Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 37: Membayar Semuanya


__ADS_3

Para pemain Pengambangan Cananga Youth-B sedang bersenang-senang dan tambah bersemangat setelah mereka berhasil kembali meraih hasil positif dan terus melanjutkan trend kemenangan beruntun mereka. Mereka semua bersenandung ria, menyanyikan lagu-lagu kemenangan, saling melemparkan candaan dan sanjungan kepada pemain yang mereka anggap sebagai pemain paling berpengaruh di pertandingan melawan SAGT ASPAS kali ini.


"Sialan kau Rizaldi! Permainanmu setiap harinya semakin bagus saja ku lihat"


"Kau benar kapten, lihatlah gol tendangan dari luar kotak penalti spesialisnya Rizaldi itu! Sampai kiper musuh pun hanya bisa melihat bolanya tanpa bisa bergerak menepis bola"


"Ya benar-benar, itu hebat sekali!"


Rizaldi Fatah yang terus disanjung-sanjung hanya bisa tersenyum menyengir memperlihatkan gigi putihnya yang sedikit gingsul, senyuman itu juga sekaligus menyembunyikan rahasia terbesarnya yang tidak ingin ia beberkan kepada banyak orang.


Sebenarnya, bukan Rizaldi Fatah yang bermain di lapangan sepanjang 90 menit pertandingan tadi. Dalam artian yang tidak sebenarnya, Rizaldi menggunakan kemampuan milik orang lain untuk bermain di pertandingan tadi. Bagaimana dia bisa melakukan itu? Tentu saja dia bisa.


Rizaldi Fatah adalah seorang pengguna sistem, dia mendapatkan sebuah sistem yang aneh dan mulai terbiasa dengan itu. Pada saat pertandingan sebelumnya, Rizaldi mendapatkan sebuah misi dari sistem dan dia berhasil menyelesaikannya dengan baik. Karena menyelesaikan misi, Rizaldi pun mendapatkan hadiah seperti layaknya orang yang telah melakukan pekerjaannya dengan baik dan mendapatkan upah yang cukup.


Pada saat itu Rizaldi mendapatkan hadiah berupa kartu sepakbola. Apa sebenarnya kartu sepakbola itu? Menurut pengetahuan Rizaldi, kartu itu berisi pemain-pemain sepakbola terkenal di seluruh dunia dan nantinya dia akan mendapatkan hasil yang acak, lalu dia bisa bermain seperti pemain yang ia dapatkan dalam batas waktu tertentu.


Kemarin itu Rizaldi mendapatkan kartu sepakbola grade D, tingkat paling kecil sebelum E. Pada saat dia membuka kartu sepakbola itu dia mendapatkan Kartu Frank Lampard pada saat masa jayanya telah habis, atau pada saat dia pindah dari Chelsea ke Manchester City di musim 2014/15. Pada saat itu Frank Lampard tampil bersama Manchester sebanyak gol sebanyak 8 gol dan 2 assist di semua kompetisi.


Memang itu kartu yang dirasa cukup ampas, namun bagi Rizaldi Fatah itu sudah lebih dari cukup. Dia tidak mau terlalu mencolok agar sistemnya juga tidak terkuak dan diketahui orang lain, dan kemampuan Frank Lampard di tahun itu juga sudah melampaui pemain-pemain yang ada di sini.


'Satu gol dan satu umpan kunci hari ini sudah cukup' ucap Rizaldi Fatah dalam hatinya, sambil memegangi dadanya yang jantungnya berdebar gugup.


Dalam rasa gugupnya, Rizaldi dikejutkan oleh Ardi yang menepuk pundaknya beberapa kali. Ardi jelas melihat rasa gugup itu menjalar keluar dari mata Rizaldi dan dia pun memberikan sedikit masukan padanya seperti apa yang harus dilakukan oleh seorang kapten tim. "Percaya dirilah, aku yakin kau akan dipanggil ke tim-A dalam waktu dekat ini. Dan jika kau benar-benar ke tim-A, tidak usah pikiran lagi soal kami, kami akan terus melanjutkan perjuangan walaupun tanpa dirimu kawan"


"Kapten!" mata Rizaldi mulai berbinar-binar, memang benar Rizaldi juga sedikit gugup dan takut untuk meninggalkan mereka semua, mereka yang bermain untuk tim-B.


Selama ini mereka lah yang menjadi teman seperjuangan Rizaldi, selama hampir 3 bulan dia telah berjuang bersama mereka semua dan tentu saja itu sudah lebih dari cukup untuk membuat sebuah ikatan yang dalam. Rizaldi sadar dia tidak bisa berada disini terus-menerus, dia ingin mengejar teman-temannya yang lain bermain di Tim-A. Maka dari itu dia terus berlatih dan menunjukkan permainan terbaiknya untuk mewujudkan hal itu.

__ADS_1


Dia menunggu momen, dimana akan ada staf dan tim pelatih mengetuk pintu kamar ganti itu dan memanggil namanya untuk dibawa ke kantor dan membicarakan hal yang sangat ingin dia dengar. Tentunya dia masih berharap.


Waktu sudah mulai terbuang cukup lama, kamar ganti yang tadinya ramai akan hingar-bingar suara kemenangan, kini mulai meredup hingga tidak terdengar lagi suara mereka. Yang terdengar hanyalah suara tali-tali yang mengikat satu sama lain membentuk sebuah simpul, dan bunyi air turun dari wadah tempatnya.


Di ruang ganti masih ada Ardi serta Rizaldi. Rizaldi memang dikenal mereka sebagai penghuni kamar ganti, karena dia lah orang yang selalu menjadi orang terakhir berada di sana dan yang paling pertama juga ada di sana.


"Kamu sudah mau bersiap pulang Rizaldi?"


"Belum kapten" Ucap Rizaldi sambil terus mengikat tali sepatunya, sepertinya dia ingin melakukan beberapa putaran lari terlebih dahulu sebelum pulang kerumahnya.


Sang kapten tahu apa yang akan dilakukan oleh Rizaldi, sehingga dia tidak banyak berkomentar dan hanya memberikan sedikit nasehat. "Jangan terlalu mendorong dirimu sendiri ya, ingat! Kami akan selalu mendukungmu kapanpun" ucapnya dan dia lalu pergi pulang.


"Terimakasih kapten!" ucap Rizaldi pelan sekali, mungkin hanya angin dan kawanan hewan malam yang bisa mendengar ucapan terimakasihnya itu.


Rizaldi lalu bersiap-siap pergi ke lapangan sekali lagi untuk melakukan kebiasaannya, berlari sebanyak 10 kali putaran. Saat dia hendak membuka pintu, Rizaldi melihat gagang pintu yang bergerak masuk ke dalam.


"Rupanya masih disini toh nak Rizaldi" wajah Coach Dodi Surian terlihat dibalik pintu.


Coach Dodi tersenyum puas melihat anak asuhnya yang satu ini, semangat juangnya memang sungguh meyakinkan. Coach Dodi lantas teringat dengan alasan dia datang menemui Rizaldi, sebelum Rizaldi pergi untuk melakukan putaran ia langsung menghentikannya.


"Rizaldi, aku mau kamu ikut denganku"


"Kemana Coach?" Rizaldi cukup kebingungan dengan ajakan Coach Dodi.


"Sudah ikut saja jangan banyak tanya ya" jawab Coach Dodi setengah bercanda, tidak punya pilihan banyak akhirnya Rizaldi pun mengikuti Coach Dodi.


Rizaldi mengikuti Coach Dodi Surian dari belakang, dia menyadari kalau dirinya dibawa Coach Dodi ke tempat dimana staf dan tim pelatih biasanya berkumpul. Hatinya langsung merasa gugup, dia bertanya-tanya dalam dirinya sendiri apakah dirinya akan di promosikan ke tim-A. Karena begitu gugup Rizaldi sampai tidak sadar kalau dia sudah sampai di depan pintu ruangan pertemuan dan dia menabrak pintu itu cukup keras.

__ADS_1


"Rizaldi! Kamu gak baik-baik saja nak?" Coach Dodi Surian terlihat bingung sekaligus merasa kasihan dengan Rizaldi.


"Saya baik-baik saja Coach!" Rizaldi memegangi dahinya yang tadi tertabrak pintu kayu berkualitas tinggi itu.


Coach Dodi Surian mengetuk pintu beberapa kali dengan pelan, lalu beliau perlahan-lahan membukakan pintu sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Saat Rizaldi memasuki ruangan itu, dia melihat banyak staf dan tim pelatih sedang menutup mulut mereka dengan tangan mereka. Sepertinya mereka sedang menahan tawa mereka, Rizaldi menyadari mengapa mereka semua seperti itu dan dia lalu merasa malu sendiri akhirnya.


"Hei Ward Prowse" suara Coach Giovanni yang sedingin hujan di bulan Nopember langsung membuat suasana di ruangan itu ikut menjadi dingin, bagai ada badai di dalam sana.


"Silakan duduk di kursi itu Ward Prowse"


Coach Giovanni menyuruh Rizaldi Fatah untuk duduk di tempat yang sudah disediakan sebelumnya. Sambil menunduk Rizaldi pun duduk, dia masih sedikit kesal karena Coach Giovanni terus saja memanggilnya Ward Prowse.


"Aku rasa sepertinya kau tidak perlu banyak dijelaskan lagi ya. Terlebih ketika aku melihat wajahmu itu sudah begitu jelas kalau kau memahami apa yang akan kau alami selanjutnya. Apakah itu rasa percaya diri yang berlebihan atau kebodohan yang berasa dari kepercayaan diri mu"


"Maafkan saya Coach, tapi saya benar-benar tidak memiliki petunjuk mengapa saya dibawa kemari" itu jawaban dari Rizaldi, walaupun sebenarnya dia yakin kalau dia akan di promosikan ke tim-A namun dia tidak ingin mengucapkan yang sebenarnya.


Akhirnya tim pelatih dan staf pun mengucapkan dalam waktu yang bersamaan, apa yang sebenarnya Rizaldi inginkan memang benar-benar terjadi. Dia memang di promosikan ke tim-A mulai dari esok.


Mendengar berita itu, Rizaldi langsung tertunduk lemas. Dia tiba-tiba saja menangis, bukan tangisan penderitaan namun melainkan tangisan sebuah kebahagiaan yang tidak bisa ia gambarkan dalam kata-kata lagi. Rasanya, semua perjuangan yang telah ia lakukan, semua pengorbanan yang telah ia lakukan dan semua rasa sakit yang ia lalui sekarang terbayarkan dengan tunai.


Dirinya masih tidak menduga dan percaya kalau dia akan bergabung dengan tim-A besok hari, dia masih belum mengucapkan selamat tinggal pada kawan-kawannya di tim-B.


"Untuk soal itu kau masih bisa melakukannya besok hari Ward Prowse! Kau ini promosi ke tim-A, bukannya bermain ke luar negeri sampai-sampai meninggalkan mereka semua" Coach Giovanni sedikit mengoreksi kesalahan Rizaldi Fatah.


Sadar dengan kesalahan yang ia lakukan, Rizaldi Fatah meminta maaf dan membungkukkan badannya ke semua orang yang ada di dalam ruangan. Dia benar-benar berterimakasih kepada mereka semua, terlebih kepada Coach Dodi Surian yang telah membimbingnya di tim-B.

__ADS_1


"Terimakasih Coach Dodi atas kesempatan dan pelajaran yang Coach berikan" ucap Rizaldi, lalu dia memegang tangan Coach Dodi Surian dan bersujud di hadapannya.


"Kau tidak perlu melakukan itu!" Coach Dodi langsung menghentikan apa yang dilakukan oleh anak asuhnya itu, Coach Dodi memberikan pelukan erat pada Rizaldi dan sambil memeluknya dia memberikan beberapa nasehat terakhir ke telinga Rizaldi yang akan selalu diingat oleh Rizaldi sampai kapanpun.


__ADS_2