
Begitu Rizaldi mendapatkan sebuah item yang bisa meminimalisir rasa sakit di lututnya yang mengalami cidera, Rizaldi pun kembali melanjutkan latihannya. Tim medis saja jadi kebingungan dengan Rizaldi, masalahnya baru beberapa jam setelah mereka menghentikan dengan terpaksa latihan Rizaldi, kini Rizaldi malah meminta untuk melanjutkan latihan lagi.
Tim medis takut kalau Rizaldi Fatah memaksakan dirinya dan malah memperparah cidera yang ia alami, namun Rizaldi bersikeras ingin melanjutkan latihan dan terus-menerus menjelaskan kepada tim medis kalau dia sudah bersih untuk melanjutkan latihan.
"Tetapi kau tadi baru saja meringis kesakitan seperti itu, rasanya akan tidak mungkin jika kita melanjutkan latihannya dan malah memperparah cidera yang kau derita" kata tim medis berulang-ulang kali untuk memperingatkan Rizaldi, tetapi Rizaldi tetap kekeuh.
Rizaldi tidak mau kalah. "Saya tadi sudah bilang ke bapak kalau saya pakai salep yang sudah dibuatkan khusus oleh ibu saya dan itu cukup mujarab untuk menghilangkan rasa sakit dan nyeri di lutut saya" Rizaldi menyamarkan item yang ia beli dari toko sistem sebagai obat salep yang menjadi resep turun temurun keluarganya.
"Kalau begitu ayo kita coba kemampuan obat salep itu" Coach Satria tiba-tiba muncul entah dari mana, namun Rizaldi tidak peduli dengan itu yang dirinya pedulikan hanya ingin membuktikan kepada tim medis kalau dirinya bisa kembali berlatih.
Kepala tim medis klub Pengambangan Cananga Youth, dokter Reyhan Azzril menolak pemikiran liar Coach Satria Hutama untuk membiarkan Rizaldi Fatah berlatih. "Saya menentang hal itu coach!" ucap beliau, tentu saja beliau tidak ingin kondisi Rizaldi semakin parah.
Coach Satria masih belum menyerah, dia masih tetap dengan pendapatnya sendiri. "Jika Rizaldi sendiri yang ingin, maka kita harus membiarkannya. Dan dia sudah menjamin kalau dirinya akan baik-baik saja setelah ini"
"Tetapi coach!" dokter Reyhan sudah mulai bingung, dirinya menatap ke Rizaldi dan bisa melihat api semangat membara dari matanya itu dan dokter Reyhan pun akhirnya menyetujui hal tersebut tetapi dengan satu syarat. "Jika Rizaldi kembali kesakitan dalam latihan kali ini, maka hukumannya dia tidak boleh bermain di babak final!" ucap dokter Reyhan dan itu sedikit membuat Rizaldi terkejut.
Coach Satria pun lalu kini memandang ke ara Rizaldi. "Nah sekarang apa kau punya keberanian untuk itu Rizaldi?" ucap beliau.
__ADS_1
Rizaldi terdiam sejenak, tentu saja dirinya menimbang-nimbang hal ini. Jika salep itu hanya bertahan sebentar saja dan saat dirinya latihan malah terjadi hal yang tidak ia inginkan, maka Rizaldi bisa mengucapkan selamat tinggal pada babak final yang sudah ia nanti-nantikan itu, bahkan semenjak dirinya memulai karir sebagai pemain sepakbola.
Tentu Rizaldi takut akan hal itu, namun untuk mendapatkan kepercayaan dari Coach Satria dan juga tim medis klub, maka dia harus berani mengambil resiko itu. "Baiklah akan saya terima tantangan itu!" ucapan Rizaldi membuat Coach Satria tersenyum.
Lalu mereka kembali ke lapangan, Rizaldi masih melakukan latihan terpisah dengan yang lain namun kali ini Rizaldi lebih berapi-api daripada latihan sebelumnya. Coach Satria mulai menjelaskan latihan pertama Rizaldi, latihan yang langsung menyiksa lututnya yang cidera yaitu latihan lari rintang. Ini adalah menu latihan yang membuat Rizaldi harus mengakhiri sesi latihannya dengan begitu singkat sebelumnya.
Walaupun lututnya sudah diolesi oleh salep ajaib itu, tetap saja Rizaldi merasakan kegugupan yang luar biasa. Masalahnya karirnya dipertaruhkan di sini, ucapan dokter Reyhan tadi bukanlah satu lelucon yang memiliki niat untuk menghibur Rizaldi, itu adalah sebuah ancaman yang nyata dan jelas.
Tetapi sudah terlambat bagi Rizaldi untuk kembali, yang bisa ia lakukan sekarang adalah melakukannya seperti biasanya. Rizaldi menunggu aba-aba dari Coach Satria, setelah mendengar bunyi peluit Rizaldi pun mulai berlari.
Rizaldi berlari cukup cepat walaupun tidak secepat saat dirinya tidak mengalami cidera, namun dia berhasil menyelesaikan satu putaran dari lari halang rintang itu. Rizaldi tidak melanjutkan lebih dulu, dia menunggu arahan dari Coach Satria apakah dirinya benar-benar diperbolehkan atau tidak untuk berlatih.
Tim medis langsung mengecek apakah lutut Rizaldi baik-baik saja setelah berlari, tetapi ternyata mereka mendapatkan kabar yang sangat berbeda dari latihan pertama tadi. Lutut Rizaldi masih baik-baik saja, bahkan lebih baik dari latihan pertama sehingga membuat mereka semua sedikit kebingungan.
"Tampaknya resep obat salep turun temurun keluargamu itu sangat manjur Rizaldi!" Coach Satria sedikit tertawa melihat ekspresi tim medis klub yang sedikit kebingungan itu.
Karena sudah yakin, akhirnya Rizaldi pun kembali melanjutkan latihannya yang sempat tertunda itu. Setelah menyelesaikan latihan lari halang rintang, Rizaldi lalu melanjutkan ke menu latihan selanjutnya yaitu latihan melakukan tendangan ke gawang.
__ADS_1
Di gawang itu terdapat beberapa target di setiap sisi gawang. Setiap target memiliki nilai yang berbeda, dari yang terkecil hingga yang terbesar. Coach Satria menjelaskan poin-poin itu ke Rizaldi.
"Jika kau mengenai target yang ada di atas, maka nilainya 1000 poin. Jika yang di bagian bawah memiliki nilai 300 poin, sedangkan yang di tengah hanya 50 poin saja" ucap Coach Satria menjelaskan peraturannya kepada Rizaldi.
"Bagaimana caranya saya bisa lulus di menu latihan kali ini Coach?"
"Sederhana saja. Kau memiliki lima kali kesempatan menendang, lalu kau harus mengenai setidaknya dua kali di target bagian atas gawang. Lalu sisanya kau harus mengenai bagian bawah setidaknya satu kali"
"Jadi jika saya bisa mengenai dua kali target di atas dan satu kali target di bawah berarti jikalau pun saya gagal di dua kesempatan selanjutnya, saya masih tetap bisa dikatakan lulus?"
"Tepat sekali!"
Rizaldi sedikit mulai mengerti tentang latihan kali ini, lalu dia pun segera memulainya. Di percobaan pertama Rizaldi mengincar target yang ada di bagian atas gawang, Rizaldi mencoba menendang ke bagian pojok kanan atas gawang. Namun sayangnya bola malah sedikit turun dan tidak mengenai target yang dituju oleh Rizaldi.
"Sayang sekali" Coach Satria mengomentari tendangan Rizaldi tadi yang sebenarnya sudah bagus.
Walaupun tidak ada kiper yang menjaga gawang, namun Rizaldi diberikan batas untuk melakukan tendangan. Jaraknya sejauh 26 meter dan itu termasuk cukup sulit dilakukan bahkan oleh pemain profesional sekalipun.
__ADS_1
Di percobaan kedua Rizaldi cari aman, dia lebih memilih untuk melakukan tendangan mendatar dan berhasil mengenai target. Lalu di percobaan ketiga dia pun mencoba sekali lagi untuk menendang bola ke target yang sebelumnya gagal dia raih. Dan akhirnya Rizaldi berhasil mengenainya, begitu pula di percobaan keempat sampai terakhir, Rizaldi berhasil mengenai target bagian atas sebanyak tiga kali dan target bagian bawah sebanyak satu kali.
Coach Satria langsung bertepuk tangan melihat kemajuan yang diperlihatkan oleh Rizaldi itu, lalu dengan senyuman yang hampir serupa dengan senyumannya Coach Giovanni, Coach Satria pun berkata. "Sepertinya sudah saatnya kita sedikit naikkan level latihan kita"