Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 72: Versus Jayapura Black Diamond (3)


__ADS_3

Kondisi ruang ganti Pengambangan Cananga Youth tampak tidak baik-baik saja, mereka semua seperti habis diterpa hujan badai ditengah laut dan kini mereka hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi pada diri mereka.


Rizaldi bahkan tidak bersuara sama sekali, biasanya dia menjadi sosok pembeda di ruang ganti namun kini dia hanya diam seribu bahasa. Begitu pula dengan Martin.


Martin yang selalu sombong dan sering mengagungkan-agungkan kemampuan olah bolanya yang padahal biasa saja itu, kini tertunduk lemas dengan menutupi seluruh wajahnya dengan handuk kecil.


Tentunya Martin yang paling menderita di sini, dia mendapatkan sebuah peluang emas 24 karat sebelumnya, namun dia malah berakhir menyia-nyiakan peluang emas itu dan membuangnya ke dasar palung. Sebagai seorang penyerang, instingnya tentu merasa terluka karena hal itu dan itu membuatnya sedikit terganggu, bahkan ada pemikiran untuk berhenti bermain di babak kedua.


Zaki juga mengalami hal yang serupa dengan Martin, gol kedua tadi berasal dari kesalahan fatal yang ia lakukan. Sebagai pemain nomor 6 Zaki Iskandar tidak boleh melakukan kesalahan seperti salah memberikan umpan atau memegang bola terlalu lama yang bisa mengakibatkan kehilangan bola, karena perannya sebagai pemain nomor 6 begitu penting untuk menyerang dan bertahan. Jika dia melakukan kesalahan kecil ataupun besar seperti yang ia lakukan di babak pertama tadi, tim musuh pasti memberikan hukuman yang begitu menyakitkan untuknya.


Makanya Zaki Iskandar tidak banyak berkomentar apa-apa, walaupun sudah ditenangkan oleh rekan-rekannya yang lain, walaupun dia mendengar kata 'tidak apa-apa', 'semua akan baik-baik saja' dia merasa kata-kata itu semakin membuatnya buruk.


Coach Satria pun datang dan memasuki ruang ganti dengan emosi yang sangat terlihat sepanjang lorong menuju ruang ganti tadi, tentu saja beliau tidak puas dengan permainan para skuad asuhannya itu. Coach Satria memang punya skenario terburuk, namun hal ini lebih buruk dari yang ia pikirkan.


"Permainan kalian kacau sekali! Bapuk! Kalian bermain seperti anak-anak TK yang disuruh bermain rugby oleh guru pendampingnya!" kebiasaan Coach Satria bila marah-marah, maka akan ada perbandingan yang membuat orang-orang yang mendengarnya menjadi tercengang.


Walaupun begitu tetap saja tidak ada yang berani bersuara, begitu Coach Satria sudah marah maka mereka tidak akan berani membantah atau menjawabnya. Karena bila mereka nekad melakukan itu, bisa saja mereka yang akan mendapatkan hukuman tambahan dari beliau.

__ADS_1


"Kita harus lakukan perubahan di babak kedua nanti atau kita semua akan terhenti di sini, yang mana itu tidak ada di dalam pikiran kalian kan?" Coach Satria menanyakan hasrat mereka semua yang ingin kembali menjadi juara.


Mereka semua menggelengkan kepala, tidak ada satupun diantara mereka yang ingin kalah di sini setelah berjuang mati-matian untuk sampai ke tahap ini. Mereka ingin juara dan satu-satunya cara untuk itu adalah menang di setiap laga yang mereka hadapi, apapun caranya.


Coach Satria menyalahkan rokoknya tak peduli walaupun ada gambar larangan untuk merokok sangat besar di belakangnya, itu memang sudah kebiasaannya jika Coach Satria mengalami sedikit masalah yang pelik dan dia harus mengalirkan nikotin ke kepalanya.


Coach Satria lalu menyuruh salah satu stafnya untuk mengambilkan papan formasi dan beberapa kertas coretan. Setelah staf itu kembali dengan membawakan benda yang diminta oleh Coach Satria tadi, Coach Satria langsung saja memulai menyusun skema yang akan dimainkan oleh anak buahnya di babak kedua nantinya.


Tidak banyak perubahan yang dilakukan oleh Coach Satria, namun yang dirubah adalah peran beberapa pemain yang dia rasa perlu untuk dirubah. Misalnya peran Zaki Iskandar. Zaki Iskandar yang merupakan gelandang bertipe menyerang, kini dia ditugaskan untuk menjadi seorang pemain jangkar atau lebih dikenal dengan istilah Anchor.


Apa tugas dan fungsinya pemain jangkar? Tugasnya adalah untuk membantu para bek untuk memotong bola atau menghentikan lawan sebelum mereka masuk ke area pertahan tim dan dirasa oleh Coach Satria, Zaki Iskandar adalah orang yang tepat untuk mengisi peranan itu.


Zaki Iskandar sebenarnya sedikit gugup dengan tugasnya kali ini, dia baru kali ini bermain sedikit bertahan seperti ini apalagi menjadi seorang pemain jangkar. Dia biasanya ikut maju kedepan jika tim sedang menyerang dan sekarang dia harus tetap dibelakang untuk mengantisipasi serangan balik cepat dari tim Jayapura Black Diamond. Walaupun begitu, dia tetap siap menerima peran yang sudah diberikan oleh Coach Satria kepada dirinya.


"Baik Coach, saya akan berjuang semaksimal mungkin dalam mengisi peran saya!" ucap Zaki Iskandar dengan wajah yang mantap, seakan rasa percaya dirinya kembali.


"Kunci kemenangan kita adalah lapangan tengah, siapa yang bisa menguasai lapangan tengah maka dialah yang akan memenangkan pertandingan hari ini!" ucap Coach Satria sambil menunjuk-nunjuk area tengah di papan skema permainannya. "Jadi ayo keluar sana dan tunjukkan padaku mental juara kalian semua!"

__ADS_1


Mendengar itu semua pemain kembali mendapatkan rasa semangat mereka, api mulai membara sekali lagi di mata mereka, memperlihatkan cahaya yang indah, sebuah cahaya yang bernama semangat. Mereka semua kembali ke lapangan dalam kondisi yang berbeda dari awal babak pertama mereka, kali ini mereka bersiap membalas apa yang terjadi pada mereka di babak pertama.


*******


Di salah satu tribun VIP, ada dua orang bersetelan mewah sedang asyik menonton pertandingan hari ini. Mereka berdua terlihat seperti para mafia-mafia khas Sicilia yang sering muncul di film-film klasik Hollywood, memakai setelan dan memakai topi serta kacamata untuk menutupi wajah mereka.


Yang satu terlihat lebih tua, kira-kira berumur 50-55 tahun. Sudah terlihat sedikit keriput di wajahnya dan rambutnya sudah mulai sedikit berkurang banyak. Dan yang satunya lagi terlihat cukup muda, mungkin berumur 30-40 tahunan, masih terlihat tampan dan memiliki rambut panjang seperti vokalis band metal.


"Menurut anda bagaimana jalannya babak pertama tadi? Dari apa yang terjadi di babak pertama, apakah juara bertahan bisa memberikan perlawanan berarti di babak kedua ataukah mungkin perjalanan mereka terhenti di sini?" laki-laki yang lebih tua bertanya pada yang lebih muda.


Dia masih belum menjawab pertanyaan dari laki-laki paruh baya itu, dia masih sibuk memperhatikan data statistik dari babak pertama tadi antara Pengambangan Cananga Youth versus Jayapura Black Diamond FC. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya dia memberikan jawabannya.


Laki-laki yang lebih muda menjawab. "Menurut saya mungkin di babak kedua nanti kita akan mendapatkan hasil yang lebih menarik lagi, gol kedua tadi mungkin mematikan semangat juang mereka untuk sesaat. Tetapi mereka punya pemain yang selalu bisa membuat perbedaan ketika timnya dalam keadaan gawat"


Si pria paruh baya tertawa. "Maksud anda pemain bernomor punggung 24 itu kah? Aku tidak mengerti kenapa anda terlalu terpaku dengan sosok pemain itu. Dengan apa yang aku lihat, pemain itu tidak kurang dan tidak lebih dari pemain gelandang pada umumnya, tidak ada yang istimewa darinya"


Si laki-laki yang lebih muda itu juga tidak yakin dengan jawabannya, namun entah mengapa instingnya selalu mengatakan ada yang spesial dari sosok pemain bernomor punggung 24 dari Pengambangan Cananga Youth itu. Ada hal yang membuatnya selalu bertanya-tanya dan penasaran dengan sosok pemain itu, maka dari itu dia mencoba mengamatinya lebih dekat lagi.

__ADS_1


Dia berkata. "Saya juga tidak tahu mengapa, namun mata saya tidak pernah salah menilai seseorang. Dan menurut intuisi saya, kita akan mendapatkan jawabannya di babak kedua ini" sambil membenarkan kaca mata hitamnya dan memperlihatkan sedikit bola mata indah berwarna biru.


__ADS_2