
Beberapa minggu setelah pertandingan final Piala Super Indonesia, bertepatan pula hari ini dengan dimulainya semester baru di sekolah. Rizaldi pun kembali ke sekolah setelah lama pergi menimba ilmu, bukan ilmu pelajaran sekolah melainkan ilmu mengenai sepakbola.
Sebelum ujian akhir semester pertama, Rizaldi sudah izin sekolah untuk mengikuti putaran kedua I-Youth yang harus dilaksanakan di luar pulau dan pada akhirnya membuatnya harus belajar online dan mengikuti ujian dengan online pula. Beruntungnya dalam kesibukan itu Rizaldi masih sempat belajar untuk mempersiapkan diri, dan dengan bangga Rizaldi pun berhasil mendapatkan peringkat kedua di kelasnya. Suatu prestasi yang membanggakan diri sendiri dan untuk keluarganya juga.
Jangan tanya siapa juara satu di kelas Rizaldi, karena ini bukanlah cerita orang itu. Ini adalah tentang cerita Rizaldi Fatah yang perlahan-lahan menemukan jati dirinya di dalam dunia yang dia sukai, dunia sepakbola.
Ada yang berbeda dari teman-teman satu kelas Rizaldi Fatah saat dirinya datang ke kelas lagi, dia disambut seperti pahlawan bertopeng yang berhasil menyelamatkan kota dari serangan penjahat yang berbuat huru-hara di kota.
Rizaldi bahkan sempat bingung dengan apa yang terjadi, ia tidak menyangka dapat sambutan seperti itu namun teman-temannya tetap diam saja dan tidak membahas hal itu pada dirinya. Sampailah ketika sehabis upacara hari senin, Rizaldi Fatah pun tiba-tiba dipanggil ke depan barisan. Rizaldi takut dia melakukan kesalahan, dia bahkan sempat melakukan pemeriksaan ulang pada perlengkapan sekolahnya. Dasi, kaos kaki, topi, lambang hingga sepatu pun sudah lengkap dan tidak melanggar aturan sekolah, Rizaldi jadi tambah bingung mengapa dia dipanggil oleh pembina upacara ke depan barisan.
"Sudah maju saja sobat siapa tau dapat hadiah, kau kan juara kelas walaupun nomor 2 hehe" ujar Derry dengan senyuman aneh diwajahnya.
"Tetapi kenapa cuma aku saja? Kan ada yang juara 1 dan 3 juga?" kata Rizaldi, lalu setelahnya dia didorong oleh Derry yang sudah gerah melihat temannya itu tetap berdiri saja di situ.
Rizaldi pun maju, dia ditatap satu sekolah seolah-olah dirinya berbuat kesalahan yang fatal. Rizaldi tertunduk dan tidak berani menengadahkan kepalanya.
"Rizaldi Fatah!" ujar sang pembina upacara yang juga kepala sekolah di tempat Rizaldi Fatah bersekolah. "Kamu tahu kenapa kamu saya panggil ke depan sini?" tanya beliau lagi.
__ADS_1
Rizaldi terdiam tidak berani menjawab sama sekali, hatinya sudah terlalu takut untuk peduli dengan hal itu. Matahari pagi yang mulai terasa panas semakin membuat dirinya dibanjiri keringat, bukan keringat biasa melainkan keringat dingin. Rizaldi semakin takut saat kepala sekolah turun dari mimbarnya, dirinya sudah tamat pikir Rizaldi.
Dikira Rizaldi dia akan dihukum oleh kepala sekolahnya, yang ada dipikirannya mungkin banyaknya jumlah absen dirinya selama ini. Walaupun sebenarnya itu tidak terhitung absen karena Rizaldi punya surat resmi yang membuatnya mendapatkan dispensasi selama bertanding, namun tetap saja Rizaldi yang ketakutan berpikir ke arah sana.
Namun ternyata dugaan Rizaldi salah. Kepala sekolah malah mengajak Rizaldi bersalaman yang semakin membuat Rizaldi kebingungan dengan semua ini. Saat Rizaldi bersalaman dengan kepala sekolah, lagu pun diputar dan satu sekolah langsung berhamburan memberikan ucapan selamat kepada Rizaldi Fatah. Rizaldi masih bingung ada apa sebenarnya ini, lalu dia melirik ke salah satu spanduk yang diangkat oleh kakak kelasnya yang bertuliskan 'Sang Juara!' Rizaldi jadi mengerti ada apa sebenarnya ini.
"Selamat buat ananda Rizaldi Fatah yang berhasil membawa tim kebanggaan Pengambangan, tim kebanggaan Kalimantan Selatan menjadi juara di ajang kompetisi Piala Super Indonesia!" kata si kepala sekolah.
Rizaldi langsung diajak berfoto satu sekolah, bahkan guru-guru yang tua maupun yang muda pun ikut untuk berfoto-foto dengan Rizaldi Fatah yang mendadak menjadi artis dadakan dalam satu hari. Rizaldi tidak berkutik, dia hanya bisa tersenyum canggung dalam setiap foto yang ia lakukan. Bahkan saat beberapa teman-teman sekelasnya dan juga murid yang lain meminta tanda tangannya, Rizaldi hanya bisa pasrah saja.
Lalu Rizaldi pun kepikiran sebuah rencana yang licik, dia lalu menarik Derry yang duduk di dekat pohon untuk berteduh. Rizaldi tarik saja Derry tanpa bilang apa-apa padanya, lalu Rizaldi meminjam mic dan memulai rencananya.
"Tidakkkkk!" jawab mereka semua.
"Sobat apa yang kau rencanakan, aku mulai merasa tidak enak ini" ucap Derry yang mulai merasakan bahaya dari Rizaldi.
Rizaldi diam saja sambil tersenyum nyengir, semakin tidak nyaman lah perasaan Derry. Lalu sekali lagi Rizaldi melanjutkan pidatonya. "Derry terpilih menjadi kiper utama timnas kita, timnas Indonesia U-17 untuk berlaga di pentas piala AFF yang akan segera bergulir ini!" ujarnya.
__ADS_1
Penonton langsung riuh setelah mendengar itu, mereka langsung mengerumuni Derry dan melakukan hal yang sama dengan Rizaldi Fatah tadi, yaitu mengajaknya berswa-foto dan juga meminta tanda tangan Derry yang kemungkinan akan menjadi salah satu kiper terbaik di negara Republik Indonesia yang tercinta ini.
Setelah kerumunan mulai mengalihkan pandangan mereka ke Derry Yanuar yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga sangat tampan itu, Rizaldi langsung pergi menjauhi kerumunan dan tempat yang paling aman di sini adalah di belakang perpustakaan.
Rizaldi menarik nafasnya, sambil melihat-lihat keadaan. Dia benar-benar tidak bisa berdamai dengan kerumunan orang-orang itu, Rizaldi merasa seperti diapit oleh dua ombak besar dan itu membuat dirinya sesak nafas. Situasi mulai tenang, Rizaldi bisa menarik nafas lega, namun pundaknya ditepuk oleh seseorang yang membuatnya hampir berteriak karena terkejut.
"Hei apa kabar!" suara perempuan manis didengar oleh Rizaldi, membuat Rizaldi semakin membuatnya takut karena dia merasa sendirian di sini.
Rizaldi berbalik dan dia menemukan perempuan itu dibelakangnya, Rizaldi tambah terkejut dan ingin berteriak, buru-buru perempuan itu langsung menutup mulut Rizaldi agar suaranya tidak terdengar oleh orang-orang.
"Melani kenapa kau di sini?" Tanya Rizaldi, namun setelah beberapa saat dia tersenyum. "Kau bolos upacara ya?"
"Berisik! Kau juga kenapa kemari?" Tanya Melani, lalu Melani melihat keadaan sekitar yang banyak sekali anak-anak murid yang lain terlihat mencari seseorang. "Kau jadi buronan?"
"Ya begitulah. Kau apa kabar baik saja kah?"
"Ya seperti itulah, kapan-kapan mampir ke toko lah, bapak ku nyari kamu"
__ADS_1
Rizaldi tersenyum, dia mulai terpikirkan soal toko yang dimaksud oleh Melani, toko yang mungkin punya banyak kenangan bagi Rizaldi karena dari toko itulah mimpi besarnya yang dia kira tidak akan pernah tercapai bermula. "Kapan-kapan" jawab Rizaldi dengan senyuman di wajahnya, jelas Rizaldi juga merindukan tempat itu.
Melani juga tersenyum, harinya hari ini sungguh sangat acak karena bertemu teman lamanya itu. Mereka berdua membahas soal-soal keseharian mereka yang sudah terjadi masing-masing, Rizaldi bercerita penuh semangat pada Melani soal apa saja yang ia alami setengah tahun ini. Melani pun mendengarkannya dengan sangat tenang sambil tersenyum ke arah Rizaldi, mereka berdua bercerita sampai lonceng istirahat pertama berakhir dan tidak ada yang mengetahui tempat mereka selain mereka berdua saja yang tahu soal itu.