
Pengambangan Cananga Youth kini mulai bersiap menghadapi laga terakhir mereka, laga yang akan menentukan nasib mereka apakah mereka bisa masuk ke fase gugur atau langkah mereka terhenti disini.
Di empat pertandingan sebelumnya, mereka berhasil menyapu bersih semuanya dengan kemenangan yang telak. Mereka berhasil mendapatkan 12 poin keseluruhan dan tinggal laga terakhir ini saja yang akan menjadi penentu nasib mereka semua.
Pengambangan Cananga masih berada di posisi 3 dengan 32 poin, dibawah Buceros yang memiliki 35 poin. Jika mereka berhasil menang melawan Buceros pada hari Minggu nanti, poin mereka akan sama namun Pengambangan Cananga lebih diunggulkan dengan jumlah gol yang lebih banyak. Hanya selisih 3 gol saja!
Ada anomali yang mereka rasakan dari Buceros, mereka merasa Buceros tidak seperti Buceros di musim lalu. Buceros musim lalu tampil lebih mendominasi, tetapi sekarang rasanya Buceros telah kehilangan culanya dan terluka begitu parah.
Mereka baru mengumpulkan 35 poin saja dari setengah musim ini, tentu saja itu bukanlah hal yang bagus. Tidak ada yang berubah dari Buceros, semuanya tetap seperti musim lalu. Mulai dari staf kepelatihan, para pemain dan hal lainnya tetap sama seperti musim lalu. Namun mereka terlihat lebih menyedihkan di musim ini.
Coach Satria juga memikirkan hal itu, di larut malam seperti ini beliau mencoba mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan para badak itu. Badak Besi adalah gelar dari klub Buceros.
Coach Satria menyelediki lebih lanjut, dia melihat beberapa statistik permainan dari Buceros di pertandingan-pertandingan sebelumnya, awalnya dia tidak menyadarinya namun setelah dipikir beberapa kali olehnya, terlihat oleh Coach Satria pola yang serupa di beberapa match Buceros.
"Para bedebah itu!" Coach Satria tiba-tiba memukul meja kerjanya dengan cukup keras sampai menimbulkan bunyi yang cukup nyaring, dia begitu kesal setelah mengetahui apa yang dilakukan oleh pemain Buceros.
"Mereka tidak niat bermain sepakbola. Mereka hanya ingin menghancurkan karir lawan mereka sekaligus meremehkan mereka semua, apa-apaan itu!" Masih kesal Coach Satria dengan apa yang ia temukan, dia lalu menarik rokok favoritnya dari kantong baju dan mulai menikmati setiap isapan rokok itu.
Itu adalah kebiasaan dari Coach Satria yang sulit ia atasi ataupun dia perbaiki. Ketika dia merasa kesal ataupun kepalanya lagi banyak hal-hal kelabu, dia selalu merokok untuk menghilangkan sedikit beban masalah itu, begitu menurutnya.
"Aku akan berikan pelajaran pada badak-badak itu! Lihat saja nanti" Ucap Coach Satria, lalu dia mulai memikirkan taktik dan strategi yang bisa ia gunakan untuk melawan Buceros FC di hari Minggu nanti.
__ADS_1
Dari luar, kantor masih terlihat cukup terang. Coach Giovanni pun penasaran dengan siapa yang ada di dalam kantor hingga larut malam seperti ini, beliau pun mencoba untuk masuk ke dalam dan melihat apakah ada seseorang di sana.
Coach Giovanni membuka pintu itu, matanya langsung tertuju ke arah Coach Satria yang masih berkutat dengan pena dan kertas. Wajah Coach Satria terlihat begitu serius seperti tidak akan bisa diganggu hingga dirinya berhenti bermeditasi.
Tetapi, Coach Giovanni bukanlah orang yang memiliki kesabaran untuk itu. Beliau langsung mendatangi meja kerja Coach Satria. "Lagi memikirkan apa sampai larut malam seperti ini?" ujar beliau.
Coach Satria menengok ke sampingnya, dia melihat wajah Coach Giovanni yang terlihat seperti Cassanova itu. Dengan agak malas dia menjawab. "Tidak ada coach, saya hanya melakukan suatu hal yang tidak penting" ujarnya.
Tentu saja jawaban dari Coach Satria itu membuat heran Coach Giovanni, dia sedikit kebingungan dengan apa yang terjadi dan apa yang sedang dipikirkan oleh Coach Satria. Tetapi Coach Giovanni bukanlah orang yang selalu bertanya, dia mencari tahu sendiri apa yang membuat Coach Satria gundah seperti itu.
Coach Giovanni mengamati apa yang dilakukan oleh Coach Satria. Di mejanya ada pena dan kertas yang berisikan coretan strategi dan taktik, lalu di atas mejanya juga ada laptop milik Coach Satria yang berisi statistik pemain dan klub. Dari semua yang ia lihat, Coach Giovanni sudah tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Coach Satria.
Coach Giovanni mengangguk pelan. "Sepertinya begitu, lalu apa yang menjadikanmu berpikir cukup berat seperti ini. Yang aku tahu kau bukan orang yang terlalu suka berpikir berat"
"Saya tidak bisa menemukan solusi untuk pertandingan hari Minggu nanti, apapun yang saya pikirkan terasa sudah diantisipasi oleh pelatih tim lawan" Coach Satria menjelaskan situasi yang ia alami pada Coach Giovanni.
Tambah heran lah Coach Giovanni, dia kebingungan dengan siapa yang bisa melakukan hal seperti yang dijelaskan oleh Coach Satria tadi. "Siapa musuh kalian di minggu nanti?"
"Buceros, Coach" jawab Coach Satria singkat.
"Lalu lantas, apa masalahnya?"
__ADS_1
Coach Satria pun menunjukkan statistik tim Buceros kepada Coach Giovanni. Coach Giovanni melihat semua statistik itu dengan sangat teliti, tidak sampai satu menit beliau menemukan kejanggalan dalam statistik itu dan wajahnya pun berubah, sama seperti yang dialami oleh Coach Satria pada saat dia memeriksa statistik itu.
"Sepertinya mereka sangat menganggap kita hanyalah pinggiran roti saja ya" Coach Giovanni saat ini menunjukkan wajah kesalnya, yang semakin membuat suasana di dalam ruangan yang agak gelap itu semakin suram.
"Itulah yang membuat saya pusing kepala. Saya yakin, di hari Minggu nanti mereka akan bermain serius melihat dari pola mereka sekarang ini"
"Kau benar Coach!" Coach Giovanni terdiam sejenak, beliau ikut memikirkan sedikit taktik untuk membantu tim Youth bisa masuk ke fase gugur dan mengalahkan Buceros FC.
Lalu Coach Giovanni seperti mendapatkan ilham yang luar biasa, ia mendapatkan sebuah strategi yang cukup bagus dan dia pikir bisa bekerja pada saat pertandingan nanti. Sebelum itu beliau bertanya bagaimana perkembangan sosok pemain yang akan menjadi faktor kunci dari keberhasilan taktik ini.
"Ward Prowse?" Coach Satria kebingungan, dia yakin sekali tidak ada yang namanya Ward Prowse di skuadnya. Tetapi dia baru ingat kalau Ward Prowse itu adalah sebutan Coach Giovanni untuk Rizaldi Fatah. "Ah! Rizaldi Fatah. Dalam empat laga terakhir, saya cukup puas dengan apa yang ia lakukan. Dia berhasil mencatatkan 3 gol dan 6 assist semenjak debutnya. Cara bermainnya di lapangan tengah pun menurut saya cukup bagus, tetapi saya lebih sering memainkannya dari bangku cadangan" jelas Coach Satria.
"Mainkan dia sebagai starter di pertandingan hari Minggu. Mainkan dia di posisi Classic Number 10!" ucap Coach Giovanni dengan penuh keyakinan.
Berbanding terbalik dengan Coach Giovanni yang terlihat sangat yakin, Coach Satria malah tidak yakin dengan pilihan Coach Giovanni itu. Namun Coach Satria adalah pelatih yang sangat mengagumi taktik dan pemikiran Coach Giovanni, sehingga dia ingin langsung menerapkan masakan dari Coach Giovanni tadi
Tetapi dia juga ingat realita. Gaya permainan yang dimaksudkan oleh Coach Giovanni tadi adalah gaya permainan kuno yang usang, sungguh berbeda dengan gaya permainan sepak bola modern yang selalu mengandalkan kecepatan dan ketahanan. Coach Satria sedikit khawatir dengan pilihan itu.
Coach Giovanni memahami apa yang dikhawatirkan oleh Coach Satria, dia menepuk pundak Coach Satria beberapa kali untuk menenangkan dirinya. "Tenang saja Coach, kau akan semakin terkejut melihat kemampuan anak itu, anak yang ku sebut Ward Prowse itu.
Coach Satria masih kebingungan, namun dia tidak punya pilihan lain selain mencoba saran dari Coach Giovanni. Coach Satria pun kini mulai menulis dan menggambar taktik yang akan dia gunakan dan untuk persiapan latihan besok pagi, beliau sudah asik dengan dunia beliau sendiri dan karena itu Coach Giovanni pun meninggalkannya untuk segera pulang kerumahnya.
__ADS_1