Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 42: Hari Debut?


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Rizaldi pun datang. Bagai pungguk rindukan bulan saja dia sudah menunggunya, dan akhirnya hari itu pun tiba. Laga perdana yang akan dijalani oleh dirinya.


Itupun tergantung dari keputusan Coach Satria lebih banyak, karena beliaulah yang memutuskan siapa saja yang bermain hari ini di laga kala ini. Tentunya Coach Satria ingin menang dilaga kali ini, rentetan hasil imbang dan kalah di 5 laga terakhir sudah membuatnya pusing-pusing kepala. Belum lagi masalah internal yang ada di skuadnya yang tidak kunjung mereda, dia terlalu gengsi untuk meminta bantuan ke Coach Dodi Surian ataupun Coach Giovanni Almeida. Makanya Coach Satria Hutama lebih memilih untuk menyelesaikan masalah ini dengan kemampuannya sendiri, karena dia merasa dia masih bisa untuk mengatasi hal ini.


Nasib Rizaldi Fatah hari ini berada di tangannya Coach Satria Hutama, dan yang sudah diketahui oleh Rizaldi adalah dia tidak akan bermain reguler pada hari ini sama seperti pada saat dia tim-B. Dia yakin sekali akan hal itu, bahkan dia berani melakukan lari 30 kali putaran penuh jika Coach Satria akan memasukkan dirinya dari babak pertama.


Namun walaupun Rizaldi yakin kalau dirinya tidak akan bermain dari menit awal, tetapi dia juga tidak yakin kalau dirinya akan menjalani debutnya hari ini karena mengingat perangai Coach Satria yang seperti itu. Tetapi tetap, Rizaldi penuh berharap kalau hari ini dia bisa bermain melawan tim Fiume Blu Lulut.


Fiume Blu Lulut sendiri adalah tim yang juga berada di Kota Banjarmasin, tepatnya di Distrik Sungai Lulut. Mereka menduduki papan tengah klasemen Zona Tengah saat ini, berada beberapa tingkat di atas Pengambangan Cananga sang juara bertahan yang sedang terpuruk saat ini.


Menang juga ada dalam misi utama mereka, mengalahkan sang juara bertahan adalah salah satu cara untuk meningkatkan semangat juang dan moral para pemain dan itu sangat penting bagi mereka semua. Dan untuk Pengambangan Cananga, laga kali ini adalah laga yang mutlak. Menang adalah satu-satunya hal yang harus mereka raih pada hasil akhir nanti, jika mereka draw lagi ataupun kalah maka tamat sudah riwayat mereka dalam mengarungi I-Youth.


Untuk itulah sebelum masuk ke dalam lapangan, Coach Satria terlebih dahulu mengumpulkan anak asuhnya untuk berkumpul di ruang ganti. Beliau sedang menjelaskan taktik yang akan beliau terapkan di laga kala ini, dan juga memberitahu kepada mereka semua pemain-pemain mana saja yang patut diwaspadai di laga hari ini.


Pertama ada bek tengah mereka yang bernama Andra Hariyanto. Pemain bernomor punggung 3 yang memiliki postur tubuh begitu ideal sebagai seorang bek, dengan tinggi 180cm dan berat badan 78kg yang mana itu adalah otot semuanya. Pemain depan pasti akan kesulitan untuk berduel ataupun untuk menembus pertahanan tim mereka.


"Untuk itulah kita harus memperkuat lini tengah kita. Aliran bola di lini tengah harus bisa mengalir lancar seperti aliran sungai, jika kita bisa lakukan itu mungkin kita bisa perlahan-lahan membongkar pertahanan mereka layaknya air yang mengikis batu yang keras!" ujar Coach Satria.


Para amunisi muda itu mengangguk pelan, mereka benar-benar paham akan apa yang sudah dijelaskan oleh Coach Satria tadi. Kini mereka pun sudah bersiap untuk menghadapi lawan mereka di luar sana.


"Sekali lagi ingat!" Coach Satria memberikan satu kata lagi. "Selalu tetap pada formasi awal kita, kita harus menekan dari awal babak karena mereka bermain cukup pasif dalam beberapa pertandingan ini" 

__ADS_1


"Siap Coach!" ucap mereka semua bersamaan.


"Lalu, apa ada pertanyaan selanjutnya sebelum kita pergi kelapangan?" 


Semua pemain terdiam, bukan karena takut namun karena memang sudah merasa cukup dengan penjelasan Coach Satria sebelumnya. Dengan begitu Coach Satria pun menyuruh mereka untuk pergi, namun sebelum itu ada salah satu anak muda yang tiba-tiba mengangkat tangannya tepat sebelum mereka pergi. 


Melihat siapa yang melakukan itu. Dery, Zaki dan Axel hanya bisa terkikik pelan. Ya, anak yang mengangkat tangannya sebelum mereka bubar tadi adalah tidak lain dan tidak bukan Rizaldi Fatah sang anak baru.


Wajah Coach Satria sedikit berubah, namun beliau mencoba bertindak sedikit profesional. "Apa yang kau ingin pertanyakan anak baru? Apakah kau ingin tahu kalau hari ini adalah hari debut mu? Kalo itu aku tidak bisa menjawabnya" 


"Bukan itu Coach!"


"Lantas apa?" Coach Satria mulai kesal.


Coach Satria memiringkan kepalanya, dia berpikir siapakah sosok anak muda didepannya ini yang sudah berani mengkoreksi dirinya itu. Anak muda itu kembali berucap. "Maaf coach, kalau saya terlihat seperti menggurui" dan itu semakin membuat Coach Satria lebih kesal lagi.


Namun walaupun sedang kesal Coach Satria hanya menunjukkan wajah kaku dan dingin saja, sama seperti yang sering dilakukan oleh Coach Giovanni sang idolanya. Dan Coach Satria akhirnya menyuruh anak asuhnya untuk segera pergi ke lapangan karena permainan akan segera dimulai, tanpa menjawab ataupun menanggapi opini dari Rizaldi tadi.


Rizaldi juga tidak masalah dengan itu, dari awal dia hanya bilang kalau itu hanyalah pendapat pribadinya saja. Jadi, dia pun ikut yang lain pergi ke luar, tetapi bedanya dia harus duduk di bangku cadangan, tidak ke dalam lapangan.


Walaupun terkesan tidak peduli dengan pendapat Rizaldi. Coach Satria sebenarnya membuka panel yang berisi strategi miliknya dan juga nama-nama pemain musuh. Beliau mengecek pemain yang disebutkan oleh Rizaldi tadi, pemain bernomor punggung 12 yang berposisi sebagai bek sayap dan pemain bernomor punggung 10 yang merupakan penyerang mereka.

__ADS_1


"Tidak ada yang spesial dari mereka, apakah dia hanya mengucapkan omong kosong saja?" Coach Satria berdialog dengan dirinya sendiri, dia bertanya-tanya mengapa Rizaldi tadi memperingati dirinya akan pemain-pemain itu.


Saat tengah asyik dengan dunianya, Coach Satria dikejutkan dengan serangan dari tim musuh. Memanfaatkan kesalahan lini tengah, tim musuh langsung merengsek masuk dari sisi sayap, lalu bola dialirkan ke tengah oleh pemain bernomor punggung 12 ke pemain nomor 10. 


Posisinya begitu bagus, dia berhadapan 1 vs 1 dengan Dery. Dia menendang bola ke arah sisi jauh Dery, namun sayangnya sepertinya ini adalah harinya Dery. Dery berhasil menggagalkan gol itu dengan save yang indah. Bola keluar dan menghasilkan tendangan pojok untuk tim musuh.


"Hampir saja!" Coach Satria mengelus dadanya di pinggir lapangan, lalu setelahnya beliau mulai mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rizaldi tadi.


"Pemain bernomor punggung 12 itu, dia memang bek sayap namun dia memiliki akurasi passing yang bagus sekali. Dan pemain bernomor punggung 10 itu, walaupun dia bukan pencetak gol terbanyak di tim tetapi dia telah mencetak 5 gol dari 5 laga. Kenapa aku tidak menyadari hal itu! Dan permainan mereka ini, mereka tidak bermaksud untuk bermain lewat sisi lapangan, melainkan mereka akan menyerang lewat tengah!" Ekspresi Coach Satria yang baru saja menyadari taktik musuh itu seperti orang yang baru saja menyadari teka-teki tersulit.


Dia memandang ke arah Rizaldi yang fokus memperhatikan jalannya pertandingan, matanya mengikuti arah kemana bola berada. Bahkan saat bola dibuang jauh kedepan oleh pemain belakang timnya, dia juga tidak berhenti mengikuti.


"Rizaldi!" Coach Satria memanggil Rizaldi dan langsung membuyarkan visinya.


"Ya Coach?"


"Kau mau tau kapan debut-mu?" 


"Saya tidak tau Coach" jawab Rizaldi singkat, karena memang dia tidak akan tau hal itu.


Coach Satria sedikit tersenyum, senyumannya seperti senyuman Coach Giovanni saat dia menerima hadiah natal berupa sebuah pisau baru. "Debut-mu adalah hari ini!" Ucap Coach Satria dan itu langsung membuat Rizaldi begitu bahagia bukan main.

__ADS_1


"Baik Coach saya siap kapanpun!" ucap Rizaldi dengan senyuman yang lebar sekali. Bersamaan dengan berita itu, Rizaldi pun juga mendapatkan misi dari sistem yang akan memberikannya beberapa keuntungan lagi di kemudian hari.


__ADS_2