
Semua pemain Pengambangan Cananga Youth tertunduk lesu dan tidak berdaya setelah wasit meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan final malam ini. Mereka sudah melakukan permainan terbaik mereka, namun masih belum cukup baik dan tim lawan berhasil bermain lebih baik dari mereka.
Beberapa diantara mereka ada yang menangis keras, ada yang sambil tengkurap di tanah untuk menutupi air mata mereka agar tidak ada yang melihatnya. Ada pula yang menatap kosong ke arah para pemain Batavia Fort FC dan staf-stafnya yang sedang merayakan kemenangan mereka hari ini.
Martin bahkan sebagai kapten tim Pengambangan Cananga Youth pun hanya bisa menutupi wajahnya dengan seragam kebesaran mereka, dirinya mencoba menutupi rasa sedih dan kecewanya. Martin ditenangkan oleh asisten pelatih Coach Satria Hutama karena sebagai kapten tim dirinya harus selalu berdiri tegak dan tidak goyah walaupun kondisi tim sedang berada di titik paling bawah.
Jangan tanyakan kondisi Rizaldi Fatah yang sudah berjuang mati-matian untuk sampai ke titik ini. Dirinya sudah tidak bisa berkata-kata lagi, pandangannya kosong dan hanya air mata tanpa ia sadari menetes mengalir ke pipinya. Coach Satria Hutama terus menenangkan diri Rizaldi, namun sayangnya Rizaldi sudah terlanjur terjun ke jurang kesedihan.
Dirinya begitu terpukul, Rizaldi menyalahkan dirinya sendiri atas kekalahan ini. Rizaldi teringat akan momen dimana dirinya merasa bisa menyamakan kedudukan, andai saja saat itu salah satu pemain Batavia Fort FC tidak melakukan tekel yang mengenai lutut cideranya, mungkin saja ada cerita yang berbeda. Begitulah pikir Rizaldi.
Namun seberapa keras mereka mengutuk diri mereka sendiri, tetap saja tidak merubah fakta kalau mereka kalah atas Batavia Fort FC dengan skor 1-0.
Para panitia pelaksana I-Youth menyiapkan set panggung untuk perayaan kemenangan sang juara dan pembagian medali, setelah set panggung siap para pemain pun langsung diberitahu untuk bersiap-siap. Namun sebelum memberikan medali untuk runner-up dan sang juara, ada penghargaan untuk beberapa pemain yang sangat menonjol di I-Youth kali ini.
Pertama yang dipanggil adalah pemain yang mendapatkan predikat sebagai penjaga gawang terbaik selama I-Youth berlangsung di musim ini. Kiper Pengambangan Cananga Youth yaitu Derry Yanuar Pinto Rosario adalah pemain yang terpilih untuk menjadi penjaga gawang terbaik di I-Youth musim kali ini.
Derry maju ke panggung dengan ekspresi wajah yang sedikit terlihat kesal dan kecewa yang menjadi satu, saat dirinya mendapatkan sarung tangan emas itu pula dirinya tidak tersenyum sama sekali, seolah-olah senyumnya telah terenggut di malam itu.
Setelah penjaga gawang terbaik, lalu ada penghargaan untuk pencetak gol terbanyak alias top skor. Yang mendapatkan penghargaan berupa sepatu emas itu adalah penyerang depan asal Sugar Crossed FC, Yoga Hilmawan. Yoga Hilmawan membukukan 27 gol termasuk 2 gol yang dirinya catatkan ke gawang Sparta Bandung FC pada saat laga perebutan juara ketiga kemarin, saat itu Sugar Crossed FC berhasil menekuk tim Sparta Bandung FC dengan skor 3-0.
Lalu yang meraih predikat sebagai pemain terbaik di I-Youth kali ini. Banyak yang mengira bahwa predikat itu akan tersematkan kepada sosok kapten tim Batavia Fort FC yaitu Raffi Putra. Tetapi, ada pula yang berpendapat kalau Rizaldi Fatah yang bermain dari putaran kedua dan berhasil membawa perubahan besar untuk Pengambangan Cananga Youth juga berpeluang untuk menjadi pemenangnya.
__ADS_1
Namun biasanya pemenang golden boy biasanya adalah dari tim yang memenangkan liga, dan apa yang dibicarakan oleh banyak penggemar benar adanya. Sang pembawa acara menyebutkan nama Raffi Putra dengan sangat bersemangat sebagai sosok Pemain Terbaik di I-Youth musim ini.
Setelah semua nama pemain dipanggil, mereka bertiga yang memenangkan penghargaan individu masing-masing itu pun diajak melakukan sesi foto. Setelah selesai mereka bertiga kembali dan bersiap untuk melakukan acara selanjutnya.
Acara selanjutnya adalah pemberian penghargaan untuk tim yang menjadi runner-up. Seluruh pemain Pengambangan Cananga Youth naik satu persatu ke panggung, namun ada satu pemain yang harus keluar terlebih dahulu sebelum mendapatkan medali. Rizaldi Fatah yang mengalami cidera cukup parah terpaksa melewatkan momen itu dan langsung dibawa kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif, akhirnya medalinya pun diwakilkan oleh Coach Satria Hutama yang hanya bisa tersenyum kecut melihat medali berwarna perak itu terpasang dilehernya.
"Kali ini aku gagal ya? Sepertinya keberuntunganku sudah habis" ucapnya sambil membenarkan topi yang ia kenakan untuk menutupi air mata yang tiba-tiba turun dari matanya dan membasahi pipinya. Tentu saja dia tidak mau memperlihatkan sisi lemahnya itu kepada anak-anak asuhnya.
******
Satu hari telah berlalu, namun bagi Rizaldi momen itu masih terasa hangat di ingatannya. Rizaldi Fatah terpaksa harus pulang ke Banjarmasin lebih awal dari teman-temannya yang lain karena cidera yang dirinya alami.
Teman-temannya memiliki jeda waktu 2 hari yang bisa mereka manfaatkan untuk liburan sebelum pulang ke Banjarmasin, sedangkan Rizaldi harus berkutat dengan meja operasi.
Borought-555 sudah memperingatkan Rizaldi bahwa krim itu bukanlah krim yang memiliki efek penyembuhan, hanya pereda nyeri dan pada saat selesai pemakaian maka Rizaldi akan merasakan nyeri luar biasa karena telah memaksakan lututnya yang sakit untuk terus bergerak. Karena itulah cideranya semakin parah, dan benturan itu semakin membuatnya tambah parah.
"Jadi kira-kira berapa lama masa pemulihan cidera anak ini dokter?" suara yang berat dan dingin bertanya pada dokter yang bertugas membedah Rizaldi Fatah.
Dokter itu menjawab. "Jika dia rajin mengikuti proses pemulihan, mungkin akan lebih cepat. Kira-kira 2-3 bulan"
"Terima kasih dokter!"
__ADS_1
"Sama-sama coach Giovanni. Jika Coach ingin sesuatu bilang saja" Dokter itu pergi meninggalkan Coach Giovanni dan Rizaldi berduaan di ruangan itu.
Rizaldi saat ini tidak berani menatap wajah Coach Giovanni. Dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana rasa kekecewaan yang dirasakan oleh Coach Giovanni terhadap dirinya yang sudah gagal memenuhi harapannya. Namun apa yang dipikirkan oleh Rizaldi itu sedikit berlebihan, justru Coach Giovanni kemari untuk melihat keadaan Rizaldi Fatah.
"Bagaimana perasaanmu saat ini, Ward Prowse?" suara Coach Giovanni selalu berat, penuh penekanan dan terasa dingin, walaupun sebenarnya dirinya sendiri tidak bermaksud demikian.
Rizaldi masih tidak berani menengok wajah Coach Giovanni, namun coach Giovanni malah menepuk-nepuk kepala Rizaldi dengan lembut yang membuat Rizaldi sedikit merasakan nyaman dan akhirnya dirinya memberanikan diri untuk berbicara.
"Saya baik-baik saja coach, sungguh!" jawab Rizaldi, namun ekspresi wajahnya bisa ditebak oleh Coach Giovanni.
"Mana ada orang yang baik-baik saja mengeluarkan ekspresi wajah seperti baru saja kehilangan uang banyak. Apa pertandingan final itu masih menghantui diri mu?"
Suara Rizaldi seperti tercekat saat menjawabnya. "I-iya, saya masih kesal coach dengan ketidakmampuan diri saya. Maafkan saya coach!" Rizaldi sungguh menyesal, bahkan dirinya sampai menundukkan kepala ke arah Coach Giovanni.
Coach Giovanni sedikit tersenyum, brewoknya sedikit bergeser karena itu. Lengannya yang besar kembali mengusap rambut Rizaldi sampai membuatnya kacau berantakan. Suara dinginnya bagai menusuk hati Rizaldi. "Jika kau merasa demikian, simpanlah terus rasa kecewa, amarah dan sedihmu itu. Jadikanlah mereka bahan bakar untuk terus melanjutkan langkahmu. Ingatlah, pemain yang hebat adalah pemain yang selalu terus mengevaluasi dan menyesali semua kelemahan yang mereka miliki"
Rizaldi tercengang sedikit tercerahkan dengan kata-kata yang diucapkan oleh Coach Giovanni itu. Matanya yang masih masih basah karena sehabis menangis itu menatap ke arah sosok Coach Giovanni yang berjalan menuju ke pintu keluar, matanya menangkap punggung Coach Giovanni yang begitu tegap itu dan terlihat begitu kokoh bagai pilar-pilar Pantheon.
Sebelum keluar, Coach Giovanni kembali berbalik dan memberitahukan suatu hal yang penting pada Rizaldi. "Ikutilah semua prosedur penyembuhan yang diberikan tim dokter, temui aku jika kau sudah menang melawan cidera mu Ward Prowse! Akan ku perkenalkan dirimu pada sosok orang yang spesial" ucap beliau, lalu beliau pergi keluar meninggalkan Rizaldi yang sedikit bingung dengan apa yang dimaksud olehnya.
Kondisi ruangan kembali sunyi, pikiran Rizaldi kembali terbang pada saat momen dimana dirinya bisa untuk merubah keadaan. Dirinya berandai-andai, jika saja pada saat itu dirinya bisa melakukan tembakan langsung dan tidak terbentur dengan pemain Batavia Fort FC yang lain, mungkin dirinya tidak akan berpikir untuk memberikan bola kepada Martin dan mempercayakan kepada Martin untuk merubah keadaan.
__ADS_1
Namun sayangnya usahanya gagal, Rizaldi mendapatkan cideranya sedangkan Martin mendapati dirinya yang tidak berhasil menendang bola karena Raffi Putra berhasil mendahului dirinya dan melakukan intercept yang bagus sekali untuk menghalangi Martin merubah keadaan.