
Menjelang babak final, kedua tim rajin berlatih dan bersungguh-sungguh. Karena ini adalah partai yang mereka tunggu-tunggu, semenjak dari babak grup hingga awal babak penyisihan. Mereka sudah menunggu dan berjuang sangat lama untuk sampai ke sini, sudah banyak pengorbanan yang mereka lakukan untuk sampai di tempat ini. Darah, keringat dan juga air mata mereka pertaruhkan hanya untuk sampai di sini.
Tim yang sedikit diunggulkan karena merasa bermain seperti di kandang sendiri, yaitu Batavia Fort FC berlatih dengan sungguh-sungguh hari ini menjelang pertandingan mereka melawan Pengambangan Cananga Youth yang akan berlangsung di hari Sabtu malam alias malam Minggu nanti.
Beberapa wartawan datang ke tempat latihan mereka yang tertutup, walaupun sudah diperingatkan oleh beberapa staf klub, tetapi tetap saja para wartawan itu bersikeras untuk masuk ke dalam lapangan tempat para pemain Batavia Fort FC sedang berlatih, di pagi hari yang sangat cerah saat ini.
Salah satu diantara wartawan itu, ada sosok calon pelatih timnas Indonesia U-17 nanti yaitu Igarashi Maeda. Tetapi tidak ada yang menyadari pelatih yang masih cukup muda itu, dia berdandan seperti sosok wartawan lepas dan menggunakan masker serta kacamata hitam untuk menyembunyikan identitasnya.
Tujuan dari Igarashi Maeda kemari adalah, dia ingin melihat lebih dekat pemain yang mungkin menjadi pilihannya saat menukangi timnas U-17 nantinya. Dua pemain incarannya tentu saja pemain kunci dari tim Batavia Fort FC, yaitu Wildan Hutami dan juga Raffi Putra.
Melihat kemampuan mereka berdua, membuat pelatih berusia 37 tahunan itu terpincut. Wildan Hutami dengan kemampuan versatile-nya, dan Raffi Putra dengan kemampuan bertahan dan menyerangnya yang sangat seimbang. Di kepalanya sudah ada beberapa skema yang mungkin ia akan terapkan di tim jika sudah waktunya dia akan memulai pekerjaannya.
Setelah cukup lama berdiri di dekat stadion tempat latihan tertutup tim Batavia Fort FC. Igarashi Maeda bisa melihat para pemain Batavia Fort FC sudah keluar dari tempat latihan, sepertinya mereka sudah selesai melakukan latihan dan mungkin akan melanjutkan ke menu latihan yang berikutnya.
Melihat para pemain Batavia Fort FC yang sudah keluar satu persatu itu, para wartawan langsung bergerak untuk bertanya-tanya kepada mereka semua. Namun para staf tim berusaha sekuat mereka untuk menghalau para wartawan itu agar tidak menganggu tim saat berlatih seperti ini.
__ADS_1
Tetapi tidak disangka, pelatih kepala tim Batavia Fort FC mau menerima para wartawan itu untuk memuaskan dahaga mereka akan pernyataan dari pihak tim. Jurnalis berita dari stasiun televisi A, memberikan pertanyaan pertama di hari itu untuk pelatih kepala tim Batavia Fort FC.
"Bagaimana persiapannya coach dalam menghadapi laga final nanti?" tanya si jurnalis pertama.
Pelatih kepala tim Batavia Fort menjawabnya dengan santai, seperti menjawab pertanyaan dari anak kecil yang bertanya soal mana yang lebih baik antara rumput dan nasi. "Persiapan berjalan dengan baik, kondisi tim sedang dalam kondisi prima dan kami siap untuk laga final nanti. Para pemain pun juga sudah tidak sabar bertemu dengan lawan mereka"
Para jurnalis dan wartawan langsung mengangguk-angguk pelan mendengar jawaban penuh keyakinan itu, lalu jurnalis yang lain mengangkat tangannya dan menanyakan pertanyaan yang lain. "Menurut anda sebagai pelatih kepala tim, bagaimana penilaian anda akan lawan yang akan kalian hadapi di babak final nanti. Dengan status sang penantang sang juara bertahan, apakah tim anda tidak mengalami rasa takut ataupun grogi?"
Pelatih kepala tim Batavia Fort FC masih dengan tenang menjawabnya. "Kami tentu saja takut" ujarnya, tetapi beliau masih belum menyelesaikan kalimatnya. "Tapi, kami semua berlatih dengan sungguh-sungguh untuk mengatasi rasa takut kami. Walaupun tim lawan mengalami pasang surut di fase grup, tetapi mereka menunjukkan kualitas dan mental juara bertahan mereka di fase gugur ini dan itu tentu saja menakutkan bagi kami semua" ujar beliau.
Staf tim Batavia Fort FC sudah hampir menghentikan para jurnalis dan wartawan untuk bertanya setelah pertanyaan itu tadi, namun pelatih tim menghentikan mereka untuk membentak para jurnalis dan wartawan dan dia bersiap memberikan jawaban yang membuat mereka semua terdiam dan puas dengan apa yang mereka dengar hari ini dari mulutnya.
Sebelum berkata, beliau menatap ke semua mata yang telah menatapnya seperti sedang ingin melahapnya bulat-bulat, seperti tengah berharap kalau dia akan melakukan kesalahan yang bisa mereka manfaatkan untuk semakin memojokkan dirinya. Tapi bagi pelatih berumur 55 tahun asal Argentina, yang bernama Demichelis Santon itu dia tidak takut sama sekali dengan orang-orang itu.
Demichelis berkata dengan wajah yang setengah bercanda. "Kalah? Kami sama sekali tidak memikirkan hal itu, tidak ada kata kalah dalam kamus permainan kami. Kami akan menang dan menjadi juara di edisi kali ini" Setelah berucap seperti itu, semua jurnalis dan wartawan langsung heboh mendengar perkataannya.
__ADS_1
Coach Demichelis Santon pun mulai berjalan menuju ke tempat dirinya akan berkumpul dengan pemain lain, para wartawan dan jurnalis itu kembali mengikuti sosok coach Demichelis yang membuat para staf tim kembali kewalahan untuk menghalau mereka.
Tetapi, sebelum dirinya kembali untuk melanjutkan latihan mereka, coach Demichelis kembali ke tempat para wartawan itu dan mengambil mic secara sepihak dan kembali berkata. "Apa yang saya ucapkan tadi bukanlah prediksi, melainkan spoiler!" ujarnya dan pada akhirnya beliau benar-benar pergi dari sana setelah menimbulkan kekacauan yang cukup parah.
Igarashi Maeda yang mendengar semua ucapan dari pelatih kepala tim Batavia Fort FC, Demichelis Santon, cukup puas dengan hal itu. Kepercayaan diri yang ditunjukkan oleh Coach Demichelis membuatnya cukup yakin dengan kemampuan para pemain Batavia Fort FC nanti di partai final.
Igarashi Maeda yakin kalau tim ini akan memberikan kejutan besar yang akan mengejutkan semua pihak di partai final nanti, dia sudah tidak sabar melihat pertandingan itu nantinya. Belum lagi dia akan melihat beberapa nama yang sudah ia masukkan ke dalam list, akan bertarung sekuat tenaga mereka demi mewujudkan impian mereka menjuarai I-Youth.
Sambil menulis laporan di tablet pintar miliknya, Igarashi Maeda berjalan ke luar tempat di mana tim Batavia Fort FC melakukan latihan tertutup. Di tabletnya itu kini terlihat data setiap pemain Pengambangan Cananga Youth yang akan menjadi lawan dari Batavia Fort FC di final nanti.
Beberapa nama yang ada di layar tabletnya adalah pemain yang sedang menonjol dalam beberapa pertandingan terakhir ini. Ada nama Axel Raihan, Dery Yanuar, serta Martin ada di dalam list itu. Selain mereka bertiga, ada pula satu nama yang begitu mencolok selama pertandingan babak penyisihan ini berlangsung. Di pertandingan terakhir kemarin saja, dia berhasil kembali mendapatkan predikat sebagai man of the match untuk kali ke-empat.
Namanya adalah Rizaldi Fatah. Satu nama yang membuat Igarashi Maeda jadi bertanya-tanya, bagaimana talenta seperti dirinya itu baru saja terlihat di radar seperti ini. Namun sekarang Rizaldi kondisinya sedikit mengkhawatirkan. Di pertandingan terakhir, dia terkena tekel keras dan harus keluar dengan tandu dan banyak yang berspekulasi kalau dirinya mengalami cidera serius.
Hal itu juga membuat Igarashi Maeda khawatir, dia cukup takut kalau apa yang ia dengar-dengar itu benar terjadi, padahal dia sangat berharap dengan sosok Rizaldi Fatah dan ingin terus melihat aksinya di lapangan.
__ADS_1
"Sebaiknya aku mengunjungi tempat mereka, siapa tahu aku bisa mendapatkan berita terupdate tentang kondisi dirinya" ujar Igarashi Maeda dan dirinya langsung pergi untuk ke tempat di mana tim Pengambangan Cananga Youth berada.