Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 116: Berdamai Dengan Diri


__ADS_3

Setelah 3 minggu mendapatkan perawatan intensif, cidera yang dialami oleh Rizaldi Fatah mulai perlahan-lahan memulih. Tetapi walaupun mulai membaik dan memulih, Rizaldi masih harus terus memperhatikan kondisi lututnya. Rizaldi masih belum pulih sepenuhnya, jadi dia harus selalu mengikuti setiap prosesi pemilihan yang sudah ditentukan oleh tim dokter Pengambangan Cananga FC.


Selama beberapa minggu terakhir ini Rizaldi terus mendapatkan berbagai macam metodenya latihan untuk pemulihan lututnya. Rizaldi terus mengikutinya demi memulihkan dirinya, kini Rizaldi sudah bisa sedikit berdamai dengan dirinya sendiri. Memang Rizaldi masih merasakan terpukul karena cidera yang ia alami, bahkan sampai membuat mimpi Rizaldi untuk membela timnas pun pupus begitu saja.


Akan tetapi setelah mendapatkan sedikit pencerahan dari Boro, Rizaldi mulai sedikit melunak pada dirinya sendiri. Dia mulai menerima kondisinya dan berusaha untuk mengubahnya menjadi lebih baik, dirinya juga tahu kalau ada kesempatan lain di luar sana dan jika memang dirinya mendapatkan itu maka ia tidak akan melepaskannya untuk kedua kalinya.


Karena Rizaldi rajin mengikuti proses pemulihan yang sebetulnya sedikit menyakitkan itu, namun karena itu dirinya sudah pulih lebih cepat dari jadwal yang seharusnya, walaupun masih harus menjalani terapi pemulihan.


Karena hal itu Rizaldi sudah bisa kembali bersekolah dengan normal, meskipun sempat tidak berhadir kesekolah selama beberapa hari sebelumnya. Jangan bayangkan Rizaldi sudah bisa berjalan dengan normal dalam hitungan 3 minggu saja. Memang Rizaldi sudah sedikit pulih namun dia belum pulih sepenuhnya, untuk berjalan pun Rizaldi masih harus berhati-hati. Untungnya Rizaldi tidak perlu harus menggunakan kursi roda kesekolah, karena jika harus demikian maka akan sangat menyulitkan dirinya.


"Kakimu sudah baikkan Rizal? Kalau belum pulih lebih baik jangan dipaksakan untuk kesekolah dulu" Salma menjadi orang pertama yang langsung memberikan perhatiannya pada Rizaldi di sekolah.


Andai saja ada Derry mungkin dirinya lah yang akan menanyakan kondisi Rizaldi pertama kali. Tetapi, Derry tidak bisa pergi kesekolah karena dirinya sudah pergi ke Korea Selatan untuk mengikuti pemusatan latihan dan seleksi masuk Tim Nasional.


"Ah aku baik-baik saja Salma, sungguh" jawab Rizaldi. "Kita juga sebentar lagi akan melakukan Penilaian Akhir Semester, jadi ku rasa tidak baik jika terus absen"


"Tapi kan bisa ikut susulan, atau mungkin home schooling untuk itu?" kepolosan dan keluguan Salma hampir membunuh Rizaldi.

__ADS_1


Rizaldi ingin sekali menjawabnya dengan berkata 'Aku tidak sekaya dirimu atau Derry' namun dirinya mengurungkan niatnya itu dan hanya menjawabnya dengan senyuman saja yang malah membuat Salma keheranan dengan arti senyuman tipis itu.


Walaupun dalam kondisi yang seperti itu, Rizaldi tetap bisa mengikuti seluruh pelajaran hari ini dan bertahan hingga akhir. Di rumahnya dia sudah siap mendengarkan siraman rohani sang adik, Keisha. Semenjak Rizaldi diperbolehkan pulang, Keisha langsung memberikan ultimatum kepada dirinya dan itu sudah berlangsung selama berhari-hari.


Setiap Rizaldi di rumah, tidak ada satu hari pun telinganya tidak mendengar Keisha mengoceh soal sosoknya. Keisha terus mengungkit soal cidera yang dialami Rizaldi, soal sepakbola yang merupakan olahraga buruk atau yang lainnya. Pokoknya ocehan itu tidak jauh-jauh soal sepakbola.


Telinga Rizaldi jadi merah karena itu, namun dirinya tidak bisa berkata apa-apa jika Keisha sudah marah-marah seperti itu. Jika dia berani sedikit saja membantah apa yang dikatakan oleh Keisha, sudah pasti masalah sudah menunggu Rizaldi.


Rizaldi terus berjuang melawan cidera yang dirinya alami, apapun bayarannya maka dia siap untuk menerjang semua halangan itu demi janjinya kepada sang ibu.


Saat pemberian penghargaan untuk pelajar berprestasi, Salma tersenyum manis dari kejauhan menyaksikan sosok teman berharganya berhasil menjadi juara di sekolahnya. Walaupun Rizaldi gagal memberikan gelar juara untuk Pengembangan Cananga Youth, akan tetapi dirinya masih bisa berprestasi di bidang lainnya.


"Selamat Rizal sudah jadi ranking 2 satu sekolah. Itu pencapaian yang luar biasa!" Salma antusias sekali sampai menarik-narik tangan Rizaldi dengan sangat bersemangat.


Keisha yang melihat hal itu langsung menghalangi Salma untuk bergerak lebih jauh lagi terhadap sang kakak, dia memberikan perlindungan untuk sang kakak dan itu membuat ibunya Rizaldi tertawa. "Keisha tidak boleh begitu sama kakak Salma, ingat kakak Salma sudah banyak membantu kita"


Keisha langsung ketakutan mendengar kata dari sang bunda, ia langsung tertunduk dan meminta maaf kepada Salma walaupun itu terkesan seperti dibuat-buat.

__ADS_1


"Terima kasih Salma atas bantuannya selama ini, terlebih lagi pada saat aku harus pergi ke Jakarta kemarin, kata ibu kamu sudah banyak membantu" ucap Rizaldi


"Tidak-tidak, aku juga banyak terima kasih. Karena sudah banyak mengajariku soal Matematika, Bahasa Inggris dan pelajaran yang lain"


Percakapan mereka hanya berakhir seperti itu, Rizaldi sebenarnya menunggu seseorang lagi yang dia kira datang untuk sekedar menyapa dirinya. Namun ternyata sosok itu tidak muncul-muncul batang hidungnya, hingga sampai Salma pun dijemput oleh supir pribadinya.


Rizaldi pun juga berpikir untuk pulang setelah itu, namun sebelum itu Rizaldi singgah terlebih dahulu ke salah satu warung bakso langganan keluarganya. Setiap akhir semester dan pembagian rapor hasil belajar, mereka bertiga pasti singgah ke tempat itu dan menyantap bakso bersama. Hal itu seperti bentuk syukur Rizaldi dan keluarga karena telah berhasil melewati satu semester dengan baik.


Seperti biasa, pesanan mereka bertiga tidak ada yang sama. Walaupun berkeluarga, tetapi Rizaldi, Keisha serta Ibunya punya selera masing-masing dalam hal makanan, khususnya bakso. Ibunya lebih suka makan Mie Ayam daripada bakso, sehingga setiap sehingga ke warung bakso maka yang dicari adalah Mie Ayam. Keisha penikmat Bakso, apalagi kuahnya disiram dengan sambal yang pedas sekali, sedangkan Rizaldi lebih memilih makan Mie Yamin.


Tetapi karena si penjual bakso sudah hafal dengan wajah mereka bertiga itu, si penjual bakso sudah tidak heran lagi melihat tiga keluarga itu.


Rizaldi menikmati mie yamin miliknya, sambil sesekali dia memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mengejar rekan-rekannya yang sudah melangkah selangkah lebih maju dari dirinya sekali lagi. Kebetulan dirinya memikirkan hal itu, smartphone miliknya pun berbunyi. Ada sebuah pesan singkat masuk, Rizaldi langsung mengecek pesan itu yang ia kira adalah pesan dari Salma, tetapi ternyata perkiraannya salah.


Pesan itu berasal dari sosok Coach Giovanni. Walaupun nomor itu baru masuk ke aplikasi chatting miliknya, namun Rizaldi sudah tahu betul dari cara mengetiknya. Pesan itu seakan mengeluarkan perasaan suram dan dingin, sudah jelas itu dari Coach Giovanni yang memintanya untuk datang ke kantornya.


Rizaldi berpikir ada apakah gerangan yang terjadi, namun semakin dirinya memikirkan hal itu maka semakin bingung dirinya karena tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh sosok pelatih yang memiliki wajah menyeramkan sekaligus tampan itu. Yang ada di pikiran Rizaldi adalah, dirinya akan mengalami masalah serius jika harus berurusan dengan Coach Giovanni dan itu membuat dirinya takut.

__ADS_1


__ADS_2