
"Abang kan baru aja pergi, masa abang mau pergi lagi sih. Mau ke Spanyol lagi" Keisha tidak menerima apa yang barusan dia dengar dari Rizaldi Fatah.
Setelah mendengar kabar dari coach Giovanni soal dirinya yang akan dibawa ke dalam skuad tur pra-musim ke Spanyol, Rizaldi pun menceritakan hal ini kepada ibu dan adiknya. Seperti biasa, Keisha tidak sependapat dengan abangnya itu. Dia menolak kalau abangnya harus pergi lagi setelah cukup lama pergi untuk bertanding di I-Youth babak 32 besar di Jakarta kemarin.
Bukan cuma tidak setuju untuk pergi ke Spanyol, Keisha bahkan tidak mendukung Rizaldi untuk harus tetap melanjutkan karirnya sebagai pemain sepakbola. "Masih banyak pekerjaan lain diluar sana bang, abang tidak perlu jadi pemain bola dan malah menyakiti diri sendiri" ucap Keisha.
Rizaldi terdiam mendengar ucapan Keisha, dirinya tidak menyangka mendengar hal itu dari mulut adiknya. Ibunya pun langsung menegur Keisha karena merasa sudah sedikit keterlaluan dengan abangnya itu, namun Keisha masih membela dirinya.
"Ibu lihat sendiri kan waktu abang baru pulang dari Jakarta, abang malah cidera lutut dan malah masuk rumah sakit untuk waktu yang lama. Untuk apa abang menyakiti dirinya sendiri hanya untuk mencari uang yang tidak seberapa itu? Harusnya abang jadi pegawai kantoran saja yang punya gaji tetap dan kerjaannya jelas"
"Sudah Keisha, cukup!" ibunya naik pitam mendengar ucapan Keisha, ini kali pertama Keisha melihat wajah ibunya yang marah.
Keisha tidak percaya dengan apa yang dia lihat, biasanya juga situasi seperti ini maka anak perempuan lah yang sering langsung pergi ke kamar dan mengurung diri. Namun kali ini terbalik, Rizaldi yang malah langsung pergi tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.
"Abang, mau pergi kemana abang?" Ibunya terus memanggil Rizaldi namun Rizaldi tidak juga mendengar, dia terus saja pergi ke luar.
Rizaldi pergi keluar rumah setelah terjadi perselisihan itu, dia tidak ingin berada di rumah untuk sekarang ini. Dia ingin menenangkan dirinya dan berniat melakukan sedikit latihan di malam hari untuk menggantikan rasa marah dan kesalnya itu.
"Master, apakah Master sedang merasakan sedih?" Borought-555 mencoba menanyakan kondisi sang master.
"Aku sedang mengalami komplikasi yang mana aku saja bingung dengan apa yang saat ini ku rasakan" itulah jawaban dari Rizaldi.
__ADS_1
"Jadi bisa saya asumsikan kalau Master sedang merasa galau dan gundah?"
"Terserah mu sajalah Boro"
Rizaldi mulai berlari mengitari taman yang sering ia kunjungi saat ingin melatih fisiknya, dia sudah cukup lama tidak berlatih di tempat ini sebab Rizaldi sudah diterima di Pengambangan Cananga dan berlatih di tempat mereka.
Dua sampai tiga putaran sudah dirinya selesaikan, namun tidak ada tanda bahwa Rizaldi ingin segera menghentikan aktivitasnya sebelum akhirnya Boro memperingatkan Rizaldi bahaya cidera yang ia alami. Rizaldi langsung berhenti berlari, sebab dia juga merasakan ada rasa nyeri yang timbul setelah dirinya menyelesaikan putaran ketiga.
Rizaldi lalu bergumam sendiri. "Sekarang aku harus bagaimana?"
Boro sebenarnya ingin memberikan saran, namun ternyata Ibunya Rizaldi ada di sana untuk menjemput Rizaldi.
"Mama kenapa kesini?" Rizaldi tentu terkejut melihat sang ibu yang mendatanginya.
"Bukan begitu ma" Rizaldi masih belum bisa menahan tawanya. "Cuma mama kurang cocok kalau berkedip begitu, ingat umur ma"
"Mama selalu 17 tahun bang"
Rizaldi kembali tertawa mendengar lawakan dari ibunya, ibunya juga ikut tertawa lalu mulai duduk di dekat anak kesayangannya itu. Dia menatap wajah anak laki-lakinya yang sudah terlihat sangat berbeda dari beberapa tahun yang lalu, kini di matanya Rizaldi seperti terlihat semakin dewasa dan telah sangat jauh berkembang.
"Abang" ibunya memulai percakapan yang dalam. "Abang tidak memasukkan perkataan Keisha tadi kan bang?" Keisha masihlah anak kecil, dia masih belum mengerti soal dunia orang dewasa"
__ADS_1
"Tidak ma, Izal sama sekali tidak kepikiran soal apa yang dikatakan sama adek. Abang cuma sedikit kecewa saja tadi dan tidak bisa mengendalikan emosi Izal. Maafkan Izal ma" Rizaldi berkata penuh dengan penyesalan.
Rizaldi sejatinya adalah tipikal orang yang sangat baik, ketika dia merasa melakukan salah Rizaldi akan kepikiran dengan hal itu hingga satu bulan kemudian, tidak akan lepas begitu saja dari kepalanya. Walaupun hanya sedikit kesalahan yang dirinya perbuat, namun tetap saja Rizaldi merasa kalau dirinya telah melakukan kesalahan yang besar dan bisa membuat dirinya terpuruk.
Sama seperti kejadian tadi, dia tidak sampai hati untuk memarahi adiknya yang sudah berbicara sedikit keterlaluan itu. Rizaldi pun mengerti kalau Keisha masih belum mengerti soal apa yang dirinya ucapkan tadi, soal pekerjaan yang penuh pengorbanan itu. Rizaldi yang sudah tahu akan hal itu juga tidak ingin menggurui Keisha dan malah memperumit situasi, jadi hal yang bisa dirinya pikirkan saat itu hanyalah pergi menjauh dari situasi tersebut. Walaupun terlihat seperti tindakan seorang pengecut, dan Rizaldi pun tidak memungkiri akan hal tersebut.
"Abang selalu ingat, mama akan selalu dukung abang 100%. Keisha pun begitu, walaupun dengan caranya sendiri. Keisha bicara seperti itu ke abang juga karena Keisha itu peduli sama abang" ujar ibunya yang membuat senyuman kembali hadir di wajah Rizaldi.
"Ya ma, Izal tau kok"
"Kalau begitu, ayo kita pulang. Kesian si adek udah nungguin"
Lalu Rizaldi pun kembali bersama dengan ibunya ke rumah. Di rumah, Keisha sudah menunggu kedatangan mereka berdua dengan wajah yang cemberut. Wajah cemberut itu dirinya dapatkan setelah sang ibu lebih memilih menyusul si abang daripada harus tetap dirumah dengan dirinya. Akhirnya, ceritanya si Keisha bersungut-sungut pada sang bunda dan si abang.
Biar si bunda mencoba untuk mengajaknya bicara, tetap saja Keisha diam seribu bahasa. Keisha mematung dan membatu, dia merasa hanya dirinyalah seorang diri di dunia ini, tidak ada lagi manusia yang tersisa selain dirinya.
Rizaldi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku si Keisha, dia sudah menyerah dan tidak ingin memiliki urusan yang berlanjut dengan sosok Keisha.
Sang bunda malah tidak pantang menyerah, segala usaha dan percobaan dia lakukan untuk membuat si bungsu kembali ceria. Hingga pada akhirnya sebuah ucapan pun terdengar dari mulut Keisha yang semakin membuat Rizaldi dan ibunya menggeleng heran.
"Mana martabak spesialnya? Kan tadi Keisha sudah titip ke mama" ucap Keisha.
__ADS_1
Si ibu menghela nafas panjang dan juga sedikit menyadari kesalahannya. Dirinya melupakan hal itu, melupakan kalau Keisha benar-benar menitip martabak spesial saat ibunya pergi menyusul Rizaldi tadi.
Akhirnya pada malam itu terpaksa Rizaldi harus kembali ke luar rumah untuk membelikan martabak spesial pesanan Keisha, karena kalau tidak akan terjadi hal yang tidak ia inginkan terjadi sekali lagi.