak menerima hasil draw di pertandingan melawan Sugar Crossed FC. Axel sudah bersikap seperti itu. Aku sadar dia begitu kesal, bukan dengan kami ataupun dengan yang lainnya melainkan dia kesal karena dirinya sendiri. Dia menghukum dirinya sendiri dengan berat, itu tidak akan menjadi hal yang lebih baik untuk dirinya kedepan.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Axel, itu tidak baik" aku mengingatkan Axel tanpa aku sadari sana sekali, seperti ada yang mendorongku untuk melakukan itu.


Axel terdiam, lalu dia bergegas pergi ke kantor utama duluan, meninggalkan kami yang masih berkutat dengan masalah berganti baju.


Saat kami sampai di depan ruangan tim pelatih, Axel Raihan terlihat sedang duduk di bangku panjang di depan pintu sambil menenteng tas. Dia tersenyum ke arah kami sambil mempamerkan tas yang ia bawa itu, entah apa isi tas itu kami pun tidak tahu.


"Apa isinya Axel?" aku sangat penasaran dengan isinya.


"Kalian ingin tahu apa isinya?" Axel semakin membuat kami penasaran, dia lalu memperlihatkan kepada kami apa isi tas itu. Dan ternyata, isinya adalah jersey.


Itu adalah Jersey dari tim Pengambangan Cananga. Jersey dengan motif garis merah dan putih, serta ada sentuhan warna keemasan di gradasinya yang menandakan kejayaan tim ini. Axel mendapatkan nomor punggung 24 dengan namanya tertera di atas nomor punggung itu dengan balutan warna emas.


Lalu setelah itu nama kami dipanggil satu persatu. Dimulai dari Derry yang masuk dan kembali keluar dengan wajah yang penuh ceria, dia juga berhasil mendapatkan tempat di tim I-Youth, bahkan dia akan bermain reguler sebagai kiper utama tim Youth.


Setelah Derry, lalu Zaki yang dipanggil. Cukup lama Zaki didalam sana, tidak seperti Derry sebelumnya. Namun setelah keluar dia juga berwajah cerah. Dia akan memulai karir di tim Youth sama seperti yang lainnya, aku juga ikut senang atas pencapaian Zaki dan yang lainnya.


"Rizaldi Fatah!" giliran ku tiba, salah satu staff memanggilku dan menyuruhku masuk ke dalam ruangan yang dimasuki oleh teman-teman ku tadi. Sebelum aku masuk, aku melakukan tos dengan Derry dan juga Zaki. Aku ingin mengajak Axel Raihan melakukan tos juga, namun dia menolaknya karena menurutnya itu terlalu mencolok dan tidak bagus.


"Semoga kau beruntung!" itu saja yang dikatakan oleh Axel sebagai ganti tos, walaupun begitu aku tetap senang. "Kalau begitu aku pulang duluan"


Melihat Axel yang pulang, Zaki dan juga Derry berpamitan padaku. Setelah mereka pergi, barulah aku masuk ke dalam ruangan yang akan menentukan nasibku di tim ini.

__ADS_1


Aku mengetuk pintunya terlebih dahulu lalu mengucapkan permisi. Di dalam sana sudah ada beberapa pelatih dan staff yang ingin mewawancarai ku, aku jadi teringat wawancara kerja yang pernah aku alami pada saat awal bekerja di toko.


"Ward Prowse aku sudah menunggu mu" kata Coach Giovanni, tetap dengan wajah dinginnya yang tidak berubah-ubah.


"Silakan duduk Rizaldi"


Aku pun duduk setelah di persilakan. Mataku menangkap gerakan-gerakan yang dibuat oleh para staff dan pelatih, mereka semua tengah melihat dan mengecek lembaran-lembaran kertas yang ada di meja mereka. Mata mereka bergerak begitu lihai membaca setiap tulisan dan angka yang tertera di kertas itu, tangan mereka dengan cekatan membuka lembaran demi lembaran kertas yang berisi data seorang pemain. Pemain yang ada di kertas itu adalah diriku sendiri.


Setelah mereka semua selesai mengecek semua data yang tertulis di kertas itu, mereka lalu menatapku dengan tatapan seorang juri di acara pencarian bakat.


Lalu seorang staff yang memakai kacamata dengan rambut panjang belah tengah yang mirip seperti pemain film legendaris Leonardo Dicaprio, mulai berbicara.


"Rizaldi Fatah. Jujur saja permainan yang kamu perlihatkan kepada kami semua benar-benar membuat kami terkesan" mendengarnya membuatku senang, aku mulai merasa akan mendapatkan sedikit titik terang akan masa depanku di klub. "Tetapi, ada banyak kekurangan pula pada dirimu yang membuat nilai mu sedikit kurang menguntungkan"


Baru saja aku senang karena dipuji, ternyata sekarang aku malah merasakan kekhawatiran. Perasaanku bagai rollercoaster yang naik turun dengan begitu cepat, jika aku tidak bisa bertahan bisa saja aku akan jatuh kapan saja.


Si Leonardo Dicaprio melanjutkan setelah menatap ke pelatih yang lain. "Jadi untuk kasus ini, kami semua memutuskan kalau kau masih belum bisa bermain di level kami"


Aku langsung hancur sehancur-hancurnya setelah mendengar hal itu, suara retakan hatiku saja serasa bisa kudengar dengan jelas. Aku tidak bersuara apa-apa, hanya diam dan merenungkan setiap hal yang telah aku lakukan demi berada di sini.


"Apa kau akan menyerah Ward Prowse?" suara Coach Giovanni membuatku otomatis menengok ke arahnya walaupun saat ini sebenarnya aku ingin membenamkan wajahku di ember yang berisi air.


"Kau memang memiliki visi bermain yang sangat bagus, namun hanya itu yang kau miliki. Kau masih sangat kurang dalam bertahan, dan juga hal-hal yang paling mendasar" Tidak ada yang bisa ku bantah dari semua yang dijelaskan oleh Coach Giovanni. Aku memang sangat kurang dalam hal-hal itu, keterlambatan ku tidak bisa ku jadikan sebuah pembelaan diri untuk sekarang, dan aku hanya bisa menerima itu sebagai kenyataan pahit"


"Tetapi!" Coach Giovanni lalu berjalan menuju ke arahku, dia membawa sebuah jersey yang masih terbungkus rapi. Dia lemparkan jersey itu ke arahku, aku sedikit kebingungan dengan apa yang diinginkan oleh Coach Giovanni. "Ward Prowse! Buktikan kepada kami semua kalau kau memang pemain yang seperti Ward Prowse, kau akan memulainya di tim B"


Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar kali ini, rasanya setelah menaiki wahana rollercoaster tadi aku jadi tidak bisa memfokuskan diri lagi, berita bagus seperti ini saja aku rasa hanyalah mimpi yang terlewat. Namun aku benar-benar sangat bahagia setelah mendapatkan jersey itu, jersey yang aku idamkan.

__ADS_1


Coach Giovanni menepuk pundakku beberapa kali, aku yang sedang merasakan bahagia sekaligus sedih hanya bisa mengucap rasa syukur dan terima kasihku kepada para staff dan coach yang ada di dalam ruangan itu. Walaupun aku akan memulai dari tim B, aku tetap akan berjuang semaksimal mungkin untuk membuktikan kepada mereka semua bahwa aku memang layak!


"Ward Prowse! Aku akan menunggumu di tim utama" ucap coach Giovanni yang bisa aku lihat sedikit senyumannya yang ia coba sembunyikan itu.


__ADS_2