
Setelah meraih kemenangan di kandang Jeonbuk Hyundai Motors pada laga pembuka AFC Champions League musim ini, Rizaldi nampak tidak puas dengan hasil yang ia dapatkan di laga yang terjadi hari Minggu lalu itu. Sudah dua hari semenjak laga itu, klub juga mendapatkan jatah libur dua hari sebelum kembali berlaga di liga.
Berbeda dari teman-temannya yang sudah puas walaupun menang dengan skor tipis 1-0 saja, Rizaldi masih belum bisa menerima kemenangan tipis tersebut. Walaupun sebenarnya dia senang bisa membantu tim untuk meraih 3 poin penuh di kandang lawan, dan juga Rizaldi menjadi pencetak gol semata wayang di laga kala itu. Tetap saja, ada yang kurang di rasa oleh Rizaldi.
Hal itu terjadi karena Rizaldi merasa rugi. Ya, Rizaldi merasa rugi di pertandingan hari itu, dikarenakan dirinya sudah menggunakan kartu pemain yang bisa dibilang grade tinggi namun malah tidak bisa memberikan hasil yang super maksimal. Ekspektasi Rizaldi terlalu tinggi saat itu, dia mengira saat menggunakan kartu pemain grade tinggi itu dia bisa terbang jauh lebih tinggi lagi, tetapi dia salah. Ada satu hal yang Rizaldi lupakan ketika dia menggunakan kartu pemain grade tinggi itu, suatu hal yang pada hal selalu dirinya perhatikan semenjak memutuskan untuk terjun ke dalam dunia sepakbola.
Kerja sama tim. Itulah yang dilupakan oleh Rizaldi Fatah saat itu.
Memang betul, saat itu Pengambangan Cananga FC bermain seperti biasanya, mereka memainkan sepakbola modern yang lebih cenderung memainkan passing-passing pendek dari bawah untuk membangun serangan. Namun ada satu hal yang kurang dilakukan oleh para pemain Pengambangan Cananga FC kala itu, mereka bermain kurang lepas dan dibawah tekanan para pemain Jeonbuk Hyundai Motors. Para pemain Jeonbuk tidak mau membiarkan pemain Pengambangan Cananga untuk bermain lepas dan bebas, sehingga mereka mencoba menekan balik dan terbukti banyak sekali peluang yang mereka ciptakan. Untungnya masih ada Derry Yanuar berada di bawah mistar yang tampil menggila di pertandingan itu, lalu juga ada satu kesalahan fatal yang dilakukan oleh kiper Jeonbuk yang mengakibatkan gol satu-satunya di laga saat itu tercipta.
Itulah yang membuat Rizaldi kesal. Saat dia menggunakan kartu Kvaratskhelia, dia merasa bisa melakukan apa saja dan merasa berada di atas dari 21 pemain yang lainnya. Namun Rizaldi berpikir terlalu naif, dia lupa bahkan sekelas Cristiano Ronaldo saja tidak bisa menyelamatkan klub Manchester United seorang diri. Apalagi dirinya sendiri yang bukanlah siapa-siapa, apa yang dirinya bisa lakukan kalau tanpa bantuan sistem dengan segala kekuatan magisnya itu? Hanyalah manusia aneh yang menghabiskan waktunya di perpustakaan sambil mengutuk dirinya sendiri karena ketidakmampuan dirinya untuk bersosialisasi dengan anggota makhluk sosial yang lainnya.
Rizaldi menjawab semua soal mata pelajaran Sejarah yang ada di hadapannya saat ini dengan perasaan penuh membara, satu karena kesal dengan sikap naif nya, lalu karena Derry yang dipanggil ke timnas untuk melakukan pemusatan latihan sebelum bertanding di Piala AFF U-17 yang akan diadakan di Bangkok, Thailand.
Hari ini adalah hari UTS atau ulangan tengah semester. Rizaldi sudah melewati dua tes sebelumnya dan sekarang ada tes terakhir sebelum jam istirahat berbunyi. Rizaldi sudah menyelesaikan tesnya setelah tes berjalan lima belas menit, dia ingin segera mengumpulkan lembar jawabannya tersebut namun guru yang menjadi pengawas kali ini tidak membiarkan Rizaldi langsung keluar kelas duluan. Akhirnya Rizaldi menghabiskan waktunya dengan memainkan permainan sepakbola lewat media kertas kosong untuk mengisi kekosongan.
Salma yang kebetulan melihat Rizaldi tengah asik sendiri itu pun tidak bisa menahan rasa penasarannya, dia pun bertanya pada Rizaldi. "Kamu sedang apa Rizal? Kelihatannya asik sekali" ujar perempuan cantik itu.
__ADS_1
"Aku sedang bermain sepakbola lewat media kertas ini" ujar Rizaldi sambil menekan pulpen seolah-olah seperti sedang memberikan passing kepada rekan satu timnya di atas rumput yang hijau.
Salma menaikkan satu alis matanya, dirinya semakin penasaran dan langsung berjingkrak untuk melihat sebenarnya apa yang dilakukan oleh Rizaldi itu. Dan seperti apa yang dikatakan oleh Rizaldi tadi, dia memang sedang bermain sepakbola lewat kertas kosong dari bukunya.
Mengetahui hal itu Salma sedikit kecewa, tetapi dia juga senang karena hal itu. Tetapi apa yang dilakukan oleh Salma tadi mengundang perhatian guru pengawas tes kali ini, sampai Salma pun akhirnya ditegur karena ulahnya tadi. Salma pun meminta maaf dengan nada imut yang lalu diikuti oleh seluruh kelas dengan tawaan, itu adalah tawaan pertama di hari pertama tes yang cukup berat ini. Melihat kelas yang mengalir seperti itu membuat Salma sedikit terhibur.
Bel istirahat pun berbunyi, setelah mengumpulkan lembar jawabannya Rizaldi langsung keluar kelas untuk pergi ke kantin. Salma mengejar Rizaldi, dia bilang ingin pergi bersama ke kantin karena dia juga merasa lapar setelah berpikir keras di dalam tes tadi. Karena ini masih hari libur di klub, Rizaldi ingin makan bebas untuk hari ini sebelum makanannya kembali diatur oleh ahli gizi yang dimiliki oleh klub. Untuk itulah sebabnya Rizaldi tidak membawa bekal dari rumah seperti biasanya, dia ingin merubah cita rasa lidahnya untuk hari ini.
Setelah sampai di depan meja pemesanan, Rizaldi malah kebingungan mau memesan apa. Lama sekali dirinya berdiri disitu, untungnya penjaga kantin masih melayani siswa yang lain sehingga dirinya masih punya waktu untuk memilih pesanannya.
"Kamu pesan apa Rizal?" tanya Salma, yang semakin membuat Rizaldi sedikit kebingungan.
"Nasi goreng sama ayam katsu ya? Minumnya apa?" tanya Salma lagi.
"Es coklat!" jawab Rizaldi cepat.
Salma tersenyum setelah mendengar pesanan Rizaldi, dia maju ke konter dan langsung menyebutkan pesanan milik Rizaldi dan dirinya, selama beberapa saat menunggu sambil sedikit membicarakan hal yang biasa, akhirnya pesanan mereka pun siap dan mereka lalu mencari tempat untuk duduk sekarang.
__ADS_1
"Bagaimana kalau duduk disitu?" Salma menunjuk kursi yang kosong di dekat pintu keluar kantin.
"Aku ikut kau saja!" ucap Rizaldi lalu mereka pun duduk di tempat itu.
Karena mereka duduk berdua, mereka menjadi pusat perhatian anak-anak yang lain. Banyak yang mulai membicarakan mereka berdua, tetapi Rizaldi tidak pernah memikirkan hal itu bahkan terganggu sekalipun tidak pernah. Kali ini, pikirannya terbang jauh ke pertandingan kemarin melawan Jeonbuk Hyundai Motors yang masih membuatnya sedikit kesal.
Melihat Rizaldi yang tidak terganggu sama sekali, Salma pun mengikuti Rizaldi. Dia menghiraukan semua mata yang tertuju kepada dirinya dan Rizaldi itu, lalu dia bertanya soal apa yang membuat Rizaldi bersikap seolah tidak puas hari ini.
Rizaldi bingung mau menjawabnya seperti apa, tidak mungkin dia menjawab dengan lugu kalau dia kesal karena dia tidak menggunakan sistem sebagaimana mestinya di pertandingan melawan Jeonbuk Hyundai Motors. Tetapi, setelah berpikir ulang Rizaldi pun bisa menjawabnya dengan jawabannya yang sedikit benar dan sedikit salah.
"Menurut Salma bagaimana, jika ada orang yang mendapatkan sebuah keuntungan besar dari orang-orang yang lain tetapi dia tidak bisa menggunakannya dengan benar, apakah dia termasuk orang-orang yang tidak mensyukuri berkahnya itu?" tanya Rizaldi.
Pertanyaan Rizaldi bak seorang filsuf zaman dulu, Salma tidak yakin bisa menjawabnya dengan benar dan membuat Rizaldi puas dengan jawabannya, tetapi dia mencoba mengutarakan pandangannya tentang hal yang diucapkan oleh Rizaldi tadi.
"Menurutku dia bukannya kurang mensyukuri berkahnya, tetapi dia sedikit percaya diri sampai melupakan hal yang penting. Akhirnya dia menemui kenaifan dirinya sendiri dan membuatnya kesal dengan hal itu" Rizaldi meresapi ucapan Salma.
Memang benar apa yang diucapkan oleh Salma tadi, bahkan Salma seperti cenayang yang bisa tahu apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya walaupun sebenarnya Rizaldi tidak pernah menceritakan hal itu pada Salma. Rizaldi memang sedikit merasa tinggi ketika mendapatkan kartu pemain grade tinggi dan menggunakannya di pertandingan melawan Jeonbuk, dia pikir dia bisa membawa Pengambangan Cananga FC meraih hasil maksimal, tetapi dia melupakan satu hal penting yang akhirnya membuat dirinya merasa kurang puas walaupun Pengambangan Cananga bisa menang dan meraih 3 poin.
__ADS_1
Salma kembali mengatakan satu kalimat yang membuat Rizaldi kembali merasa bersemangat dan mulai melupakan kekesalannya. "Ada satu kata yang sering diucapkan oleh papa saat aku merasa kesal. Orang yang kesal itu biasanya akan menargetkan hal yang lebih tinggi lagi untuk menutupi rasa kesalnya, jadi intinya jika Rizaldi merasa kesal maka teruslah berjalan dan targetkan hal yang lebih tinggi lagi ya"
Rizaldi terperangah melihat senyuman Salma diakhir kalimatnya tadi, dia tidak sanggup melihat senyuman itu hingga akhirnya Rizaldi menutupi rasa malunya dengan berpura-pura tidak melihat hal itu dan terus makan nasi gorengnya yang sudah mulai dingin.