
Setelah pertandingan antara Pengambangan Cananga FC melawan Borneo Putra FC, putaran final Indonesia Premier League dilanjutkan dengan pertandingan antara tim pemuncak klasemen liga, melawan tim yang berada di peringkat ketiga.
Pertandingan antara Tarakanita Jakarta FC melawan Surabaya Argento FC akan menjadi duel yang cukup panas malam ini, karena mereka sama-sama memiliki sebuah kesamaan. Kesamaan mereka berdua adalah tajamnya lini depan mereka.
Tarakanita Jakarta dengan Yoga Hilmawan, sang pemuncak klasemen top skor Indonesia Premier League musim ini. Walaupun baru berumur 16 tahun 7 bulan, tetapi kemampuannya tidak main-main dalam mengolah si kulit bundar.
Yoga benar-benar ditakdirkan sebagai seorang striker murni. Dirinya memiliki fisik yang kuat, punya kecepatan dan juga punya kemampuan untuk selalu bisa beradaptasi dengan segala situasi yang terjadi di lapangan. Yoga Hilmawan juga diberkahi kaki kanan yang sangat kuat, ketika dirinya menendang bola dengan kaki kanannya, bola itu akan melesat dengan cepat dan sangat kuat. Sangat sulit untuk ditepis, atau ditangkap oleh para penjaga gawang. Salah satu penjaga gawang yang baru naik daun saat ini, yaitu penjaga gawang yang dimiliki oleh Pengambangan Cananga FC yaitu Derry Yanuar Pinto, pun dirinya mengakui begitu kesulitan ketika berhadapan dengan sosok Yoga Hilmawan.
Yoga Hilmawan adalah striker yang mengusung gaya old school. Dia akan selalu berada di depan dan berusaha mencari ruang yang bisa dirinya manfaatkan untuk membuat sebuah peluang, sangat jauh berbeda dengan gaya bermain para penyerang di sepakbola modern yang lebih aktif untuk mencari bola.
Dan gaya tidak biasa yang dianut oleh Yoga Hilmawan ini sangatlah merepotkan pertahanan tim Surabaya Argento FC. Beberapa kali Yoga Hilmawan mendapatkan peluang emas lewat tendangan kaki kanannya, sayangnya tendangannya masih bisa ditepis oleh kiper Surabaya Argento FC dan beberapa kali menjadi tendangan penjuru.
Beberapa kali kiper tim Surabaya Argento FC, yaitu Aji Satria harus berjibaku untuk menghalau tendangan kaki kanan keras dari Yoga Hilmawan. Kiper berusia 33 tahun itu, sangat kesulitan menghadapi Yoga Hilmawan yang usianya selisih hampir dua dasawarsa itu.
"Tendangan bocah itu, benar-benar keras! Kalau begini terus tinggal menunggu waktu saja sampai aku kebobolan" Aji Satria menyadari dirinya dalam bahaya.
Lalu, Aji Satria pun menyuruh dua bek tengah untuk terus mengapit Yoga Hilmawan, agar Yoga kesulitan untuk melakukan tembakan atau melakukan gerakan yang berbahaya lainnya.
__ADS_1
Langsung saja, Cristopher Evans dan Afwan Al-Farizi yang merupakan dua bek tangguh yang dimiliki oleh Surabaya Argento FC melakukan tugas mereka. Mereka terus memberikan tekanan pada Yoga Hilmawan, setiap Yoga mendapatkan bola dari rekan-rekannya.
Dua bek senior yang dimiliki oleh Surabaya Argento FC itu benar-benar melakukan tugas mereka dengan baik, Yoga Hilmawan sedikit kesulitan melewati mereka berdua. Namun, Yoga Hilmawan tidak kehabisan cara untuk keluar dari situasi sulit ini. Permainannya sudah jauh berkembang dari yang banyak diperkirakan orang banyak, Yoga Hilmawan sudah benar-benar menjadi pesebakbola yang komplit.
Dengan menggunakan penglihatannya, dia menyadari ada sosok rekan satu timnya yang berada di dekat dirinya dan berdiri bebas. Yoga Hilmawan langsung memberikan bola pada sosok itu, sosok pemain yang bisa dirinya andalkan saat ini, sosok itu adalah Tori Marukawa, playmaker muda yang menjadi pemimpin orkestra permainan Tarakanita Jakarta FC.
Tori Marukawa tersenyum mendapatkan bola dari Yoga, dirinya benar-benar senang dengan perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu. Ya, Tori Marukawa sudah lama kenal dengan Yoga Hilmawan, semenjak mereka satu tim di Sugar Crossed FC saat masih bermain di I-Youth.
"Akan ku olah umpan mu ini menjadi sebuah peluang yang sangat-sangat sempurna!" ujar Tori Marukawa dalam hati, saat bola sudah berada di kakinya.
Marukawa langsung memberikan umpan terobosan panjang ke sudut kanan pertahanan tim Surabaya Argento FC. Ketika semua orang mengira itu adalah umpan yang asal-asalan, namun sebenarnya tidak. Ada seseorang yang berusaha meraih bola itu sebelum keluar dari lapangan. Raffi Putra, dirinya tidak akan membiarkan umpan dari Marukawa jadi sia-sia begitu saja.
"Ah tidak! Dia akan sampai meraih bola itu" salah satu bek sayap Surabaya Argento FC, sedikit kesal melihat Raffi Putra yang mampu menjangkau bola, sebelum bolanya keluar lapangan.
Pemuda berusia 16 tahun yang didatangkan dari Batavia Fort FC itu, langsung melakukan gerakan memotong dan melepaskan tendangan plesing. Aji Saputra langsung bergerak, cukup sulit namun dirinya berhasil menepis bola. Namun ada satu hal yang terlambat disadarinya, bola jatuh ke kaki yang tidak tepat.
Afwan Al-Farizi kurang berhati-hati dan mengira dirinya akan mendapatkan bola dengan mudah dan akan melakukan sapuan ke depan untuk mengamankan situasi, namun sayangnya dibelakang dirinya ada Yoga Hilmawan yang matanya kini hanya tertuju kepada bola yang belum sempurna di kontrol oleh Afwan.
__ADS_1
Afwan mencoba untuk melakukan defense, tetapi kekuatan fisik yang dimiliki oleh Yoga Hilmawan mengalahkannya. Bola yang masih belum sempurna di kaki Afwan itu langsung disambar oleh Yoga, dan langsung ditendang olehnya begitu saja. Bola masuk ke dalam gawang, Aji Satria berusaha semampunya untuk meraih bola namun tidak sempat. Wasit menyatakan itu sebagai gol, walaupun Afwan protes kalau Yoga melakukan pelanggaran terhadap dirinya, tetapi bagi wasit itu adalah murni duel kekuatan fisik yang dimenangkan oleh Yoga dengan kecerdikannya memanfaatkan kelengahan yang dilakukan oleh Afwan.
Gol itu terjadi di menit ke-18, setelah dinyatakan sebagai gol, Yoga pun langsung berselebrasi di depan para pendukung Surabaya Argento FC yang membuat para pendukung tim itu begitu marah padanya. Berbagai macam benda coba dilemparkan oleh para pendukung garis keras Surabaya Argento. Ada kursi plastik kecil, botol minuman dan bahkan sisa makanan. Namun, Yoga Hilmawan bersikap acuh saja dengan semua itu dan menikmati semua cacian yang dilontarkan kepada dirinya.
Tori Marukawa berjalan menghampiri Yoga, dirinya tertawa sambil memeluk Yoga. "Kau benar-benar suka berlagak seperti seorang villain di komik-komik super hero ya" ujarnya.
Yoga tersenyum miring, wajahnya seakan menghina. "Mereka hanya bisa bicara besar, namun aku membungkam mereka hari ini. Lihat saja nanti!"
Raffi Putra hanya melihat dari kejauhan saja, dirinya sedikit kesal lantaran tendangan plesing nya malah berhasil ditepis oleh kiper lawan dan malah menjadi sebuah peluang emas untuk Yoga Hilmawan. Semenjak tiba di Tarakanita Jakarta FC, hanya satu tujuan Raffi Putra, yaitu untuk membuktikan dirinya lebih baik dari sosok Yoga Hilmawan. Namun sepertinya, jalannya masih sangat panjang, tetapi dirinya benar-benar menjadi pemain yang bisa bersaing dengan sosok monster itu.
Setelah gol yang terjadi di menit ke-18 itu, menit-menit selanjutnya adalah mimpi buruk bagi Surabaya Argento FC. Baru dua menit setelah gol pertama, Yoga Hilmawan kembali mencatatkan namanya di papan skor. Kali ini lewat umpan Marukawa, Yoga melepaskan tendangan keras kaki kanan dari dalam kotak penalti yang tidak dapat ditepis oleh kiper Surabaya Argento FC.
Lalu delapan menit berselang giliran Raffi Putra yang mencetak gol lewat sundulan kepalanya, berawal dari sepak pojok yang didapatkan setelah tendangan Marukawa berhasil ditepis oleh Aji Satria.
Sebelum turun minum, Yoga Hilmawan malah berhasil mencetak hat-trick di laga kali ini. Dan hebatnya lag, hat-trick yang dirinya buat kali ini cukup spesial karena lewat gol cantik. Memanfaatkan umpan matang dari Marukawa, Yoga langsung melakukan tendangan salto yang menghujam keras gawang Surabaya Argento FC. Bahkan saking hebatnya, Aji Satria hanya bisa terdiam diri melihat bola masuk kedalam gawangnya.
Setelah itu, Tarakanita Jakarta FC menutup pertandingan semifinal Indonesia Premier League musim ini dengan kemenangan telak 6-0 atas Surabaya Argento FC. Walaupun masih leg pertama, namun Tarakanita Jakarta FC benar-benar tidak memberikan belas kasih kepada lawan-lawan yang mereka hadapi.
__ADS_1