Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 158: Pertandingan 16 Besar Datang


__ADS_3

Aroma musim panas telah tercium di udara Prefektur Ibaraki. Para tonggeret saling sahut menyahut menandakan siang hari ini begitu panas di sini. Rizaldi tidak terbiasa dengan panas ini, walaupun terminal suhu menunjukkan angka 30 derajat celcius tetapi bagi Rizaldi entah kenapa rasanya sangat berbeda dari Indonesia yang kadang bisa mencapai lebih dari 30 derajat ketika siang hari terik.


Jadwal liga mulai kembali bergulir. Di bulan Juni, tim Pengambangan Cananga FC memulai pertandingan dengan perhelatan ke Jepang. Mereka memulainya dengan laga 16 besar Liga Champion Asia yang mempertemukan mereka dengan Kashima Antlers. Untuk itulah semenjak hari Kamis mereka sudah berangkat dari Indonesia ke Jepang.


Pagi tadi mereka sudah sempat melakukan latihan bersama, dari jam 9-11 pagi cuaca musim panas kali ini di Jepang benar-benar gila. Pagi hari saja sudah mencapai 29 derajat celsius, dan pada sesi latihan kedua di jam 3 sore, berubah menjadi 30 derajat yang terasa seperti 32 derajat celsius. Beberapa kali Rizaldi terlihat minum cairan isotonik untuk mengembalikan cairan tubuhnya yang cepat sekali terbuang, mungkin saja Rizaldi masih beradaptasi dengan lingkungan seperti ini sehingga tubuhnya masih melakukan penyesuaian.


Tetapi anehnya teman-temannya yang lain tidak merasakan hal seperti dirinya. Seperti Axel, Anan, Derry dan juga Martin yang sudah seperti terbiasa dengan iklim di Jepang ini.


"Enak sekali kalian tidak merasa kepanasan seperti ku" Rizaldi iri sekali dengan mereka.


Martin pun menjawabnya dengan nada sedikit menyombong. "Itulah bedanya kita, tubuhmu memang tidak cocok untuk iklim seperti ini hahaha"


"Itu tidak benar!" Derry memukul kepala Martin. "Kita memang sudah sedikit terbiasa karena waktu pelatihan di timnas kemarin, Coach Igarashi membawa kami ke sini selain di Seoul" Derry mengatakan alasan sebenarnya.

__ADS_1


Rizaldi membuka mulutnya lebar-lebar sambil menurun-naikkan kepalanya, dia baru saja teringat kalau mereka sudah pernah berlatih di iklim seperti ini kecuali Anan Riswan. Sebelum ditanya oleh Rizaldi, Anan langsung menjawabnya dengan santai.


"Tentu saja aku juga merasakan apa yang kau rasakan Rizaldi, tetapi sepertinya memang kau memiliki tubuh yang cukup sensitif sehingga begitu panas" ujar Anan Riswan.


Rizaldi lalu kembali fokus berlatih melakukan tendangan ke gawang, walaupun saat ini pikirannya sedang terbang jauh melintasi langit tinggi. Dia mulai bertanya-tanya, apakah Boro-555 bisa membantunya untuk mengatasi hal seperti ini. Kalau memang benar dirinya memiliki sebuah tubuh yang sangat sensitif, itu sedikit mengganggu dirinya. Belum lagi Rizaldi nanti akan pergi ke Inggris, yang tentu saja iklimnya sangat jauh berbeda dari Indonesia yang hanya mengenal dua musim.


"Tentu saja aku bisa membantu mu dengan hal itu" Boro-555 tiba-tiba saja bersuara di dalam kepala Rizaldi yang membuat Rizaldi terkejut dan melepaskan tendangan tidak akurat. Bola melayang jauh di atas tiang gawang.


"Aku bisa membantumu menghadapi masalah itu, memang kadang ada pemain yang memiliki tubuh sensitif terhadap perubahan iklim sehingga kadang membuat karir mereka tersendat di tengah jalan. Misalnya saja ada pemain berasal dari Brazil yang tropis dan sudah terbiasa dengan iklim di sana, lalu hijrah ke Italia yang begitu berbeda dengan Brazil dan dirinya tidak mampu beradaptasi dengan baik sehingga tidak bisa memberikan kontribusi terbaiknya untuk klub barunya" ujar Boro-555 lagi, menjelaskan masalah itu pada Rizaldi.


"Sekarang kau buka tab toko di fitur sistem milikmu, lalu cari pil adaptasi iklim!" Perintah Boro.


Sesuai dengan perintah Boro. Rizaldi pun membuka sistemnya dan masuk ke dalam tab toko, di sana dia langsung mencari sebuah benda yang bernama pil adaptasi iklim. Itulah benda yang dirinya cari, sebuah botol obat berwarna putih ada sedikit bercak hijaunya dan bergambar daun mint. Mungkin rasanya seperti mint, itulah pikir Rizaldi pertama kali melihat benda itu.

__ADS_1


"Kau bisa membelinya dengan harga 350 poin, jika kau ingin segera membeli benda itu ku sarankan melakukannya waktu malam hari saat tak ada siapapun yang melihat mu atau kau pura-pura pergi ke wc terlebih dahulu" Boro-555 memperingatkan Rizaldi agar tetap berhati-hati sebelum bertindak.


Rizaldi hampir saja langsung menekan tombol beli yang terpampang di layar tak kasat mata yang hanya bisa dilihat oleh dirinya, padahal di sana masih banyak orang dan bisa saja mereka kebingungan melihat Rizaldi yang tiba-tiba saja melakukan sulap. Tidak semua orang bisa memunculkan sebuah benda dari ketiadaan, bahkan seorang pesulap pun memiliki trik mereka masing-masing.


Pergi ke kamar mandi pun nampaknya sudah begitu tanggung menurutnya, karena beberapa menit lagi Rizaldi yakin Coach Giovanni akan menghentikan latihan hari ini. Akhirnya Rizaldi mencoba bersabar dengan semua ini, dan dirinya pun berhasil bertahan hingga Coach Giovanni menghentikan latihan dengan memberikan sedikit pidato untuk membangkitkan gairah semangat para pemainnya itu.


Malamnya, Rizaldi langsung saja mengakses sistem miliknya dan membeli pil adaptasi iklim yang tidak sempat dirinya beli saat sesi latihan tadi. Dia membeli benda itu ketika dirinya seorang diri di kamar penginapan, Martin dan Derry yang satu ruangan dengan dia sedang mandi sehingga menyisakan Rizaldi yang sudah mandi terlebih dahulu sebelum mereka berdua.


Secara ajaib, botol obat itu tiba-tiba saja berada di tangan Rizaldi. Seperti yang ia lihat di dalam tab toko sistem tadi, botol obatnya benar berwarna putih dan memiliki bercak berwarna hijau dan juga bergambar seperti daun mint. Warna obatnya juga berwarna hijau dan juga putih, Rizaldi tambah yakin kalau obat itu memiliki perisa mint yang akan membuat peminumnya merasakan hawa dingin menyegarkan di sekitar tenggorokannya.


Rizaldi langsung menyimpan obat itu ke dalam tas miliknya, takut ada orang yang melihat benda tersebut dan curiga pada dirinya. Setelah itu Rizaldi pun turun untuk makan malam, sebelum akhirnya berkumpul kembali dengan Coach Giovanni untuk membicarakan soal game-plan dan mempelajari musuh yang akan mereka hadapi di hari Sabtu nanti.


Setelah melakukan hal tersebut barulah mereka semua disuruh untuk tidur, mereka semua tidur jam 9 malam yang mana ini merupakan sebuah kebijakan yang diterapkan oleh Coach Giovanni pada anak-anak asuhannya. Setiap mereka di minggu pertandingan, mereka harus tidur di jam 9 malam atau jika tidak bagi yang melanggar maka akan ada sebuah hukuman yang tentunya tidak akan mengenakkan bagi yang melanggarnya.

__ADS_1


Dan disini, Rizaldi masih belum bisa tertidur walaupun jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tetapi Rizaldi tetap menutup matanya, berpura-pura seperti orang yang sudah tertidur dengan pulas.


__ADS_2