
Setelah menjelaskan menu latihan kepada anak didiknya, Coach Satria langsung memulai latihan mereka hari ini. Rizaldi juga sudah mengetahui perannya pada saat pertandingan nanti seperti apa, gambaran juga sudah ada di dalam kepalanya namun sepertinya hal yang ia bayangkan itu jauh lebih susah pada saat diterapkan.
Coach Satria mencoba formasi 4-4-2 dengan pola berlian, Martin diplot sebagai striker depan dan dibelakangnya ada Rizaldi yang mengisi peran sebagai Trequarista. Ini adalah taktik yang sudah usang dan kuno, namun Coach Satria ingin melakukan taruhan yang tinggi dengan strategi ini.
"Aku yakin, mereka akan memakai formasi 4-3-3 moderen, dengan kecenderungan mereka yang sering melakukan penguasaan bola yang tinggi" ujar Coach Satria yang mengawasi mereka semua dari jarak yang dekat.
Skenario penyerangan dengan menggunakan Trequarista sudah dilakukan beberapa kali, namun Rizaldi masih belum bisa mendapatkan momentum ataupun cara yang tepat melakukan skema itu. Dia yang sering menjadi playmaker ataupun gelandang tengah biasa, sedikit kesulitan meninggalkan kebiasaannya itu.
Martin juga sudah sedikit kewalahan menghadapi itu, akhirnya dia sedikit lepas kendali dan menilai kalau Rizaldi belum siap menjadi Trequarista. "Kau bermain seperti Toni Kross, Luka Modric atau Kevin de Bruyne. Harusnya kau bermain seperti Alesandro Del Piero atau Fransesco Totti"
Sambil mengelap keringat di wajahnya, Rizaldi menjawab. "Aku juga tahu itu. Tetapi susah sekali jika sudah terlalu terbiasa bermain seperti itu daripada memulai sesuatu yang baru"
Jawaban dari Rizaldi memang masuk akal, dia bukan pemain berbakat yang langsung bisa dalam sekali percobaan. Dalam kasus umum harusnya hal ini tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat apalagi dalam waktu satu hari saja seperti kasusnya Rizaldi.
Martin juga paham itu, kalau dia pun yang diminta melakukan hal seperti itu bisa-bisa dia menghabiskan waktu yang sangat lama. Trequarista bukanlah hal yang mudah untuk dipelajari, makanya hanya sedikit pemain saja yang benar-benar sukses menjadi seorang Trequarista.
Martin pun paham kesulitan yang dialami oleh Rizaldi. Rizaldi yang terbiasa bermain sebagai Playmaker saja benar-benar masih memiliki pola pikir seperti seorang Playmaker, dia terus memberikan umpan yang tepat ke Martin pada saat Martin mendapatkan posisi yang bagus atau ruang yang berhasil dibuka oleh Rizaldi.
Memang salah satu fungsi Trequarista adalah kurang lebih sama seperti Playmaker di era moderen, namun yang diinginkan oleh Coach Satria bukanlah seperti itu. Coach Satria ingin membuat Rizaldi membangkitkan killer instinct pada diri Rizaldi dengan membuatnya sebagai Trequarista.
"Cobalah sedikit serakah sekali saja, ketika kau berhasil membuka ruang cobalah untuk melakukan tembakan atau melakukan inisiasi menyerang, cukup hiraukan saja aku" Martin memberikan sedikit saran untuk Rizaldi.
Rizaldi sedikit terkejut mendengar saran itu, dirinya hanya tidak menyangka Martin bisa memberikan saran seperti itu. Wajah Rizaldi tentu saja terlihat terharu.
"Sudahlah lakukan saja apa yang ku suruh tadi!" Martin jadi kesal setelah melihat wajah itu.
Mereka lalu melakukan kembali simulasi skema serangan. Dimulai dari bola yang diberikan oleh Fauzi ke pada Rizaldi. Bola sampai ke kaki Rizaldi, pemain belakang sudah mulai mencoba menutup ruang pergerakan dan ruang yang bisa dimanfaatkan oleh Rizaldi.
Rizaldi tetap tenang, dia masih menguasai bola di bawah kakinya dan masih menguasai pikirannya. Dia sedikit melakukan scanning yang merupakan salah satu kebiasaannya di lapangan, dia melihat Martin yang berada di posisi paling menguntungkan saat ini. Namun pada saat Rizaldi melakukan ancang-ancang untuk memberikan umpan ke Martin, Martin langsung melakukan kontak mata kepadanya. Rizaldi lalu teringat kalau dia harus melakukan hal ini seorang diri atau tidak dia tidak akan bisa menjadi seorang Trequarista yang dibutuhkan tim pada hari Minggu nanti.
Jadi pada akhirnya, Rizaldi melakukan spin untuk mengelabui pemain belakang yang menghadang dirinya itu. Rizaldi berhasil lolos dari hadangan dua pemain belakang itu, kedua pemain belakang itu tentu saja tidak mau hanya berdiam diri setelah dilewati Rizaldi. Mereka terus mengejar Rizaldi yang menggiring bola ke sisi samping kotak penalti, namun sayangnya sprint mereka kalah telak dari Rizaldi. Rizaldi yang sekarang berhadapan satu lawan satu dengan penjaga gawang, siapa lagi selain Dery.
__ADS_1
"Maju Rizaldi! Berikan semua kemampuan terbaikmu padaku" Dery menantang Rizaldi untuk berduel dan tentu saja tidak ada pilihan lain selain menerima tantangan itu.
Rizaldi tersenyum, lalu dia melakukan tembakan ke sisi jauh gawang. Dery bisa membaca arah bola itu, dia langsung menghempaskan tubuhnya ke arah bola dan melakukan penyelamatan gemilang dengan mendorong bola keluar lapangan. Penyelamatannya seperti penyelamatan seorang kiper kelas dunia, bahkan pemain lain yang melihat hal itu langsung berdecak kagum.
"Oh yeah!" Dery yang berhasil menggagalkan gol Rizaldi langsung melakukan selebrasi.
Sedangkan Rizaldi sedang memijit kepalanya yang sebenarnya tidak sakit, dia hanya sedikit frustasi setelah melihat peluang emas itu berhasil digagalkan oleh Dery. "Sudah kuduga aku masih tidak bisa melawan dirimu. Argh anda saja aku umpan saja tadi!" Rizaldi tampak sedikit menyesali apa yang sudah ia lakukan tadi, dia merasa bisa melakukan hal yang lebih baik dari itu.
Martin mendatanginya. "Itu tadi sudah bagus, tinggal kita lakukan beberapa simulasi lagi sebelum kau benar-benar bisa menguasainya. Soal urusan kau bisa memberikan umpan atau tidak padaku pada saat itu, tidak perlu dibahas lagi. Kadang kau harus bersifat lebih egois, walaupun terkesan buruk namun itu juga merupakan bagian dari sepakbola!"
Rizaldi dan Dery yang ada disitu langsung terdiam, mereka seperti melihat orang berbeda pada sosok diri Martin. Martin tidak peduli dengan pendapat Rizaldi dan Dery, yang dia pedulikan saat ini hanyalah bagaimana caranya untuk mengalahkan musuh yang ada dihadapannya. Perhatiannya teralihkan pada Buceros, dia ingin benar-benar memberikan pelajaran serius kepada klub yang suka meremehkan tim lain itu.
Peluit Coach Satria berbunyi, mereka semua memalingkan wajah ke arah di mana Coach Satria sedang berdiri. "Ayo mulai sekali lagi, yang tadi sudah bagus jadi pertahankan dan buat jadi lebih baik lagi"
"Yes Coach!" jawab mereka semua, lalu mereka kembali melakukan skema tadi hingga beberapa kali, sampai mereka sudah lebih paham dengan skema itu.
Sampai akhirnya sesi latihan pun telah usai, walaupun sudah berakhir namun Rizaldi tetap mencoba beberapa kali skema tersebut sampai dia benar-benar mengerti peran Trequarista. Martin, Derry, Fauzi, Axel dan beberapa pemain lainnya pun ikut membantu latihan ekstra Rizaldi. Mereka penasaran akan seperti apa jadinya jika Rizaldi benar-benar bisa mendalami peran Trequarista nantinya, sehingga mereka jadikan motivasi untuk berlatih ekstra.
Sampai Coach Satria pun turun tangan menangani mereka semua, Coach Satria langsung meniupkan peluit sekencang-kencangnya. Suara peluit itu bagai suara terompet peperangan, sampai membuat mereka langsung ketakutan.
Setelah berkemas, Rizaldi pun beranjak pulang ke rumahnya. Dia hanya berjalan kaki menuju rumahnya, padahal Dery sudah ingin memberikan dia tumpangan namun Rizaldi menolaknya. Rizaldi ingin sedikit menghirup udara malam hari, serta sedikit memikirkan peran Trequarista di jalan menuju ke rumah, makanya dia menolak ajakan Dery.
Sambil menuju ke rumah, Rizaldi terus memikirkan hal yang harus ia lakukan agar perannya sebagai Trequarista semakin bagus dan paten. Dia sadar kalau dia tidak bisa menguasainya dalam satu hari saja, bahkan pemain sekaliber Michel Platini ataupun Alesandro Del Piero juga pasti mengalami yang namanya proses.
Rizaldi memikirkan berbagai cara, mulai dari melakukan passing pendek sebelum menusuk ke dalam daerah musuh, atau melakukan gerakan individu seperti yang dilakukannya pada saat latihan tadi. Karena terlalu memikirkan hal itu, Rizaldi tidak sadar kalau dia sudah sampai di depan rumahnya dan dia malah membentur pintu rumahnya sendiri.
"Awww...awww" Rizaldi yang kesakitan mengelus-elus dahinya.
Pintu terbuka, yang membuka adalah Keisha yang menunjukkan wajah penuh kebingungan. Keisha kebingungan dengan sosok abangnya itu, kenapa dia sampai malah menghantam pintu rumah sendiri, itulah yang ada dipikirannya.
Rizaldi tidak menyapa Keisha yang ada di depan pintu, pikirannya terlalu fokus ke masalah Trequarista, jadi akhirnya dia hanya berlalu saja masuk ke dalam rumah, lalu ke kamarnya- melepas pakaiannya dan pergi mandi.
__ADS_1
Sampai di meja makan pada saat makan malam, dia masih saja memikirkan hal tersebut sampai melupakan makanan yang sudah tersaji di atas meja.
"Dek kenapa abang?" ibunya tentu khawatir dengan sosok anak pertamanya itu, tidak biasanya dirinya seperti itu sehingga membuat ibunya khawatir.
"Keisha tidak tahu ma. Dari tadi abang sudah begitu" Keisha berlagak seolah tidak peduli, padahal jauh di lubuk hatinya yang terdalam dia terus memikirkan apa yang terjadi pada abangnya itu.
Ibu Rizaldi merasa aneh, dia mencoba menggerakkan tangan tepat di depan wajah Rizaldi dan tetap saja tidak ada perubahan sama sekali, Rizaldi tetap seolah tidak ada di sana walaupun badannya di sana. Ibu Rizaldi kembali menatap ke arah Keisha dan Keisha hanya menggeleng.
"Bang! Bang Izal!" panggil ibunya sambil sedikit menepuk punggung tangan Rizaldi, dengan begitu akhirnya Rizaldi tersadar dari lamunannya.
Rizaldi terkejut bukan main, karena sebelumnya dia larut dalam lamunan. "Ada apa ma?"
"Kamu malah nanya lagi, itu makanan di makan, kalau nanti-nanti bisa dingin"
Karena disuruh oleh Ibunya, akhirnya Rizaldi pun makan, namun pikirannya masih saja ke masalah Trequarista sampai menjadi sedikit gila bayang kalau istilah orang Melayu. Melihat anaknya yang seperti itu, sang ibu pun sudah lepas tangan dan hanya menggelengkan kepalanya.
Lalu giliran Keisha yang mengganggu kakaknya. "Abang! Besok pertandingan terakhir Abang ya?" ucapnya.
Tanpa banyak menoleh Rizaldi menjawab. "Ya"
"Keisha boleh ikut gak bang? Mama juga katanya mau ikut menonton, ya kan ma?"
"Mama mau ikut?" Rizaldi langsung tersentak begitu mendengar ibunya ingin ikut menyaksikan pertandingan itu.
Namun wajah ibunya sedikit muram, sepertinya pada awalnya dia memang ingin menonton anaknya itu, namun ternyata besok dia harus masuk kerja dan lembur. Rizaldi sedikit kecewa, namun dia berpikir 'mau bagaimana lagi' dia pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada ibunya atas niat itu.
"Tenang saja Abang. Abang pasti tetap mama dukung walaupun mama tidak bisa datang langsung ke tempat pertandingan" ucap ibunya dengan senyuman manis di wajahnya.
Rizaldi pun ikut tersenyum, lalu dia melanjutkan makannya sambil terus memikirkan hal yang dari tadi sedikit menganggu. Percayalah, malam itu Rizaldi tidak bisa tidur sedikit lebih nyenyak.
...****************...
__ADS_1
**Catatan Penulis:
Ramein, kalo udah rame nanti lanjut part 51. Hahaha**.