Sistem Sepakbola: Classic Number 10

Sistem Sepakbola: Classic Number 10
Chapter 86: Penyusunan Rencana


__ADS_3

Di dalam ruang ganti tim Pengembangan Cananga Youth, terlihat hal yang begitu gelap dan suram sedang mengitari di sekitar mereka semua. Hal ini dikarenakan di babak pertama tadi, mereka harus ketinggalan dua gol dari Surabaya Force Warlord FC dan membuat langkah mereka cukup berat untuk melaju ke tahap selanjutnya.


Mereka membutuhkan dua gol untuk menyamakan kedudukan yang di mana, itu bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan mereka. Apalagi melawan tim sekelas Surabaya Force Warlord, yang notabenenya tim yang tangguh dan sulit untuk ditaklukkan.


Di babak pertama tadi, para pemain Pengambangan Cananga Youth bukannya bermain jelek atau kurang bagus. Mereka bermain cukup bagus dan terampil, bahkan pertahanan mereka juga masih disiplin namun sayangnya keberuntungan tidak menyertai mereka saat itu dan dewi fortuna lebih tersenyum ke arah Arthur Cunha yang mencatatkan dua gol ke gawang Pengambangan Cananga Youth.


Coach Satria pun tidak ada yang menghakimi para pemainnya, dia cukup paham kalau anak-anak didiknya bermain bagus di babak pertama tadi. Dia memang mengakui keberadaan sosok Arthur Cunha lah yang membuat hal ini bisa terjadi, dan dia pun mencoba mencari formula yang jitu untuk menghentikan pergerakan dari pemain asing tersebut.


Coach Satria Hutama berkonsultasi dengan stafnya soal masalah ini, banyak pendapat yang didengarnya dan itu membuat dirinya lebih banyak pilihan untuk itu.


"Mau bagaimanapun juga kita harus bisa membuat pergerakan si Arthur Cunha itu terhenti, kalau tidak kita akan semakin sengsara dibuatnya" ucap Coach Satria.


"Apakah kita harus menggunakan marking ketat dengan menempatkan 3-4 orang untuk menjaganya?"


"Tetapi jika seperti itu, akan ada banyak ruang yang bisa dimanfaatkan oleh tim lawan. Agak beresiko kita melakukan hal itu, walaupun saya rasa itu cukup efektif untuk menghambat pergerakan Arthur Cunha"


"Semua keputusan terakhir ada di tangan anda, Coach Satria Hutama!"


Coach Satria terlihat menimbang-nimbang, mana keputusan yang paling tepat. Apakah ia perlu menggunakan marking ketat dengan menempatkan dua hingga empat pemain untuk menghentikan satu pemain yaitu Arthur Cunha, atau dia harus menggunakan cara lainnya yang bisa dia manfaatkan untuk hal itu.

__ADS_1


Lalu Zaki Iskandar maju kedepan, sepertinya dia memiliki sebuah pemikiran yang ingin dia sampaikan kepada coach Satria, dia terlihat meminta izin terlebih dahulu sebelum berbicara. Coach pun mempersilahkan dirinya untuk bicara, karena saat ini memang diperlukan masukkan dari siapapun untuk menghentikan satu pemain yang merepotkan itu.


"Jadi saya punya sedikit usulan Coach. Bila dibilang usulan juga terlalu jauh, ini lebih ke keinginan saya sendiri"


"Katakan saja keinginan mu itu Zaki, mungkin itu bisa menjadi salah satu masukan yang bagus"


"Jadi begini Coach" Zaki memulai ceritanya. "Saya ingin Coach membiarkan saya untuk menjaga Arthur Cunha"


Semua pemain Pengambangan Cananga Youth dan staf pelatih langsung terkejut mendengarnya, mereka terkejut lantaran keinginan Zaki yang mau melakukan marking ketat terhadap Arthur Cunha. Zaki bermaksud untuk mengikuti kemanapun Arthur Cunha pergi, layaknya seorang paparazi atau penguntit. Walaupun Arthur Cunha ingin pergi ke kamar mandi, Zaki akan terus mengikutinya sampai Arthur merasa tidak nyaman.


Zaki berniat bermain seperti layaknya N Golo Kante di Chelsea. Kante biasanya bermain dengan sangat enerjik, dia bisa melakukan marking ketat terhadap seseorang hingga pemain itu tidak bisa berbuat banyak. Zaki ingin bermain seperti itu dan dia ingin mencobanya melawan Arthur Cunha, karena Arthur Cunha adalah orang yang sangat menganggu tim Pengambangan Cananga Youth hingga saat ini.


"Kau yakin ingin melakukan itu Zaki? Melakukan hal itu bukanlah hal yang mudah" Coach Satria kembali meyakinkan sosok Zaki yang ingin melakukan marking ketat ke Arthur Cunha.


Coach Satria pun tidak ada alasan lain untuk menolaknya, beliau mengabulkan keinginan Zaki Iskandar untuk melakukan marking ketat ke Arthur Cunha, sama seperti yang sering dilakukan Golo Kante.


Ketika merasa sudah menemukan jawaban atas teka-teki yang mereka alami, para pemain Pengambangan Cananga Youth pun langsung hendak bersiap kembali ke lapangan dan memulai babak kedua. Tetapi, sebelum itu Rizaldi mengangkat tangannya seperti seorang murid yang ingin bertanya kepada gurunya, akhirnya semua pemain dan staf pelatih jadi memperhatikan sosoknya itu.


"Apa ada yang ingin kau sampaikan Rizaldi, sebelum kita kembali ke lapangan?" Coach Satria Hutama bertanya.

__ADS_1


"Ya Coach! Ada yang ingin saya sampaikan. Menurut saya, sebaiknya Zaki urungkan saja melakukan marking ketat terhadap Arthur Cunha" Apa yang diucapkan oleh Rizaldi membuat seluruh pemain dan staf kembali terkejut bukan main.


Mereka semua kebingungan dengan apa yang dipikirkan oleh Rizaldi, jelas sekali Arthur Cunha menjadi momok menakutkan dengan dua gol di babak pertama dan membuat suasana tidak menyenangkan di ruang ganti Pengambangan Cananga Youth FC. Sudah jelas juga kehebatan sosok Arthur Cunha yang bahkan tidak mampu dibendung oleh Galih dan Bagas serta Romeo yang kadang ikut membantu pertahanan.


Dan Rizaldi malah mengatakan yang sebaliknya, dia bilang kalau mereka tidak perlu menjaga sosok Arthur Cunha yang sudah menunjukkan taringnya pada mereka semua dan membuat mereka semua ketakutan bagai melihat vampir yang sehabis meminum darah korbannya.


"Apa maksudmu sobat? Aku sama sekali tidak mengerti mengapa kau malah bilang kita tidak perlu menjaga ketat Arthur Cunha? Dia adalah orang yang membuatku harus memungut bola dua kali dari gawang ku!" Derry ikut menanyakan apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Rizaldi.


Teman-temannya yang lain juga melakukan hal yang sama, namun di mata Coach Satria Hutama sosok Rizaldi saat ini tidaklah sedang bercanda. Dia bisa melihat ada tatapan yang memiliki arti yang berbeda dari sudut matanya, sehingga dia lebih memilih untuk menunggu jawaban yang tepat dari Rizaldi sebelum dirinya melakukan kesimpulan tergesa-gesa.


"Jadi begini Coach Satria maksud saya" Rizaldi menjelaskan apa yang sedang ia pikirkan kepada yang lainnya. "Kita tidak perlu melakukan pengawalan ketat ke Arthur Cunha, walaupun dia memang saya akui adalah pemain yang berbahaya. Namun, selama pertandingan babak pertama mata saya menangkap hal yang berbeda"


Alis mata Coach Satria berkedut, sedikit naik ke atas. "Apa yang kau temukan Rizaldi?" tanya beliau.


"Ada satu pemain yang harusnya kita kawal dengan ketat dan kita buat dia tidak bisa berbuat banyak di pertandingan hari ini. Karena pemain ini jugalah dua gol yang dicetak oleh Arthur Cunha bisa terjadi. Bisa dibilang dialah sosok yang menyusun sebuah masterplan di tim Surabaya Force Warlord FC"


Para pemain dan staf pelatih Pengambangan Cananga Youth sedikit kebingungan dengan siapa yang dimaksud oleh Rizaldi, namun Coach Satria langsung tahu siapa yang dimaksudkan oleh Rizaldi itu. "Maksud mu kita harus melakukan pengawalan ketat itu pada sosok Bima Satya?" ucap Coach Satria Hutama.


Rizaldi tersenyum. "Tepat sekali coach! Jika kita bisa mematikan langkah-langkah Bima Satya, maka kita bisa mengendalikan pertandingan dan saya yakin kita bisa menemukan jalan untuk menyamakan kedudukan, tidak. Mungkin kita bisa memenangkan pertandingan ini"

__ADS_1


Coach Satria Hutama tersenyum mendengar itu, dia memandangi sosok Rizaldi dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tatapannya bagai tatapan seorang pemburu yang sedang berhadapan dengan sosok beruang besar di hadapannya dan siap menyerangnya, Rizaldi beliau anggap seperti beruang besar itu yang tidak perlu banyak bersuara namun sudah menjelaskan betapa bahayanya dirinya itu.


"Zaki! Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?" ucap beliau yang langsung dijawab oleh Zaki dengan senyuman bagai seorang pembunuh berantai.


__ADS_2