
Rizaldi sudah menyiapkan segala hal untuk hari ini, hari di mana dia akan berhadapan dengan rintangan besar dalam hidupnya. Sehari sebelumnya, Rizaldi menyiapkan beberapa hal untuk hari ini.
Setelah berlatih menjadi seorang Trequarista, besoknya Rizaldi tidak banyak bersantai diri. Selama setengah hari penuh, dia memutar tape recorder pertandingan-pertandingan klasik. Banyak sekali pertandingan klasik yang Rizaldi tonton, salah satunya adalah pertandingan antara As Roma versus Lazio dengan tajuk Derby della Capitale atau yang juga disebut Derbi Ibu Kota.
Dua klub dengan sejarah rivalitas panjang itu sedikit membuat Rizaldi tertarik untuk mengupasnya, sehingga Rizaldi lebih banyak fokus mengupas jalannya pertandingan saat itu. Terlebih bagaimana cara bermain sosok sang pangeran ibu kota, sang gladiator, Francesco Totti.
Pertandingan saat itu terjadi di musim 2001/2002. Roma berhasil mengalahkan Lazio, rival berat mereka dengan skor telak 1-5. Salah satu golnya dicetak oleh Francesco Totti dengan cara yang luar biasa.
Itu dimulai dengan serangan balik cepat, pemain tengah As Roma membangun serangan dengan sangat bagus. Lalu bola pun berada di kaki Vincenzo Montella yang juga menjadi salah satu pemain andalan As Roma pada saat itu.
Vincenzo Montella melihat Totti yang bergerak mendekat ke arahnya, tanpa ragu Montella memberikan umpan kepada Totti. Lalu bola di kaki Totti, sedikit ia melakukan gerakan-gerakan kecil dan menggiring bola sedikit maju kedepan. Pada saat momen sebelum gol indah itu tercipta, banyak ruang dan opsi yang bisa dimanfaatkan oleh Totti pada saat itu.
Pada saat itu Totti bisa mengembalikan bola kepada Montella yang sudah berlari ke depan dan bersiap menerima umpan terobosan dari Totti. Atau Totti memilih opsi kedua, yaitu melakukan passing ke sisi kanan. Di sisi kanan ada Olivier Dacourt yang tanpa pengawalan sama sekali.
Tetapi insting pembunuh Totti mengatakan tidak untuk dua kesempatan itu, dia lebih memilih untuk melakukan perjanjian dengan iblis. Totti tanpa ada yang menduga sama sekali sebelumnya, dia melakukan chip shot ke arah gawang Lazio yang pada saat itu dikawal oleh Angelo Peruzzi.
Chip shoot Totti itu berhasil menukik tajam ke gawang Lazio yang dijaga Angelo Peruzzi. Menukik sangat indah sekali bagai pelangi yang menukik tajam ke air terjun Niagara. Mungkin pada saat itu Angelo Peruzzi begitu kesal dengan gol itu, karena gol itu dia merasa seperti kiper amatiran yang baru saja bermain bola sebagai seorang kiper!
Gol indah itu pasti selalu dikenang oleh fans Serigala Ibukota, i Giallorossi, i Lupi. Dan juga akan selalu dikenang oleh fans Sang Pangeran Ibukota, Fransesco Totti.
Bahkan Rizaldi saja langsung jatuh hati melihat permainan Totti, semakin dia melihat match-match klasik Totti, semakin jatuh hati pula dirinya. Menurutnya, Totti benar-benar seorang pemain yang penuh talenta, Rizaldi juga suka pada saat Totti melakukan tendangan panenka di Piala Dunia pada saat membela Timnas Italia.
Rizaldi pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Apakah aku bisa menjadi pemain seperti Totti?" Sebuah pertanyaan yang membuat dirinya termotivasi untuk melakukan yang terbaik di hari pertandingan nanti.
Selain menonton cara bermain Fransesco Totti. Rizaldi juga menonton cara bermainnya para pemain nomor 10 di jaman dahulu. Mulai dari Alesandro Del Piero hingga ke Roberto Baggio.
Karena pada saat ini, di tengah lapangan ini. Rizaldi sangat bersemangat untuk menjalani pertandingan hari ini, dan dia sudah tidak sabar untuk memperlihatkan kepada rekan-rekan dan musuh-musuhnya, apa yang sudah ia pelajari semalam.
Bola kick-off dimulai dari Pengambangan Cananga Youth. Rasa gugup sedikit takut mempengaruhi kepala mereka semua, itu wajar karena mereka memang dalam tekanan yang tinggi. Mereka semua mau tidak mau harus memenangkan pertandingan ini, walaupun statistik berkata lain untuk mereka.
Selama 10 menit pertama, tempo permainan bergerak cukup lamban. Pengambangan Cananga Youth lebih banyak memainkan bola-bola daerah dan bermain di sekitar kotak penalti mereka sendiri dan bergerak sedikit ketengah.
Dari cara bermain tim lawan terkesan membiarkan Pengambangan Cananga Youth melakukan passing-passing pendek itu, terlihat sekali kalau tim Buceros meremehkan mereka semua. Wajah kesal ditunjukkan oleh Martin yang merasa tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Buceros.
"Awas saja kalian!" ucap Martin lalu dia mencoba bergerak kedepan seorang diri, mencoba melewati beberapa pemain Buceros.
__ADS_1
"Martin! Belum saatnya kita menyerang" Rizaldi mencoba memperingati Martin, namun Martin tidak mendengarkannya.
Martin terus maju kedepan, melewati beberapa pemain Buceros dengan mudahnya. Martin jadi senang tidak karuan, karena dia merasa dengan mudah melewati pemain Buceros. Namun, ada satu hal yang tidak Martin sadari, yaitu pemain Buceros sengaja membiarkan dirinya lewat.
Lalu sampailah Martin berhadapan dengan Steven Liando. Steven Liando, dengan rambut spiky acak-acakan yang ia cat jadi berwarna merah gelap, jadi terlihat seperti badai matahari tengah berkecamuk di atas kepalanya.
"Buceros sialan!" ucap Martin saat dia melihat sosok Steven Liando.
Liando tersenyum melihat kedatangan Martin, dia seperti menunggu kedatangan Martin pada dirinya. "Berikan semua kemampuanmu kepadaku!" ucapnya.
Lalu Martin mencoba untuk melewati Steven Liando, dia melakukan spin disekitar badan Liando, namun Liando bisa membaca apa yang ingin dilakukan oleh Martin. Liando hanya menggeser badannya sedikit, dan melakukan tekel bersih ke bola yang dibawa oleh Martin. Martin pun kehilangan bolanya dan terjatuh, duel itu jelas dimenangkan oleh Steven Liando.
"Sisanya ku serahkan kepada kalian!" ucap Steven Liando yang menendang bola jauh kedepan, wajahnya menatap sini Martin yang terjatuh di bawah kakinya.
Martin hanya bisa mengumpat di dalam hatinya, dia menepuk rumput lapangan yang tidak menahu salah mereka di mana dan bergerak turun untuk membantu pertahanan. Sedangkan Steven Liando, masih berdiri diam di pos jaganya, dia bertekad untuk tidak membiarkan siapapun melangkah melewati dirinya hari ini.
Bola lalu diterima dengan baik oleh Alfian Rizal Sulistiawan. Alfian melakukan passing one-two dengan pemain di sekitarnya, mencoba memporak-porandakan lini tengah Pengambangan Cananga. Namun hal itu bukanlah hal yang mudah, ada Zaki Iskandar dan Rizaldi Fatah di sana yang siap menghadang bola yang coba dialirkan oleh tim Buceros.
Rizaldi terus melakukan penjagaan terhadap Alfian Rizal, sesekali Rizaldi mencoba untuk mengambil bola darinya namun masih belum bisa, tetapi hal itu sudah cukup merepotkan Alfian Rizal.
"Alfian sebelah sini!" dari sisi yang tidak terkawal, Ananda Marska masuk. Bola pun dialirkan Alfian Rizal ke Ananda Marska.
"Celaka!" Rizaldi mengumpat, dia langsung bergerak menuju Ananda Marska karena dia tahu seberapa mengerikannya orang itu jika sudah menyentuh bola.
Ananda Marska santai saja, dua orang yang menghadangnya termasuk Rizaldi, sudah ia lewati dengan gerakan yang sangat mulus. Semulus kulit bintang iklan sabun mandi. Ananda Marska menengok ke kiri-kanan, melakukan scanning area, mencari tahu ruang yang bisa ia manfaatkan.
"Maxx ku serahkan pada mu!" Marska memberikan umpan terobosan ke sisi kanan jantung pertahanan Pengambangan Cananga Youth.
Maxx Marko yang beroperasi di posisi itu langsung dengan mudahnya mendapatkan bola itu, dia berduel dengan bek sayap Pengambangan Cananga Youth namun akselarasi dari Maxx membuatnya unggul tidak terjangkau. Begitu masuk ke dalam sisi kotak penalti, Maxx Marko memberikan umpan cut back mendatar yang sangat terukur, melewati beberapa kaki pemain belakang Cananga Youth.
"Dengan ini satu kosong!' Ferdinand yang berdiri di depan gawang, langsung melakukan tap-in dan sudah terlalu percaya diri kalau bola itu akan masuk.
Pendukung Pengambangan Cananga juga sudah mulai memegangi kepala mereka, mereka sudah bersiap kalau hal itu akan menjadi gol. Termasuk Keisha dan Salma yang menonton dari tribun istimewa, mereka sudah menutupi kedua mata mereka agar mereka tidak melihat gol itu dan menganggap gol itu tidak pernah terjadi.
Namun hal yang berbeda malah terjadi. Dery tidak mau menyerah membiarkan Ferdinand mencetak gol ke gawang yang ia jaga begitu saja. Dery melakukan penyelamatan dengan menghadang laju arah bola tap-in dengan badannya, bola naik ke atas karena mengenai badan Dery. Dery berhasil mendahului Ferdinand untuk menangkap bola yang melayang di atas, Dery melompat tinggi dan mengamankan bola dan memberikan ketenangan untuk rekan dan semua pendukung mereka.
__ADS_1
"Penyelamatan 100 perak dari Dery!" komentar laga hari ini berteriak keras melihat penyelamatan dari Dery. Pendukung mereka juga bersorak gembira setelahnya.
"Arghhhh!" Ferdinand memegangi kepalanya, sedikit kecewa karena telah mensia-siakan peluang emas tadi.
Ferdinand lalu mundur kebelakang dengan perasaan sedikit kecewa dan marah pada dirinya sendiri, melihat hal itu Ananda Marska langsung menghampirinya dan memberikan Ferdinand sedikit kata-kata untuk membuatnya lebih tenang.
"Jangan terlalu dipikirkan Ferdinand, kita masih punya banyak kesempatan! Mereka tidak ada apa-apanya dan tim ini bisa menjadi lumbung gol untukmu lagi hari ini" ucap Marska.
"Benarkah itu? Kalau begitu aku jadi semangat lagi!" Ferdinand kembali seperti sebelumnya, bahkan insting untuk mencetak golnya lebih tajam dari sebelumnya, hanya karena mendengar beberapa kata dari Ananda Marska.
Rizaldi Fatah yang mendengar percakapan mereka secara langsung, langsung bergidik ngeri. Rizaldi bergidik ngeri karena kemampuan Ananda Marska yang bisa membuat Ferdinand kembali tenang dan malah menjadikannya semakin bersemangat. Rizaldi sangat tahu, kalau kemampuan seperti itu sangat mengerikan.
Tetapi dia tidak mau kalah, dia sudah bertekad untuk menjadi yang terbaik, jadi hal seperti itu harus ia hadapi dengan wajah menghadap kedepan.
Lalu permainan kembali seperti sebelumnya, Buceros lebih sering bermain bertahan dan menunggu Cananga Youth melakukan kesalahan-kesalahan kecil dan lalu memberikan mereka pelajaran dengan sebuah skema serangan balik cepat. Sudah beberapa kali mereka berhasil melakukan hal itu, namun masih belum bisa menaklukkan Dery yang berada di bawah mistar gawang.
Tercatat, dari 7 tembakan yang Buceros lakukan, 3 diantaranya dilakukan oleh Ferdinand. 3 tendangan berhasil on target dan berhasil di save oleh Dery dengan sangat apik. Kalau saja tidak karena penampilan apik dari Dery hari ini, mungkin sudah ada 3 gol lebih di 30 menit babak pertama ini.
Coach Satria di pinggir lapangan pun sudah tidak duduk lagi di tempat duduknya. Beliau berdiri, berteriak hingga suara beliau hampir hilang melihat timnya yang bermain buruk. Coach Satria terus melakukan instruksi dari pinggir lapangan, namun karena dibawah tekanan, para anak didiknya agak sulit untuk mengikuti arahan dari beliau.
Hingga sampailah di menit 41. Melalui gerakan individu Ananda Marska yang berhasil melewati beberapa hadangan pemain Cananga Youth, Marska berhasil masuk kedalam jantung pertahanan tim tamu. Marska melakukan tiki-taka indah yang kerap dilakukan oleh Barcelona FC era Pep Guardiola.
Dengan tiki-taka mereka berhasil membongkar pertahanan tim tamu, menyisakan Ferdinand yang kembali berhadapan dengan Dery.
Ferdinand melakukan ancang-ancang menendang, lalu Dery pun maju untuk menghalau tendangan Ferdinand. Namun itulah yang ditunggu oleh Ferdinand. Ferdinand memang sengaja menarik perhatian Dery agar dia bergerak ke arahnya, Dery yang terlambat menyadarinya hanya bisa mengumpat saja. Ferdinand melakukan gerakan tipuan dan benar-benar berhasil menipu Dery.
Gawang yang sudah kosong, Dery yang sudah terjatuh lebih dulu, membuat Ferdinand dengan mudah melesatkan tembakan yang membuat bola mendatar dengan sangat santai masuk ke dalam gawang.
"Goooolllll!" Ferdinand langsung berteriak dan berlari ke arah pendukung Pengambangan Cananga Youth, dia melakukan selebrasi tepat di depan pendukung Pengambangan Cananga Youth yang masih terdiam karena gol itu tadi.
Dery terduduk lesu. Coach Satria menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal karena gol itu. 0-1 mereka tertinggal. Hingga peluit panjang babak pertama pun terdengar, skor tidak berubah dan menjadikan suasana tim Pengambangan Cananga Youth horor, seperti rumah angker.
Misi mereka untuk menang menjadi semakin berat. Di babak kedua nanti, mereka tidak punya pilihan lain selain mencetak gol balasan atau tidak sama sekali.
*****
__ADS_1