
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Siap tidak siap- mau tidak mau semua orang yang terlibat harus benar-benar siap untuk menjalani hari ini, hari yang akan menentukan segalanya.
Banyak orang yang datang ke lapangan PPC untuk menyaksikan laga ini, laga penentuan nasib Pengambangan Youth di I-Youth, apakah mereka akan bisa masuk ke fase gugur. Ataukah langkah mereka terhenti di grup stage saja.
Jumlah penonton sedikit melonjak dari biasanya, partai antara Pengambangan Cananga Youth versus Buceros benar-benar menarik atensi banyak orang-orang. Terlebih lagi, laga ini cukup diperbincangkan di media sosial seperti di I-Tube.
"Anda yakin non mau menonton sendirian?" Seorang pelayan paruh baya tampak sedikit khawatir dengan sosok majikannya.
"Iya pak Teguh. Pak Teguh pulang saja duluan, bilang saja sama papa kalau nanti Salma pulangnya agak sedikit telat" ucap si majikan yang ternyata adalah si Salma.
Sesuai dengan janjinya pada Rizaldi beberapa hari yang lalu, dia benar-benar datang ke lapangan PPC untuk menonton pertandingannya Rizaldi. Salma bukanlah orang yang mengerti soal sepakbola, dia hanya datang kemari untuk melihat Rizaldi bermain saja.
"Baiklah non kalau begitu saya pulang dulu" Pak Teguh lalu pulang membawa mobil yang menjadi alat transportasi antar jemputnya Salma.
Salma tersenyum manis, gigi gingsul-nya sedikit terlihat dan semakin membuat dirinya manis sekali untuk dipandang. Lalu Salma berjalan menuju loket pembelian tiket. Baju dress panjang berwarna merahnya yang ia padukan dengan jaket jeans berwarna biru cerah membuat daya tarik tersendiri untuk kaum Adam.
Mereka bingung sendiri melihat Salma, Salma seperti tidak terlihat untuk menonton sepakbola, malahan lebih terlihat ingin menonton konser jazz atau konser pop.
"Untuk tribun istimewa yang dibawah kualitas VIP. Harga tiketnya seharga delapan puluh lima ribu rupiah" ucap sang penjaga loket, memberi tahukan harga tiket yang ingin dibeli oleh Salma.
Salma sedikit kebingungan, dia bingung apakah dia harus membeli tiket untuk tribun VIP ataukah tribun istimewa saja. Menurut sepengetahuannya, biasanya di tribun VIP ada para pemilik klub atau para selebriti-selebriti yang menonton pertandingan dan dia tidak mau bertemu orang se-mengerikan itu. Jadi akhirnya, Salma pun membeli tiket untuk tribun spesial saja.
Salma pun membayar biaya tiket, sang petugas langsung memberikan cap stempel di tiketnya Salma dan merobek sisa bagian yang lain. Dengan senyuman tuntutan pekerjaan, sang petugas lalu berucap. "Terima kasih banyak!"
Salma sedikit mengangguk lalu dia mengambil tiket masuknya. Setelahnya dia pun masuk ke dalam lapangan PPC. Matanya penuh dengan hijaunya rumput, ini pemandangan yang baru ia lihat selama ini. Salma menghirup udara segar yang tercium bau rerumputan yang masih segar. "Jadi ini kah lapangan sepakbola itu" ucapnya dalam hati.
Setelah sedikit menikmati pengalaman pertamanya soal lapangan sepakbola, Salma lalu mencari tempat duduk. Masih banyak kursi yang kosong di tribun istimewa, karena memang jadwal pertandingan pun masih cukup lama jadi masih ada jeda waktu untuk membeli tiket.
Lapangan yang digunakan oleh tim Youth-A agak berbeda dengan tim Youth-B. Tim Youth-B hanya menggunakan lapangan yang biasanya dipakai untuk latihan, sedangkan tim-A menggunakan mini stadium yang bisa menampung penonton hingga seribu orang.
Salma sedikit kebingungan menentukan tempat duduknya, dia lalu melihat ada seorang gadis yang kira-kira berumur 13-14 tahun sedang asyik mendengarkan lagu lewat earphone di sisi kanan. Salma mendekati gadis itu dan berniat untuk duduk di sampingnya.
"Permisi, bolehkah aku duduk di sini" ucap Salma.
Gadis itu melepaskan earphone-nya setelah merasa ada yang memanggilnya, dia menengok ke sebelah kanannya dan melihat ada Salma yang sedang menunggu respon jawaban dari gadis itu.
__ADS_1
Namun gadis itu tidak langsung merespon, dia seolah mengalami kegagalan pengolahan proses data setelah melihat sosok Salma. Gadis itu seperti melihat sosok bidadari dari diri Salma, rambut panjang yang terurai lurus terawat itu, bola mata indah berwarna coklat yang memantulkan refleksi dirinya seperti kaca, dan tubuh ideal dan putih seperti salju itu. Gadis itu sangat iri dengan Salma, apalagi setelah dia melihat ke bagian dada, terlihat jelas sekali keunggulan perempuan tersebut.
"Halo, bolehkah aku duduk di sini?" Salma mencoba sekali lagi bertanya pada gadis itu.
"A-aah iya iya, boleh kok kak" gadis tadi sedikit gugup.
"Terima kasih ya" Salma pun lalu duduk di samping gadis tadi, tas tangannya dia taruh di pangkuan.
Gadis itu terus mencuri-curi pandang ke arah Salma, dia benar-benar kagum sekaligus iri dengan sosok Salma yang dirinya anggap sebagai sosok perempuan ideal. Dia benar-benar ingin menjadi seperti Salma, itu adalah keinginan terbesarnya memiliki kulit dan tubuh seindah itu.
Namun gadis itu tidak berani menatap langsung ataupun bertanya tips agar badan seperti itu, sehingga mereka pun diam tanpa suara sampai stadion mini itu mulai penuh terisi oleh orang-orang yang ingin menyaksikan pertandingan.
Salma sendiri sebenarnya ingin mengobrol dengan gadis itu, membahas beberapa hal untuk menghabiskan waktu dan membunuh kebekuan yang terjadi pada dirinya dan gadis itu. Namun, tatapan pembunuh yang dikeluarkan oleh gadis itu membuat Salma sedikit ketakutan untuk memulai obrolan.
"Kenapa dia menatapku seperti itu?" Salma berteriak di dalam hatinya, dia merasa seperti korban yang sudah ditandai oleh Jason sang pembunuh.
Setelah memberanikan diri, akhirnya Salma ingin memulai obrolan dengan gadis itu, dia ingin membahas beberapa hal karena merasa bosan hanya bermain-main dengan smartphone.
"Kakak!" ternyata gadis itu yang terlebih dahulu membuka obrolan.
"Kakak pernah makan kadal?"
Pertanyaan gadis itu sungguh aneh, aneh sekali untuk dibilang sebagai ice breaking. Salma pun sampai sangat kebingungan, pikirannya seperti sedang melintasi dimensi yang baru karena mendengar pertanyaan itu. Sedangkan gadis itu juga terdiam, sambil menatap mata indah Salma yang sedang kebingungan itu.
"Tidak pernah sih, kalo kamu pernah makan kadal?" Salma malah menjawab pertanyaan aneh itu.
"Tidak pernah sama sekali!" ucap gadis itu dengan sangat semangat, seperti orang yang hendak melakukan sesuatu yang hebat.
Salma menghela nafas panjang, dia tidak habis pikir dengan pertanyaan tadi. "Ternyata ada orang yang mau basa-basi dengan bertanya pernah makan kadal ya" ucapnya dengan nada tidak percaya.
"Kakak mendukung tim apa? Pengambangan Cananga juga kah?" kali ini pertanyaan si gadis mulai masuk akal dan bisa diterima nalar.
Salma langsung tersenyum bahagia mendengar itu, itu adalah pertanyaan orang normal. "Ya ya ya! Aku mendukung Pengambangan Cananga. Lebih tepatnya ada satu orang yang ku dukung di tim itu" jawab Salma dengan sangat bersemangat.
"Apa dia orang spesial kakak?"
__ADS_1
"Emmm. Bisa dibilang seperti itu"
"Jadi, dia itu pacar kakak?"
Untuk pertanyaan itu, Salma sedikit lebih lama untuk berpikir. Kata 'pacar' itu sungguh sangat membingungkan bagi dirinya. Jadi Salma pun menjawab pertanyaan si gadis itu dengan jawaban yang sedikit menggantung. "Bisa dibilang lebih dari teman" jawabnya.
Gadis itu mengangguk-angguk dan mulutnya membentuk huruf o. Salma tentu saja sedikit terkejut karena baru seumuran itu sudah tahu dengan istilah pacar atau istilah lebih dari teman.
"Seperti apa sebenarnya pergaulan anak muda zaman sekarang?" Salma bertanya pada dirinya sendiri, padahal dia juga masih termasuk ke dalam kategori anak muda itu.
Lalu mereka berdua terus membahas suatu hal yang berbau percintaan, walaupun sebenarnya Salma sedikit aneh ketika membahas hal tersebut. Tidak lama kemudian, semua penonton mulai bersorak dan membuat Salma sedikit keheranan ada apa sebenarnya.
"Itu tandanya kedua tim akan memasuki pertandingan kak?" Gadis itu membantu sedikit keheranan Salma rasakan.
"Oh jadi seperti itu ya, aku baru kali ini pergi menonton pertandingan sepakbola" jawab Salma dengan polos.
Kedua tim pun mulai terlihat memasuki lapangan. Tim Pengambangan Cananga Youth dengan seragam merah garis putihnya, sedangkan tim tamu Buceros menggunakan seragam tandangnya yang berwarna hitam dengan ada sedikit sentuhan warna kuning di bagian lengan dan kerah baju.
Semua penonton bersorak-sorai menyemangati kedua tim yang akan bertanding. Lalu para pemain pun disuruh untuk berdiri menghadap ke arah penonton dan sedikit melambaikan tangan kepada mereka semua.
Pada saat itulah sebuah kebenaran terbuka. Saat para pemain melambaikan tangan menyapa para penonton, Salma melihat ada sosok Rizaldi di lapangan dan ikut memberikan salam kepada para penonton.
Saat itu Salma langsung berteriak kencang, mengucapkan nama Rizaldi. Berusaha agar didengar olehnya dan Rizaldi bisa tau dimana keberadaan sosoknya. Lalu gadis yang bersama Salma tadi juga mengucapkan sesuatu saat ada kehadiran Rizaldi di sana.
"Izal?" ucap gadis itu setengah sinis saat Salma memanggil Rizaldi dengan nama panggilan yang cukup akrab.
"Abang Rizal?" Salma juga melakukan hal yang demikian.
Pada saat itulah Salma mengetahui kalau gadis yang sempat menanyai dirinya pernah makan kadal atau tidak itu adalah adiknya Rizaldi, yaitu Keisha. Sedangkan Keisha juga mengetahui, kalau perempuan yang ia anggap seperti bidadari surga itu adalah Salma. Sosok yang ia cari selama ini, sosok perempuan yang membuat kakaknya jadi bertindak sedikit aneh akhir-akhir ini.
*******
**Catatan Penulis:
Ayo ramein, biar saya lanjut part selanjutnya**.
__ADS_1