Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 41: Malam Jatuh


__ADS_3

Malam itu setelah Rizaldi pulang dari latihan, dia sedang makan malam bersama dengan keluarganya. Rizaldi menceritakan pada ibu dan adiknya tentang promosinya ke tim-A dan bagaimana dia melakukan latihan perdananya hari ini.


"Bagus dong kalau abang promosi ke tim-A, jadi cita-cita abang sudah setengah jalan berhasil" ucap sang ibu yang sambil mengambilkan nasi dari rice cooker untuk Rizaldi.


Sambil menyuap nasi Keisha adiknya Rizaldi ikut menyeletuk. "Apa bedanya dengan tim-B. Abang cuma buang-buang waktu bermain bola dan malah menyakiti diri abang sendiri. Keisha tidak mau melihat abang pulang kerumah dengan kaki yang pincang karena tekel orang bang" Keisha benar-benar tidak menyukai olahraga yang menggunakan kaki itu.


Rizaldi sedikit kesal akan perkataan Keisha, namun dia juga menyadari resiko itu. Karena itu Rizaldi mulai terpikirkan sesuatu, dia masih beruntung belum mengalami cedera saat bermain. Padahal dia sering menerima tekel dari pemain lain, benturan atau apapun itu yang merupakan hal lumrah di sepakbola. Dia membayangkan jika suatu saat dia terkena cedera parah dan harus membuatnya melupakan impiannya selama-lamanya, dia berpikir apakah sistem mampu menolongnya jika hal seperti itu terjadi padanya.


Namun dia tidak mau memikirkan hal itu berlarut-larut, dia langsung menampik ucapan Keisha dengan sedikit persuasif. "Tentu saja beda. Kalo Keisha mau tahu, abang mu ini akan digaji sebanyak tujuh ratus lima puluh ribu rupiah per-pekan!" Diakhir Rizaldi dengan senyuman yang tidak kalah seksi dengan ucapannya.


Mendengar ucapan yang penuh dengan rayuan itu, Keisha langsung meneguk ludahnya. "tujuh ratus lima puluh ribu per-pekan?" Dia mengulangi lagi seolah tidak mendengar ucapan kakaknya sebelumnya. Keisha lalu menghitung menggunakan jarinya. "Berarti abang dapat tiga juta rupiah perbulan?"


"Yap" singkat saja Rizaldi menjawabnya, meninggalkan Keisha yang berteriak histeris begitu mendengar jumlah nominal gaji kakaknya itu.


Ibunya pun sedikit terkejut mendengar itu, gaji itu sudah lebih besar dari gaji ibunya saat ini yang bekerja di sebuah pabrik pengolahan teh. Bahkan untuk mendapatkan penghasilan sebanyak itu, Rizaldi masih dalam status pelajar saja.

__ADS_1


"Apa itu benar bang?" Ibunya mencoba untuk meyakini perkataan anak laki-lakinya itu.


"Ya mama. Jadi mama tidak perlu lagi membayar biayanya Izal! Cukup Izal saja dan mama bisa simpan gaji mama untuk keperluan yang lain" ucap Rizaldi dengan senyuman lebar di wajahnya.


Rasanya ingin menangis Ibunya Rizaldi mendengar itu, sebagai seorang ibu hal-hal kecil seperti itu bisa membuat hati kecilnya bahagia bukan main dan akan membuatnya menangis bahagia. Melihat anaknya yang tumbuh besar, bisa menjadi anak yang dapat diandalkan dan bisa hidup mandiri di usia yang dini adalah kebahagiaan yang tidak terkira bagi orang tua. Entah itu orang tua Rizaldi ataupun orang tua siapapun itu, tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya maju dan menjadi orang yang berhasil di kemudian hari.


Ibunya Rizaldi langsung memberikan anak laki-lakinya itu pelukan hangat, sehangat sengatan mentari di awal musim semi. Perasaannya begitu kuat, bisa dirasakan oleh Rizaldi Fatah.


"Mama bangga sama kamu bang!" ucap ibunya.


Keisha yang melihat pemandangan itu jadi tidak tahan, dia langsung memisahkan momen yang seharusnya mengharukan itu karena dia hampir menangis melihatnya.


"Abang! Kalau abang sudah dapat gaji pertama abang, jangan lupa traktir Keisha makanan yang enak"


Rizaldi sedikit menatap adik kecilnya itu, setelahnya dia menarik telinga kecil Keisha yang membuat Keisha sedikit kesakitan.

__ADS_1


"Aduh abang kenapa jahat sama Keisha? Lihat telinga Keisha jadi merah-merah seperti ini" Keisha protes dengan sikap abangnya tadi. Dia terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang dikerjai.


"Tadi kamu bilang ke abang kalo gak suka abang main bola. Nah sekarang Keisha malah ingin minta traktir pakai duit gaji abang"


"Hehehe kalo ada duitnya, Keisha pasti suka bang!" ucapan polos Keisha yang tidak mengenal malu ini semakin membuat kakaknya kesal, dan Keisha akhirnya berakhir dengan hukuman pukul bokong sebanyak 20 kali oleh kakaknya.


Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun Keisha berteriak keras memohon ampunan dan maaf namun tetap saja Rizaldi memukul bokong adiknya yang sudah bersikap sedikit keterlaluan kali ini.


"Argh!" Rizaldi sedikit menghela nafasnya. "Jadi yang namanya perempuan memang begini ya!"


Di malam yang begitu ramai itu, Rizaldi pun mencoba mengakhiri harinya yang menurutnya sedikit lelah dan menyenangkan itu. Dia mencoba memejamkan matanya setelah makan malam bersama keluarganya, namun matanya urung tertutup walaupun sudah lumayan mengantuk.


Karena tidak bisa tertidur, akhirnya Rizaldi melakukan hal lain yang mungkin bisa membuatnya tertidur pulas. Dia menyalakan tv terlebih dahulu, lalu menyalakan alat pemutar tape yang ada di kamarnya.


Rizaldi lalu lantas memasukkan tape berukuran cukup besar kedalam alat pemutar tape itu. Rupanya isi tape itu adalah rekaman cara bertahan yang baik dan benar, namun yang jadi pertanyaan dari Rizaldi adalah siapakah sosok orang yang memandu di dalam video itu. Karena setiap kali dia melihat tape itu, dia pasti merasa mengantuk entah karena host dari tape itu ataupun karena dia sedikit tidak suka kalau disuruh bertahan.

__ADS_1


Baru beberapa menit tape diputar, sang host pun baru saja mulai membahas apa itu bertahan. Rizaldi sudah tertidur cukup pulas dan melupakan isi tape itu.


__ADS_2