
Rizaldi masih sedikit merasa terkejut dengan apa yang terjadi. Mendengar suara sistem sebelumnya, dirinya tidak pernah terkejut seperti ini. Namun sekarang dia terkejut bukan karena suara sistem, melainkan dia terkejut gara-gara sistem menanyakan tentang keadaan dirinya.
Ini kali pertama Rizaldi mendengar sistem yang ia miliki berbicara dan menanyakan keadaan dirinya, biasa sistem hanya muncul saat Rizaldi mendapatkan misi dan menyelesaikan misi yang ia terima. Makanya Rizaldi sedikit terkejut dengan hal itu.
"Master, apa anda baik-baik saja?" sistem kembali menanyakan keadaan dirinya.
Rizaldi masih bingung harus berkata apa, dia mengecek keadaan sekitar terlebih dahulu karena dia tidak ingin dianggap orang gila yang berbicara dengan diri sendiri. Saat dirasa aman, barulah Rizaldi berkata. "Kau sistem yang sudah membantuku selama ini kan?"
"Ya itu benar, tidak ada sistem yang lain sehebat diriku ini Master" suara sistem sedikit meninggikan statusnya sendiri, sehingga Rizaldi hanya bisa tersenyum mendengar itu.
"Sebelumnya aku ingin berterimakasih pada mu sistem. Jika tidak ada kau, mungkin hidupku tidak akan seperti ini. Mungkin aku tidak bisa menjadi pemain bola seperti sekarang ini, ya walaupun masa jauh dari kata sukses tetapi aku sudah senang bisa berada di jalan ini" suara Rizaldi terdengar sedikit berat, dia sedang mengungkapkan rasa terima kasihnya dari hati yang paling dalam sehingga membuatnya sedikit emosional.
Memang benar adanya yang dikatakan oleh Rizaldi tadi. Jika saja saat waktu pulang sekolah dulu dia tidak terbentur tiang listrik dan mendapatkan sistem dari hal seperti itu, mungkin saja hidupnya tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Mungkin saja hidupnya akan kembali berakhir di perpustakaan yang berisi tumpukan-tumpukan buku yang sudah usang, berbau kapur barus karena sudah terlalu lama, dan berdebu. Mungkin saja Rizaldi tidak akan pernah berjumpa dengan Derry dan menjadi teman dekatnya, mungkin saja Rizaldi kembali ke kehidupan sekolahnya yang kelam dan menjauhi dari segala kegiatan sosial sama seperti yang sebelum-sebelumnya.
Karena itu Rizaldi merasa harus mengucapkan terima kasih dengan benar kepada sistem yang sudah membantunya selama ini, karena sistem itulah dia jadi memiliki banyak teman yang mengandalkan dirinya. Karena sistem, Rizaldi menjadi salah satu pemain di dalam tim yang dianggap sangat berharga, dan karena sistem pula dirinya bisa menjadi pesepakbola yang bisa dibilang cukup handal seperti sekarang ini.
Andai saja sistem itu memiliki perasaan sama seperti manusia, mungkin dia akan ikut merasakan emosional setelah mendengar ucapan terima kasih Rizaldi yang sangat murni dan tidak ia buat-buat itu. Ucapan Rizaldi bagaikan ucapan seorang pemain sepakbola yang dilanda cidera parah dan terpaksa harus pensiun dini karena cidera yang ia derita, sistem tahu akan hal itu maka pada akhirnya sistem mengambil inisiatif untuk menanyakan kondisi Rizaldi.
"Jangan menyerah Master!"
"Eeh?" Rizaldi kebingungan dengan apa yang dimaksudkan oleh sistem.
Sistem lalu mengatakan kebenarannya pada Rizaldi atau sang Master. "Saya tahu Master sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, saya tahu Master sedang bersedih dan terlihat seperti begitu sedih sampai-sampai ingin mengakhiri semuanya"
"Ingin menyerah dari apa? Kau sedang bercanda kan sistem" Rizaldi masih berpura-pura untuk menjadi kuat, namun Rizaldi bukanlah penipu ulung sehingga dia dengan mudah ditebak.
__ADS_1
"Jangan membohongi dirimu sendiri Master. Master selalu seperti itu namun Master itu penipu yang buruk sehingga mudah sekali untuk ditebak. Biarkan saya mencoba untuk melakukan scan di lutut Anda yang cidera"
Mendengar itu Rizaldi terdiam, tidak ada lagi argumen yang bisa ia lontarkan dan akhirnya Rizaldi melunak dan meluruskan kakinya agar sistem memeriksanya itu. Sistem melakukan dengan cepat, hanya perlu waktu beberapa detik saja proses scanning berhasil dan sistem sudah tahu apa yang terjadi pada Masternya itu.
"Master, kaki anda mengalami sedikit keretakan di bagian dalam dan pembengkakan. Cidera anda terlalu serius namun perlu waktu untuk recovery" Rizaldi sudah mendengar itu pula dari tim medis klub, sehingga dia tidak tahu harus bereaksi apa saat sistem mengucapkan hal yang sama.
Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Masternya, sistem langsung mematahkan asumsi dari sang Master. "Tetapi ada kabar lain yang ingin saya hendak sampaikan"
Rizaldi terperanjat, dia belum siap untuk mendengarkan kabar yang baru tentang cidera yang ia alami. Jadi dia merasa tidak ingin mendengar apapun soal cideranya, tetapi disisi lain dia juga ingin mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh sistem.
"Jadi apakah Master ingin mendengarkan kabar yang lain tentang cidera anda, atau tidak?" sistem kembali menggoda Rizaldi dan pada akhirnya Rizaldi pun goyah. Sistem kembali berkata. "Master ingin kabar buruk dulu atau kabar baik terlebih dahulu?"
Rizaldi menimbang-nimbang ingin mendengarkan kabar yang seperti apa lebih dulu, akhirnya dia yakin dengan keputusannya. "Aku ingin mendengar kabar yang buruk lebih dulu"
Lalu sistem menunjukkan sebuah menu baru yang ada didalam sistem, menu itu adalah fitur toko yang ada di dalam sistem. Rizaldi bisa membeli sesuatu di toko sistem dengan menggunakan poin.
"Master, anda memiliki 1000 poin. Itu adalah hadiah yang anda dapatkan dari misi-misi yang anda selesaikan selama ini"
Rizaldi lalu melihat-lihat apa saja yang dijual di toko sistem. Ada beberapa item yang pernah ia dapatkan dari menyelesaikan misi, seperti kartu sepakbola, energy booster dan attributes pack. Tetapi ada pula beberapa item yang belum pernah ia lihat dan ketahui sebelumnya. Seperti yang dilihat saat ini olehnya, itu adalah item untuk penyembuhan cidera dan Rizaldi begitu tertarik dengan itu, dia ingin sekali membelinya namun sayangnya poinnya kurang mencukupi untuk membeli item itu.
[Krim Penyembuh Cidera]
[Jika dioleskan ke bagian tubuh yang mengalami cidera, akan sembuh dalam hitungan hari!]
[Harga: 12.000 poin]
__ADS_1
Rizaldi sedikit sedih menyadari kalau dirinya masih belum bisa membeli item itu, masih jauh untuknya mengumpulkan poin sebanyak itu. Namun sistem langsung menghiburnya dengan menunjukkan sesuatu yang menarik.
"Master memang belum bisa membeli item itu, namun Master bisa mencoba yang ini" sistem menunjukkan suatu item pada Rizaldi, item yang hampir serupa dengan yang ia inginkan namun berbeda dalam khasiatnya.
[Krim Pereda Nyeri]
[Oleskan ke bagian tubuh yang terasa nyeri akibat terbentur atau cidera, maka rasa nyerinya akan reda seketika namun tidak bisa menyembuhkan dengan sempurna]
[Harga: 700 poin]
"Ini...dengan ini aku bisa bermain di final nanti!" ucap Rizaldi saat melihat item yang ditunjukkan oleh sistem tadi, dia kembali bersemangat setelah itu Rizaldi langsung membeli item itu tanpa pikir panjang.
Sistem kembali memperingatkan dirinya. "Master harus tetap ingat, krim itu hanya untuk meredakan nyeri di cidera Master saja dan tidak menyembuhkan cidera Master. Dan jika Master mendapatkan benturan keras lagi di bagian lutut Master, kemungkinan cidera master akan kembali parah"
"Ya aku tahu itu, tetapi aku harus berani mengambil resikonya atau aku akan terus terpuruk di sini tanpa bisa berbuat apa-apa" kata Rizaldi tanpa berkedip sekalipun, matanya terus memandangi krim yang sudah ada di tangannya saat ini.
Tanpa pikir panjang, Rizaldi langsung mengoleskan krim itu ke lututnya yang cidera. Rasanya begitu dingin, seperti sedang dikompres dengan es, selain itu ada perasaan nyaman pula setelah dioleskan krim itu.
Melihat keberanian diri Masternya itu, sistem pun terdiam dan tidak tahu lagi harus berkomentar apa tentang hal itu. Masternya sudah mempertaruhkan segalanya hanya untuk pertandingan final yang akan segera dia hadapi, padahal ada kemungkinan cideranya akan semakin parah namun Masternya tidak peduli dengan semua itu. Yang ia pedulikan adalah bagaimana caranya agar dirinya bisa berkontribusi untuk tim di pertandingan final nanti, dan ketika dirinya mendapatkan caranya maka dia akan mengambilnya apapun resikonya.
"Oh iya sistem apakah kau punya? Rasanya akan sangat aneh jika aku terus-terusan memanggilmu sistem" ucapan Rizaldi membuat sistem sedikit terkejut, karena dia tidak menyangka Masternya akan menanyakan hal tersebut.
Sistem pun menjawab. "Saya hanya tahu kalau nama seri saya adalah Borough-555"
Rizaldi tersenyum. "Jadi mulai sekarang aku akan memanggilmu Boro!"
__ADS_1