
Peluit panjang ditiup oleh wasit, mengentikan pertandingan antara Pengambangan Cananga Youth dan Buceros FC yang sangat ketat dan panas. Pertandingan dimenangkan oleh Pengambangan Cananga Youth dengan skor tipis 2-1, gol terakhir tadi dicetak oleh Rizaldi Fatah yang melakukan chip-shoot indah ke gawang Buceros.
Para pemain dan staf Pengambangan Cananga Youth berlarian berhamburan ke lapangan merayakan kemenangan mereka, sama seperti para pendukung setia mereka yang sedang menyanyikan yel-yel dari atas tribun. Mereka semua bersukacita karena dengan hasil ini Pengambangan Cananga Youth berhak melangkah maju ke fase gugur.
Sedangkan para pemain Buceros FC, hanya bisa memandangi para pemain Cananga Youth dengan tatapan kosong dan nanar. Ada pula yang menangis dan jatuh tengkurap di tanah sambil menangis karena mereka harus puas finish di posisi ketiga grup mereka dan gagal lolos ke fase gugur.
Wasit menyuruh kedua tim untuk berbaris di tengah lapangan, saling bersalaman satu sama lain dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada para supporter yang sudah datang dan mendukung mereka dengan hati yang tulus selama 90 menit pertandingan berlangsung. Lupakan semuanya yang terjadi di lapangan, rivalitas hanya 90 menit di lapangan dan setelahnya tetaplah menjadi kawan satu hobi, itulah makna fair-play.
Para punggawa Buceros FC masuk lebih dulu ke kamar ganti, perasaan mereka sungguh frustasi saat ini dan kesal karena mereka tidak bisa berbuat banyak hari ini. Beberapa diantara mereka ada yang tidak bisa menerima hasil ini dan mulai menyusun motivasi untuk mengalahkan Pengambangan Cananga Youth di pertemuan mereka selanjutnya.
Sedangkan para punggawa Pengambangan Cananga Youth, mereka sekali lagi memberikan tepuk tangan meriah untuk menyapa para supporter dan penonton dan juga mengapresiasi apa yang telah mereka lakukan sepanjang pertandingan berjalan. Sebelum akhirnya, mereka pun mula berangsur-angsur meninggalkan lapangan dan pergi ke kamar ganti untuk merayakan kemenangan ini.
"Woooooo! Kita berhasil teman-teman"
"Kita berhasil masuk ke fase gugur!"
Mereka semua melanjutkan perayaan mereka setelah masuk ke dalam kamar ganti, Coach Satria pun juga ada di sana dan membiarkan mereka bergembira untuk sejenak sebelum dia memberikan sedikit kata wejangan untuk para pemain-pemain muda itu.
"Pertama-tama aku ingin mengucapkan selamat kepada kalian yang telah berjuang keras untuk bisa mengantar tim ini lolos ke fase gugur!" Coach Satria mulai melakukan pembukaan pidatonya, semua pemain sudah bersorak-sorai, beberapa yang lain hanya tersenyum sambil meminum minuman berenergi.
Coach Satria melanjutkan ucapannya. "Kalian tentu boleh bersenandung ataupun bersenang-senang karena kemenangan ini, kalian memang pantas mendapatkannya. Tapi ingat, sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik"
"Baik Coach!" jawab mereka bersamaan.
__ADS_1
"Kita benar-benar seperti Daud yang mengalahkan Jalut. Achilles yang mengalahkan raksasa. Tetapi, kita belum seperti Alexander Agung yang mengalahkan semua musuhnya hingga tidak ada lagi yang tersisa!" ucap Coach Satria dengan penuh penekanan dan semangat, membuat anak-anak asuhnya mulai teringat kalau mereka masih punya jalan yang panjang sebelum benar-benar mendapatkan arti kata menang yang sesungguhnya.
"Di 32 besar nanti, akan banyak tim yang lebih kuat dan hebat dari Buceros ataupun Sugar Crossed FC yang juga lolos sama seperti kita. Kita hanya punya satu nyawa, satu kesempatan. Jika kita kalah maka ucapkanlah selamat tinggal pada mimpi kalian untuk menjadi juara bertahan. Itu saja yang ingin aku sampaikan pada kalian semua dan sekarang nikmatilah waktu kalian"
Sorak-sorai kembali pecah sekali lagi, mereka semua lantas melakukan selebrasi kemenangan mereka di ruang ganti.
"Hei-hei kalian semua jangan lupakan sang pencetak gol indah sekaligus gol penentu kemenangan kita!" Martin tiba-tiba menyeletuk dan membuat mereka semua berhenti melakukan kegiatan mereka untuk beberapa saat.
Tatapan kini tertuju pada arah Rizaldi yang sedang melamun memikirkan mengapa langit tidak mempunyai tiang dan juga sedang memikirkan mengapa ada dunia. Saat menyadari tatapan mereka semua, Rizaldi hanya bisa keheranan sekaligus takut dengan tatapan mata itu.
"Apa yang ingin kalian lakukan?" Tanya Rizaldi setengah takut.
Lalu dimulai dari Dery, mereka semua mengangkat tubuh Rizaldi dan melemparkannya beberapa kali. Rizaldi sampai merasa mual dan pusing karena ulah mereka.
"Sialan kau Rizaldi, kau mengambil semua lampu sorot itu dari ku" ucap Martin.
Rizaldi yang masih merasa pusing ikut masuk dalam bahan obrolan mereka, menurutnya orang yang harus diberikan pujian yang tinggi itu bukanlah dirinya. "Harusnya Dery, karena jika bukan penyelamatan-penyelamatannya, kita semua mungkin sudah kalah telak! ucapnya dan lalu membuat semua orang mulai sadar akan kekeliruan mereka.
"Tidak-tidak, kalian salah. Sudah benar, man of the match hari ini itu Rizaldi!" Dery ketakutan melihat tatapan semua orang yang memandang dirinya, dia takut akan mengalami hal yang sama pada Rizaldi sehingga dia lebih memilih untuk kabur lebih dulu.
"Ayo kita tangkap dia!"
"Tidak-tidak-tidak!" Dery membuka pintu untuk menyelamatkan diri, namun pada saat membuka pintu, di sana malah ada dua perempuan cantik yang sepertinya cukup lama menunggu di sana.
__ADS_1
Kedua perempuan itu terlihat seperti sepasang adik dan kakak, sama-sama cantik namun sang kakak terlihat lebih cantik karena aura yang ia pancarkan.
"Keisha? Salma?" Rizaldi menyadari siapa sosok dua perempuan yang di depan pintu.
"Hai kak Dery!" Bukannya menyapa balik kakaknya, Keisha malah menyapa Dery terlebih dahulu.
Mata anak-anak yang lain langsung tertuju pada kecantikan Salma dan juga nilai keimutan dari Keisha, mereka langsung mendekati dua perempuan itu dan mulai bertanya-tanya tentang diri mereka berdua.
"Hei cantik boleh minta pin WhatsApp nya?"
"Hei adik manis, mau ikut sama abang tidak?"
Banyak yang bertanya pada mereka berdua, namun semuanya berhenti setelah Martin menghentikan mereka semua. "Kalian ini tidak punya sopan santun sekali" ucapnya memarahi para laki-laki yang lain.
Lalu Martin berlutut dihadapan Salma, dan mencium buku tangan Salma layaknya seorang kesatria kepada Ratunya. "Maafkan kelakuan semua teman-temanku ya" ucapnya dengan pelan dan lembut, berbeda sekali dengan sering yang ia perlihatkan pada teman-temannya.
Tentu saja yang dilakukan oleh Martin itu membuat semuanya terkejut, bahkan Keisha yang melihat dengan jelas karena berada di dekat situ. Salma tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia sudah mati kebingungan karena ulah Martin tadi, lantas Martin pun berdiri dan mulai bertanya mengapa Salma kesini.
"Hei kepala kotak! Temanku itu kesini sudah jelas ingin bertemu pujaan hatinya dan ingin mengucapkan selamat kepadanya!"
"Siapa yang kau bilang kepala kotak Dery? Pujaan hati? Sudah jelas itu aku kan" Martin terus percaya diri, dia menatap Salma yang sudah terlalu bingung itu.
Martin bisa melihat ada kesalahpahaman di mata Salma dan itu membuat dia terkejut, dia merasa dirinya lah yang didatangi perempuan yang bagaikan seorang dewi itu namun ternyata dia salah. "Lantas siapakah orang itu?" Martin bertanya-tanya, sambil memperhatikan semua rekan-rekannya, tidak ada yang bisa ia duga.
__ADS_1
"Maaf ya!" Salma menundukkan kepalanya pelan, lalu pergi meninggalkan Martin yang masih kebingungan mencari sosok yang dituju oleh perempuan itu dan ternyata sosok itu adalah Rizaldi Fatah. Semakin terkejut lah dirinya.
"Tidak! Kami tidak percaya ini!" ucap mereka bersamaan melihat Rizaldi dan Salma yang terlihat begitu akrab itu, seolah-olah tidak ada pembatas diantara mereka berdua.