
Satu setengah jam perjalanan dari Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, menuju Bandara Soekarno-Hatta di Tanggerang adalah satu setengah jam yang menegangkan bagi Rizaldi. Pasalnya Rizaldi baru pertama kali melakukan perjalanan jauh dan naik pesawat seperti ini, dia mengalami telinga berdengung ketika pesawat sudah lepas landas beberapa menit dan dia semakin tersiksa ketika saat-saat pesawat yang mereka tumpangi akan mendarat.
Rizaldi sungguh merasa tidak nyaman, dia hendak tidur untuk mengurangi sakit telinga akibat mendengung itu namun tidak bisa karena sakit telinganya lebih mempengaruhi dirinya.
Sampai mereka turun dari pesawat dan naik ke bis yang akan mengantar mereka sampai ke tempat mereka menginap nanti, Rizaldi masih terlihat begitu tersiksa seperti mahasiswa tingkat terakhir yang baru saja disuruh revisi hingga ke dua belas kalinya.
Derry hanya bisa bersimpati melihat keadaan sahabatnya itu, dia lalu menyodorkan beberapa permen karet yang sedari tadi dia kunyah pada Rizaldi. "Ini untuk meringankan dengungan di telinga mu itu sobat" ucapnya.
Rizaldi langsung mengambil permen karet itu dan langsung memakannya tanpa pikir panjang, sambil dia rileks kan tubuhnya dan bersandar di bahu kursi yang sangat empuk. Rizaldi ingin mendengarkan musik pakai earphone-nya, namun karena telinganya yang masih berdengung dan sakit maka dia urungkan niatnya itu dan lebih memilih melihat pemandangan kota Tanggerang yang masih berdekatan dengan Jakarta.
Rizaldi bisa melihat banyak rumah-rumah mewah dan apartemen mewah di sekitaran sini, namun dia juga melihat diantara rumah dan apartemen mewah itu ada rumah-rumah kumuh para penduduk yang terlihat begitu kontras. Rizaldi tahu, itu adalah ketimpangan sosial dan ketimpangan ekonomi yang sering melanda kota-kota besar seperti di Jabodetabek ini, dia sering melihat itu di berita yang ditayangkan di TV.
Sangat berbeda dengan Kota Banjarmasin yang jadi tempat tinggalnya, di kota itu tidak banyak apartemen mewah seperti disini dan rumah-rumah warga masih terlihat sama seperti 20-30 tahun yang lalu.
Bis terus melaju kencang membelah kota, hingga mereka pun masuk ke Jakarta. Rizaldi tahu itu dari tugu orang yang menunjuk ke arah barat itu, lalu dia juga melihat banyak sekali gedung-gedung pencakar langit yang tingginya menjulang itu. Kepadatan kota itu juga menjadi ciri khas yang membuat Rizaldi bisa menebak dalam sekali lihat saja, dia benar-benar ada di Jakarta sekarang. Tidak ada yang spesial menurutnya di sini, mungkin yang membuatnya tertarik adalah banyak sekali gedung-gedung pencakar langit yang merupakan tempat yang sempat ia khayalkan di mana dia akan bekerja suatu saat nanti.
__ADS_1
Sempat terjebak kemacetan kota, akhirnya mereka pun sampai ke hotel tempat mereka akan menginap selama beberapa minggu kedepan. Ada beberapa hotel yang dipesan secara khusus oleh panitia pelaksana liga untuk di fase gugur ini, dan kemungkinan tim mereka juga akan satu penginapan dengan tim yang lainnya juga.
Kedatangan Rizaldi dan rombongan disambut dengan baik oleh para staf hotel, lengkap dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantik penuh riasan itu. Martin yang lagi masa-masanya tertarik dengan kecantikan para perempuan, langsung memuji para staf hotel yang kebanyakan para wanita itu.
"Lihat mbak-mbak yang diujung sana itu, wajahnya mirip idola yang ku sukai. Apa dia sudah punya pacar ya?" ucap Martin sambil menunjuk ke arah salah satu staf hotel yang memiliki rambut indah dan bulu mata yang lentik.
Derry dan yang lainnya langsung menatap Martin dengan tatapan keheranan, namun mereka langsung memaklumi kelakuan teman mereka itu.
Rizaldi tidak peduli dengan itu, yang ia pedulikan hanya satu yaitu telinganya yang masih berdengung bagai kemasukan air bah di kapal nabi Nuh. Rizaldi sudah komat-kamit, membaca setiap doa yang pernah dia hapal semasa SD-SMP. Mulai dari doa makan sampai doa masuk rumah sudah dia ucapkan, namun tetap saja telinganya masih belum kembali normal.
Lalu semuanya langsung menuju kamar masing-masing terlebih dahulu, dipandu oleh staf hotel juga dan setiap kamar berisi 3-4 orang. Rizaldi akan sekamar dengan Derry, Martin dan juga Axel di kamar 505. Setelah merapikan barang bawaannya, Rizaldi langsung merebahkan dirinya ke kasur berukuran besar yang sangat empuk dan nyaman itu, Rizaldi tidak pernah merasakan kasur yang senyaman itu. Dia biarkan dirinya ditarik oleh kenyamanan kasur itu, setiap tubuhnya seperti baru saja di pijat oleh keempukan kasur itu. Sebelum akhirnya Martin menegurnya.
"Ayo turun ke bawah, kita makan siang dulu. Kalau kau sudah tertidur dan melewatkan makan siangmu, kau hanya menjadi beban saat latihan nanti" ucap Martin yang membuat Rizaldi langsung bangkit, dia juga memang merasa lapar walaupun rasa laparnya tertutupi oleh sakit telinganya.
Rizaldi dan yang lainnya langsung turun ke lantai bawah, ketempat mereka pertama masuk tadi. Di sana sudah ada yang lain yang juga sedang menyantap makan siang mereka. Semua menu sama, ikan gurame bakar dengan sambal bakar yang menggugah selera. Untuk menemani lauk itu, ada sayur asam yang sangat segar kelihatannya. Menu tradisional memang, namun rasanya pasti sungguh luar biasa. Lihat saja Bagas dan Galih yang sangat lahap menyantap makanan mereka.
__ADS_1
Rizaldi langsung mengambil nasi dan lauknya, rasa laparnya sudah tidak bisa ia tahan seperti menahan rasa sakit di telinganya. Tidak banyak dia mengambil nasi, dia takut kekenyangan dan malah tidak bisa berbuat apa-apa lagi nantinya. Setelah selesai makan dia langsung naik lagi dan kembali ke kamar, meninggalkan yang lain karena dia benar-benar merasa perlu istirahat sekarang.
Sebelum pergi tidur, Rizaldi menyetel alarm di smartphonenya. Dia menyetel ke jam 4, karena akan ada latihan jam 4 nanti, setelah menyetelnya Rizaldi pun pergi tidur. Namun ada hal yang dilupakan oleh Rizaldi, satu hal yang paling dasar dan paling penting. Rizaldi lupa mengganti zona waktu di smartphonenya.
Rizaldi masih memakai zona waktu Indonesia tengah (WITA), yang padahal seharusnya dia menggunakan waktu Indonesia barat (WIB) saat di Jakarta dan sekitarnya. Jadi saat dia menyetel alarm ke jam 4 sore, sejatinya masih jam 3 siang.
Dan akhirnya pada saat alarmnya berbunyi, Rizaldi yang masih dalam keadaan tidak menyadari hal itu langsung pergi mandi dan bersiap-siap untuk pergi untuk pergi latihan. Dan Rizaldi yang dalam keburu-buruan itu membuat yang lainnya terbangun dan menatap bingung kearahnya.
"Kau mau kemana sobat?" tanya Derry yang sedikit bingung dengan sahabatnya itu.
"Kalian tidak siap-siap? Kata Coach Satria kan kita ada latihan sore ini kan"
Derry dan yang lainnya langsung saling berpandangan, mereka tidak tahu lagi harus berkata apa untuk teman mereka yang satu itu.
"Bagaimana cara kita memberitahunya?" ujar Derry
__ADS_1