
Cukup lama Rizaldi dan Melani berbincang-bincang di atas atap sekolah, bahkan mereka sudah melewati jam istirahat kedua. Tinggal beberapa jam lagi sebelum akhirnya bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar akan berbunyi.
Rizaldi memecahkan rekornya hari ini, rekornya yang tidak pernah bolos sekolah apalagi melewati pelajaran seperti sekarang ini. Mereka berdua larut dalam obrolan santai mereka, walaupun tidak ada gorengan, kue-kue kecil, ataupun kudapan lain yang menemani mereka untuk mengobrol.
"Apa kamu tidak ada rencana balik ke kelas Rizal?" Melani bertanya.
Rizaldi mengingat sejenak pelajaran apa sekarang, lalu dia ingat kalau pelajaran terakhir hari ini adalah Bahasa Inggris, mata pelajaran favoritnya. Apalagi guru pengajarnya yang selalu baik dengannya membuat Rizaldi tidak ingin membuat guru pengajarnya itu kecewa dengan dirinya.
"Aku mau kembali ke kelas, pelajaran Bahasa Inggris ibu Nadia. I'm in love with her, tetapi bukan dalam maksud yang sebenarnya" ujar Rizaldi mencoba berbahasa Inggris namun sedikit terdengar konyol.
Karena itu Melani tertawa sejadi-jadinya, dia merasa Rizaldi sangat tidak cocok saat berbicara memakai bahasa Inggris. Dialek khas Rizaldi yang orang asli Pengambangan selalu muncul setiap dia bicara pakai bahasa asing dan itu membuatnya terlihat lucu.
"Kenapa kamu malah ketawa, iya iya aku tau kalau bahasa Inggris ku payah" Rizaldi cemberut seperti bebek.
Melani semakin tertawa bahkan tidak bisa ia kontrol lagi, sebelum akhirnya dia mulai bisa mengendalikan dirinya dan berbicara. "Enggak kok aku tidak mengejek dirimu Rizal, cuma lucu aja kalau kamu ngomong bahasa Inggris tapi masih ada dialek Pengambangan-nya"
Mendengar itu Rizaldi tambah cemberut, dia kini mulai memalingkan wajahnya dan tidak mau melihat ke arah Melani yang masih saja mencoba untuk menahan tawanya.
Melani mencoba untuk bicara lagi walaupun masih dalam usaha menahan tawanya. "Tetapi memang benar, Ibu Nadia Utami memang orang yang mudah untuk disayangi karena pembawaan beliau yang selalu ramah dan penuh semangat"
Mendengar Melani yang mulai membahas ibu guru favoritnya, Rizaldi langsung kembali menoleh kearah Melani. Dia langsung melupakan kejadian tadi, seperti hilang begitu saja tertiup oleh angin. "Ya ya kamu benar sekali!" ucapnya Rizaldi.
Lalu Rizaldi mendengar bel tanda pelajaran selanjutnya sudah berbunyi, dia sekarang harus mengakhiri konversasi mereka berdua saat ini juga karena Rizaldi tidak ingin melewatkan pelajaran bahasa Inggris.
"Kalau begitu aku mau ke kalas, apa kamu mau ke kelas juga atau masih mau di sini Melani?" tanya Rizaldi.
Melani terlihat sedang berpikir, dia bingung apakah dia harus masuk ke kelas di sisa waktu seperti ini, ataukah dia tetap diam di atap sampai bel pulang berbunyi. Dan akhirnya dia memutuskan pilihannya. Melani memilih untuk pergi ke kelas karena sudah cukup lama dia meninggalkan kelas.
"Kalau begitu apa kamu mau bareng ke kelas?"
"Tawaran yang bagus Rizaldi!" ucap Melani dengan senyuman manis di wajahnya.
Lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju ke kelas mereka masing-masing, Rizaldi ke kelas 10-C, sedangkan Melani ke kelas 10-A. Setelah sampai di depan kelasnya, Melani mengucapkan selamat tinggal pada Rizaldi. "Sampai ketemu lagi nanti" ucapnya sambil melambaikan tangannya.
Rizaldi menanggapinya dengan tersenyum saja sambil sedikit melambaikan tangan dengan pelan, dia memastikan Melani benar-benar masuk ke dalam kelasnya sebelum akhirnya dia juga pergi untuk masuk ke kelasnya juga.
Saat Rizaldi membuka pintu kelasnya yang tertutup, semua mata langsung tertuju kepada dirinya. Namun Rizaldi hanya tersenyum saja, dia menganggap semua tatapan itu seperti lampu sorot baginya yang terus mengikuti dirinya hingga ke tempat duduknya.
__ADS_1
Salma saja terus menatap Rizaldi dengan tatapan penuh kebingungan, dia bingung dari mana saja Rizaldi ini karena dia keluar sudah sangat lama bahkan Derry saja sudah kembali ke kelas semenjak tadi.
"Kamu darimana aja Rizal? Kok baru aja balik ke kelas" tanya Salma yang sedikit khawatir juga dengan sosok teman baiknya itu.
"Aku dari atas atap, entah kenapa aku ingin bersantai sejenak" jawab Rizaldi singkat.
Mendengar semua jawaban Rizaldi membuat Salma semakin keheranan, tidak biasanya temannya itu seperti itu. Dia merasa ada hal yang disembunyikan oleh temannya itu dan dia tidak ingin membicarakan hal itu.
Namun Salma tetap ingin tahu hal itu, karena dia tidak mendapatkan jawaban dari Rizaldi akhirnya dia bertanya pada Derry yang sedan asyik bermain Nintendo Switch.
"Ayo Atreus kita hajar Odin tua bangka itu!" kelihatannya Derry begitu larut dalam game nya.
"Derry oi Derry!" Salma mencoba untuk bertanya pada Derry.
Derry masih asik dengan game dewa perangnya itu, dia masih bertarung melawan ayah para dewa di mitologi Nordik yaitu Odin. Namun walaupun begitu, dia tahu kalau Salma memanggilnya dan tetap mendengarkannya.
"Kamu tadi dipanggil keluar sama Rizal kan, sebenarnya ada apa?"
"Kita serang bersama Atreus!" itu jawaban dari yang keluar dari mulut Derry, namun Salma seperti bisa mengetahui maksud lain dari perkataan itu.
Derry masih asik dengan gamenya, kini dia menjawab dengan perkataan yang berbeda. "Kita kalahkan semua dewa itu Atreus dan selanjutnya kita akan pergi ke alam yang lain" itu jawabnya.
"Jadi benar soal pertandingan itu, apakah kalian pergi ke Jakarta?" Salma bertanya lagi.
"Ya" jawab Derry singkat saja, karena dia merasa Salma sudah mengerti garis besarnya.
Salma sudah paham dan mengerti apa yang melanda Rizaldi, dia lalu kembali ke mejanya dan mendatangi Rizaldi yang sedang asyik memandangi pemandangan dari balik jendela. Kedatangan Salma dengan wajah yang sulit dijelaskan, membuat Rizaldi menghentikan kegiatannya.
"Ada apa Salma?" tanya Rizaldi yang kebingungan
"Sore ini aku ikut kerumah mu" jawab Salma singkat saja yang membuat Rizaldi tambah kebingungan.
Benar saja, setelah pelajaran berakhir Salma benar-benar ikut Rizaldi pulang kerumahnya. Entah apa yang ada dipikiran Salma saat ini hingga melakukan hal seperti itu, Rizaldi tidak tahu tentang itu sama sekali. Setelah meminjam smartphone Rizaldi untuk memberitahukan pak teguh untuk tidak menjemputnya langsung, mereka berdua mulai pergi pulang ke rumah Rizaldi.
Sesampainya di rumah, Rizaldi masih kebingungan dengan tingkah Salma hari ini. Keisha yang membukakan pintu langsung terkejut dengan keberadaan sosok Salma yang ikut pulang kerumah, Rizaldi hanya bisa tersenyum cengengesan saja karenanya.
"Abang! Kenapa ada perempuan ini?" Keisha tidak terima dengan kehadiran sosok Salma.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan pendapat Keisha pada dirinya, Salma langsung bertanya kepada Keisha. "Keisha, ada ibu gak?" tanya Salma.
Tentu saja Keisha kebingungan dengan Salma, mengapa dia malah repot-repot mencari ibunya. Rizaldi juga berpikir demikian. Lalu Keisha yang kesal langsung menjawabnya. "Ibu ada, memangnya ada apa?"
Ketika Salma mendengar hal itu dia langsung menarik lengan kakak-beradik itu masuk ke dalam rumah. Salma berlagak seperti sang pemilik rumah, sedangkan Rizaldi dan Keisha seperti tamu yang terlalu sungkan dan malu-malu untuk masuk ke rumah yang mereka datangi.
Salma langsung pergi ke dapur dimana dia mencium bau yang begitu sedap dan nikmat tercium, di sanalah ibu Rizaldi berada yang sedang memasak makan malam untuk keluarga kecilnya.
"Tante!" teriak Salma yang membuat Ibu Rizaldi sedikit terkejut, apalagi setelah melihat pemandangan yang tidak biasa.
"Abang? Abang bisa jelasin pada mama?" ucap ibunya yang sedikit kebingungan dengan situasi ini.
Rizaldi hanya bisa menghela nafas panjang, dia sudah menduga akan terjadi hal seperti ini sebelumnya. Lalu Rizaldi pun menjelaskan kepada ibunya soal ini, Keisha juga ikut menjelaskan dan membuat ibunya mulai sedikit mengerti tentang situasi ini.
"Abang!"
"Ya ma" Rizaldi pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Lalu ibunya sedikit tersenyum, namun Rizaldi melihat senyuman itu sebagai tanda yang buruk. "Kalau abang izal melakukan sesuatu itu harus bertanggung jawab penuh ya" ucap ibunya yang sedikit salah paham.
Rizaldi langsung menepuk jidatnya, dia sudah menduga juga akan jadi seperti ini, sedangkan Keisha langsung memukul-mukul abangnya itu yang dia anggap sebagai penjahat para perempuan itu.
"Salma, sebenarnya walaupun tidak kamu temani, aku pastik akan mengucapkan yang sebenarnya juga dengan ibuku" ucap Rizaldi yang semakin membuat salah paham setiap pihak.
Salma sendiri juga ikut salah paham, dia kini hanya bisa menutupi setengah wajahnya dengan tas punggungnya.
"Mama!"
"Ya ada apa bang?"
Rizaldi menyiapkan mentalnya untuk mengucapkan hal yang cukup berat untuk dirinya. Ketika merasa sudah siap, akhirnya Rizaldi pun mengucapkan hal yang saat ini mengganggu dirinya itu.
"Rizaldi akan pergi ke Jakarta ma beberapa Minggu, timnya Rizal lolos ke fase gugur dan harus bermain di sana" setelah mengucapkan itu rasanya perasaan Rizaldi sedikit membaik, seperti ada beban yang tercabut. Sekarang adalah tinggal menunggu jawaban dari ibunya.
Rizaldi sudah menyiapkan skenario terburuk, namun sepertinya hal itu tidak begitu diperlukan. Saat Rizaldi memberitahu ibunya, ibunya sudah tahu lebih dulu soal itu sehingga dia tidak banyak terkejut lagi. "Pergilah bang, kejar cita-cita abang. Mama gak mau jadi orang yang membuat cita-cita abang menjadi pupus" itulah jawaban dari Ibunya.
Tidak sesuai dengan apa yang Rizaldi harapkan sejujurnya, namun tetap Rizaldi sedikit merasa lega karena dia tidak harus beradu argumen dengan ibunya dan membicarakan betapa pentingnya cita-citanya itu. Setelah mendengar itu Rizaldi langsung memeluk ibunya dengan penuh haru dan mengucapkan terimakasih yang begitu dalam, dia juga berjanji untuk membawakan kemenangan untuk ibundanya.
__ADS_1