Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Episode 30


__ADS_3

Rintik hujan mengiringi kemenangan pertama kami hari ini. Hujannya begitu deras- dan ku rasa teduhnya masih sangat lama, aku tidak mau basah-basahan menerobos hujan dan akhirnya jatuh sakit sehingga aku lebih memilih untuk tetap tinggal di loker bersama dengan Keisha yang ikut terjebak hujan karena mengikuti-ku.


Di loker hanya tersisa aku dan Keisha saja, pemain yang lain sudah dulu balik ke rumah mereka masing-masing atau sedang melakukan hal lain di tempat lain.


"Kapan hujannya berhenti sih" Keisha menggerutu kesal sebab hujannya yang tidak kunjung teduh, malah tambah lebat dan sekarang disertai suara guntur yang menggelegar-nyaring dan sepertinya juga ada angin ribut.


"Abang, Keisha lapar" Keisha memegangi perutnya, matanya ku lihat sedikit pucat, dia benar-benar lapar.


"Ayo kita pergi ke kantin" ajak-ku, dengan cepat Keisha menyambar tanganku seperti ikan gabus yang menyambar umpannya.


Kami pergi ke kantin atau biasa disebut kafetaria kalau di sini. Begitu sampai di kantin, seperti yang ku harap suasananya sepi pengunjung.


"Aku duduk dulu ya bang, pesanannya Keisha serahkan ke abang saja" Keisha lalu berlari-lari kecil menuju tempat duduk yang berada sedikit di pojokan, dia benar-benar suka spot itu. Saat dulu aku ke sekolah Keisha untuk mengambil rapot-nya, tempat duduknya juga hampir berada di belakang dan di pojokan.


Sempat ku tanya mengapa dia memilih tempat duduk di pojokan, bukannya di barisan depan ataupun di tengah. Keisha termasuk anak yang pandai, dia selalu juara kelas hingga kelas 8 ini. Dan biasanya bintang kelas seperti Keisha ini, duduknya selalu di barisan depan dan selalu berhadapan paling pertama dengan guru-guru. Guru-guru pun suka memuji, atau sekedar menyapa sosok bintang kelas di barisan depan, namun berbeda dengan Keisha yang malah melakukan sebaliknya.


Aku takutnya hanya satu, dia menjadi objek bullyan dan akhirnya menyendiri dengan duduk di barisan belakang, pojokan. Atau aku takut dia terkontaminasi serial anime yang sering dia tonton, ya pemeran utama di anime itu seorang laki-laki yang seringnya duduk di barisan belakang karena dia orang yang cupu.


Kembali ke diriku. Pikiran ku sekarang tengah melayang-layang. Bukan karena memikirkan hal rumit seperti mengapa adanya Gravitasi ataupun Teori Kuantum, melainkan aku hanya sedikit kebingungan dengan menu yang mau ku pilih.

__ADS_1


Bertanya pada Keisha tidak ada gunanya, dia sudah mengatakan kata mujarab, absolut dan magis dari sosok seorang perempuan. Jika sudah mereka berkata "terserah" maka jangan harap bisa memecahkan. Hacker sekalipun, atau sosok yang bekerja di bagian IT saja tidak akan mampu memecahkan kode "terserah" dan mencari tahu apa arti sebenarnya dari kata itu.


Aku tidak ada masalah sama sekali dengan makan apapun, yang ku pikirkan hanyalah apa yang harus ku pesankan pada Keisha karena jika aku salah membawakan makanan bisa saja dia akan merajuk 7 hari 7 malam denganku dan aku tidak mau hal itu terjadi.


Cukup lama berpikir, akhirnya ku putuskan juga apa yang mau ku pesan. "Seblaknya 2 bi, satu pedas level 4 dan satunya lagi level 2 aja"


"Seblaknya 2 ya, minumnya?"


"Teh es satu, sama teh hangat satu"


"Tunggu bentar ya, nanti bibi antar kalau sudah siap"


Aku kembali ke tempat adik ku duduk, melihat kedatanganku dia langsung tersenyum penuh arti, walaupun aku tahu apa maksud dari senyumannya itu.


"Abang yang traktir kan ya?" Ucapannya sudah kuduga semenjak aku melihat mimik wajah mengharap itu.


"Ya" ku jawab singkat saja.


"Abang mesan apa?" Keisha sedikit penasaran, matanya bergerak kesana-kemari mencari jawabannya sendiri namun masih nihil.

__ADS_1


Aku membalas senyumannya sebelumnya dengan senyuman pula, namun senyuman ku ini lebih terkesan seperti senyuman seorang penjahat yang sedang memberikan kejutan pada musuhnya sang pembela kebenaran. Ku lihat Keisha nampak kesal karena apa yang kulakukan, namun aku tidak peduli.


10 menitan kemudian, barulah pesanan kami datang. Ketika mangkuk panas berisikan seblak yang merah menyala itu, mata Keisha langsung berbinar-binar, dia seperti anak kecil yang baru melihat mainan di pasar dan sangat ingin membelinya walaupun tidak ada uang sama sekali.


"Seblak" katanya riang sekali, aku hanya tersenyum melihatnya yang sangat bahagia itu.


Keisha langsung mengambil mangkok seblak yang kaldunya berwarna merah menyala, seperti semangat juang yang ku lakukan di pertandingan tadi. Aku bukannya sengaja mengerjai adik kecilku sendiri dengan memberikan makanan super pedas seperti Seblak level 4, tetapi memang itu adalah hal yang sangat disukai oleh Keisha ketika makan Seblak.


Dia selalu memesan Seblak dengan level yang gila, bahkan saking gila dia juga pernah memesan Seblak level 5, tetapi akhirnya berujung dengan sakit perut dan diare yang tidak kalah gilanya dan membuatnya sedikit jera. Sedikit mungkin.


Dengan apa yang pernah terjadi dengan dirinya, Keisha pun memutuskan untuk tidak lagi memesan Seblak level terakhir. Dia hanya memesan Seblak level sebelum terakhir dan itu sering dia lakukan, aku takut dia kenapa-kenapa lagi namun saat aku mencoba menegurnya dia malah melawanku dan berbalik menyerang dengan mengejekku.


Aku yang tidak terlalu tahan makanan pedas selalu kena ejekan dari Keisha, sama seperti sekarang ini. Begitu dia tahu kalau Seblak yang ku pesan hanya level 2, ia terkesan meremehkan kakaknya sendiri dan malah menganggap kalau aku bukanlah kakak kandungnya hanya karena tidak tahan pedas.


"Abang ini gak keren ah, masak makan pedas aja gak tahan" Keisha menyombongkan dirinya dan sudah menganggap kalau dia lebih tinggi dari ku di hierarki.


Hierarki itu memang benar adanya, dalam keluarga kecil ku pun juga seperti itu adanya. Di keluarga ku, hanya aku sendiri yang tidak tahan akan makanan yang pedas-pedas. Semuanya sangat suka pedas, apalagi sangat pedas. Hierarki di keluarga ku itu di paling atas ada Ibu yang bisa membuat sambal pedas yang levelnya iblis! Lalu ada ayah dan terakhir Keisha. Sedangkan aku berada di tingkat paling bawah, menopang mereka menjadi pijakan mereka di hierarki terbawah.


Aku juga tidak tahu mengapa aku malah berbeda dengan mereka, lidahku terlalu sensitif dengan rasa dan itu membuatku mengalami dilema antara senang dan sedih. Aku senang karena bisa merasakan kenikmatan suatu masakan lebih dalam lagi, dan sedihnya karena dengan itu jika ada Chef yang kelebihan menakar garam maka aku bisa langsung merasakan betapa asinnya makanan itu walaupun hanya kelewatan beberapa tetesan garam saja.

__ADS_1


Tetapi aku masa bodo saja, daripada makan pedas-pedas sampai tidak merasakan lagi betapa lezatnya makanannya, aku lebih memilih tidak terlalu pedas namun masih bisa merasakan kelezatan dari suatu masakan itu.


__ADS_2