
Setelah sedikit berbincang-bincang setelah bertemu dengan kepala sekolah, Coach Giovanni pun undur diri dan pergi karena masih ada beberapa hal yang harus dirinya lakukan setelah ini. Rencananya dia akan mampir ke rumah Rizaldi untuk menemaninya membicarakan soal pergi ke Jakarta untuk beberapa pekan dengan ibunya Rizaldi, namun Rizaldi menolak bantuan Coach Giovanni dan ingin membicarakan hal itu pada ibunya seorang diri saja secara tatap muka.
Coach Giovanni adalah lelaki yang sederhana. Jadi, ketika ada seseorang yang ingin dia bantu namun orang itu malah menolaknya, Coach Giovanni tidak akan membicarakannya lagi dan membiarkan orang tersebut memecahkan masalahnya sendiri. Jadi, pada akhirnya beliau pun menyalakan rokoknya sebelum pergi dari sekolah Rizaldi.
Walaupun sudah ada peringatan 'Dilarang Merokok!' dengan font besar dan berwarna merah seperti darah segar itu, tetap saja Coach Giovanni menyalakan rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam menikmati setiap tetesan nikotinnya tanpa peduli dengan larangan itu.
Dery dan Rizaldi hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah pelatih kepala tim mereka itu. Lalu Dery hendak mengajak Rizaldi kembali ke kelas karena mereka sudah keluar dari kelas cukup lama, namun dia melihat ekspresi wajah Rizaldi yang sekarang terlihat komplikasi itu.
Ekspresinya begitu sulit untuk digambarkan, ada perasaan sedih, gembira, khawatir dan takut dalam satu frame. Dery tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh teman baiknya itu, namun sepertinya dia sedikit mengerti tentang apa yang menganggu temannya itu.
"Kalau kau cerita aku siap mendengarkan semua kisah mu sobat" Dery menepuk pundak Rizaldi dengan penuh arti, senyumannya juga hangat seperti senyuman teller bank kepada para nasabah mereka. "Kalau begitu aku duluan ke kelas ya!" ucap Dery yang memberikan sedikit ruang pada Rizaldi untuknya.
"Ya ya nanti aku menyusul Dery" Jawab Rizaldi dengan senyuman di wajahnya, lalu ketika Dery sudah mulai menjauh darinya, wajah Rizaldi kembali berekspresi seperti semula. Begitu suram dan gelap.
Rizaldi berjalan menuju ke lantai atas, masih dengan pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya memberitahukan masalah yang dirinya hadapi pada ibunya dan juga adiknya. Sebelumnya, Rizaldi belum pernah pergi terlalu jauh dari rumahnya seperti ini, itu juga alasannya memilih sekolah yang paling dekat dengan rumahnya karena Ibu nya selalu khawatir dengan dirinya secara berlebihan.
Sewaktu SMP saja Rizaldi sempat ditegur oleh ibunya karena memilih sekolah yang cukup jauh dari rumah, namun juga itu bukanlah salah Rizaldi. Nilainya yang sedikit kurang membuatnya tidak bisa masuk ke sekolah yang ia inginkan saat itu, sehingga dia harus memilih sekolah yang lain karenanya.
__ADS_1
Masalah kerja sampingan Rizaldi dulu itu pun ibunya sempat tidak setuju, namun Rizaldi tetap saja bekerja untuk membantu perekonomian keluarga dan ketika tahu Rizaldi bekerja di tokonya Melani yang teman sepermainannya dulu, ibunya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain membiarkan Rizaldi pergi bekerja.
Dan sekarang Rizaldi harus meminta restu ibunya sekali lagi untuk pergi ke luar kota untuk sebentar saja, mungkin apa yang ia pikirkan begitu berat saat ini akan sangat mudah jika dirinya berterus terang pada ibunya.
Untuk menjernihkan kepalanya yang sedang dilanda badai saipan yang sedang berkecamuk, Rizaldi berniat pergi ke atap sekolah dan sedikit bersantai di sana, menikmati sejuknya angin dan orkestra para burung-burung yang bertengger rapi berjejer di antara tali-tali kabel listrik yang memanjang. Begitulah yang dia bayangkan awalnya.
Namun saat dirinya sudah di atas atap sekolah, dia mendapati ada sesosok perempuan dengan rambut panjang yang ia kuncir kuda sehingga memperlihatkan indahnya lekukan leher yang putih itu.
Dari arah belakang, Rizaldi sudah bisa mengenali sosok perempuan itu. Sebelum perempuan itu berbalik badan ke arahnya, Rizaldi sudah menebak siapa sosok perempuan itu, bahkan dia berani taruhan satu juta rupiah saat itu juga jika tebakannya salah.
Lalu sosok perempuan itu berbalik badan karena terkejut mendengar suara pintu yang terbuka, dia kira bapak atau ibu guru yang datang dan dirinya sudah setengah panik. Namun ternyata, sosok yang datang membuatnya lebih terkejut lagi dari kedatangan dewan guru.
Rizaldi sedikit bingung. "Kamu yang ngapain di sini? Kenapa kamu gak masuk ke kelas?" Rizaldi lalu menyadari sesuatu. "Oh, kamu bolos ya Melani?" ya, sosok perempuan itu tadi adalah si Melani, tempat sepermainan Rizaldi sedari kecil.
Ini adalah pertemuan mereka berdua setelah sekian lama tidak bertemu, walaupun mereka bersekolah di sekolah yang sama. Mereka berdua berbeda kelas, tidak seperti saat masih SD hingga SMP yang sering satu kelas, makanya mereka berdua jarang sekali bertemu apalagi ketika Rizaldi sudah mulai aktif bermain sepakbola di Pengambangan Cananga.
Melani juga menyibukkan dirinya dengan mengikuti berbagai macam kegiatan yang ada di sekolah. Sudah banyak sekali klub yang dirinya ikuti, mulai dari klub seni lukis, klub drama, klub seni rupa, sampai dia sempat ikut kegiatan OSIS. Namun sekarang, Melani lebih sering hadir di sasana Wushu yang ada di sekolah juga.
__ADS_1
"Enak aja kamu menuduh aku bolos, kamu yang bolos!" Melani membalas tuduhan tanpa dasar Rizaldi.
Rizaldi mengelak. "Aku tidak bolos kok, aku cuma melewatkan beberapa pelajaran saja" Rizaldi mengelak dengan wajah yang sangat tidak berdosa.
"Sama saja!" Melani kesal dengan Rizaldi, namun setelah itu dia tertawa sebab dia sudah lama tidak mendengar lawakan garing dari Rizaldi itu.
Rizaldi juga ikut tertawa, lalu dia duduk di sebelah Melani yang sedang asik menikmati indahnya kota Banjarmasin dari atas sana. Rizaldi ikut menyaksikan pemandangan itu, dia terlarut dalam pandangan soal hiruk-pikuk Kota yang merupakan salah satu kota besar yang ada di Indonesia. Rizaldi seakan bisa melihat semuanya dari atas ini, siapa yang telah membeli buah semangka dari kios di ujung jalan sana, atau lampu merah di depan sana yang saat ini tengah padat dengan sepeda motor dan mobil orang-orang yang memiliki setiap kepentingan di benak mereka.
Sedangkan Melani sedang larut dalam pandangannya pada Rizaldi, matanya yang berwarna kuning topaz itu sedang memperhatikan setiap gerak-gerik kecil Rizaldi. Sudah lama dia tidak melihat sosok teman baiknya itu, atau mungkin bukan lagi di tingkatan pertemanan.
Ada perasaan marah yang muncul tiba-tiba di dalam hati Melani, dia juga tidak mengerti dia sedang marah pada siapa, apakah pada dirinya sendiri atau pada sosok Rizaldi yang menurutnya sudah begitu jauh untuk ia kejar. Keheningan itu berlangsung lama, tidak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka berdua. Untuk Melani sendiri sedikit kebingungan harus memulai darimana, karena dia sudah cukup lama tidak bertemu dengannya.
Melani memutar otaknya, mencari bahan yang bisa membuka obrolan mereka. Dia memperhatikan sekitarnya, dan melihat ada yang sedikit berbeda dengan sosok laki-laki itu. Rambutnya. Melani baru menyadari kalau rambutnya Rizaldi sudah berubah dari terakhir kali mereka bertemu.
Namun belum sempat membuka mulut untuk memulai obrolan, Rizaldi sudah mendahuluinya. "Aku akan pergi ke Jakarta untuk beberapa waktu, tim ku berhasil lolos ke fase gugur"
"Selamat! Kamu hebat sekali ya Rizal" jawab Melani dengan senyuman di wajahnya, namun senyumannya seperti terlihat mati.
__ADS_1
Melani ikut senang mendengar berita itu, namun disisi lain dia juga merasa sedih karena Rizaldi yang teman sepermainannya sewaktu kecil, teman yang selalu ia lindungi dari dulu itu kini semakin berubah dan lebih bisa diandalkan, semakin jauh jarak perbedaan mereka saat ini.
Jadi, Melani hanya bisa tersenyum pahit di dalam hatinya, sambil mengumumkan sesuatu yang sulit didengar oleh orang lain, bahkan semut pun kesulitan mendengarnya. "Walaupun kau pergi sebentar, pasti aku akan terus merindukanmu" ucapnya dengan lirih.