Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 43: Debut Si Pemain Nomor 10 di Tim-A


__ADS_3

Babak pertama telah usai, kondisi ruang ganti tim begitu buruk. Hal ini dikarenakan tim Pengambangan Cananga yang tidak bisa mengimbangi permainan tim lawan, memang Fiume Blu Lulut FC begitu mendominasi di babak pertama ini.


Taktik mereka yang menerapkan taktik False Nine dan melakukan serangkaian serangan dari tengah lapangan membuat tim tamu begitu kewalahan. Beruntungnya mereka masih belum kebobolan satu gol pun walaupun mereka kalah taktik dari tim lawan, mereka harus berterimakasih kepada Dery sang penyelamat mereka. 3 save penting di babak pertama membuat asa mereka memenangkan laga hari ini masih terjaga, namun itu bukanlah hal yang mudah jika mereka masih belum bisa menemukan solusi dari masalah ini.


"Kita harus terus menekan mereka. Hei kau pemain bernomor punggung 16! Harusnya kau terus mengalirkan bola kepadaku, atau kita tidak akan bisa mencetak gol sama sekali" Martin mengarahkan protesnya kepada Zaki Iskandar yang menurutnya belum memberikan umpan yang bagus kepada dirinya.


Zaki sedikit merasa tersinggung dengan ucapan Martin, dia pun membalasnya dengan argumen yang tidak kalah dari Martin. "Kau jangan cuma bisa menyalahkan orang lain, kau harus bisa mencari posisi yang bagus sebelum kau menceramahiku soal umpan. 3 kali terjebak offside bukanlah suatu hal yang tidak disengaja!"


"Apa kau bilang pemain amatir!" Martin tidak terima dengan ucapan Zaki. Dia langsung menarik kerah baju Zaki dengan cukup kasar dan sedikit membuat keributan, pemain-pemain lain langsung maju untuk menghentikan hal-hal yang tidak diinginkan.


"Woy woy woy!" Coach Satria Hutama masuk ke dalam ruang ganti yang terlalu bising itu, teriakannya membuat mereka semua terdiam dan mematung di tempat. "Apa begini cara kalian memecahkan masalah di hadapan kalian saat ini?" Semakin terdiam mereka.


Coach Satria menatap mereka semua dengan tatapan seperti elang yang siap menerjang mangsanya, seakan-akan tatapan beliau bisa menelan mereka semua dalam sekali suap.


"Apa kalian sudah menyadari kesalahan kalian masing-masing?" Coach Satria bertanya kepada mereka semua. Tidak ada yang berani bersuara atau hanya menatap wajah Coach Satria yang sedang marah seperti ini.


Ada kalanya beliau begitu kalem, seperti angin segar yang membawa banyak serbuk bunga. Tetapi ada kalanya juga beliau meledak-ledak seperti gunung vulkanik yang tengah meletus hebat, bahkan awan panasnya bisa terasa hingga beberapa kilometer jauhnya. Seperti itulah kini Coach Satria.

__ADS_1


Dia sudah menahan rasa marahnya semenjak mereka mengalami stagnan bahkan penurunan, beliau masih diam dan sabar karena beliau ingin anak asuhnya memahami letak kesalahan mereka semua. Namun sepertinya Coach Satria terlalu berharap lebih dari pemain-pemain muda- amunisi-amunisi muda- para pejuang pemuda ini. Rasa tidak mau kalah, rasa ingin bersaing, rasa egoisme yang masih begitu tingginya adalah hambatan dalam kemajuan para amunisi muda seperti mereka.


Ini tidak hanya berlaku bagi pemuda-pemuda berbakat di Pengambangan Cananga. Masalah seperti ini juga terjadi di semua kaum muda, dan biasanya mereka menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka masing-masing.


Coach Satria sebenarnya tahu kesalahan mereka, tahu bagaimana caranya agar mendapatkan kembali ritme permainan yang diinginkan, tahu caranya bagaimana kembali ke trek yang benar. Tetapi beliau enggan membantu mereka semua, beliau menganggap hal itu bisa menghambat perkembangan mereka semua dan Coach Satria tidak ingin hal itu terjadi pada anak didiknya.


Tetapi sepertinya beliau terpaksa harus melupakan sejenak idealisme miliknya itu.


"Kalian semua bermain seperti sampah. Dari menit awal kalian semua tidak menjalankan instruksi seperti yang saya berikan pada kalian sebelumnya! Martin kau terlalu maju kedepan hingga Zaki tidak bisa memberikanmu umpan yang pas. Fauzi, peran mu kali ini sangat kurang sekali. Zaki, terlalu banyak membuang waktu hingga pemain musuh bisa menutup ruang yang bisa kita manfaatkan sebelumnya. Kalian semua beruntung hari ini adalah harinya Dery, jika tidak ada dia di bawah mistar aku yakin kalian semua akan dibantai 4 sampai 5 gol di babak pertama" Panjang lebar Coach Satria menjelaskan keadaan mereka semua.


"Musuh bermain bagus, sangat bagus! Saya sendiri sampai tertipu dengan taktik False Nine mereka. Pemain bernomor punggung 12 dan 10 benar-benar harus kita kunci pergerakannya. Tetapi itu saja tidak akan cukup, kita perlu amunisi lagi di sisi tengah. Seorang pemain yang mampu mengendalikan tempo dan intensitas permainan, seorang pemain yang menjadi dirigen di orkestra simfoni musik yang saya buat ini!"


Setelah Coach Satria menjelaskan hal itu, semua pemain lalu saling menatap satu sama lain. Mereka bertanya-tanya, siapakah sosok yang mampu menjadi dirigen di orkestra musik indah hari ini? Mereka tidak habis pikir, tidak memiliki jawabannya sama sekali. Pemain seperti itu menurut mereka hanyalah seorang elit dari yang paling elit. Dia adalah pemain yang sangat berbakat pastinya, karena memiliki kemampuan seperti itu di usia dini.


Dan pada saat itulah wajah Rizaldi Fatah tiba dihadapan mereka semua, wajahnya seperti ada sinar yang menyilaukan mata mereka. Di mata mereka Rizaldi seolah bagai sosok messiah yang sudah mereka harapkan kedatangannya. Yang akan menuntun mereka ke jalan kemenangan.


"Di babak kedua nanti Fauzi akan saya gantikan sama Rizaldi. Ini demi kemenangan yang sudah menjadi hidup mati kita semua!" ucap Coach Satria yang menunjuk Rizaldi sebagai pemain pengganti yang akan masuk di babak kedua nanti.

__ADS_1


Tentu saja hal ini menimbulkan banyak konflik dan polemik, Martin dan kawan-kawan tentu saja mempertanyakan keputusan Coach Satria saat ini. Menurut mereka, apa yang diharapkan oleh Coach Satria tidak ada di dalam diri Rizaldi.


Namun Dery dan yang lainnya membela Rizaldi. "Kalian tidak pernah bermain satu tim dengannya, dia benar-benar seorang jenius di lapangan tengah" ucap Dery benar-benar yakin.


"Dia benar, Rizaldi adalah kunci dari keberhasilan taktik kali ini" Zaki ikut membela.


Axel masih diam, dia begitu malas untuk mengikuti perdebatan ini. Namun dia disenggol-senggol oleh Zaki untuk ikut membela Rizaldi sebagai orang yang pernah bermain satu tim dengan Rizaldi.


"Ya ya ya baiklah, dia pemain yang hebat" setengah malas Axel berucap.


"Kalian semua bercanda! Mana ada pemain seperti itu di usia seperti kita, jangan kebanyakan menghayal kalian!" Martin masih gusar


"Sudah hentikan semua kebodohan ini!" Coach Satria sekali lagi berteriak dan langsung membuat mereka hening sesaat. "Semua keputusan ada di tangan saya, kalau mau protes maka setelah pertandingan saja!"


Mendengar jawaban itu, Martin hanya bisa menggigit bibirnya. Dia sangat kecewa dengan keputusan Coach Satria yang menurutnya terlalu ambil resiko dan tidak banyak pikir panjang. Namun mau bagaimana lagi, keputusan terakhir di tangan beliau dan mau tidak mau semua pemain harus mengikuti keputusan beliau.


Dengan seperti itu, sudah jelas bahwa hari ini adalah debut untuk Rizaldi di tim-A. Dia akan bermain di babak kedua nanti, dia sudah siap mengejutkan semua orang-orang di luar sana dan orang-orang yang masih meragukan dirinya. Karena dia juga mendapatkan sebuah misi dari sistem yang dimilikinya, misi itu mengharuskannya untuk membuat semua orang tertuju kepada dirinya dan membuat mereka semua terkejut sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2