
Rizaldi dan teman-temannya yang lain sedang menonton pertandingan semifinal pertama, yang mana Batavia Fort FC bertemu dengan Sparta Bandung FC. Hasilnya Batavia Fort FC berhasil mengalahkan Sparta Bandung FC dengan skor tipis 1-0, namun yang menjadikan pertandingan itu terasa cukup spesial adalah seberapa tegangnya Rizaldi dan kawan-kawan mengikuti setiap alur yang terjadi di pertandingan itu.
Walaupun cuma tercipta satu gol saja di pertandingan itu, namun ketegangan yang ada di lapangan bisa juga dirasakan oleh Rizaldi yang menonton dari siaran televisi.
Gol Raffi Putra di menit-menit akhir babak kedua benar-benar terasa kejam dan dingin sekali, Rizaldi bisa merasakan betapa sakitnya hati pemain Sparta Bandung FC yang sudah bermain sangat baik hari ini namun Batavia Fort FC bermain lebih baik dari mereka hari ini.
Para pemain Pengambangan Cananga Youth yang lain mulai membahas dua pemain andalan Batavia Fort FC yang menjadi pemain paling berpengaruh di beberapa pertandingan terakhir, termasuk pertandingan hari ini tadi.
"Raffi Putra dan Wildan Hutami. Mereka benar-benar masalah jika kita membiarkan mereka bebas berkreasi"
"Apalagi Raffi Putra, dia memiliki insting yang luar biasa. Dia tahu kapan harus melakukan overlaping dan kapan tetap berada di posisinya"
"Menurutku Wildan Hutami yang lebih hebat, dia pemain yang bisa bermain di posisi apa saja dan itu bukanlah hal yang main-main kawan"
Rizaldi hanya mendengarkan rekan-rekannya yang sedang berdebat soal pemain yang paling berpengaruh di pertandingan hari ini, dia tidak ikut dalam obrolan itu padahal biasanya dia langsung masuk dalam obrolan jika ada yang membahas soal permainan sepakbola. Entah itu hal taktis, skill pemainnya ataupun sejarah klub pasti Rizaldi akan langsung ikuti. Tetapi sekarang dia hanya diam, sehingga hal ini sedikit menganggu Derry yang sedari tadi memperhatikan ekspresi wajah temannya itu yang terlihat seperti anak-anak yang sedang menahan diri untuk tidak kencing di celana.
"Hei sobat, kau baik-baik saja?" Derry bertanya langsung pada Rizaldi.
Rizaldi sedikit terkejut karena ia baru sadar dari lamunannya, ia tersenyum ke arah Derry seperti senyuman para pejabat ketika sudah dekat tanggal main mereka. "Aku baik-baik saja sungguh. Aku hanya sedikit memikirkan tentang.." belum sempat Rizaldi Fatah menyelesaikan kalimatnya, Derry langsung memotongnya.
"Tentang pertandingan besok kan?" ucap Derry seperti tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala Rizaldi yang brilian itu.
Rizaldi tidak bicara lagi, dia diam seribu kata. Tebakan Derry tepat seratus persen, dia menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu setelahnya, lalu berkata. "Jangan khawatir sobat, kita akan berjuang dengan sekuat tenaga kita untuk besok karena kita akan menjadi pemenangnya, lihat saja. Perkataan ku ini bukanlah prediksi, melainkan spoiler!"
Wajah Derry yang penuh keyakinan itu membuat Rizaldi Fatah ingin tertawa mendengarnya. Tidak, Rizaldi bahkan sudah tertawa yang membuat Derry kesal dengan sosok sahabatnya itu.
"Tidak-tidak maafkan aku Derry, tetapi caramu mengatakan hal itu sedikit lucu aku rasa"
"Hei kawan itu tidak lucu, kau tahu aku bukanlah orang yang suka memotivasi diri sendiri bahkan orang lain. Aku merasa sakit jika kau malah menertawakan itu sobat"
__ADS_1
Setelah itu mereka berdua tertawa terbahak-bahak bersamaan, membuat pemain yang lain jadi terheran-heran dengan apa yang merasuki mereka berdua.
Rizaldi berdiri, dan dia berjalan menuju ke luar ruangan. Derry kebingungan, dia pun bertanya mau kemana sebenarnya Rizaldi. "Aku cuma ingin beli minuman saja di luar sebentar" itu jawaban Rizaldi tanpa menoleh sama sekali kebelakang yang semakin membuat Derry heran.
Derry pun langsung mengikuti Rizaldi, dia kembali bertanya. "Boleh aku ikut sobat?"
Rizaldi terdiam sejenak, lalu dia menoleh ke sebelahnya dengan senyuman tercetak di wajahnya. "Aku cuma sebentar saja sobat, aku cuma ingin beli minuman dingin saja"
"O-oke" Derry tidak yakin dengan wajah itu, namun dia mencoba untuk sedikit memahami sahabatnya itu dan akhirnya dia membiarkan sahabatnya itu untuk menyendiri untuk beberapa saat. "Tapi aku boleh titip minuman tidak?"
"Tentu saja boleh, mengapa tidak" senyuman Rizaldi masih terlihat diwajahnya.
Derry lalu merogoh kantong celananya, dia mencari-cari keberadaan dompetnya yang ternyata ada di kantong belakang celananya. Dia lalu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari dompetnya dan memberikannya pada Rizaldi. "Aku titip Coke-Zero ya satu, sama punyamu masukkan saja ke tagihanku"
Rizaldi keheranan, dia tidak mengerti dengan maksud Derry. Derry kembali mengatakan hal yang sama dan pada akhirnya Rizaldi memahami maksud Derry yang ingin mentraktirnya minum. "Aku boleh pilih apa saja?" tanyanya sekali lagi pada Derry.
"Baiklah, terimakasih banyak sobat!" kali ini senyuman Rizaldi lebih terlihat sedikit natural, bukan seperti yang ia perlihatkan beberapa saat tadi pada Derry. Karena itu Derry kali ini sedikit tenang melihat ekspresi itu.
"Ayo cepat! Nanti malah keduluan tutup tokonya"
Mendengar itu Rizaldi langsung bergegas keluar, dia sedikit berlari untuk mengejar toko yang ia kira hampir tutup itu karena sugesti dari Derry tadi. Martin yang melihat Rizaldi terburu-buru itu pun kebingungan dan menanyakan hal itu pada Derry, tetapi Derry diam saja sambil sedikit tertawa. "Daripada memikirkan itu lebih baik kita bermain kartu!" ajak Derry pada Martin.
Saat setengah jalan, Rizaldi baru menyadari apa yang ia lakukan tadi. Rizaldi langsung berhenti berlari, dia mulai menyadari kebodohannya sendiri. Alasan sebenarnya Rizaldi pergi keluar bukanlah untuk membeli minuman dingin seperti yang ia katakan pada Derry, dia hanya ingin mencari angin segar di malam hari Kota Jakarta.
Rizaldi Fatah berjalan lurus di trotoar jalan, sinar bulan dan ramainya kota malam itu menemani dirinya. Gedung-gedung pencakar langit itu seakan menyombongkan diri pada Rizaldi, apalagi dengan kelap-kelip lampu yang membuat malam hari di kota Jakarta semakin berwarna.
Rizaldi terus berjalan menyusuri malam kota Jakarta, hingga dia sampai di sebuah toko kelontong. Rizaldi pun membeli minuman pesanan Derry tadi serta ia juga mengambil satu untuk dirinya.
"Berapa pak jadinya?"
__ADS_1
"Empat belas ribu nak"
Rizaldi memberikan uang lima puluh ribu pemberian Derry tadi pada bapak penjaga toko kelontong tadi, lalu bapak tadi memberikan kembaliannya pada Rizaldi.
"Terima kasih pak!"
Setelah itu Rizaldi belum berniat untuk kembali ke hotel. Rizaldi lebih dulu kembali jalan-jalan disekitaran tempat itu, hingga akhirnya ia menemukan sebuah lapangan kecil di pinggir kota. Lapangan itu seperti lapangan basket di pinggiran kota New York dan berukuran sama, namun memiliki tiang gawang yang tandanya itu adalah tempat untuk bermain sepakbola.
Rizaldi tahu kalau itu adalah lapangan tempat masyarakat umum, biasanya anak-anak sering bermain sepakbola disitu. Mereka menyebutnya sepakbola jalanan yang tidak memiliki aturan seperti sepakbola pada umumnya. Tidak ada offside, tidak ada lemparan ke dalam, tidak ada pelanggaran yang ada hanya handball saja dan itupun yang mengatur adalah diri mereka masing-masing, tidak ada wasit di sini.
Sayangnya Rizaldi kemari tidak pada sore hari pada saat masih banyak anak-anak yang bermain sepakbola di sana, Rizaldi hanya menemukan seseorang di sana yang mengenakan jaket hitam gelap sedang melakukan latihan menendang.
Rizaldi mendekati sosok itu, dia penasaran sekali dengan sosok yang ia rasa mirip dengan sosok yang dirinya kenal yaitu Yoga Hilmawan. Dan benar saja, saat dia semakin dekat dengan sosok itu, sosok itu langsung berpaling ke arahnya karena merasakan ada seseorang yang mendekat dan Rizaldi melihat wajah sosok itu yang tidak lain adalah Yoga Hilmawan.
"Rupanya kau ternyata" ucap Yoga Hilmawan setelah mengetahui kalau orang yang mendekatinya itu Rizaldi Fatah. Yoga tidak berniat untuk berbasa-basi dengan Rizaldi, sehingga dia terus melakukan tendangan dengan sangat keras.
Rizaldi terus memperhatikan tendangan yang dilakukan oleh Yoga Hilmawan, setiap tendangan yang ia lakukan akan semakin kuat semakin lama dirinya menendang. Rizaldi hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan melihat sosok monster yang ada dihadapannya saat ini.
Tetapi tiba-tiba saja dia berkata. "Aku akan mengalahkan mu besok"
Yoga Hilmawan mendengar hal itu, ia langsung kesal dan menendang bola sekali lagi dengan sangat kuat. Saking kuatnya, bahkan bola itu langsung keluar kembali ketika masuk ke gawang dan bola jatuh dengan tepat di kaki Rizaldi.
Yoga Hilmawan berpaling dan ia langsung menggenggam jaket Rizaldi hingga Rizaldi terangkat hanya karena itu, dia menatap langsung ke mata Rizaldi namun Rizaldi tidak takut sama sekali akan hal itu, berbeda dengan yang sering ia alami pada waktu dia sering di bully oleh Yoga Hilmawan dahulu.
"Jangan sombong dulu kau pecundang! Aku akan buktikan padamu kalau kau itu pecundang! Kau hanya beruntung saat tes seleksi yang kacau itu, akan ku buktikan pada kalian semua kalau kalian telah melakukan kesalahan karena menolak ku!" ucap Yoga Hilmawan dan ia langsung melepaskan Rizaldi begitu saja.
Setelah itu Yoga Hilmawan pun pergi meninggalkan Rizaldi, dia sudah kehilangan minat untuk kembali melanjutkan latihan menendangnya dan ia ingin segera ke penginapannya dan berisitirahat.
Sedangkan Rizaldi terus menatap punggung Yoga Hilmawan walaupun dia sudah berada di kejauhan, sedikit menentukan kembali tekadnya untuk menang di pertandingan besok dan untuk membuktikan kalau dia bukanlah apa yang dipikirkan oleh Yoga Hilmawan.
__ADS_1