Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Episode 28


__ADS_3

Pertandingan liga pertama akan di mulai pada hari Minggu nanti, di hari Jum'at ini aku bersekolah seperti biasanya dan lebih bersemangat dari biasanya.


Aku menceritakan hal ini kepada Derry, dan dia sedikit gembira mendengar hal itu. Derry juga akan menjalani laga debut di tim Youth A di hari yang sama pada saat aku juga menjalankan laga debut.


"Kau harus menunjukkan permainan terbaikmu sobat, atau kau akan berada di sana selama sisa karier mu" ujar Derry mencoba memperingati diriku agar terus bermain maksimal bagaimana pun caranya.


"Ya tentu saja" ku jawab dengan lantang dan juga percaya diri.


Seperti merasa keheranan dengan apa yang kami bahas berdua, datanglah Salma dengan wajah penuh tanda tanya. Dia keheranan dengan pembahasan kami berdua yang kelewat seru itu, akhirnya dia memasukkan diri dalam obrolan kami.


"Kalian sedang bahas apa? Dari tadi kayaknya asik benar"


Derry dengan wajah tampan dan percaya dirinya, mulai bicara di depan Salma. "Kau tahu, belahan jiwa mu ini akan menjalani laga debut di hari Minggu nanti"


Aku langsung tersipu malu ketika mendengar ada kata belahan jiwa, Derry berniat mempermalukan ku di depan Salma. Aku langsung menutupi mulutnya yang tidak bisa direm itu, sebelum semakin tambah liar apa yang akan ia ucapkan dari mulutnya itu.


Ku lihat juga, Salma sedikit tersipu malu mendengarnya. "Kau salah paham Derry!" Katanya, namun suaranya begitu manja seolah dia sedikit menerima apa yang dikatakan oleh Derry tadi.


Derry tertawa sejadi-jadinya melihat tingkah kami berdua yang mungkin di matanya itu terlihat konyol dan lucu, dia lalu menepuk-nepuk pundak kami berdua dan berlagak seolah menjadi mak comblang kami berdua.


"Kenapa sih tidak jujur saja, sudah jujur saja dengan perasaan kalian berdua. Kalian berdua itu cocok kok, aku yakin bakalan baik-baik saja" kata Derry lagi, namun kali ini diiringi dengan tertawa. Akan tetapi yang kudengar, itu seperti tertawa seorang raja iblis yang baru saja melancarkan strategi yang licik untuk menjebak sang pahlawan.


Kami berdua semakin terdiam, mematung, tidak berdaya dengan apa yang diucapkan oleh Derry. Kami seolah-olah menerima kenyataan itu, namun juga sedikit merasa takut jika kami mengikuti apa yang diinginkan oleh hati dan perasaan kami.


Aku tidak tahu bagaimana perasaan Salma, namun kalau boleh jujur selama lebih dari sebulan sekolah ini, aku mulai merasakan hal yang berbeda jika di dekat sosok perempuan manis itu.


Aku merasa, jika berada di dekatnya maka dunia terasa lebih berwarna. Jika warna dalam hidupku yang dulunya cuma kelabu, sekarang sudah banyak warna yang mulai mengisinya semenjak aku mengenal sosok perempuan itu.


Hidupku juga terasa begitu manis, sampai semua makanan yang masuk ke dalam mulutku terasa begitu manis. Pahitnya sayur pare saja terasa sangat manis dalam beberapa hari belakangan ini ku rasa.

__ADS_1


Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, pertanyaan yang sebenarnya jawabannya pun sudah ku ketahui sejak dulu. Aku bertanya apakah aku sedang merasakan yang namanya jatuh cinta dan jawabannya tentu jelas sudah, tetapi aku seperti mengkhianati jawabannya itu sendiri dengan berlagak seperti tidak terjadi apa-apa dengan diriku.


Aku selalu menyangkal hal itu dengan merendahkan diri ku sendiri. Dari dulu memang aku bukanlah orang yang begitu percaya diri dengan penampilan ku sendiri, aku selalu merendahkan diri dengan menyebut penampilanku yang seperti seorang anak culun dan cupu yang sering menjadi objek bullyan.


Rambut panjang yang tidak teratur dan awut-awutan, wajah yang tidak setampan Derry, postur tubuh yang tidak tegap, atau bahkan tidak berani jika ditindas oleh seseorang. Walaupun sebenarnya sudah ada perubahan kecil dari diriku tanpa ku sadari, namun tetap saja aku merasa seperti itu.


Dengan alasan itu lah aku selalu mengkhianati perasaan diriku sendiri, bahkan terasa seperti membenci diri sendiri. Aku selalu berpikir bahwa aku tidak pantas dengan Salma yang seperti seorang malaikat di mataku, dan tidak sanggup membayangkan jika aku harus menyakiti sosok indah itu.


Itulah yang terus menghalangi ku selama ini.


Aku dan Salma terdiam, Derry pun menghela nafas panjang melihat itu dan lalu pergi meninggalkan kami berdua di sana. Aku berniat untuk menarik lengannya itu agar Derry tidak pergi dari situ meninggalkan ku dalam suasana yang tidak mengenakkan itu, namun Derry malah semakin mempercepat langkahnya, meninggalkan ku dalam situasi yang sangat kelam.


Kami tetap diam cukup lama, tidak ada yang berani memulai pembicaraan terlebih dahulu. Saat aku hendak memulai pembicaraan, kami berdua selalu membuka mulut secara bersamaan dan itu terjadi beberapa kali sampai membuat situasi itu tambah tidak nyaman.


Pada akhirnya aku pun mengalah dan membiarkan Salma untuk bicara terlebih dahulu.


"Ku dengar kalian tadi membicarakan soal debut? Debut apakah itu kalau boleh tau?" Salma bertanya, suaranya pelan sekali karena kami masih terjebak dalam situasi yang tidak nyaman.


"Pengambangan Cananga?" Matanya berbinar-binar namun lebih terlihat seperti tertarik. "Maksudmu klub sepakbola yang ada di Distrik ini itu?"


"Ya, yang itu" jawabku singkat.


Salma semakin tertarik, walaupun aku tahu dia tidak terlalu mengerti tentang sepakbola, tetapi sepertinya dia cukup tertarik jika aku yang menceritakannya.


"Apa kamu bermain di tim utamanya Rizal?"


"Ah sayangnya aku masih bermain di tim B, tetapi aku tidak patah semangat dan aku akan terus berjuang untuk bisa masuk di tim utama" tanpa ku sadari aku menjawab pertanyaannya dengan sangat semangat yang membara, sampai api semangat ku itu sepertinya menjalar ke Salma yang juga semangat sekali bertanya.


"Kamu hebat ya Rizal, baru seumuran denganku saja kamu sudah punya hal yang harus diperjuangkan"

__ADS_1


Nada suaranya Salma sedikit berubah, dia terkesan iri dengan apa yang ku lakukan selama ini. Aku tidak mengerti dari mana rasa iri itu muncul, karena yang ku tahu dia anak orang kaya yang pastinya tidak pernah merasakan betapa suramnya kehidupan jika kau tidak punya uang.


Lalu sepersekian detik setelah menghela nafas panjang, senyuman Salma kembali menghiasi wajah cantik dan manisnya itu. "Terus berjuang ya Rizal, jangan sampai kau putus asa demi mengejar mimpi" ucapnya dengan senyuman manis itu, sungguh sangat curang.


Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Senyuman itu seolah membuatku mematung, seolah-olah senyumannya itu memberikan efek pembatuan pada diriku dan aku harus menunggu beberapa saat sebelum akhirnya bisa kembali seperti semula.


Di tengah-tengah pembicaraan kami, salah satu teman sekelas ku memanggil diriku. Aku pun mendekat ke arahnya dan bertanya mengapa dia memanggilku.


"Itu ada orang yang mencarimu, mungkin kenalanmu" ucapnya.


Aku sedikit kebingungan dengan itu, siapa yang mencari ku di sekolah ini? Aku pun keluar kelas dan melihat ada sesosok perempuan di depan kelas tengah membawa kotak bekal berwarna merah dan biru.


Aku kenal dengan sosok perempuan itu, perempuan itu adalah anak dari pemilik toko, tempat sebelumnya aku bekerja sambilan. Dia adalah Melani.


"Hei Rizal! Kita pergi ke taman yuk! Aku bawa bekal banyak ini" Melani rupanya mengajakku untuk pergi ke luar di jam istirahat ini.


Sebelum aku sempat untuk menolak ajakannya itu karena merasa tidak enak, ku lihat ekspresi wajahnya yang tadinya sedikit ceria, tiba-tiba berubah menjadi sedikit gelap. Aku tidak tahu mengapa, namun saat ku tatap matanya itu ku lihat Melani sedang menatap seseorang di dalam kelasku.


Aku ikuti arah tatapan itu, rupanya menuju ke arah Salma yang tiba-tiba ada di belakangku.


"Siapa itu Rizal, temanmu kah?" Salma lantas bertanya saat melihat keberadaan Melani.


Aku berniat untuk memperkenalkan Melani ke Salma namun sebelum sempat aku melakukannya, Melani memberikan satu toples bekal yang berwarna biru kepadaku dan pergi begitu saja. Bahkan tidak bicara sama sekali kepada ku.


"Hei Melani, ke tamannya jadi tidak?" Aku terus bertanya karena sedikit kebingungan apakah jadi ke taman atau tidak.


"Tidak jadi!" Jawab Melani bahkan tidak menoleh ke arahku, dia terus saja melangkah menuju ke kelasnya kembali.


"Dia kenapa?" Salma juga sedikit bingung dengan apa yang terjadi pada Melani.

__ADS_1


Apa lagi diriku, aku juga bingung dengan apa yang terjadi pada sosok perempuan itu. Namun setelah aku pikir-pikir, aku tahu apa alasannya dan aku diam saja daripada harus mengalami hal yang lebih buruk dari itu jika aku tidak mengunci rapat-rapat mulutku saat ini.


__ADS_2