
Pada saat jam istirahat di sekolah, seperti biasanya Rizaldi akan memakan bekal miliknya bersama dengan Salma. Biasanya mereka hanya berdiam diri di kelas sambil santai memakan bekal masing-masing, tidak seperti murid lain yang sedang melakukan kompetisi untuk mendapatkan makanan yang mereka inginkan di kantin atau di kafetaria yang ada di sekolah.
Tetapi hari ini, mereka berdua ingin melakukan sedikit perubahan suasana. Mereka berdua tengah bersantai di taman sekolah yang penuh dengan bunga-bunga indah dan memiliki warna yang menggoda mata.
"Kata Dery kamu di promosikan ke tim-A ya Rizal?" tanya Salma sambil memasukkan nugget yang begitu menggugah selera ke dalam mulutnya.
"Ya seperti itulah, kini aku bermain di tim-A bersama si Dery"
"Aku kurang mengerti sih soal sepakbola, tapi sepertinya promosi ke tim-A juga berarti promosi uang saku ya" ucap Salma lagi tetapi sambil melirik ke arah kotak bekal milik Rizaldi.
Mata Rizaldi langsung mengikuti lirikan mata Salma, dia langsung ketawa setelah menyadari maksud dari Salma tadi. Memang benar, semenjak Rizaldi naik ke tim-A, dirinya memang mengalami sedikit perubahan, terlebih dalam kondisi keuangannya.
Rizaldi mendapatkan uang gaji sekitar tujuh ratus ribu selama sepekan atau pada saat dirinya bermain di hari Minggu, karena itu dia sedikit memiliki sisa uang setelah dipotong oleh bayaran masuk Akademi.
Karena hal itulah, kini isi kotak bekal Rizaldi sedikit bervariasi. Tentu saja itu makanan yang menurutnya sehat, menurutnya. Dia memasukkan nugget dan sosis di kotak bekalnya, karena dia yang sebelumnya tidak bisa membeli nugget dan sosis yang premium.
"Jangan terlalu sering makan itu Rizal, itu tidak baik untuk tubuhmu. Apalagi kamu seorang atlet" Salma berlagak seperti ibunya Rizaldi, dan itu semakin membuat Rizaldi senang dan bahagia.
"Tetapi aku tidak tahu makanan yang bagus untuk tubuhku itu seperti apa, apa kamu bisa membantuku untuk itu Salma?"
Mendengar itu Salma sedikit terkejut mendengarnya, dia hampir saja kehilangan kontrol atas dirinya. Salma menganggap ucapan Rizaldi itu seolah-olah dia ingin hidup bersaman dengan dirinya, padahal jelas sekali Rizaldi tidak menyembunyikan maksud tertentu untuk itu.
Rizaldi memang sedikit kebingungan dengan makanan yang harus ia masukkan ke dalam tubuhnya agar tetap sehat dan prima setiap harinya, dia juga tidak bisa bertanya pada sistem yang biasanya berbicara di dalam kepalanya. Jadi dia pikir Salma bisa membantunya untuk itu, karena Salma salah satu anak pintar di kelasnya dan juga dia orang kaya. Itulah alasan Rizaldi bertanya pada Salma.
Salma sedikit berpikir, garpu yang ia pegang kini berputar-putar di jari jemarinya. Dia juga bingung dengan pertanyaan Rizaldi tadi, dia ingin menjawab dengan jawaban umum seperti makan buah dan sayur namun dia pikir itu terlalu sederhana dan general. Salma ingin menjawabnya dengan sedikit spesifik, dia ingin menunjukkan kepada Rizaldi kalau dia bisa diandalkan.
__ADS_1
Lalu Salma mendapatkan ide yang lewat sekilas dari dalam kepalanya. "Bagaimana kalau kamu perbanyak makan makanan yang mengandung protein?"
"Protein?" Rizaldi sedikit kebingungan.
"Ya protein, misal makan daging ayam namun bagian dadanya. Telur atau yang lainnya seperti itu" Salma menjelaskan lebih lanjut.
Rizaldi mulai sedikit memiliki gambaran dengan apa yang ingin dia makan. "Kalau makan ayam goreng tepung bagian dadanya?"
"Itu tidak sehat Rizal" wajah Salma sedikit cemberut dan itu langsung membuat Rizaldi panik karena dia hanya bermaksud bercanda.
"Kalau kamu mau nanti, aku akan minta resep ke pelayan di rumahku" ujar Salma lagi.
"Benarkah? Terima kasih banyak kamu sudah menolongku sampai seperti itu"
"Tenang saja lagian kita ini teman kan?" seketika Salma sedikit terdiam ketika mengucapkan kalimat itu.
"Ada apa Salma? Kamu kenapa melamun seperti itu?" Rizaldi jelas melihat tatapan kosong dari Salma.
"Eh tidak-tidak, aku hanya berpikir resep apa yang akan diberikan oleh pelayan rumah padamu nanti" Salma berbohong, dia menutupinya dengan senyuman dan tawa. Rizaldi pun mengira demikian sehingga dia tidak terlalu khawatir pada Salma.
Waktu pun cepat berlalu, bel tanda istirahat berakhir pun bergema dengan keras ke seluruh lingkungan sekolah, tidak terkecuali di taman tempat Rizaldi dan Salma tengah bersantai.
"Gawat sudah jam pelajaran kelima, ini jam pelajarannya guru killer matematika itu!" Rizaldi hendak bergegas pergi ke kelas, karena dia tidak ingin membuat masalah pada guru matematika yang dikenal sebagai guru killer. Bahkan Rizaldi pun pernah dikeluarkan dari kelas hanya karena masalah sepele. Telat pada saat jam pelajaran beliau, maka bersiaplah untuk mendapatkan hukuman yang berat.
Namun Salma mengentikan laju Rizaldi, dia memegang belakang baju Rizaldi sehingga Rizaldi tidak bisa bergerak cukup bebas. "Ada apa Salma? Kamu tidak ingin kita terlambat pada mata pelajaran beliau kan?" tanya Rizaldi yang kebingungan dengan sikap Salma.
__ADS_1
"Aku mau bertanya satu hal" kata Salma, namun wajahnya menunduk ke bawah.
"Mau tanya apa? Kita benar-benar bisa gawat ini!" Rizaldi jelas tidak tenang.
"Hari minggu ini, kamu ada pertandingan kan? Aku dengar dari Dery kalian akan menghadapi lawan terakhir kalian di markas kalian"
"Ya itu benar sekali, memangnya kenapa Salma?"
Salma diam sejenak, dia menyiapkan mental dan dirinya untuk mengucapkan kalimat yang akan dia ucapkan ini. Salma menarik nafas dalam-dalam, sedangkan Rizaldi terus menunggu dalam rasa panik.
"Boleh aku datang menonton pertandingan mu hari Minggu nanti Rizal? Walaupun aku tidak terlalu mengerti soal sepakbola, tetapi aku ingin melihat temanku bermain" ujar Salma masih dengan wajah yang menunduk, karena dia terlalu malu kalau-kalau Rizaldi melihat wajahnya saat ini. Wajah Salma berubah dari putih seperti batu permata indah menjadi semerah merahnya tomat.
Rizaldi memiringkan kepalanya, dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh perempuan itu. Rizaldi pun memukul kepala Salma namun dengan pelan agar tidak terlalu menyakiti perempuan itu, malahan pukulan itu terkesan seperti perlakuan spesial Rizaldi kepada Salma.
"Tentu saja boleh! Aku bahkan senang bila kau datang dan mendukung ku, oh maksudku kami karena Dery juga ada di sana" jawab Rizaldi dengan penuh senyuman yang menunjukkan gigi putih yang kuat itu.
Salma pun perlahan-lahan menaikkan wajahnya, warna merah di wajahnya mula sedikit memudar namun tidak hilang. Dia sangat gembira dan senang mendengar jawaban iya dari Rizaldi, seolah-olah dia sudah mendapatkan harta yang paling berharga di dalam petualangannya.
"Kamu tidak bohong kan Rizal?" Salma bertanya lagi untuk memastikan.
"Iya aku benar-benar serius, ayolah kita ke kelas. Kita sudah hampir terlambat ini!"
Lalu setelahnya mereka pun berlarian di lorong kelas agar tepat waktu masuk ke kelas, sebelum guru killer itu yang memasuki kelas mereka. Namun sayang sekali, rupanya guru killer itu terlebih dahulu masuk kedalam kelas mereka, dan parahnya lagi guru killer itu sudah ada dari lima menit sebelum jam pelajaran kelima dimulai.
Akhirnya Rizaldi dan Salma pun terpaksa harus keluar dari kelas dan tidak diperbolehkan untuk mengikuti pelajaran matematika hari ini, Rizaldi langsung memijit kepalanya yang sakit karena ini sudah kedua kalinya dirinya dikeluarkan dari kelas oleh guru killer tersebut. Sedangkan Salma, dia malah bahagia dan terlihat senang karena harus keluar kelas.
__ADS_1
Alasan sebenarnya mengapa dirinya bahagia dan senang adalah, dia tidak keluar kelas sendirian. Dirinya bersama dengan Rizaldi, jadi dia menganggap hal ini bukanlah kesialan melainkan berkah yang harus dirinya syukuri.