
Rombongan tim Pengambangan Cananga FC tiba di Spanyol sekitar jam 10 malam waktu Spanyol. Setelah melewati perjalanan yang panjang, bahkan mereka sempat melakukan transit di Bandara Schiphol di Amsterdam Belanda, barulah mereka bisa melanjutkan perjalanan ke Spanyol dari sana.
Perjalanan kali ini sangat tidak menyenangkan bagi Rizaldi. Dia masih belum terbiasa dengan naik pesawat terbang, rasa gelisah sehabis naik pesawat masih bisa ia rasakan hingga sekarang. Belum lagi Rizaldi merasakan begitu kelelahan, karena jetlag yang ia rasakan.
Tidak hanya dirinya yang merasakan kelelahan, hampir setiap pemain Pengambangan Cananga FC juga merasakan hal yang sama, apalagi Anan Riswan yang bahkan merasa mual-mual semenjak di dalam pesawat.
"Aku masih selamat kan?" ucapnya setelah sampai di Bandara Sevilla. Kakinya bergetar hebat, dia berjalan sangat cepat karena kakinya terasa ringan bagai berjalan di atas awan, itu adalah gejala dari mabuk pesawat.
"Coach Satria juga ikut?" Rizaldi yang kelelahan tidak menyadari kalau sedari tadi Coach Satria berada di dekatnya, bahkan saat di dalam pesawat tadi dia duduk bersebelahan dengan Coach Satria.
"Tim ku liburkan, aku jelas tidak ingin meninggalkan kesempatan pergi ke Spanyol kan?" ucap Coach Satria dengan santai, lalu Coach Satria buru-buru berjalan menjemput bis yang akan mengantarkan mereka ke tempat reservasi.
Karena sudah terlalu lelah, mereka semua langsung saja menuju ke depan bandara. Di sana sudah ada bis yang akan mengantarkan mereka ke tempat penginapan yang sudah di reservasi sebelumnya oleh pihak manajemen klub.
Rizaldi dan Anan duduk di barisan terdepan, namun Rizaldi duduk di dekat kaca jendela bis. Dia ingin melihat pemandangan indah kota Sevilla di malam hari, itulah rencana pada awalnya sebelum akhirnya disepanjang perjalanan Rizaldi hanya tertidur saja sampai mereka ke tempat reservasi. Bahkan Rizaldi harus dibangunkan oleh Coach Giovanni karena sudah terlalu lelah, Rizaldi menaiki tangga berundak hotel reservasi mereka dengan lunglai.
"Selamat datang di Hotel Vertice Sevilla" penerima tamu menyambut kedatangan rombongan tim Pengambangan Cananga FC dengan penuh ramah, sesuai standar pelayanan mereka.
__ADS_1
Mereka tersenyum menampilkan gigi-gigi mereka yang putih dan terawat rapi itu, rambut pirang mereka dibiarkan tergerai sehingga mereka terlihat menarik di mata para pengunjung. Riasan yang dikenakan juga tidak terlalu mencolok sehingga menyakiti mata. "Silakan tanda tangan di sini" penerima tamu itu menyodorkan sebuah buku panjang yang bersampul hitam.
Coach Giovanni pun menandatangani di tempat yang sudah ditunjukkan oleh si penerima tamu itu tadi, setelah menandatangani mereka pun kini diberikan kunci kamar mereka masing-masing. Setiap kamar berisikan 5-6 orang, sehingga hanya diperlukan 6 kamar saja untuk mereka semua.
Rizaldi sekamar dengan Anan dan dua pemain senior yang lainnya. Rizaldi sudah tidak peduli akan hal itu, yang ia pedulikan saat ini adalah dirinya ingin cepat-cepat membenamkan diri ke kasur yang empuk-empuk itu.
Rizaldi dan Anan mengikuti salah satu senior mereka yang diberikan tanggung jawab untuk memegang kunci. Nama senior mereka itu adalah Munip Arif, pemain yang sudah cukup senior membela Pengambangan Cananga FC.
"Kamar nomor 128, ini dia" ucap Munip, lalu dia langsung membuka pintu kamar itu.
Terlihat sebuah kasur yang sangat luas, itu Double Bed yang jadi dua. Rizaldi langsung melompat ke pulau kenikmatan itu, punggungnya terasa dibetulkan oleh kasur tersebut dan perlahan-lahan dirinya terlelap ke dalam mimpi di pulau kapuk. Melihat nikmat yang dirasakan oleh Rizaldi membuat Anan mengikuti apa yang dilakukan oleh Rizaldi.
Rizaldi mengangguk pelan sambil memejamkan matanya, Anan pun juga demikian. Mereka berdua pun kembali memejamkan mata mereka dan kali ini mereka semakin dalam menutup mata, sampai mereka tidak mendengar lagi suara-suara yang menganggu.
Keesokan harinya setelah mereka sarapan. Mereka langsung menuju ke stadion sepakbola yang ada di Sevilla.
Rizaldi bangun pagi sekali, kira-kira pukul 5 subuh dia sudah membelalakkan matanya dan tidak dapat tidur lagi hingga semua pemain mulai beraktivitas dan sarapan. Dirinya tidak terbiasa dengan makanan di Spanyol, dia hanya memakan dada ayam dan beberapa potongan roti yang dibakar dengan saus madu dicampur beri-berian.
__ADS_1
Rizaldi mencari nasi di Spanyol, memang sebenarnya ada namun bukanlah jenis beras yang sama dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Umumnya nasi di Spanyol kebanyakan dibuat Risotto, tidak dibuat untuk menjadi makanan pokok seperti di Indonesia atau negara di Asia pada umumnya.
Sampai di stadion sepakbola yang tidak terlalu besar, mereka langsung memulai program latihan mereka di Spanyol kali ini. Latihannya tidak jauh berbeda dengan latihan mereka sehari-hari, hanya suasananya saja yang sedikit berubah. Karena sekarang musim panas di Spanyol, dan Sevilla terkenal dengan kota yang terpanas di Spanyol apalagi saat musim panasnya, pemain Pengambangan Cananga FC pun merasa terlalu cepat lelah. Akan tetapi, panasnya di sini masih kalah jauh dibandingkan panas di Indonesia yang dilewati oleh garis Khatulistiwa, terlebih lagi Sevilla adalah kota yang bermuara di sungai terpanjang nomor dua di Spanyol yaitu Sungai Guadalquivir, memberikan sedikit rasa sejuk khas tepian sungai.
Coach Giovanni dan Coach Satria mengawasi setiap hal yang dilakukan oleh pemain Pengambangan Cananga FC, hal ini juga untuk menentukan skuad Pengambangan Cananga FC yang akan dia daftarkan untuk mengarungi musim baru di I-LEAGUE nanti.
"Kapan teman anda akan datang coach?" Coach Satria menanyakan hal yang baru saja di sampaikan oleh Coach Giovanni padanya, soal teman lamanya yang ingin datang kesini.
"Mungkin beberapa saat lagi" ucap Coach Giovanni dengan yakin sambil melihat arlojinya yang mengkilat terkena silau matahari.
Tidak lama setelah coach Giovanni berkata seperti itu, datang sesosok pria berusia sekitaran 40-50 tahunan dengan mengenakan pakaian formal. Rambutnya panjang seperti banyak pria Italia pada umumnya, punya jambang yang hampir serupa dengan Coach Giovanni, tidak bahkan wajahnya pun mirip seperti Coach Giovanni. Setidaknya begitulah kesan pertama Rizaldi saat melihat sosok yang datang dan bertegur sapa dengan Coach Giovanni yang sepertinya sudah dia kenal sejak lama.
"Bagaimana kabar mu sobat? Apa kau suka Spanyol?" ucapnya dengan sangat ceria, seceria siang hari di Sevilla kali ini.
"Tidak terlalu buruk tetapi aku masih merindukan Genova" Coach Giovanni menyahut, dengan bahasa Italia pula dia berbicara sehingga banyak pemain Pengambangan Cananga FC, termasuk Rizaldi yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh coach Giovanni.
Lalu Coach Giovanni memperkenalkan sosok pria yang begitu mirip dengan sosok dirinya itu kepada mereka semua. "Perkenalan semua, ini adalah teman lamaku. Aku dan dia pernah bermain satu klub di Genoa FC, salah satu klub yang bermain di Serie-A. Namanya adalah Alberto Gilardino!" ujar Coach Giovanni yang membuat semua pemain Pengambangan Cananga FC terkejut bukan main, bahkan mereka semua tidak bisa berkata-kata lagi.
__ADS_1
Rizaldi sudah menduganya, namun karena wajah Gilardino yang sangat mirip dengan Coach Giovanni itu membuatnya sempat berpikir kalau itu adalah saudara kembar coach Giovanni yang hilang ditelan bumi.