
"Semua persiapan kamu sudah beres bang?" Ibu Rizaldi yang ikut membantu Rizaldi untuk berkemas kembali menanyai Rizaldi, kalau-kalau ada sesuatu yang tertinggal atau terlupakan untuk dimasukkan ke dalam tas besar.
Rizaldi kembali mengecek bagasinya, dan sesuai dengan yang ia kira, tidak ada barang yang tertinggal sama sekali. Semua barang persiapan untuk pergi tur ke Spanyol bersama tim utama Pengambangan Cananga FC sudah siap seratus persen penuh.
Ibu Rizaldi menatap anak laki-lakinya itu dengan tatapan penuh kebanggaan di matanya, dia tidak menduga anak laki-lakinya itu akan menjadi sosok laki-laki yang bisa diandalkan seperti ini. Tidak, dia sudah melihat itu semenjak mereka kehilangan satu anggota keluarga kecil mereka, yaitu sang ayah yang menjadi kepala keluarga.
Semenjak ketiadaan sosok sang ayah, Rizaldi yang dulunya anak yang sedikit manja langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
Rizaldi berubah menjadi sosok anak laki-laki yang bisa diandalkan, entah itu dalam pekerjaan rumah atau pun hal yang lainnya. Saat sang Ibu menjadi tulang punggung keluarga, Rizaldi berusaha untuk menjadi pengganti sosok sang ibu di rumah. Dia berusaha menjaga dan merawat sang adik yang kala itu masih berumur lima tahun.
Mengingat cerita lama itu membuat sang ibu tiba-tiba mengeluarkan air mata tanpa dirinya sadari, Rizaldi pun langsung bertanya apa yang terjadi pada sang ibu. "Mama baik-baik saja bang" ucap sang ibu berlagak kuat, namun Rizaldi tahu bahwa sang ibu sebenarnya juga sedikit sedih karena harus merelakan anaknya pergi sekali lagi setelah lama tidak bersua di rumah.
"Bang, jangan lupa pamitan sama adek. Dia sudah mengurung diri di kamar dari tadi bang, sepertinya adek cukup sedih" sang ibu mengingatkan lagi soal Keisha pada Rizaldi.
"Abang pasti melihatnya ma" ucap Rizaldi lalu memeluk sang bunda dengan sangat dalam, Rizaldi larut dalam kehangatan kasih sang ibu. "Abang sayang mama, doakan abang selamat sampai ke tujuan ma"
"Ya tentu saja bang, mama pasti doakan yang terbaik untuk abang"
Momen kehangatan itu terjalin kurang dari sepuluh menitan, sebelum akhirnya Rizaldi melepaskan pelukannya dan muncul sedikit gelak tawa dari sosok anak dan ibu itu. Lalu Rizaldi keluar dari kamarnya, menuju ke kamar sang adik untuk melihat keadaannya dan berpamitan dengan sang adik.
__ADS_1
Rizaldi berada di depan pintu kamar sang adik, dia sedikit kebingungan untuk melakukan hal ini. Dia memikirkan cara bagaimana untuk berpamitan dengan Keisha, karena Keisha lah orang yang paling keras menantang Rizaldi untuk pergi ikut tur ke Spanyol.
Terdiam dirinya untuk beberapa saat, Rizaldi ingin mengetuk pintu itu namun dia urungkan niat beberapa saat kemudian. Dia menengok kebelakang, melihat sang ibu yang memberikannya semangat dari balik pintu kamarnya. Rizaldi menarik nafas panjang, lalu mulai mengetuk pintu itu untuk perlahan-lahan, mencoba mendengarkan pendapat sang empunya kamar terlebih dahulu.
"Pergi!" terdengar suara dari balik pintu, yang menyuruh Rizaldi untuk pergi dari sana.
Suara robekan hati terdengar, itu hati milik Rizaldi. Namun, walaupun Rizaldi sedikit merasa sakit, dia tetap berdiri di depan pintu dan sekali lagi mengetuk pintu itu. Kali ini wajahnya terlihat lebih siap- lebih tegar dari sebelumnya.
"Pergi! Pergi! Keisha tidak mau melihat wajah abang!" jelas sekali Keisha memberikan penolakan pada Rizaldi.
Rizaldi tersenyum miring, namun dia tetap tidak menyerah. Rizaldi mulai bernyanyi, sebuah nyanyian yang dirinya ingat akhir-akhir ini. Sebuah nyanyian yang selalu ada di dalam mimpinya, Rizaldi mencoba mengingat nyanyian itu, namun dia tidak pernah bisa mengingatnya. Tetapi pada saat ini, Rizaldi akhirnya bisa mengingat nyanyian itu berasal dari mana.
"Di bawah naungan pohon itu, aku berjanji padamu. Kau akan selalu ku jaga, walaupun seribu bulan sudah terlewati, musim-musim yang berganti. Tidak akan ku lupakan janji ku" Rizaldi bernyanyi di depan pintu kamar Keisha.
Rizaldi bisa mendengar suara tangisan dari balik pintu, karena Keisha masih juga tidak mau membukakan pintu akhirnya Rizaldi menyerah namun dia menyerah dengan senyuman terpancar di wajahnya.
"Keisha, abang pergi dulu" ucap Rizaldi sebelum akhirnya Rizaldi pergi.
Rizaldi berjalan dengan lambat, menuju keluar rumah. Ketika dia baru beberapa inci dari luar rumah, Rizaldi dikejutkan dengan dekapan dari sosok sang adek. Dekapan itu erat sekali, Keisha jelas masih tidak ingin sang kakak pergi begitu saja. Dia masih ingin bermain dengan sang kakak setelah cukup lama, namun sang kakak malah kembali harus pergi sekali lagi dari sisinya.
__ADS_1
"Keisha lepaskan abang, abang bisa terlambat ini" ucap Rizaldi.
"Biarin!" Keisha mengelak. "Salah abang sendiri yang mau ninggalin Keisha"
Rizaldi menarik nafas panjang. "Keisha, abang cuma pergi sebentar, paling lama dua minggu. Bukan berarti abang mau ninggalin kamu sama mama di sini"
Mendengar itu perlahan-lahan dekapan Keisha sedikit memudar, wajah Keisha seperti orang yang kebingungan dan baru saja mengenal dunia. Keisha seperti orang yang percaya dengan teori bumi datar yang akhirnya mendapatkan sebuah fakta kalau bumi itu bulat.
Rizaldi pun sedikit kebingungan melihat ekspresi dari sang adik, sehingga Rizaldi langsung bertanya apa ada yang salah dengan dirinya.
"Abang ke Spanyol 2 minggu?"
"Ya Keisha, kan dari kemarin-kemarin sudah abang bilang kalau cuma 2 minggu, kamu ini kenapa sih?"
Keisha langsung kembali masuk ke dalam rumah dan mengunci dirinya di kamarnya lagi. Rizaldi yang melihat keanehan itu hanya bisa bertanya-tanya mengapa, dan jawabannya adalah karena Keisha salah mengartikan tur ini. Keisha mengira kalau Rizaldi akan pergi ke Spanyol untuk berkarir di sana dan tidak akan pulang untuk waktu yang lama, karena itu Keisha begitu kesal dengan sang abang beberapa hari terakhir ini, apalagi setelah melihat yang terjadi pada sang kakak.
Tanpa mengetahui kebenaran dari sikap sang adik, Rizaldi kembali melanjutkan langkahnya menuju ke titik kumpul yaitu di kantor pusat Pengambangan Cananga FC yang ada di jalan Kembang Barenteng.
Rizaldi hanya berjalan kaki saja ke sana, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Mungkin memerlukan 15 menit saja jika berjalan kaki.
__ADS_1
"Hei Master, apa kau sudah siap pergi ke Spanyol" Borought-555 tiba-tiba bersuara di dalam kepala Rizaldi, dan Rizaldi masih saja belum terlalu terbiasa dengan itu.
"Ya aku sangat bersemangat, aku sudah tidak sabar untuk pergi ke Spanyol!" Rizaldi langsung berlari karena sudah sangat bersemangat dirinya