
2 jam aku dikeluarkan oleh guru matematika akibat tidak memperhatikan pelajaran, sampai pada akhirnya bel berbunyi yang menandakan berakhirnya pelajaran untuk hari ini. Bel itu juga berarti tanda kalau aku boleh kembali ke kelas dan mengambil barang bawaanku sebelum pulang dan pergi ke tempat latihan.
Saat aku masuk ke kelas, terlihat semua teman-temanku sudah mulai bersiap-siap untuk pulang atau pergi ke ruangan klub ekskul. Aku pun juga demikian, aku hanya mengambil barang-barangku seperti tas dan yang lainnya, lalu segera pergi dari situ.
Setelah aku mengambil semua barang bawaanku seperti tas dan yang lain, aku bersiap untuk keluar kelas dan pergi ke tempat latihan. Namun tanganku ditarik oleh seseorang, ditarik oleh tangan yang sangat lembut dan begitu halus. Aku langsung menoleh ke belakang, siapakah yang menarik lenganku itu dan ternyata itu adalah Salma yang berusaha menahanku untuk tidak segera pergi.
"Jangan pergi dulu" katanya dengan suara yang pelan, dia juga masih belum berani menatapku seperti biasanya karena hal yang ia lakukan saat pelajaran Matematika tadi.
Aku sebenarnya tidak terlalu menyalahkan dirinya akan hal itu, namun sepertinya hal itu menyebabkan beban pikiran bagi dirinya. "Kamu mau apa? Aku ada latihan hari ini" aku harus segera pergi ke tempat latihan
Lalu Salma menyerahkan sebuah buku, aku tau betul buku itu adalah punyaku. Buku yang bersampul gambar superhero di film-film Hollywood, itu adalah buku catatan Matematika milikku. Aku sedikit bingung mengapa buku itu ada di tangan Salma, aku langsung mengecek tas ku dan benar saja tidak ada buku itu di dalamnya.
"Maafkan aku Rizal. Aku tidak bermaksud membuatmu dihukum, aku hanya ingin melihat buku catatan milikmu tadi" ujarnya sambil menyerahkan buku catatan Matematika milikku.
Aku mengambil buku itu, entah mengapa ada sebuah bisikan yang menyuruhku untuk membuka buku itu dan melihat isinya. Aku pun jadi membuka buku itu, dan ternyata Salma sudah mencatatkan semua pelajaran yang diajarkan hari ini tadi pada saat aku dikeluarkan dari kelas.
Tulisannya sangat indah, jika dibandingkan dengan tulisan tanganku mungkin bagai langit dan bumi, sangat berbeda jauh sekali. Tulisan tanganku seperti tulisan manusia biasa yang baru mengenal tulisan, sedangkan tulisan Salma seperti tulisan tangan seorang dewi yang menuliskan takdir indah pada sosok orang seperti diriku ini.
Setelah mengecek tulisan itu, aku menatap ke wajah Salma. Wajahnya sedikit memelas, berharap agar aku memaafkan dirinya. Padahal sudah sangat jelas, aku sama sekali tidak marah dengan dirinya. Aku tidak punya waktu banyak untuk memikirkan hal sepele seperti itu, pikiranku lebih terfokus kepada bagaimana cara agar aku bisa menembus ke skuad utama di tim Pengambangan Cananga.
__ADS_1
Namun, melihat Salma yang seperti ini ada rasa bersalah dan juga sedikit geli juga. Pada akhirnya aku pun mengelus-elus kepalanya dengan pelan dan lembut sambil sedikit tersenyum kepadanya. "Aku tidak marah kok denganmu, tidak usah sedih macam begitu"
Mendengar ucapanku itu membuat Salma sedikit ceria lagi, dirinya yang ku kenal mulai kembali perlahan-lahan. "Kamu benar tidak marah kan?" Salma kembali bertanya lagi dan aku hanya mengangguk saja, lalu yang kulihat hanyalah senyuman manis yang indah dari wajahnya yang cantik itu.
Aku juga ikut tersenyum, sifatnya yang kadang begitu polos dan lugu itu membuat nilai lebih di mataku. Aku terbius akan senyumannya itu, sampai tidak menyadari lagi kalau masih ada banyak orang di kelas dan melihat sandiwara yang sedang aku mainkan bersama dengan Salma.
Gemuruh pun terdengar di telingaku, suara-suara publik yang menyuruhku untuk merangkul Salma dan menyatakan perasaanku yang sebenarnya mulai berkicau seperti burung aduan.
Di tengah-tengah posisi yang seperti itu, aku lihat Salma juga sedikit kebingungan. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, sebelum pada akhirnya Derry langsung menarik lenganku dan juga Salma agar segera keluar dari kelas yang mulai tidak terkendali itu.
"Makanya kalau mau bermesraan itu lihat tempat dong!" Ucap Derry sambil mengatur nafasnya, berlarian cukup cepat di lorong kelas membuat kami menarik nafas dengan sangat cepat.
"Terserah saja, tetapi lain kali kalau bisa jangan melakukan hal yang seperti itu lagi"
Setelah itu kami bertiga pun pergi keluar dari lingkungan sekolah. Kami terlebih dahulu pergi ke parkiran sekolah, menemani si pangeran dari kelas 10-C ini mengambil Harley Davidson miliknya itu.
Sambil berjalan ke parkiran, aku dan Derry pun sedikit berbincang-bincang masalah klub. Derry sedikit tertekan dengan menu latihan tim Youth yang menurutnya begitu mengerikan baginya, dan juga dia merasakan sedikit rasa rindu akan berlatih bersama denganku. "Jika tidak ada dirimu, rasanya sangat berbeda sobat" ucapnya
"Tunggu saja kawan, aku akan menyusul kalian bertiga. Pertama-tama aku harus membuktikan diri terlebih dahulu di tim B" jawabku dengan sangat yakin sekali.
__ADS_1
Derry tersenyum, kulihat matanya menunjukkan kepercayaan tinggi pada diriku, dia yakin sekali kalau aku pasti bisa menghadapi rintangan yang akan kuhadapi dengan sangat baik. "Kami menantimu sobat! Jangan sampai kau malah tertinggal jauh dari kami bertiga" Setelah itu aku dan Derry melakukan tos alias salam rahasia yang sering kami lakukan berdua jika bertemu atau hendak berpisah.
Suara motor yang nyaring pun mulai menyakiti telingaku, Derry menggeber-geber tali gas motor beberapa kali seperti mengecek apakah mesin sudah panas atau belum. "Aku pergi duluan sobat!" Derry lalu menggeber motor Harley Davidson miliknya itu dan pergi meninggalkan aku dan Salma berdua di tempat parkiran.
Ku lihat wajahnya Salma, dia seperti sedang kesal namun aku tidak tahu mengapa. Aku mencoba bertanya namun dia tetap diam saja, tidak mau diajak bicara sampai aku kebingungan sendiri akan sikapnya itu.
Lalu saat aku hendak pergi lebih dulu, aku mendengar suara yang sangat kecil, seperti suara orang yang bergumam. Aku berbalik badan dan rupanya Salma yang sedang menggunakan sesuatu yang tidak dapat aku dengar dengan jelas, dia seperti sedang membaca suatu Mantra ritual salah satu ajaran sesat.
"Kenapa sih Salma? Kok jadi begitu sih?"
"Gak kenapa-kenapa kok, asik ya bisa tos-tosan sama teman ya" Suaranya seperti orang yang tengah kesal, dan sepertinya dia kesal akan kedekatanku dengan Derry tadi.
Aku pun menyodorkan tangan padanya, mengajaknya untuk melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan dengan Derry tadi. Namun, Salma seperti menolak ajakan ku itu tetapi aku menyadari kalau itu hanyalah sikapnya yang tidak mau kalah darinya.
"Oh gak mau ya? Ya sudah aku pulang duluan aja kalau begitu, dadah!" Aku berpura-pura tidak peduli dengan dirinya, dan benar saja Salma langsung menarik lenganku sama seperti yang ia lakukan saat di kelas tadi.
"Jahat ih!" Ucapnya dengan penuh rasa kesal dan aku hanya tertawa saja.
Kami pun lalu melakukan tos juga seperti yang aku lakukan dengan Derry, setelahnya kami berpisah karena jemputan Salma sudah datang dan aku pun harus pergi ke PPC untuk menghadiri latihan harian yang sudah dijadwalkan untukku hari ini.
__ADS_1