Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Episode 22: Versus Sugar Crossed FC


__ADS_3

Pertandingan yang dinanti oleh kami semua, sebentar lagi akan dimulai. Sebelum kick-off, pengadil lapangan alias wasit memanggil kedua kapten tim untuk melakukan toss koin, menentukan siapa yang akan memulai kick off.


Di tim kami, yang menjadi kapten adalah pemain dengan nomor punggung 5, posisinya seorang bek tengah yang sudah cukup pengalaman di liga lokal. Namanya Ardi, dia sudah cukup lama di Pengambangan Cananga, bahkan sudah dari tim junior.


Dari tim musuh, yang menjadi kapten adalah pemain dengan nomor punggung 10. Dia salah satu orang yang patut aku waspadai, karena dia memiliki visi bermain yang cukup tinggi dengan angka 41. Menurut pengamatanku, jika ada pemain dengan nilai visi bermain di atas 40, kemungkinan dia adalah orang yang jenius di lapangan dan itu sangat berbahaya.


Banyak sudah contohnya. Kevin de Bruyne, Sandro Tonali, Toni Kross, Luka Modric, atau bahkan Christian Eriksen. Mereka semua adalah orang-orang yang sangat jenius di lapangan dan dengan kejeniusan mereka, mereka semua bisa mengendalikan permainan untuk membuat tim mereka meraih kemenangan.


Lempar koin sudah dilakukan dan tim kami yang memulai kick off lebih dulu.


Kami memulai babak pertama dengan sedikit berhati-hati, mencoba menerka-nerka strategi apa yang akan dilancarkan oleh tim lawan. Kami mengandalkan umpan-umpan pendek yang sering kami latih, menunggu mereka semua maju kedepan untuk menekan kami dan nantinya kami akan langsung memberikan umpan langsung kedepan.


Kami terus mengumpan sambil mencari titik-titik ruang yang bisa kami manfaatkan menjadi sebuah peluang, begitu pula aku yang juga sibuk mengontrol aliran bola sambil melakukan scanning area.


Aku terlalu sibuk melakukan scanning area, hingga aku tidak melihat lagi bahwa ada dua orang yang sedang melakukan pressing ke arahku. Aku sedikit terkejut dan melepaskan bola jauh ke depan, hal itu terjadi karena aku sedikit terkejut dan tidak bisa mengontrol umpan yang kuberikan.


Bola hampir keluar, namun ku lihat di ujung sana, Axel mencoba untuk mendapatkan bola. Dia berlari sangat cepat dan berhasil membuat bola tetap berada di dalam lapangan. Dia melakukan tusukan dari sisi kiri, melewati dua pemain belakang dengan sangat apik dan mulai melakukan shoot ke arah gawang.


Sayangnya tendangan itu masih bisa ditepis oleh kiper musuh dengan cukup mudah, karena arah bola yang memang mengarah tepat ke kiper. Bola berhasil diamankan dan skor belum berubah.


"Nice try Axel!" Aku berteriak dari kejauhan, untuk membuat mental Axel tidak menurun.


Axel mundur kembali ke belakang, saat dia berpapasan denganku dia memberikanku komentar atas umpan yang aku berikan tadi. "Umpan mu kacau! Lain kali berikanlah yang lebih bagus!"


Aku tidak bersuara apa-apa, aku memang menyadari umpanku tadi memanglah buruk, aku kehilangan fokus beberapa saat dan malah memberikan umpan yang tergesa-gesa.

__ADS_1


Kami kembali memulai permainan kami dengan lebih percaya diri karena apa yang kami pikirkan tentang tim ini sedikit berlebihan. Beberapa kali kami berhasil membuat peluang emas dan beberapa kali juga strategi yang kami jalankan berjalan dengan sukses.


Memang kami masih belum mencetak skor, tetapi jika strategi terus berjalan seperti ini maka tinggal menunggu waktu saja dan gol yang dinanti akan tiba dengan sendirinya.


Kami terus menekan tim lawan, awalnya berjalan dengan sangat lancar namun entah kenapa aku merasakan hal yang tidak beres karena terlalu mudah seperti ini. Ada perasaan yang sangat mengganjal di dadaku, aku tidak tahu apa itu namun itu sangat tidak nyaman.


Aku memberikan bola kepada rekan timku, dan aku mulai mengamati pergerakan dari tim musuh. Kulihat mereka sering melakukan kontak mata walaupun mereka tidak sedang menguasai bola. Dari situ aku merunutkan semua hal yang kulihat, dan ternyata mereka sudah mulai terbiasa dengan pola permainan kami.


Dan saat aku mulai menyadarinya, semua sudah terlambat. "Jangan umpan ke depan!" ujarku mencoba untuk menghentikan pemain yang ingin memberikan umpan langsung ke arah depan, namun sayang bola sudah terlanjur diberikan.


Saat itulah pemain Sugar Crossed FC memotong bola langsung tadi, setelahnya mereka langsung melakukan operan pendek dengan sangat cepat menuju pertahanan kami, itu ada serangan balik cepat yang dipercepat lagi.


Bola langsung terarah ke Yoga Hilmawan, dia tersenyum saat menerima bola. Yoga mendribbling bola dengan mudah sampai ke depan gawang kami. Lalu ia melesatkan tembakan ke arah gawang kami. Bola melesat dengan cepat, Derry juga melompat ke arah bola tetapi jangkauannya tidak sampai dan hanya mengenai sedikit jarinya saja. Membuat bola masih terbang liar sebelum pada akhirnya dibuang oleh kapten tim kami dan menjadikannya sepak pojok untuk tim Sugar Crossed FC.


Sepak pojok dilakukan, pendek saja tim musuh melakukannya. Bola kembali diterima oleh Yoga Hilmawan. Dia membawa bola sampai di kotak penalti, namun pemain bertahan sudah menutupi segala ruang tembaknya, hanya ada satu pilihan bagi Yoga Hilmawan yaitu mengumpan bola ke pemain lainnya. Namun yang terjadi sangat diluar dugaanku.


Dengan sudut yang begitu sempit itu, ia melesatkan tembakan dengan keras. Dia berhasil melewati hadangan yang sudah dilakukan oleh pemain bertahan kami dan berhasil melakukan tembakan. Derry melompat untuk mendorong bola, bola mengenai mistar gawang dan sebelum menyentuh tanah bola langsung di sapu oleh kapten kami, Ardi.


"Jangan sampai lengah kawan-kawan! Mereka mulai terbiasa dengan pola permainan kita" Ardi berteriak keras memperingatkan kami semua. Memang benar apa yang dikatakan olehnya, tim musuh memang sudah mulai terbiasa dengan pola kami.


Namun ini terlalu cepat, baru 17 menit waktu berjalan dan mereka sudah bisa terbiasa dengan pola permainan kami ini? Itu sungguh mengerikan!


Kami lalu memulai lagi dari awal strategi kami. Melakukan ball posession sampai garis pertahanan musuh mulai maju kedepan, menunggu musuh hingga menjadi tidak sabaran dan tanpa sengaja membuka ruang untuk kami. Monoton memang permainan seperti ini, hanya melakukan umpan demi umpan ke arah yang relatif pendek saja, tetapi hal ini pun juga harus dilakukan dengan konsentrasi tingkat tinggi. Jika oleng sedikit saja, bola yang kami kuasai ini bisa direbut oleh tim musuh dan akan langsung diserang dengan serangan balik cepat.


Aku bersama dengan Zaki Iskandar mencoba mengendalikan lapangan tengah sambil mencari-cari celah dan ruang yang bisa kami manfaatkan untuk menjadi sebuah peluang, begitu celah itu terlihat di mata Zaki dia langsung membawa bola terlebih dahulu kedepan, sambil melakukan one-two dengan ku. Aku menghubungkan umpan langsung ke arah Axel Raihan yang sudah bersiap untuk berlari kedepan, aku yang percaya dengan kecepatan yang dimiliki olehnya langsung saja memberikan umpan terobosan yang sangat bagus sekali.

__ADS_1


Bola dikejar oleh Axel Raihan, dia berduel sprint dengan dua pemain bertahan tim musuh dan dengan sangat jelas, Axel berhasil mengalahkan mereka berdua. Dia sudah bebas sekarang, berduel dengan kiper 1 vs 1. Axel tidak terlalu kaku, dia dengan tenang sedikit mengecoh kiper yang bersiap menerjangnya itu dan membuat kiper musuh tertipu akan gerakan kecil yang dilakukan oleh Axel. Lalu dengan dingin, Axel menendang bola pelan saja dan menjadikannya sebagai gol pertama di pertandingan kali ini.


Gol! Satu kosong kami unggul di menit ke-23.


Axel Raihan melakukan selebrasi dengan yang lainnya setelah mencetak gol, dia juga mengajakku untuk melakukan toss dan kuterima ajakannya.


"Umpan mu jelek sekali, saking jeleknya aku harus berusaha keras untuk menjadikannya sebagai gol" ujarnya dengan wajahnya yang masih saja sok kuat itu. Aku tertawa saja menanggapinya.


Dengan gol itu rasa percaya diri kami mulai kembali tumbuh, setelah sempat layu beberapa saat yang lalu. Namun, walaupun sudah seperti itu entah kenapa rasa yang sangat tidak nyaman yang kurasakan semenjak tadi itu masih belum hilang sama sekali, bahkan sekarang semakin lebih terasa.


Aku kembali melihat keseliling ku, ku lihat wajah-wajah pemain Sugar Crossed FC tidak berubah sama sekali dengan gol tadi. Mereka masih bersikap biasa saja dan menganggap seolah gol tadi bukanlah hal yang membahayakan mereka semua, karena itulah aku sedikit kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi di tim itu.


Aku kembali terlambat menyadari jika ada hal yang berubah terjadi di tim lawan. Saat aku mulai menyadarinya, petaka itu sudah terjadi begitu saja dengan cepat. Sugar Crossed FC berhasil menyamakan skor di menit ke-39 setelah Yoga Hilmawan berhasil memasukkan bola ke gawang yang dikawal oleh Derry.


Skenario gol itu terjadi pada saat kami mulai membangun sebuah serangan. Tidak diduga oleh siapapun, pemain musuh yang memakai nomor punggung 10 langsung memotong bola begitu saja, setelahnya serangan balik bagai kilat cahaya itu langsung dilancarkan oleh Sugar Crossed FC sebelum kami mulai menyadarinya.


Pemain bernomor punggung 10 itu langsung memberikan umpan terobosan yang sangat terukur kepada penyerang mereka, yaitu Yoga Hilmawan. Yoga Hilmawan melakukan tembakan dari luar kotak penalti, aku kira dia tidak percaya diri setelah beberapa kali tendangannya berhasil ditepis oleh Derry sebelumnya. Namun ternyata perkiraan ku jauh meleset, sepakannya sangat keras dan kencang sampai Derry tidak sempat bereaksi terhadap sepakan itu. Skor pun berubah menjadi 1-1.


"Apa-apaan itu? Apa itu tendangan dari anak sekolahan?" Kapten kami pun tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Ku lihat Derry juga terlihat sangat kesal karena dia tidak bisa bereaksi akan sepakan keras tadi. Aku hendak pergi ke arah Derry dan menyemangatinya, namun Yoga yang berpapasan denganku dengan sengaja menabrak bahuku hingga aku terduduk di tanah.


"Oh maaf" ujarnya sambil menutupi mulutnya. Aku kira dia memang ingin meminta maaf namun ternyata tidak! "Aku akan mengalahkan kalian semua, kalian semua tidaklah lebih dari sepotong sampah dijalanan. Tidak cocok berada di sini" Yoga berkata dengan pelan dan hanya aku yang bisa mendengar ucapannya itu.


Aku sedikit terpancing dengan ucapannya itu, namun aku hanya bisa menatap punggungnya yang mulai menjauh dariku itu dengan perasaan kesal dan marah yang menjadi satu. Intinya aku tidak ingin kalah darinya hari ini dan akan membuktikan padanya kalau aku memang pantas berada di sini.

__ADS_1


__ADS_2