Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 65: Pergi


__ADS_3

Pagi di sabtu itu sedikit berbeda dari biasanya. Sebanyak 17 orang yang bermain untuk tim Youth-A sedang berkumpul di bandar udara karena mereka akan pergi ke Jakarta dalam rangka mengikuti fase gugur.


Terasa sedikit spesial lantaran setiap orang tua dari para pemain juga hadir untuk melepas kepergian anak mereka yang akan berjuang di tempat yang jauh, mereka cuma bisa melihat anak-anak mereka dari layar TV saja karena tidak bisa berhadir untuk mendukung mereka secara langsung.


Banyak yang melepas anak-anak mereka dengan acara haru, seperti melepas anak mereka pergi ke medan perang di Dunkirk sana. Sama seperti yang dialami oleh Martin.


Martin yang biasanya bersikap sedikit sombong itu, kini hanya bisa cengengesan karena kedua orang tuanya yang terlalu memanjakan dirinya. Martin merasa tidak nyaman dengan itu, apalagi beberapa temannya melihat kejadian itu dan mencoba untuk menahan tawa mereka yang begitu ingin keluar dari mulut mereka.


Sedangkan Rizaldi sendiri terlihat cukup santai. Kepergiannya diantar oleh ibu, adiknya serta Salma dan ada Melani yang rupanya ikut mengantarkannya ke bandara.


Melihat adanya sosok yang dia anggap sebagai sosok yang menyerupai dewi itu, Martin langsung pergi dari dekapan orang tuanya dan mendatangi tempat Salma berada.


Begitu melihat kemunculan sosok Martin, Salma langsung saja menghindar dan bersembunyi di balik badan Rizaldi yang membuat laki-laki itu kebingungan. Tetapi walaupun sudah bersembunyi dibalik punggung Rizaldi, Martin tetap saja bisa melihatnya.


"Hai dewiku" ujar Martin yang membuat seluruh tubuh Salma merinding mendengarnya.


Rizaldi berniat untuk menegur Martin agar tidak membuat Salma menjadi lebih takut, namun Derry menghentikan dirinya dan menjadi relawan untuk melakukan hal itu. Hanya dengan satu tatapan saja Martin sudah tahu maksud dari Derry, dia tidak percaya dengan apa yang coba diberitahukan oleh Derry kepadanya namun dia hanya bisa menerima keadaan itu dengan lapang dada.


Rizaldi jadi sedikit bingung dengan perubahan sikap Martin yang begitu drastis, seperti dia baru saja melihat sesuatu yang harusnya tidak dia lihat dan hanya membuat dirinya sakit. Rizaldi pun bertanya pada Derry tentang apa yang dia lakukan pada Martin, namun Derry hanya tersenyum saja. "Tidak usah khawatir, dia pasti akan mendukungmu" itu saja yang Derry ucapkan dan semakin membuat Rizaldi kebingungan.


Lalu Rizaldi teringat dengan Derry yang datang hanya seorang diri, tanpa ada ditemani oleh siapapun. Rizaldi tidak melihat adanya orang tua Derry ataupun kerabat Derry yang mengantarkan kepergiannya, dia benar-benar seorang diri. Rizaldi pun lantas bertanya. "Apa kau datang kemari hanya seorang diri saja sobat?" ucapnya.


Derry tersenyum. "Ya memang biasanya juga begitu, ayah dan ibuku sibuk jadi aku tidak mau menganggu mereka. Lagipula ini hanya pergi sebentar saja" ucap Derry dengan senyuman, namun di mata Rizaldi dia melihat ada kesedihan yang sedang dipendam oleh Derry yang dia tidak mau menunjukkan sikap cengengnya itu kepada orang lain.

__ADS_1


Rizaldi tahu apa yang sedang dialami oleh sahabatnya itu, namun dia juga menunjukkan wajah yang ceria agar Derry tidak terlalu memikirkan hal itu. Rizaldi lanjut bertanya. "Apa tidak ada orang lain selain kedua orang tua mu? Mungkin kakakmu?"


"Kakakku kuliah di Amerika, tepatnya di Seattle Washington" Derry menghela nafas panjang setelah mengingat sosok kakaknya, Rizaldi semakin bertanya-tanya soal kehidupan yang dialami oleh Derry.


Dia hanya bertemu dengan Derry beberapa bulan yang lalu saat latihan menendang di sebuah taman, lalu setelah pertemuan itu mereka menjadi teman dekat namun Rizaldi masih belum mengetahui lebih jauh sosok teman dekatnya itu. Bahkan Rizaldi tidak tahu dan tidak pernah pergi ke rumahnya Derry.


Mendengar semua cerita Derry yang sedikit sedih, Keisha langsung menyeletuk untuk sedikit menghibur Derry. "Tenang saja kak Derry, kakak masih ada aku!" ucap Keisha dengan gerakan mata yang genit. Ibu mereka langsung memberikan cubitan manja untuknya.


Rizaldi dan yang lainnya langsung tertawa melihat kelakuan Keisha yang sedikit centil jika ada Derry itu, Rizaldi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat adik kecilnya yang rupanya sudah mulai tertarik dengan lawan jenis itu. Namun untuk tertarik pada Derry yang merupakan sahabatnya itu, rasanya dia agak pesimis terhadap adiknya. Apalagi yang dia tahu Derry begitu populer di kalangan perempuan seumuran mereka, mungkin saja Derry sudah memiliki pacar sebelumnya. Begitulah pikir Rizaldi.


Tidak lama setelah mereka saling ngobrol satu sama lain, pelatih mereka yaitu Coach Satria datang bersama dengan staf-staf beliau. "Apa kalian sudah siap?" ujar beliau begitu beliau sudah tiba di bandara.


Mereka semua diam saja, namun mereka menunjukkan wajah bahwa mereka benar-benar siap untuk pergi bertempur. Coach Satria jadi tersenyum melihat semua anak asuhnya yang benar-benar sudah siap itu, jadi dia tidak khawatir lagi dengan mereka.


"Kalau begitu ayo kita berangkat, pesawat kita sebentar lagi akan take-off" Coach Satria lalu pergi lebih dulu menuju ruang tunggu untuk masuk ke pesawat.


Begitu pula Rizaldi. Rizaldi langsung mencium tangan ibunya dan berpamitan untuk pergi.


"Jaga diri abang baik-baik ya!" Ucap Ibunya sambil mengelus-elus lembut rambut Rizaldi.


"Iya ma" jawab Rizaldi haru, dia bisa saja meneteskan air matanya sekarang namun dia tahan.


Lalu ibu Rizaldi menatap ke arah Derry yang sedang terenyuh melihat kedekatan Rizaldi dengan ibunya. Ibu Rizaldi memanggil Derry untuk mendekat, namun Derry malu-malu hingga harus ditarik oleh Rizaldi.

__ADS_1


Rizaldi menyuruh Derry untuk mencium lengan ibunya, sama seperti yang dia lakukan tadi. Derry tidak yakin dan masih malu, namun melihat senyuman tulus di wajah ibunya Rizaldi, Derry pun luluh dan akhirnya mencium lengan ibunya Rizaldi sama seperti yang dilakukan oleh Rizaldi.


"Jaga terus Rizaldi ya nak Derry, maaf kalau dia selalu merepotkan kamu" ucap Ibu Rizaldi yang juga mengelus rambut Derry dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Derry hampir menangis, sudah lama dia tidak merasakan kehangatan yang seperti ini. "I-iya bu, Derry janji!" ucapnya dengan lirih.


Derry mengangkat kepalanya yang terasa lebih ringan, matanya kembali melihat senyuman hangat itu. Keisha mendekat, dia menawarkan diri untuk disalami oleh Derry. Derry pun melakukannya dan itu membuat Keisha begitu bahagia.


Namun ketika Rizaldi yang ingin menyalami adiknya itu, Keisha malah menolaknya dan dia hanya mencium tangan Rizaldi dengan setengah hati dan tanpa menatap Rizaldi sama sekali. Rizaldi pun jadi kesal dengan sikap adiknya itu. "Adik durhaka, sama Derry tadi malah bersemangat sekali" ucapnya.


"Biarin aja, abangnya juga yang jahat sama Kei" ucap Keisha tidak peduli, lalu dia bersembunyi dibelakang ibunya karena tahu akan mendapatkan amarah dari sang abang.


Derry berusaha menenangkan Rizaldi, namun Rizaldi sudah tidak peduli lagi. Lalu mereka berdua melakukan tos tangan yang sering mereka lakukan pada Salma. Salma mendoakan agar Rizaldi dan Derry bisa sukses di sana dan bisa memenangkan pertandingan itu.


Lalu terakhir, Rizaldi berjalan ke arah Melani yang sedari tadi hanya diam saja seperti patung. Dia bahkan hanya sesekali saja berekspresi, itu sudah diperhatikan oleh Rizaldi semenjak tadi. Begitu Rizaldi mendekat ke arahnya, Melani juga tidak banyak berekspresi dan berkata, dia hanya diam sambil memandang Rizaldi dengan tatapan penuh arti.


Rizaldi tahu apa maksud dari tatapan itu, entah mengapa dia mengerti mungkin karena persahabatan mereka yang sudah begitu lama terjalin. Akhirnya Rizaldi pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan pada Salma dan juga Derry tadi, Melani membalasnya dengan sedikit senyuman manis yang mengalahkan coklat termanis yang ada di toko swalayan yang sering Rizaldi beli.


"Aku pergi dulu" ucap Rizaldi


"Semoga kamu menang ya" jawab Melani singkat sambil tersenyum yang bisa membuat siapa saja melihatnya kembali bersemangat.


Suara pemberitahuan kembali terdengar, membuat Rizaldi dan Derry harus bergegas. Mereka melambaikan tangan ke arah yang lainnya sambil berjalan masuk ke ruang tunggu. Sambil mereka berjalan ke arah terminal pesawat itu, Derry membahas hal yang ia lihat saat di luar tadi. "Sejak kapan kau jadi diperebutkan oleh perempuan sobat?"

__ADS_1


"Hah? Aku tidak mengerti maksudmu kawan" jawab Rizaldi penuh kebingungan.


Derry lantas tersenyum mendengar itu, dia sudah menduga jawaban itu akan keluar dari mulutnya yang begitu polos dan kecil itu. "Dasar, karakter utama novel ringan bergenre dunia lain" ucap Derry yang semakin membuat Rizaldi tambah kebingungan.


__ADS_2