Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 54: Menit Terakhir


__ADS_3

Jalannya babak kedua antara Pengambangan Cananga Youth dan Buceros, semakin ketat dan memanas. Buceros terus menekan tim Cananga Youth karena ingin mencetak gol balasan dan menjadikan pertandingan ini berakhir dengan kemenangan mereka, namun pertahanan tim Pengambangan Cananga Youth membuat mereka kewalahan.


Pengambangan Cananga Youth juga tidak kalah kewalahan dari Buceros, karena intensitas serangan tinggi itu mereka terus bergerak tanpa henti dan tanpa lelah. Banyak sudah yang tumbang entah itu dari pemain Buceros ataupun Pengambangan Cananga Youth, mereka banyak mengalami kelelahan dan juga keram otot.


Pertandingan beberapa kali dihentikan karena itu, kedua tim mengambil kesempatan itu untuk sedikit melakukan perubahan taktik ataupun sekedar minum membasahi tenggorokan mereka yang sudah kering.


"Bagus anak-anak pertahankan kesolidan kalian semua. Aku yakin dalam waktu dekat, momentum yang kita tunggu-tunggu akan datang" ujar Coach Satria, mencoba menyemangati para anak didiknya. Walaupun sebenarnya beliau masih merasakan senam jantung akibat intensitas permainan yang tinggi.


Peluit kembali berbunyi, semua tim kembali ke lapangan untuk memulai lagi laga yang sempat terhenti. Dimulai dari lemparan ke dalam dari tim Buceros FC.


Lemparan diambil oleh Steven Liando, dia masih memperhatikan sekelilingnya sebelum memberikan lemparan ke dalam. Dia melihat Alfian dan Maxx dijaga ketat oleh Fauzi dan juga Axel. Lalu pandangan Steven tertuju kepada Ananda. Walaupun dia dikawal ketat oleh Zaki dan Rizaldi, namun wajah Ananda masih menunjukkan kalau dia tidak mau menyerah begitu saja.


Steven seperti bisa mendengar suara Ananda memanggil namanya dan mengucap kata 'percaya padaku'. Karena itu dia pun melemparkan bola jauh ke tengah, ke tempat di mana Ananda berada.


Zaki bergerak lebih dulu, dia berniat untuk memotong arah bola yang masih di udara. Namun perkiraannya salah, bola melewati kepalanya dan mendarat tepat di kaki Ananda Marska. Ananda lalu melakukan gerakan untuk melewati Rizaldi dan Rizaldi pun berhasil ditembus olehnya.


Ananda maju kedepan, dia mencoba mencari tahu posisi dan rekan-rekannya. Pilihannya lalu tertuju ke pemain sayap kiri yang sudah berlari ke depan. Bola dialirkannya, menggelinding cepat memotong rerumputan dan berhenti di kaki pemain itu. Si pemain sayap tadi langsung memberikan umpan silang ke kotak penalti, di sana sudah ada Ferdinand yang menunggu datangnya bola.


"Kali ini akan menjadi gol!" ucap Ferdinand lalu dia melompat tinggi, mengalahkan para barisan pertahanan tim Pengambangan Cananga Youth dan berhasil menyundul bola ke arah gawang.


Lagi dan lagi, Dery berhasil meninju bola itu agar keluar lapangan. Dery kembali menunjukkan kelasnya, gawangnya masih aman untuk saat ini, karena masih ada sepak pojok yang sedang menanti.


"Dery sialan!" Ferdinand sudah begitu frustasi, sudah kesekian kalinya upaya dirinya untuk mencetak gol selalu digagalkan oleh Dery yang merupakan mantan rekan satu timnya itu di Buceros Junior.


"Kendalikan diri mu Ferdinand! Kita masih punya kesempatan lewat sepak pojok" kata Ananda Marska, sambil berlari kecil menuju ke tempat sepak pojok.


"Kendalikan dirimu, kendalikan dirimu kucing kawin! Jangan kau pikir bisa mengendalikan ku" Ferdinand jadi kesal sendiri, sampai membuat pemain Cananga Youth sedikit keheranan.


Ananda Marska bersiap melakukan sepak pojok, sudah banyak pemain Buceros FC yang mulai memasuki kotak penalti Pengambangan Cananga Youth. Bahkan, Steven pun ikut maju untuk membantu penyerangan.


Setelah menimbang-nimbang sedikit, Ananda pun melakukan tendangan penjuru. Bola berbelok bagai senjata khas suku aborigin itu. Ferdinand kembali bersiap untuk melakukan duel udara, dia memang rajanya duel udara dalam pertandingan hari ini. Sudah beberapa kali dia melakukan duel udara dan Ferdinand berhasil memenangkan hampir semuanya.

__ADS_1


Namun Ferdinand mengurungkan niatnya awalnya, saat dia melihat Dery yang juga mulai maju meninggalkan sarangnya untuk mengamankan bola. Ada niatan buruk melintas di kepala Ferdinand, saat Dery maju dan melompat untuk menyambut bola. Ferdinand juga melompat setelahnya, lalu dia melakukan gerakan sikutan yang mengenai wajah Dery.


Dery pun terjatuh ke tanah dan memegangi wajahnya yang kena sikut. Ferdinand menendang bola yang jatuh di kakinya dan bola masuk ke dalam gawang, namun sayang peluit wasit sudah berbunyi jauh sebelumnya.


Wasit melihat semua kejadian itu, Ferdinand merasa seperti tidak melakukan apapun dan malah memprotes keputusan wasit yang malah memberikan pelanggaran.


"Wasit! Itu tadi gol bukan pelanggaran!" Ferdinand masih saja protes keras, pemain Pengambangan Cananga Youth sudah mulai gerah dengan sikap Ferdinand dan mulai mendatangi dirinya.


Karena terus protes dan mendengar desakan pemain Pengambangan Cananga Youth, wasit pun memberikan Ferdinand kartu kuning untuk Ferdinand yang semakin membuat dirinya marah.


"Yang benar saja aku bahkan tidak menyentuhnya!"


"Diam saja kau makhluk yang mirip seperti Sima Yi! Kau sudah melukai temanku" Rizaldi kini ikut larut dalam keributan itu, masih dengan referensi Tiga Kerajaan.


Ananda Marska dan Alfian menarik Ferdinand agar menjauh dari sana dan berhenti melakukan protes, mereka juga tahu kalau Ferdinand memang melakukan pelanggaran dan memang pantas mendapatkan kartu kuning.


"Menjauh dari ku!" Ferdinand kesal dan mendorong Ananda dan Alfian, mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku Ferdinand.


"Apa kamu masih bisa bermain? Kalau tidak maka kamu harus keluar dan diganti" ucap petugas medis.


"Saya baik-baik saja!" jawab Dery dan dia mulai bangkit, dia juga memberikan simbol jari jempol ke teman-temannya yang artinya kalau dia masih bisa melanjutkan pertandingan.


Rizaldi dan yang lainnya bernafas lega melihatnya, namun mereka kembali tersadar kalau waktu sudah memasuki menit-menit akhir. Waktu tambahan sudah diberikan, 3 menit saja waktu yang diberikan oleh panitia. Mulai dari sekarang adalah serangan terakhir Martin cs, sekarang atau tidak sama sekali.


Bola di mulai dari tendangan bebas dari Dery. Saat peluit ditiup, Dery langsung memberikan bola jauh kedepan. Namun sayang, bola itu malah mendarat ke kaki pemain Buceros FC, dia langsung memberikan bola ke Ananda Marska dan mereka pun mulai melakukan set-up serangan lagi.


"Defense...Defense!" Martin berteriak agar mereka semua bisa bertahan sebentar lagi, hasil seri belum tentu menyelamatkan mereka.


Buceros kembali menunjukkan permainan tiki-taka mereka yang sudah semakin mahir, tetapi Pengambangan Cananga Youth juga tidak kalah solid, mereka terus mengurung pemain Buceros agar tidak bisa bergerak dengan leluasa.


Bola masih berada dalam penguasaan Buceros, mereka melakukan operan-operan pendek di lini tengah saja karena tidak bisa merengsek masuk ke wilayah pertahanan Pengambangan Cananga Youth.

__ADS_1


Bola di kaki Alfian saat ini, dia melihat rekan-rekannya namun tidak ada yang bisa ia beri bola sehingga ia mengembalikan bola ke tengah, tepatnya ke kaki Ananda Marska.


Ananda Marska menggiring bola sedikit lebih kedepan, mencari rekan-rekannya namun semua posisi rekannya dijaga oleh pemain Cananga Youth. Dia juga sempat melihat papan skor dan waktu, waktu sudah menunjukkan 90+2, tersisa kurang dari 60 detik sebelum wasit meniup peluit panjang.


Pada saat itulah Ananda Marska kehilangan fokusnya, dia tidak mendengar suara Alfian yang memperingatkan dirinya soal bola akan direbut oleh pemain Cananga Youth. Dia menyadarinya saat bola benar-benar berhasil direbut oleh pemain Cananga Youth, yang merebutnya adalah Rizaldi yang memanfaatkan kelengahan Ananda Marska.


"Tidak!" Ananda terlambat menyadari, dia ingin menarik baju Rizaldi namun Rizaldi sudah mendahului dirinya.


Rizaldi terus maju, melewati beberapa pemain lalu mengumpan kepada Axel Raihan. Axel Raihan memberikan umpan kepada Martin, Martin melakukan sedikit gerakan untuk mengecoh Steven namun tidak bisa ia kecoh sehingga Martin lebih memilih untuk mengembalikan bola pada Rizaldi.


Pada saat itulah Rizaldi lalu teringat dengan gol Francesco Totti ke gawang Angelo Peruzzi. Momennya begitu pas dan mirip sekali, dia memiliki tiga opsi yaitu memberikan umpan terobosan ke sisi kanan yang sudah ada Fauzi yang bersiap di sana, atau memberikan umpan kepada Axel dan juga dia bisa memberikan umpan lob kepada Martin sambil berharap Martin bisa melakukan tendangan first-time dan berhasil mencetak gol kedua.


Namun Rizaldi memilih opsi lain, opsi yang hanya ada dalam instingnya. Dalam momen yang seperti bisa menghentikan waktu itu, Rizaldi masih sempat membuka panel sistem dan menggunakan item penambah akurasi tendangan selama 2 menit. Itu adalah hadiah yang ia dapatkan dari pertandingan beberapa waktu lalu.


Rizaldi juga melihat kondisi penjaga gawang Buceros yang sedikit lebih maju dari tempatnya, sehingga dia mencoba melakukan chip-shoot sama seperti yang dilakukan oleh Fransesco Totti.


"Sebuah chip-shoot dilakukan oleh Rizaldi Fatah dari luar kotak penalti!" sang komentator berdiri setelah melihat Rizaldi melakukan itu.


Bola melambung tinggi, melewati kepala Steven yang hendak menghalau bola. Kiper Buceros yang sudah lebih maju dari tempatnya, jadi tidak bisa menjangkau bola itu dan bola masuk dengan mulus ke dalam gawang.


"Gooooollllll!" teriak komentar dan sorakan penuh kegembiraan pun pecah di tribun para penonton.


Semua penonton langsung berdiri, bergoyang-goyang merayakan gol indah itu tadi. Rizaldi yang melakukan hal itu tadi masih terdiam di 15 meter sebelum kotak penalti, dia tidak percaya dia berhasil melakukan gol yang indah itu.


Semua pemain Pengambangan Cananga Youth langsung mendatangi dirinya dan menindihnya, bahkan pemain cadangan juga ikut masuk untuk merayakan gol itu. Keisha dan Salma yang juga melihat gol itu langsung merayakan juga dengan saling berpelukan, sebelum akhirnya mereka sadar kalau mereka saling tidak menyukai satu sama lainnya.


Pikiran Rizaldi masih kosong, dia masih tidak menyangka dengan gol itu. Bahkan pada saat suara sistem terdengar di kepalanya, dia masih belum percaya akan kenyataan itu.


Menit 90+3, nama Rizaldi tercatat di papan skor dan golnya di replay beberapa kali di papan skor, sebelum akhirnya pertandingan kembali dilanjutkan dan Buceros melakukan kick-off hanya untuk menunggu peluit panjang wasit berbunyi.


Pengambangan Cananga Youth berhasil menang 2-1, seluruh pemain Cananga Youth dan juga staf para pelatih merayakan kemenangan mereka. Sedangkan pemain Buceros hanya bisa menatapi kekalahan mereka dengan pandangan kosong dan tidak percaya, mereka terlalu meremehkan lawannya kali ini.

__ADS_1


Di tribun penonton ada satu orang yang ikut tersenyum melihat kemenangan Pengambangan Cananga Youth dan juga gol yang diciptakan oleh Rizaldi Fatah tadi. "Gol ini seperti gol Totti ke gawang Lazio di musim 2002/03! Kau benar-benar bisa menjadi Trequarista Ward Prowse!" ucapnya lalu dia pergi dari sana


__ADS_2