Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 113: Darah dan Air Mata


__ADS_3

Setelah gol yang terjadi di menit ke-63. Permainan dari tim Pengambangan Cananga Youth berubah total. Mereka langsung menggempur habis-habisan pertahanan tim Batavia Fort FC dan membuat mereka kewalahan dan tidak bisa bernafas.


Tetapi sepuluh menit telah berlalu, belum juga Pengambangan Cananga Youth mendapatkan celah untuk menyamakan kedudukan. Mereka hanya bisa membuat peluang, tetapi semua peluang itu masih bisa digagalkan oleh barisan pertahanan tim Batavia Fort FC, terlebih lagi sosok Raffi Putra yang menjadi sosok mimpi buruk pemain depan Pengambangan Cananga Youth.


Pengambangan Cananga Youth kembali mendapatkan sebuah peluang di menit 70. Axel Raihan benar-benar bekerja keras di sektor sayap kiri pertahanan tim Batavia Fort FC, dia memberikan umpan silang yang sangat bagus. Martin berhasil menyundul bola itu, tetapi kiper tim Batavia Fort FC berhasil menangkapnya dengan sempurna.


Coach Satria Hutama di pinggir lapangan sudah tidak bisa menahan rasa gugupnya, pertandingan hanya menyisakan 20 menit lagi waktu normal dan mereka masih belum bisa menyamakan kedudukan sama sekali. Coach Satria harus memutar otaknya untuk bisa keluar dari situasi tidak nyaman ini, dia melihat ke bench dan memutuskan untuk memasukkan pemain baru.


"Akbar!" Coach Satria memanggil salah satu anak didiknya yang bernama Akbar.


Langsung Akbar menghampiri Coach Satria dengan wajah yang sedikit tegang. "Yes Coach!"


"Lakukan pemanasan, aku akan memasukkanmu di pertandingan kali ini" ucapan Coach Satria ini mengejutkan Akbar.


Akbar langsung saja melakukan pemanasan, sambil memperhatikan rekan-rekannya yang sedang berjuang mati-matian di lapangan. Akbar jadi kepikiran, apakah dirinya bisa membantu tim saat sudah masuk kelapangan nanti dan itu sedikit menganggu dirinya. Tetapi, dirinya akan sangat jarang mendapatkan kesempatan seperti ini dan Akbar merasa bahwa dirinya harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.


Setelah pemanasan selama 3 menit, Akbar pun sudah bersiap-siap untuk masuk ke lapangan. Tinggal menunggu bola keluar lapangan saja dan tim official panitia sudah tahu kalau Pengambangan Cananga Youth akan melakukan pergantian pemain kedua mereka.


Bola keluar di menit 74. Asisten wasit menaikkan papan pergantian pemain, pemain bernomor punggung 12 yaitu Akbar Rabani masuk menggantikan pemain bernomor punggung 11 yaitu Fauzi.


Fauzi yang melihat itu langsung bergerak untuk keluar lapangan, dirinya sadar kalau hari ini dia tidak menunjukkan performa terbaiknya dan malah sedikit membuat kesalahan-kesalahan saat berada di kotak penalti tim lawan. Fauzi melakukan tos dengan Akbar yang menggantikan dirinya dan mendoakan Akbar agar bisa menunjukkan performa terbaiknya di atas lapangan dan membantu tim melewati kesulitan ini.


Sebelum Akbar masuk ke lapangan, Coach Satria Hutama memberikan pesan kepada dirinya. Coach Satria meminta Akbar untuk menyampaikan pesannya pada Rizaldi. Jadi, saat masuk ke lapangan, Akbar langsung berlari ke arah Rizaldi dan membisikkan pesan Coach Satria kepada dirinya.

__ADS_1


Rizaldi terkejut mendengarnya. "Kau yakin akan hal itu?" Akbar mengangguk saja, akhirnya membuat Rizaldi melihat ke arah Coach Satria dan Coach Satria memberikan gestur wajah yang menjawab pertanyaan Rizaldi tadi.


"Baiklah kalau begitu maka aku akan mencoba bermain di posisi Fauzi" ucap Rizaldi.


Pesan dari Coach Satria Hutama tadi adalah, menyuruh Rizaldi untuk bermain lebih melebar yaitu menggantikan posisinya Fauzi. Coach Satria ingin Rizaldi bermain sebagai pemain sayap, akan tetapi coach Satria masih ingin mempertahankan peran Rizaldi sebagai seorang Playmaker, hanya saja posisinya yang dibuat sedikit melebar untuk menghindari sosok Raffi Putra yang membuatnya sedikit kewalahan.


Sedangkan Akbar Rabani masuk untuk memperkuat lini tengah tim, memang sejatinya posisi Akbar Rabani adalah seorang gelandang tetapi dia juga bisa bermain menjadi pemain sayap karena memiliki kecepatan yang bagus.


Perubahan strategi yang dipikirkan oleh Coach Satria Hutama langsung diterapkan oleh tim Pengambangan Cananga Youth. Rizaldi yang bermain sedikit melebar membuat Raffi Putra yang terus melakukan marking kepadanya sedikit terkejut. Raffi Putra tidak bisa langsung melakukan perubahan peran, akhirnya dia menyerahkan sepenuhnya kepada Full-back yang berhadapan langsung dengan Rizaldi.


Tetapi masalahnya adalah, pemain yang dipercayakan oleh Raffi Putra untuk menghadapi Rizaldi Fatah itu tidak bisa menahan sosok Rizaldi. Rizaldi terus-menerus melakukan eksploitasi di sisi kanan pertahanan tim Batavia Fort FC dan bahkan beberapa kali dirinya sendiri bisa melakukan gerakan menusuk ke dalam pertahanan tim Batavia Fort FC.


Sama yang terjadi di menit ke-78. Rizaldi berhasil melewati bek sayap tim Batavia Fort FC yang melakukan penjagaan terhadap dirinya. Raffi Putra terlambat melakukan cover dan membuat Rizaldi berhasil mendapatkan ruang tembak. Beruntungnya, kaki dari Raffi Putra masih bisa menjangkau bola tendangan Rizaldi Fatah dan berhasil membuat bola berubah arah dan menjadikannya hanya sebuah tendangan penjuru untuk tim Pengambangan Cananga Youth.


Karena itu Raffi Putra menjadi frustasi. "Jangan mudah dilewati seperti itu saja! Lakukan apa saja untuk menghentikan dia, jangan lepaskan pandangan kalian terhadapnya!"


Saat sepak pojok, semua pemain Pengambangan Cananga Youth langsung mengerumuni pertahanan tim Batavia Fort FC. Rizaldi Fatah terus memperhatikan posisi teman-temannya, lalu dirinya langsung melepaskan umpan ke dalam kotak penalti.


Martin yang dituju, Martin langsung melompat untuk menyundul bola namun sayangnya lagi-lagi Martin dikalahkan oleh Raffi Putra dalam duel udara. Padahal Martin jauh lebih tinggi dari Raffi Putra. Martin dengan 170cm sedangkan Raffi Putra hanya 167cm saja, tetapi lompatannya sangat tinggi karena dirinya mengetahui teknik yang tepat untuk melakukan lompatan.


"Sialan orang ini!" Martin mengumpat dalam hatinya, Martin langsung mengejar bola yang masih liar karena duel mereka tadi, tetapi ternyata bola berhasil diambil oleh Rizaldi yang bergerak sangat cepat.


Raffi Putra saja langsung terperanjat tidak percaya melihat kecepatan reaksi yang ditampilkan oleh Rizaldi. Rizaldi melakukan satu sentuhan dan bersiap-siap melakukan tendangan dari luar kotak penalti.

__ADS_1


Raffi Putra tahu bahwa hal ini sangatlah berbahaya, sudah banyak gol yang tercipta lewat tendangan keras kaki kanan Rizaldi dari luar kotak penalti. Instingnya pun mengatakan demikian, jika Raffi Putra gagal untuk menghalangi Rizaldi menendang, maka sudah pasti akan terjadi gol.


Di sepersekian detik, Raffi melihat ada sosok rekannya yang hendak menghentikan Rizaldi. Raffi pun langsung berteriak memerintahkan rekannya itu untuk menghentikan Rizaldi dengan cara apapun. "Tekel dia! Jangan sampai dia menendang bola!" teriak Raffi Putra.


Mendengar itu Rizaldi menjadi sadar bahwa ada pemain yang hendak mengentikannya, namun pemain itu sudah melakukan sliding tackle. Rizaldi masih sempat menghindar, tetapi lutut kanannya sedikit kena tekel, bola dipindahkannya ke kaki kiri dan Rizaldi mencoba melakukan tendangan dengan kaki kirinya tetapi sayangnya karena diganggu tadi bola malah membentur mistar gawang dan hanya menghasilkan tendangan gawang saja untuk tim Batavia Fort FC.


Setelah beberapa menit yang intens itu, tim Batavia Fort FC mencoba untuk membuat ritme permainan sedikit menurun dan mencoba menguasai sekali lagi jalannya pertandingan. Dan pada saat itu jugalah, Rizaldi merasakan hal tidak nyaman pada lututnya.


Tetapi Rizaldi tidak peduli dan dia terus saja berlari sampai pada akhirnya sisa waktu pun hanya menyisakan 2 menit waktu tambahan.


Pemain Batavia Fort FC mencoba memperlambat waktu dengan melakukan umpan-umpan pendek di daerah pertahanan mereka dan pada saat salah satu pemain mereka mencoba untuk mengembalikan bola kebelakang, Rizaldi berhasil memotong bola itu dan membuat kaget pemain belakang tim Batavia Fort FC.


Rizaldi berlari sangat cepat, saking cepatnya bahkan Raffi Putra tidak bisa menjangkau dirinya. Rizaldi terus berlari sampai ke kotak penalti tim lawan dan berhadapan satu lawan satu dengan kiper lawan, saat Rizaldi mengangkat kaki untuk melakukan ancang-ancang menendang, lututnya langsung merasakan sakit luar biasa. Rizaldi bahkan hampir kehilangan keseimbangannya dan ingin jatuh, yang membuat dirinya mengubah rencananya dari melakukan tendangan menjadi memberikan passing.


Dirinya tidak tahu siapa yang ada di dekatnya untuk mendapatkan passing darinya, dan ternyata Martin yang menerima passing itu. Tanpa pikir panjang Martin langsung ingin melakukan tendangan, tetapi Raffi Putra berhasil terlebih dahulu menjangkau bola dan melakukan clearance yang membuat semua pemain Pengambangan Cananga Youth tidak menyangka dan menduga akan hal itu.


Rizaldi Fatah sendiri sudah terjatuh di kotak penalti lawan, dirinya tidak bisa bangkit lagi dan hanya bisa meringis kesakitan. Dia masih tidak tahu kalau usahanya untuk menyamakan kedudukan tadi ternyata gagal. Sampai pada akhirnya wasit pun meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan dan membuat semua pemain Pengambangan Cananga Youth jatuh lemas.


Masih belum ada yang menyadari kalau Rizaldi kembali mengalami cidera lututnya. Sampai pada akhirnya kapten tim lawan, Raffi Putra menghampiri Rizaldi Fatah dan menanyakan kondisinya.


Raffi Putra melewatkan selebrasi kemenangan mereka terlebih dahulu, dirinya mencoba untuk membantu Rizaldi yang merasa begitu kesakitan dan dirinya mencoba untuk memberitahu hal ini kepada tim medis. Ketika tim medis sudah datang, barulah Raffi Putra meninggalkan Rizaldi dan merayakan kemenangan tim mereka malam ini.


"Hei nak kau baik-baik saja?" Coach Satria langsung menghampiri Rizaldi yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Apa kita kalah coach?" tanya Rizaldi dengan suara yang sedikit terisak dan tertahan.


Coach Satria tidak sanggup untuk menjawabnya. Dirinya hanya diam dan menepuk-nepuk kepala anak didiknya itu, Rizaldi paham dengan semua itu dan karenanya air mata yang keluar dari matanya semakin deras karena menyadari semua usahanya berakhir dengan kekalahan.


__ADS_2