
Di pagi hari yang cerah ini, sehabis selesai sarapan, para pemain Pengambangan Cananga Youth memulai pagi mereka dengan latihan pagi. Setengah jam pertama mereka gunakan untuk latihan pemanasan, lalu setelahnya mereka memulai latihan sesuai menu latihan yang sudah disiapkan oleh tim pelatih sebelumnya.
Beberapa menu latihan mereka ada latihan melakukan tendangan, latihan passing, serta latihan defense dengan memotong bola dengan benar dan bagus. Tetapi ada satu pemain yang harus melakukan latihan terpisah dari yang lainnya, karena kondisi yang dirinya alami terpaksa Rizaldi Fatah harus melakukan latihan terpisah dari rekan-rekannya yang lain.
Cidera yang dialami oleh Rizaldi bisa dibilang cukup serius, tetapi untungnya dirinya masih bisa bermain di babak final nanti walaupun tidak bisa tampil maksimal seperti yang ia harapkan sebelumnya.
Di malam harinya setelah Rizaldi mengetahui kondisi kakinya, dirinya sangat frustasi dan tertekan dibuatnya. Dia menceritakan hal itu kepada Keisha dan ibunya, sampai-sampai Keisha malah memarahi kakaknya itu karena cidera yang ia derita.
Rizaldi begitu frustasi dengan keadaannya, beberapa kali dia menangis karena menyadari kalau dirinya tidak bisa tampil dengan maksimal di pertandingan final yang akan berlangsung malam Minggu nanti.
Dan sekarang, Rizaldi harus menjalani latihan terpisah dari rekan-rekannya yang lain. Latihan ini juga menjadi patokan untuk para tim pelatih, sebuah patokan untuk menilai apakah Rizaldi memang bisa diandalkan untuk pertandingan final nanti ataukah mereka harus dengan terpaksa membuat Rizaldi melewatkan pertandingan finalnya yang sudah dirinya tunggu-tunggu.
Rizaldi melakukan latihan sprint di latihan terpisah kali ini. Tim pelatih ingin memastikan apakah kaki Rizaldi masih bisa diajak kerjasama atau tidak dalam latihan kali ini. Catatan rekor spiritnya menurun drastis dari biasanya, jika biasanya Rizaldi bisa 7-8 detik untuk jarak 100 meter, sekarang karena lututnya masih terasa sakit akhirnya menjadi 12 detik dalam 100 meter.
__ADS_1
Tentu saja hal itu bisa terjadi. Untuk mengangkat kakinya saja, Rizaldi sudah meringis kesakitan luar biasa. Apalagi jika dibawa berlari cepat seperti itu, namun catatan waktu Rizaldi itu masih dianggap lumayan oleh para tim pelatih dan juga Coach Satria Hutama sebagai pelatih kepala tim Pengambangan Cananga Youth-A.
"Baik Rizaldi itu sudah cukup, sekarang kita ke menu latihan selanjutnya" kata Coach Satria, lalu beliau menyuruh beberapa stafnya untuk menyiapkan halang rintang untuk menu latihan Rizaldi selanjutnya.
Rizaldi mengangguk dan mulutnya ternganga lebar seperti naga yang hendak menyemburkan nafas api dari ujung paru-parunya. Sesekali dia meminum minuman Energy Booster yang ia miliki, tidak ada yang menyadarinya kalau minuman yang diminum oleh Rizaldi itu adalah minuman sihir yang bisa mengembalikan semua stamina yang sudah dikeluarkan.
Coach Satria memulai penjelasannya tentang menu latihan kedua yang harus dijalani oleh Rizaldi Fatah. Di menu latihan kedua ini, Rizaldi harus berlari sambil melewati halang rintang. Tidak seperti latihan pertama yang hanya fokus di sprint, sekarang ada beberapa cone yang sudah diletakkan oleh staf pelatih untuk membuat Rizaldi harus melewati cone itu dengan cara melakukan zig-zag dan berputar jika sudah sampai ujung sana.
"Jika kau merasa tidak sanggup, jangan paksakan dirimu Rizaldi. Jika kakimu terasa sakit sekali bilang saja dan kita akhiri latihan kita pada hari ini, kau mengerti?"
"Setelah mendengar bunyi peluit ini, waktumu 2 menit dan kau harus bolak-balik sebanyak 4 kali" ucap beliau dan setelah dirinya merasa Rizaldi mengerti dengan semua itu, beliau pun meniup peluitnya dan memulai latihan ke dua untuk Rizaldi.
Rizaldi langsung tancap gas sejak awal, dia tidak peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan selama dirinya berlari itu. Apalagi dengan adanya cone untuk menjadi halang rintangan Rizaldi, kakinya semakin terasa sakit setelah bergerak cepat lalu berhenti seketika dan kembali bergerak dengan cepat untuk mengejar waktu.
__ADS_1
Walaupun merasa sakit yang teramat sakit, Rizaldi berhasil menyelesaikan satu putaran, lalu dua putaran berhasil ia selesaikan namun kakinya semakin terasa sakit dan mulai ada rasa sedikit kebas yang muncul namun tetap saja Rizaldi tidak peduli.
Lalu pada saat hendak menyelesaikan putaran ketiga, saat Rizaldi ingin melewati cone yang ada dihadapannya. Saat Rizaldi ingin bergerak ke arah kiri, lututnya memaksa dirinya untuk jatuh karena sudah tidak bisa menahan beban yang ia tanggung itu. Rizaldi tertunduk di atas tanah, lututnya sudah menyerah walaupun hatinya mengatakan tidak. Tetapi, seberapa kerasnya Rizaldi berteriak di dalam hatinya dan tidak peduli ratusan atau bahkan ribuan kali dirinya mengutuk dirinya sendiri, tetap saja lututnya sudah tidak bisa berkerja sama dengan dirinya.
Coach Satria langsung menyuruh tim medis untuk memeriksa keadaan lutut Rizaldi yang sedang cidera itu, saat diperiksa tidak ada hal yang membahayakan dirinya namun karena hal itu Rizaldi harus menghentikan latihan hari ini dua kali lebih cepat dari rekan-rekannya yang lain.
Coach Satria Hutama hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kondisi yang dialami oleh salah satu pemain kuncinya itu, dia benar-benar tidak habis pikir dengan kesialan yang menimpa sosok Rizaldi Fatah itu.
Dengan terpaksa Coach Satria Hutama pun menghentikan latihan untuk Rizaldi Fatah, beliau sendiri sangat kecewa dengan apa yang menimpa anak didiknya itu dan juga ikut merasa kesal seperti yang dirasakan oleh Rizaldi Fatah.
Rizaldi Fatah pun dengan kesal harus kembali ke dalam, sedikit terpincang-pincang dirinya berjalan di lorong. Sesekali dirinya berteriak karena tidak terima dengan kondisi yang dialaminya saat ini. Dia ingin sekali bertanding di laga final, dia ingin sekali selalu berkontribusi untuk tim, dia ingin sekali selalu bermain bersama rekan-rekannya di atas lapangan. Namun, cidera yang ia alami membuatnya harus menepi dan sepertinya tidak bisa terlalu berkontribusi untuk tim, bahkan dirinya merasa dia cenderung menjadi beban di tim.
Di tengah kesedihan yang dirasakan oleh Rizaldi, dirinya mendengar suara yang memanggil-manggil namanya. Suara itu sayup, terdengar jauh namun terasa dekat sekali. Rizaldi terus mencari sumber suara itu, namun dirinya hanya seorang diri di lorong yang sedikit gelap itu.
__ADS_1
Rizaldi sudah menjadi sedikit khawatir, dirinya mulai merasa berhalusinasi karena frustasi dan rasa sakit yang ia derita. Namun, suara yang terus memanggil namanya itu terasa semakin dekat dan dekat. Hingga akhirnya suara yang jelas sekali terdengar di dalam kepalanya, itu adalah suara sistem yang sedari tadi memanggilnya dan baru saja disadari oleh Rizaldi.
"Apakah Anda sedang sedih Master?" begitulah suara sistem yang didengar oleh Rizaldi dan itu sedikit membuat dirinya terkejut dengan apa yang sudah ia jalani selama ini bersama sistem itu.