Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 57: Mengikuti Lingkaran


__ADS_3

Karena kejadian pada saat hari libur itu, hubungan antara Rizaldi dan Salma sudah sangat dekat. Level kedekatan mereka seperti karet gelang yang baru jadi, semakin ditarik maka akan semakin kuat.


Setiap harinya saat di sekolah, kedekatan antara mereka berdua membuat banyak orang yang iri sekali. Mereka hanya iri saja, mereka tidak sampai melakukan hal-hal buruk kepada Rizaldi karena Rizaldi adalah sosok yang disukai para teman-temannya di kelas.


Pembawaannya yang kalem, rendah diri, suka tertawa dan tersenyum membuat mereka sangat menyukai sikap-sikap Rizaldi. Terlebih lagi, sebagai seorang ketua kelas, Rizaldi benar-benar bisa diandalkan oleh mereka semua, Rizaldi selalu melakukan tugasnya dengan penuh rasa tanggung jawab yang tinggi.


Ada suatu waktu pada saat kelas C melakukan sparring dengan kelas A, saat itu teman-teman sekelasnya sedikit terbawa emosi dan akhirnya mereka sedikit bersitegang dengan kelas A. Kelas A tidak terima kekalahan mereka itu, lalu mereka menuntut itu semua ke Rizaldi yang terlihat cupu di mata mereka, namun teman-temannya sudah siap berada di belakangnya kapanpun.


Rizaldi sedikit tersenyum dengan kehidupan sekolahnya yang sekarang, rasanya dia berada di alam mimpi karena hal-hal indah yang sukar untuk dia percayai.


Rizaldi menengok kebelakang, bagaimana kehidupan sekolahnya sebelum masuk ke SMA. Rizaldi selalu mendapatkan bullyan karena ia sering menyukai hal yang berbeda dari teman-temannya sebayanya. Contoh pada saat SD, dia suka dengan gulat profesional yang mana teman-temannya tidak ada yang tahu sama sekali soal itu, atau pada saat SMP dia yang menyukai Ward Prowse di saat anak-anak yang lain lebih menyukai Lionel Messi, Mbappe, Halland atau Ronaldo. Hanya karena berbeda, Rizaldi mendapatkan perlakuan yang buruk dari lingkungannya.


"Izal? Kamu dengerin aku ngomong gak?" Salma merasa Rizaldi sedikit melamun, lalu dia mendekat wajahnya ke wajah Rizaldi yang langsung membuat Rizaldi terkejut. "Tuh kan malah melamun" Salma cemberut


"Maaf-maaf, tadi ada beberapa pikiran yang melintas hehe" kata Rizaldi, namun Salma masih cemberut dan tidak mau mendengarkan suara Rizaldi untuk saat ini.


Rizaldi menggaruk belakang kepalanya yang sedikit gatal, lalu dia terpikir sebuah cara agar dia bisa lepas dari kondisi seperti ini. Rizaldi mengambil nugget milik Salma pakai garpu miliknya, lalu tanpa sepengetahuan Salma dia langsung menyuapkan nugget itu ke mulut Salma.


Salma tentu saja terkejut, namun dia juga merasakan senang setengah mati di dalam hatinya karena ulah Rizaldi tadi. Jantungnya berdegup dengan kencang sekali, pikirannya sedikit kacau seperti sedang terjadi badai di dalam sana.


Teman-teman sekelasnya yang melihat momen itu langsung berteriak di dalam hati mereka, mereka sudah tidak tahan dengan pasangan dua sejoli yang semakin hari semakin lengket itu.


"Berani kamu sekarang ya?" kata Salma, dengan tatapan yang setajam belati


"Hehehe maaf" Rizaldi ketawa santai, sebelum akhirnya dia berteriak kesakitan karena dicubit oleh Salma yang rasanya sangat menyakitkan, bahkan teman-teman sekelasnya juga bisa merasakan ngilu dan sakitnya.


"Kamu ada latihan hari ini Izal?"


Rizaldi terdiam sejenak, dia juga tidak tahu apakah hari ini dia ada latihan atau tidak. Jadi Rizaldi pun bertanya pada Dery yang juga ada di kelas. "Dery, kita ada latihan hari ini?"


"Tidak ada. Kau bisa kencan hari ini Cassanova" ucap Dery yang tentu saja membuat Rizaldi sedikit kebingungan.


"Kata Dery tidak ada latihan hari ini, memangnya kamu mau membawaku pergi ke mana?"


"Tidak ada, sehabis pulang sekolah aku cuma mau jalan-jalan santai saja dan aku mau kamu temani aku"


"Baiklah kalau begitu kita gas!" kata Rizaldi dan mereka berdua pun memutuskan untuk pergi jalan-jalan sehabis sekolah.


Waktu yang mereka tunggu pun tiba, bel sekolah berbunyi begitu kencang ke seantero sekolah. Banyak murid-murid yang sudah berlarian untuk keluar lingkungan sekolah, ada pula yang terburu-buru pergi ke ruangan kegiatan klub karena memang tujuan mereka sekolah hanya itu, dan ada juga yang santai- menikmati semua instrumen kejadian yang terjadi pada dirinya.

__ADS_1


Sama seperti yang dilakukan oleh dua sejoli, Rizaldi dan Salma. Mereka berdua santai sekali menyusuri lorong kelas sambil membicarakan hal-hal yang bodoh dan tidak berisi, sehingga mereka sering cekikikan dan tersenyum.


Salma sudah menelepon pak Teguh agar tidak langsung menjemputnya, jadi saat ini Salma dan Rizaldi sedang menikmati waktu mereka di salah satu mall yang ada di kota Banjarmasin.


Mereka berdua mendatangi banyak tempat di mall itu, mulai dari wahana permainan, toko-toko pakaian laki-laki dan perempuan, sampai photo-box. Terakhir tujuan mereka ada restoran makan cepat saji yang terkenal dengan ayam mereka yang sungguh enak, apalagi ketika bagian kulitnya di makan paling akhir.


Rizaldi tentu jelas memesan ayam bagian paha atas, dia ingin merasakan sensasi kulit berminyak yang bisa membuat lidah bergoyang-goyang itu. Namun sayangnya, kulit yang sudah susah payah Rizaldi pertahankan hingga gigitan terakhir, malah diambil oleh Salma.


"Kamu jangan makan yang terlalu berlemak, tidak baik buat tubuh kamu" ucap Salma setelah mengambil kulit milik Rizaldi, wajahnya seperti orang yang tidak berdosa sama sekali.


Rizaldi hanya bisa menangis dalam hati, merelakan kulit yang sudah dia idam-idamkan malah diambil oleh Salma. Rasa sakitnya seperti tertusuk duri sembilu menurut Rizaldi.


Tidak terasa sudah hampir satu jam setengah mereka menghabiskan sore ini, sudah waktunya untuk mereka menyudahi hari ini. Sebelum pulang, Rizaldi kembali singgah ke konter dan memesan 2 ayam dan 2 burger, itu untuk Keisha dan ibunya.


"Semuanya jadi seratus sepuluh ribu delapan ratus rupiah kak!" ujar penjaga konter.


Rizaldi mengambil dompetnya dan membayar pesanan miliknya.


"Terima kasih" ujar penjaga konter lagi dan Rizaldi hanya mengangguk pelan.


"Itu buat Keisha sama Ibu ya Izal?"


"Kenapa kamu gak masak aja Izal? Nasi goreng buatan kamu kemarin enak banget" Salma jadi teringat masakan buatan Rizaldi kemarin yang sangat lezat menurutnya.


Karena dipuji, Rizaldi hanya bisa tertawa. Baru kali ini ada orang yang memuji masakannya, selain ibu dan adiknya. Kadang, Melani juga sering Rizaldi bawakan masakannya saat masih berkerja di toko milik bapaknya, namun Melani tidak pernah memuji masakannya jadinya Rizaldi bingung apakah itu enak atau buruk.


Tidak selang beberapa lama setelah itu, mobil jemputan Salma sudah tiba. Pak Teguh keluar dan membukakan pintu untuk Salma, lelaki paruh baya itu tersenyum melihat sosok Rizaldi dan Rizaldi pun membalas senyumannya.


"Dah Rizal, sampai ketemu besok di sekolah!" ucap Salma sebelum masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih nak Rizaldi, terima kasih sudah menemani nona Salma" kata pria paruh baya itu penuh dengan etika kesopanan.


"Tidak usah berterima kasih pak, saya juga senang bisa berteman dengan nona Anda" jawaban Rizaldi yang begitu sopan membuat pria paruh baya itu kembali tersenyum, lalu beliau masuk ke dalam mobil dan meluncur di jalanan sore yang padat merayap di tengah kota.


Melihat mobil yang sudah cukup jauh, Rizaldi pun berjalan pulang. Cukup jauh jika dia berjalan kaki saja, jadi dia memutuskan untuk menaiki bis kota untuk cepat sampai ke rumahnya. Tetapi di perjalanan menuju halte bis, dia melihat refleksi dirinya dari kaca pangkas rambut. Dia melihat betapa tidak terawatnya rambutnya itu, rambutnya sudah begitu panjang dan sedikit ikal di atas karena tidak terlalu ia perhatikan.


"Apa aku coba potong rambut ya?" dia bertanya pada dirinya sendiri, sambil memainkan rambutnya.


Beberapa kali dia memandangi pelang tanda pangkas rambut yang biasanya berwarna putih, merah dan biru bergerak secara spiral itu. Sampai akhirnya dia sampai di satu kesimpulan, dia ingin memotong rambutnya.

__ADS_1


Rizaldi membuka pintu itu, dia mendengar bunyi khas setelah membuka pintu toko potong rambut itu. "Ada yang bisa saya bantu?" penjaga sekaligus yang bertugas memotong rambut pelanggan, menyambut ramah Rizaldi.


"Saya mau potong rambut mas"


"Silakan duduk dulu kak" ucap si tukang cukur.


Rizaldi pun duduk, dia melihat ke sekelilingnya. Banyak foto-foto model gaya rambut yang memenuhi dinding toko, ada pula beberapa kutipan-kutipan orang terkenal yang membuat suasana toko sedikit lebih berwarna.


"Maaf ya kak" tukang cukur memakaikan handuk ke sekitar leher Rizaldi dan menutupi badannya agar rambut yang jatuh tidak menempel di leher dan badan atau baju yang dipakai oleh Rizaldi.


"Mau dipotong seperti apa kak?" si tukang cukur kembali bertanya, namun Rizaldi tidak memiliki jawaban untuk itu. Dia tidak mengerti soal style rambut sehingga dia tidak tahu harus seperti apa.


"Mas ada rekomendasi gak?"


"Kakak mau rambutnya tetap panjang apa mau dibuat pendek?"


Rizaldi sedikit menimbang-nimbang, beberapa kali dia menatap dirinya yang ada di depan kaca besar. Karena akan aneh bila langsung dibuat pendek, jadi dia lebih memilih untuk tetap menjaga rambut panjangnya.


"Kalo gitu gimana Two Block aja ya?"


"Saya ikut aja mas" jawab Rizaldi lalu pada akhirnya tukang cukur mencukur rambut Rizaldi dengan gaya Two Block, alias gaya rambut belah dua yang sedang digandrungi para remaja saat ini.


Dengan cekatan si tukang cukur mengutak-atik rambut Rizaldi yang terlalu kusut jika dipandang itu, tidak sampai 15 menit dia pun telah usai memodifikasi rambut Rizaldi yang tadi kusut sekarang lebih terlihat hidup.


Rizaldi terkejut melihat perubahan dirinya, dia tidak menyangka hanya karena memangkas rambut saja bisa merubah orang. Inilah kehebatan pangkas rambut, ditempat itu bisa membuat orang merasa tampan sekali dalam beberapa saat.


"Berapa jadinya mas?"


"tiga puluh ribu aja kak"


Rizaldi pun membayar biaya pangkas rambutnya, dia bahkan memberikan sedikit tips untuk si tukang cukur karena telah membuat harinya jadi lebih semakin berwarna kali ini. Tentu saja si tukang cukur senang bukan main menerima tips itu.


"Terima kasih banyak kak" si tukang cukur beberapa kali mengangguk-angguk kepada Rizaldi yang sudah setengah jalan keluar dari toko.


Pada saat Rizaldi membuka pintu toko, dia dikejutkan dengan sosok perempuan yang hampir menabrak dirinya. Rizaldi meminta maaf karena sudah mengejutkan perempuan itu, namun dia terhenti sejenak saat melihat wajah perempuan itu. Dia ingat sekali siapa sosok itu, sosok yang tidak mungkin bisa ia lupakan untuk waktu yang panjang.


Si perempuan itu juga langsung tahu kalau laki-laki itu adalah Rizaldi, dia hanya terkejut dengan penampilan Rizaldi yang sudah banyak berubah semenjak terakhir kali mereka bertemu di SMP.


"Kamu Rizaldi kan?" tanya perempuan itu setengah terkejut.

__ADS_1


__ADS_2