Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 166: Good News Always Come After Bad News


__ADS_3

Milton Keynes, Inggris Raya. Pagi pada pukul sembilan pagi, cuaca di Inggris sama seperti biasanya. Langit yang mendung dan sedikit rintik hujan membasahi kota Milton Keynes.


Terlihat seseorang sedang berlari menembus jalanan yang sedang hujan, dia berlari dengan cepat karena takut akan terlalu basah karena hujan gerimis ini. Setelah beberapa saat berlari, dia pun sampai di tempat tujuannya. Yaitu sebuah stadion sepakbola.


Stadion itu adalah stadion sepakbola yang digunakan sebagai markas besar tim asal Milton Keynes yang didirikan tahun 2004 lalu, yaitu Milton Keynes Dons. MK Stadium, itulah nama stadion itu. Karena ini hari Jumat di Inggris, suasana di stadion terbilang sepi karena biasanya orang-orang akan memenuhi stadion jika ada pertandingan ataupun saat bersantai di akhir pekan.


Orang tadi pergi ke lantai tiga stadion, disitu adalah tempat para staff dan manajemen klub melakukan pekerjaan mereka. Mengapa orang tadi malah pergi ke tempat itu? Jawabannya adalah, karena sosok tadi merupakan pelatih kepala Milton Keynes Dons FC saat ini, yakni Thomas Andrews.


Yang membuat Thomas Andrews pergi bergegas dan bahkan berlari menembus hujan adalah, sebuah berita dari pihak manajemen yang membuatnya terkejut sekaligus tidak habis pikir.


Hal ini terjadi karena, setelah Thomas rela terbang jauh-jauh ke Indonesia untuk menemui salah satu bakat hebat yang dirinya percaya bisa sangat cocok dengan gaya permainannya, dan bahkan Thomas Andrews sudah melakukan deal-dealan soal transfer. Thomas Andrews malah dikejutkan oleh pihak manajemen yang tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Thomas, dan bahkan menyuruh Thomas harus membatalkan negosiasi yang sudah terjadi dengan salah satu talenta muda yang dimiliki oleh Indonesia itu, yakni Rizaldi Fatah yang saat ini bermain untuk Pengambangan Cananga FC.


Thomas yang kesal dengan sikap pihak manajemen yang memutuskan seenaknya itu langsung melakukan protes kepada mereka, itulah alasannya rela hujan-hujanan di hari yang harusnya dirinya tidak masuk kerja.


"Aku tidak suka dengan pilihan mu ini Thomas! Kau memilih talenta yang berasal dari negara ketiga seperti dirinya itu? Apa tidak ada orang lebih baik selain orang itu? Aku yakin, di Brazil lebih banyak anak-anak muda yang lebih baik dari dirinya?" ujar Peter Cumberbatch sang pemilik klub.


"Aku tahu itu, tetapi aku yakin sekali dengan anak ini akan menjadi sesuatu yang sangat bersinar di lima sampai sepuluh tahun kedepan, tidak. Mungkin dia hanya perlu 2 musim saja untuk membuktikan dirinya itu memang layak bermain di sini" Thomas Andrews masih keras soal argumennya.


Tetapi Peter Cumberbatch, sang pemilik klub tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Thomas. Menurutnya, sangat tidak untung sama sekali jika harus membeli salah satu pemain dari negara yang levelnya masih negara ketiga. Peter ingin pemain yang lebih baik dari itu, dan yakin masih banyak pemain lebih bagus dari yang disodorkan oleh Thomas ke mejanya saat ini.

__ADS_1


"Aku tidak mau mendengarkan apapun soal pemain negara ketiga itu lagi dari mulutmu Coach Thomas. Kalau kau masih bersikeras untuk menyodorkan berkas pemain itu ke meja ku, aku akan memecat mu hari ini juga" ujar Peter Cumberbatch.


Thomas pun terdiam, sebenarnya dia ingin terus bicara namun ancaman dari sang pemilik klub membuatnya takut. Dia tidak takut melawan sang pemilik klub yang ia sebut tidak tahu soal sepakbola itu, dirinya hanya takut kehilangan pekerjaannya sebagai seorang pelatih. Mengingat sudah banyak hal yang dirinya bangun disini, dan akan sangat tidak masuk akal kalau dirinya dipecat hanya gara-gara berselisih paham saja.


Oleh karena itu, Coach Thomas hanya bisa memaki-maki di luar ruangan sang pemilik klub karena hanya itu yang bisa dirinya lakukan. Sampai Thomas di ruangannya, dia langsung menghantam meja dengan sangat keras. Sambil memaki pemilik klub dengan sebutan 'kera'. Setelah itu, Thomas pun menghubungi agen dari pemain yang dirinya inginkan itu untuk memberitahukan berita buruk yang baru saja dirinya terima hari ini.


Jakarta dini hari.


"Apa, anda tidak bercanda kan tuan Thomas?" suara Andra Almeida terdengar seperti baru saja mendapatkan kabar buruk.


Dan memang itulah yang sebenarnya terjadi. Di dini hari seperti ini, dirinya mendapatkan sebuah telepon dari Inggris sana, sebuah telepon langsung dari Coach Thomas yang melatih klub MK Dons. Pesan itu intinya, mengabarkan pada Andra kalau kesepakatan diantara mereka soal kepindahan Rizaldi Fatah ke MK Dons telah dibatalkan oleh pemilik klub.


Andra Almeida terus meyakinkan Coach Thomas Andrews, namun semakin dirinya meyakinkan Coach Thomas, semakin kecil pula peluangnya. Coach Thomas juga sangat menyesalkan sikap manajemen klub, padahal dirinya sudah sangat menantikan akan bekerjasama dengan Rizaldi Fatah.


"Argh tidak berguna!" Andra melemparkan ponselnya ke ranjang, karena sudah merasa sangat kesal.


Andra jadi terdiam dan merenung di kamarnya, dirinya mencoba mencari cara untuk mengatasi masalah ini namun dirinya juga kebingungan harus bagaimana karena dirinya juga baru terjun ke dunia sepakbola seperti ini.


Wajah kekecewaan dan kesedihan Rizaldi mulai terlintas di benaknya, dia tidak ingin melihat itu apapun yang terjadi. Dirinya sudah berjanji pada Rizaldi untuk membantunya menaikkan karirnya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, untuk itu dirinya terpaksa melakukan cara terakhir. Dirinya ingin memposting permainan-permainan Rizaldi ke sosial media dan berharap ada yang tertarik dengan itu.

__ADS_1


Namun sebelum melakukan itu, dirinya dikejutkan oleh suara ringtone ponselnya yang tiba-tiba saja berbunyi. Wajah penuh harapan kembali, seakan-akan cahaya mulai memenuhi wajahnya kembali.


"Apakah pemilik klub mulai berubah pikiran?" ujarnya sebelum meraih ponselnya.


Tetapi wajah penuh harapan yang kembali itu tiba-tiba berubah menjadi wajah yang penuh kebingungan. Bukannya nomor dari Coach Thomas yang muncul di layar ponselnya, melainkan malah nomor tidak dikenali yang muncul.


"Siapa ini? Apa dia mau iseng?" Andra bertanya sendiri.


Dirinya sebenarnya ragu untuk mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal itu, apalagi nomor itu adalah nomor internasional sehingga semakin curiga lah Andra dibuatnya. Namun Andra tetap mengangkatnya dan berniat membuat sosok yang mencoba iseng padanya itu, menjadi tempat pelampiasan amarahnya.


"Halo apakah ini nomor agen pesepakbola muda bernama Rizaldi Fatah?" suara pria maskulin terdengar, dan dirinya juga tahu soal Rizaldi Fatah.


"Ya, saya memang agen pesepakbola muda bernama Rizaldi Fatah itu. Mohon maaf ini siapa ya?" Tiba-tiba Andra keheranan.


Pria maskulin itu terdengar tertawa sejenak, sebelum kembali menjawab Andra Almeida. "Maafkan aku tidak memperkenalkan diri sebelumnya, namaku David Beckham pemilik 10 persen saham dari klub yang bermain di kasta ketiga liga Inggris saat ini yakni Salford FC. Aku sedikit tertarik dengan pemain bernama Rizaldi Fatah ini jadi aku ingin melakukan negosiasi dengannya soal potensi transfer"


Andra langsung terdiam, dirinya melemparkan begitu saja ponsel miliknya. "Sungguh cara yang buruk untuk membodohi seseorang" ujarnya.


Andra Almeida tidak peduli lagi, dirinya tidak percaya dengan telepon dari nomor tidak dikenal itu. Tetapi apa yang terjadi setelahnya membuat Andra semakin geleng-geleng kepala. Pria yang mengaku sebagai David Beckham tadi langsung mengaktifkan video call dan terpampang jelas wajah pria maskulin yang menjadi primadona setiap perempuan itu.

__ADS_1


Walaupun sudah termakan usia, Andra Almeida tidak dapat mengatakan kalau orang yang saat ini sedang melakukan video call dengan dirinya itu bukanlah David Beckham. Itu memang David Beckham yang asli, buru-buru Andra Almeida menutup telponnya karena merasa malu dengan dandanannya yang belum siap untuk bertemu orang se tampan David Beckham.


__ADS_2